Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metode Kaum Nufaat (Penolak Sifat Alloh) dalam Hal yang Wajib Ditetapkan atau Dinafikan dari Sifat-Sifat Alloh

 

Kaum Nufaat bersepakat untuk menetapkan bagi Alloh sifat-sifat yang dituntut oleh akal mereka untuk ditetapkan, dan menafikan dari-Nya sifat-sifat yang dituntut oleh akal mereka untuk dinafikan, baik itu sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah maupun menyelisihinya. Maka, jalan penetapan atau penafian sifat-sifat Alloh menurut mereka adalah akal.

Kemudian mereka berselisih tentang hal yang akal tidak menuntut penetapan atau penafiannya.

Sebagian besar dari mereka menafikannya dan menyelewengkan apa yang datang darinya kepada makna majaz (kiasan).

Dan sebagian dari mereka berhenti (tawaqquf) di dalamnya dan menyerahkan ilmunya kepada Alloh, disertai penafian petunjuknya pada sifat apa pun.

Mereka mengklaim bahwa dengan metode ini mereka telah menyelaraskan antara dalil-dalil akal dan wahyu, tetapi mereka berdusta dalam klaim itu, karena dalil-dalil akal dan wahyu selaras dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh.

Dan semua yang datang dalam Al-Kitab dan Sunnah tentang sifat-sifat Alloh tidak menyelisihi akal, meskipun akal tidak mampu memahami rinciannya.

Sungguh kaum Nufaat ini serupa dalam metode mereka dengan orang-orang yang Alloh berfirman tentang mereka:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُوداً فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ إِحْسَاناً وَتَوْفِيقاً

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka ingin berhukum kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh. Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah berhukum kepada apa yang diturunkan Alloh dan kepada Rosul’, kamu lihat orang-orang munafik itu berpaling darimu dengan sangat. Maka, bagaimana jika mereka ditimpa musibah disebabkan apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu, bersumpah demi Alloh: ‘Kami tidak bermaksud selain berbuat baik (ihsan) dan mencari keselarasan (tawfiq).’” (QS. An-Nisa’: 60-62)

Sisi keserupaan mereka dari beberapa sisi:

Pertama: Setiap dari kedua kelompok itu mengklaim bahwa ia beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi , padahal mereka tidak menerima semua yang beliau bawa.

Kedua: Kaum Nufaat ini, jika diseru kepada apa yang datang dalam Al-Kitab dan Sunnah berupa penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh, mereka berpaling dan menolak.

Sebagaimana orang-orang munafik itu, jika dikatakan kepada mereka: ‘Marilah berhukum kepada apa yang diturunkan Alloh dan kepada Rosul’, mereka berpaling dan menolak.

Ketiga: Kaum Nufaat ini memiliki para thowaghit (tiran) yang mereka taklid dan dahulukan atas apa yang dibawa oleh para Rosul, dan mereka ingin berhukum kepada mereka saat terjadi perselisihan, bukan kepada Al-Kitab dan Sunnah.

Sebagaimana orang-orang munafik itu ingin berhukum kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya.

Keempat: Kaum Nufaat ini mengklaim bahwa dengan metode mereka ini, mereka bermaksud melakukan perbuatan baik dan mencari keselarasan antara akal dan wahyu.

Sebagaimana orang-orang munafik itu bersumpah bahwa mereka tidak bermaksud selain berbuat baik (ihsan) dan mencari keselarasan (tawfiq).

Setiap orang yang bathil bersembunyi di balik kebathilannya dan menampakkan kebenaran, maka ia akan datang dengan klaim-klaim bathil yang dengannya ia menyebarkan kebathilannya.

Tetapi siapa yang dianugerahi Alloh ilmu, pemahaman, hikmah, dan niat yang baik, niscaya kebathilan tidak akan kabur baginya, dan klaim-klaim dusta tidak akan laku padanya.

Wallahul musta’an.

Konsekuensi Bathil dari Metode Kaum Nufaat

Fashl (Subbagian)

Metode kaum Nufaat mengharuskan konsekuensi-konsekuensi bathil, di antaranya:

1) Al-Kitab dan Sunnah secara tegas mengajak kepada kekafiran dan seruan kepadanya.

Karena keduanya penuh dengan penetapan sifat-sifat Alloh yang menurut klaim kaum Nufaat ini, penetapannya adalah tasybih (penyerupaan) dan kekafiran.

