9 Syarat Sholat - Fiqih Muyassar
Syarat sholat ada 9 yaitu:
1. Islam, maka sholat orang kafir tidak sah karena amal mereka batal.
2. Berakal, maka sholat orang gila tidak sah karena tidak terkena taklif
(beban syariat).
3. Baligh, maka anak kecil tidak wajib sholat hingga baligh. Akan
tetapi disuruh sholat saat berusia 7 tahun dan dipukul saat berusia 10 tahun
(jika enggan sholat), berdasarkan hadits: “Suruh anakmu sholat saat berusia 7
tahun...”
4. Suci dari dua hadats (besar dan kecil) jika mampu, berdasarkan
hadits Ibnu Umar, Nabi ﷺ bersabda:
«لا يقبل الله صلاة بغير طهور»
“Allah tidak menerima sholat tanpa bersuci.” (HR. Muslim no. 224)
5. Masuk waktu sholat, berdasarkan firman Allah:
﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾
“Sholat diwajibkan atas orang-orang beriman dan telah ditentukan waktunya.”
(QS. An-Nisa: 103)
Juga berdasarkan hadits Jibril ketika mengimami Nabi ﷺ sholat lima waktu lalu ia berkata:
«ما بين هذين الوقتين وقت»
“Antara dua waktu ini adalah waktu sholat.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi
no. 150)
Maka tidak sah sholat dikerjakan sebelum masuk waktunya atau sesudah keluar
waktunya kecuali karena uzur.
7. Menutup aurot dengan sesuatu yang tidak menampakkan kulit
(seperti tipis, menerawang, ketat), berdasarkan firman Allah:
﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ
مَسْجِدٍ﴾
“Wahai anak Adam, kenakan pakaian indah setiap kali memasuki Masjid.” (QS.
Al-A’rof: 31)
Juga sabda Nabi ﷺ:
«لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار»
“Allah tidak menerima sholat wanita yang sudah haid (baligh) kecuali
memakai khimar (seperti mukena dan semisalnya).” (Shohih: HR. Abu Dawud
no. 627)
Aurot lelaki baligh: antara pusar sampai lutut berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada Jabir:
«إذا صليت في ثوب واحد، فإن كان واسعاً فالتحف
به، وإن كان ضيقاً فاتزر به»
“Apabila kamu sholat mengenakan satu kain, jika luas maka selimutkan ke
badan, jika sempit maka jadikan sarung (menutupi pusar sampai lutut).” (HR.
Al-Bukhori no. 361 dan Muslim no. 3010)
Yang lebih utama seseorang meletakkan kain pada pundaknya (untuk
menutupinya).
Seluruh tubuh wanita adalah aurot kecuali wajah dan telapak tangannya[1].
Jika ia sholat di samping lelaki ajnabi (asing, bukan mahrom), maka ia
menutupi seluruh tubuhnya (termasuk penutup muka dan telapak tangannya). Ini
berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
«المرأة عورة»
“Wanita adalah aurot.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 397)
7. Menjauhkan najis pada badannya, pakaiannya, dan tempat sholatnya,
jika mampu. Dasarnya firman Allah:
﴿وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴾
“Bersihkanlah pakaianmu (ketika sholat).” (QS. Al-Muddats-tsir: 4)
Juga sabda Nabi ﷺ:
«تَنَزَّهوا عن البول؛ فإن عامة عذاب القبر منه»
“Bersucilah dari kencing, karena kebanyakan siksa kubur berasal darinya.” (Shohih:
HR. Ad-Daruquthni no. 453)
Juga sabda Nabi ﷺ kepada Asma tentang darah haid
yang mengenai baju:
«تحتُّه، ثم تقرصه بالماء، ثم تنضحه، ثم تصلي
فيه»
“Keriklah[2] lalu
bersihkan dengan air[3]
lalu guyur dengan air lagi[4]
lalu silahkan sholat dengan pakaian tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 227 dan
Muslim no. 291)
Juga sabda Nabi ﷺ kepada para Sohabatnya saat
seorang baduwi kencing di dalam Masjid:
«أريقوا على بوله سجلاً من ماء»
“Guyurlah bekas kencingnya dengan seember air.” (HR. Al-Bukhori no. 220)
8. Menghadap kiblat jika mampu, berdasarkan firman Allah:
﴿فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ﴾
“Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Harom.” (QS. Al-Baqoroh: 144)
Juga berdasarkan hadits:
«إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثم استقبل
القبلة»
“Jika kamu hendak sholat, wudhulah dengan sempurna[5],
lalu menghadaplah ke qiblat.” (HR. Al-Bukhori no. 6251 dan Muslim no. 397)
9. Niat. ia tidak gugur dengan alasan apapun, berdasarkan hadits
Umar:
«إنما الأعمال بالنيات»
“Amal tergantung niatnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1)
[1] Dari pergelangan tangan
sampai ujung jari, bagian dalam maupun luar, bukanlah aurot.
[2] Keriklah dengan kuku atau
lainnya jika darahnya mengering.
[3] Basahilah bagian yang
telah dikerik tersebut dengan air dengan digosok-gosok dengan jari atau
lainnya.
[4] Basahi lagi dengan air
beberapa kali sampai hilang warna dan aroma bekas darahnya.
[5] Yaitu dengan
menyempurnakan air pada 4 anggota wudhu: muka (termasuk hidung dan mulut), dua
tangan, kepala (termasuk dua telinga), dan dua kaki, secara berurutan disertai
niat.