Sifat Nuzul (Turunnya Alloh) Menurut Abul Hasan Al-Asy'ari
Imam
Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:
* ويصدِّقون بالأحاديث
التي جاءت عن رسول الله ﷺ: «إن الله سبحانه ينزل إلى السماء
الدنيا فيقول: هل من مستغفر؟» كما جاء الحديث عن رسول الله ﷺ
Mereka
membenarkan Hadits-Hadits yang datang dari Rosululloh ﷺ:
“Sungguh Allah turun ke langit dunia dan berkata: Siapa yang memohon ampun?...”
seperti Hadits yang datang dari Rosululloh ﷺ.
Bahasa:
(يصدقون): mereka meyakini dan menetapkan.
Penjelasan:
Hadits
tentang Nuzul (turunnya Alloh) adalah salah satu Hadits yang berstatus mutawatir
(diriwayatkan oleh sangat banyak perowi sehingga mustahil mereka bersepakat
untuk berdusta). Status ini ditegaskan oleh Abu Zur’ah Ar-Rozi sebagaimana
dalam ‘Umdatul Qori (7/199), Ibnul Qoyyim dalam Tahdzibus Sunan
(7/108), Adz-Dzahabi dalam Al-’Uluw (hlm. 73), Ibnu Abdil Hadi dalam
Ash-Shorimul Munki (hlm. 304), Al-Kattani dalam An-Nazhmul Mutanatsir
(hlm. 191), dan ulama lainnya.
Lafazh
Haditsnya berbunyi:
«ينزل ربنا إلى
السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر فيقول من يدعوني فأستجيب له»
Robb kita
turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia
berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Inilah yang
ditetapkan oleh Al-Hafizh Abu Bakr Al-Isma’ili mengenai keyakinan Ahli Hadits
dalam kitabnya I’tiqod A’immah Ahlil Hadits (hlm. 62), di mana beliau
berkata: “Dia ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia sebagaimana kabar
yang shohih dari Rosululloh ﷺ, tanpa meyakini ‘bagaimana’
caranya.”
Demikian
pula Syaikhul Islam Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shobuni dalam kitabnya ‘Aqidatus
Salaf Ash-habul Hadits (hlm. 26), beliau berkata: “Ash-habul Hadits (para
ahli Hadits) menetapkan turunnya Robb Subhanahu wa Ta’ala setiap malam
ke langit dunia tanpa menyerupakan turun-Nya dengan turunnya para makhluk,
tidak pula menyamakannya, dan tidak pula menanyakan bagaimana caranya (takyif).
Sebaliknya, mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Rosululloh ﷺ,
berhenti sampai di situ, membiarkan kabar shohih yang menyebutkannya sesuai
dengan penampakan maknanya, dan menyerahkan ilmunya kepada Alloh.”
Saya
katakan: Maksud perkataan beliau ‘Mereka menyerahkan ilmunya kepada Alloh’
adalah ilmu tentang kaifiyyah (tata cara) turunnya Alloh. Sebab, Alloh
menyisihkan ilmu tentang kaifiyyah untuk Diri-Nya sendiri. Adapun
maknanya, maka itu sudah diketahui dalam bahasa Arob dan merupakan makna yang
layak bagi keagungan dan kebesaran Alloh, tanpa takyif (menanyakan bagaimana),
tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa ta’thil (menolak sifat).
Ringkasan:
Ahli Sunnah
meyakini sifat turunnya Alloh dengan cara (kaifiyyah) yang layak bagi
Alloh Ta’ala, dan meyakini bahwa itu adalah proses turun yang hakiki ke
langit dunia pada setiap malam.
Diskusi:
S1: Bagaimana
sikap Ahli Sunnah terhadap sifat turunnya Alloh?
S2: Apakah Ahli
Sunnah menyebutkan cara tertentu bagi turunnya Robb Subhanahu wa Ta’ala?
S3: Apa
hukum bagi orang yang menyerupakan turunnya Alloh Ta’ala dengan turunnya
makhluk?