Pertanyaan Munkar dan Nakir Menurut Abul Hasan Asy'ari
Imam
Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:
* ويؤمنون بمنكر
ونكير، والمعراج، والرؤيا في المنام
Mereka
beriman kepada Munkar dan Nakir, mi’roj (naiknya Nabi ﷺ
ke langit), dan mimpi dalam tidur.
Bahasa:
(منكر ونكير): dua Malaikat yang bertugas menanyai di dalam kubur.
(المعراج): kata bentukan dari ‘aroja yang berarti sesuatu yang
digunakan untuk naik.
(الرؤيا): apa yang dilihat di dalam mimpi saat tidur.
Penjelasan:
Semua
masalah ini termasuk hal-hal yang diimani oleh Ahli Sunnah. Imam Al-Hafizh Abu Bakr
Al-Isma’ili telah menetapkan ini dalam kitabnya I’tiqod A’immah Ahlil Hadits
(hlm. 70-71), di mana beliau berkata: “Mereka beriman dengan pertanyaan
Munkar dan Nakir sebagaimana kabar yang telah tetap dari Rosululloh ﷺ,
sejalan dengan firman Alloh Ta’ala:
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ
اللَّهُ مَا يَشَاءُ﴾
‘Alloh
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di Akhiroh (alam Barzakh); dan Alloh menyesatkan
orang-orang yang zholim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.’ (QS.
Ibrohim)
Juga sebagaimana
tafsir yang datang dari Nabi ﷺ.”
Saya
katakan: Nabi ﷺ bersabda dalam menafsirkan ayat ini:
«المسلم إذا سئل
في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، فذلك قول الله تعالى: ﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾ »
“Seorang
Muslim jika ditanya di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada ilah
(yang berhak disembah) selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah Rosululloh.
Itulah makna firman Alloh Ta’ala: ‘Alloh meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh.’
(Takhrijnya telah disebutkan sebelumnya)
Yang
menyelisihi Ahli Sunnah dalam masalah ini adalah Dhiror bin ‘Amr dan Bisyir
Al-Marisi (Lihat: Syarh Al-Ushul Al-Khomsah, hlm. 730, dan Al-Mawaqif, hlm.
382)
Hukum mengenai
Mi’roj sama seperti hukum perkara-perkara ghoib lainnya; kita mengimaninya dan
tidak menyibukkan diri dengan kaifiyyah (bagaimana caranya). (Syarh
Ath-Thohawiyyah, hlm. 214)
Telah
terjadi peristiwa Isro’ (perjalanan malam) Nabi ﷺ dari
Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho dengan menunggangi Buroq ditemani oleh Jibril.
Kemudian beliau di-Mi’roj-kan (dinaikkan) ke langit-langit yang tinggi. Di
langit pertama beliau melihat Adam, di langit kedua beliau melihat Yahya bin
Zakariyya dan ‘Isa bin Maryam, di langit ketiga Yusuf, di langit keempat Idris,
di langit kelima Harun, di langit keenam Musa, dan di langit ketujuh Ibrohim, ‘Alaihimussalam.
Mereka semua menyambut beliau dan mengakui kenabiannya ﷺ.
Kemudian
beliau diangkat ke Sidrotul Muntaha, lalu diangkat ke Al-Bait Al-Ma’mur,
kemudian dinaikkan menghadap Al-Jabbar Jalla Jalaluh, lalu beliau
mendekat hingga jaraknya seperti dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.
Di sanalah diwajibkan atas beliau dan ummatnya 50 Sholat dalam sehari semalam.
Saat kembali, Musa menasihatinya untuk kembali kepada Robbnya dan memohon
keringanan. Beliau pun terus bolak-balik antara Musa dan Robbnya hingga Alloh
menjadikannya lima Sholat, kemudian terdengar seruan:
«قد أمضيت فريضتي
وخففت عن عبادي»
“Telah
Aku tetapkan kewajiban-Ku dan telah Aku berikan keringanan bagi hamba-hamba-Ku.”
(HR. Al-Bukhori no. 3887).
Adapun
penyebutan penulis Rohimahullah mengenai mimpi dalam tidur, saya tidak
tahu apa kaitannya mimpi dengan pokok-pokok ‘aqidah menurut Ahli Hadits, kecuali
jika yang beliau maksud adalah Hadits Nabi ﷺ:
«إذا اقترب الزمان
لم تَكَدْ رؤيا المسلم تكذب، وأصدقكم رؤيا أصدقكم حديثا»
“Apabila
zaman telah mendekat (Kiamat), mimpi seorang Muslim hampir tidak pernah dusta.
Orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling jujur
perkataannya.” (HR. Muslim no. 2263)
Bisa juga
yang beliau maksud adalah bahwa seorang Mu’min boleh melihat Robbnya dalam
mimpi, karena termasuk ‘aqidah Ahli Sunnah adalah bolehnya melihat Alloh dalam
mimpi. Adapun di Akhiroh kelak, mereka akan melihat-Nya dengan mata kepala
mereka dalam keadaan sadar. Adapun orang yang mengaku melihat Alloh di dunia
dalam keadaan sadar, maka ia termasuk para pembohong dan pendusta, sebagaimana
yang diklaim oleh banyak kaum Shufi, seperti yang diklaim oleh At-Taftazani
Al-Maturidi.
Ringkasan:
Ahli Sunnah
beriman dengan adanya pertanyaan Munkar dan Nakir di dalam kubur. Mereka juga
beriman dengan peristiwa Mi’roj Nabi ﷺ ke
langit dan apa yang beliau lihat selama itu. mereka juga beriman dengan adanya
mimpi saat tidur.
Diskusi:
S1: Siapakah
Munkar dan Nakir? Apa tugas keduanya?
S2: Apa
hukum beriman kepada peristiwa Mi’roj?
S3: Apa
yang dimaksud dengan mimpi saat tidur (dalam konteks ‘aqidah)?
S4: Sebutkan
beberapa pemandangan yang disaksikan oleh Nabi ﷺ saat
Mi’roj!