2) Al-Kitab dan Sunnah tidak menjelaskan kebenaran.

Karena kebenaran menurut mereka adalah penafian sifat-sifat, padahal di dalam Al-Kitab dan Sunnah tidak ada yang menunjukkan penafian sifat-sifat kesempurnaan dari Alloh, baik secara nash maupun zhohir.

Puncak upaya orang yang paling cerdas dari mereka adalah mengambil kesimpulan itu dari seperti firman Alloh:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama (samiyya) dengan Dia?” (QS. Maryam: 65)

Dan firman Alloh:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 4)

Dan sudah diketahui oleh setiap orang yang berakal bahwa maksud dari nash-nash seperti ini adalah menetapkan kesempurnaan Alloh, dan bahwa Dia tidak memiliki serupa (syabiih) dalam sifat-sifat-Nya.

Dan tidak mungkin dimaksudkan dengannya adalah penjelasan penafian sifat-sifat dari-Nya.

Karena tidak diragukan bahwa siapa yang menunjukkan manusia kepada penafian sifat-sifat Alloh dengan perkataan seperti ini, maka ia adalah: entah membingungkan (mulghiz) dalam perkataannya, atau menipu (mudallis), atau tidak mampu (‘aajiz) dalam menjelaskan.

Dan semua hal ini mustahil pada firman Alloh dan sabda Rosul-Nya .

Sungguh firman keduanya mengandung kesempurnaan penjelasan dan kehendak, maka tujuannya bukanlah untuk menyesatkan makhluk dan mengaburkan bagi mereka, dan di dalamnya tidak ada kekurangan dalam penjelasan dan kefasihan.

3) Orang-orang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, adalah orang-orang yang mengatakan kebathilan dan menyembunyikan kebenaran, atau tidak mengetahuinya.

Karena telah mutawatir nukilan dari mereka dengan penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh, yang menurut klaim kaum Nufaat ini adalah bathil.

Dan mereka tidak pernah berbicara satu kali pun tentang penafian sifat-sifat yang menurut klaim kaum Nufaat ini adalah kebenaran.

Dan konsekuensi ini mustahil bagi generasi terbaik dan ummat yang paling utama.

4) Jika sifat kesempurnaan dinafikan dari Alloh, niscaya wajib bagi-Nya disifati dengan sifat-sifat kekurangan.

Karena setiap yang ada di alam semesta ini pasti memiliki sifat. Jika sifat-sifat kesempurnaan dinafikan darinya, niscaya wajib disifati dengan sifat-sifat kekurangan.

Dengan ini, urusan akan berbalik kepada kaum Nufaat ini, dan mereka akan terjerumus ke dalam keburukan yang lebih besar dari yang mereka hindari.

Syubhat yang Dijadikan Sandaran Kaum Nufaat

Fashl (Subbagian)

Kaum Nufaat sifat bersandar pada syubhat-syubhat yang bathil yang diketahui kebathilannya oleh siapa pun yang dianugerahi Alloh ilmu yang benar dan pemahaman yang sehat.

Umumnya yang mereka sandarkan adalah:

1. Klaim Dusta

Seperti klaim mereka tentang ijma’ atas pendapat mereka, atau bahwa itu adalah penyelesaian, atau bahwa itu adalah pendapat para muhaqqiq (ahli yang meneliti), atau bahwa pendapat lawan mereka menyelisihi ijma’, dan yang sejenisnya.

2. Qiyas yang Rusak

Seperti perkataan mereka: “Penetapan sifat-sifat bagi Alloh mengharuskan tasybih (penyerupaan), karena sifat-sifat itu adalah a’rodh (sifat yang menempel), dan ‘arodh tidak ada kecuali pada jism (badan), dan jism-jism itu serupa.”

3. Berpegang kepada Musytarok

Berpegangan pada lafazh-lafazh yang musytarok (memiliki banyak makna) antara makna yang boleh disandarkan kepada Alloh dan makna yang tidak boleh disandarkan kepada-Nya.

Seperti: Jism (badan), Haiz (tempat), dan Jihah (arah). Lafazh-lafazh mujmal (global) ini mereka gunakan dengan menafikannya secara mutlak dari Alloh untuk menafikan sifat-sifat-Nya dari-Nya. (Lihat: pembahasan tentang jihah di Bab 9, dan jism di Bab 10)

Adapun Haiz (tempat), ia dirinci: jika yang dimaksud adalah bahwa Alloh diliputi oleh makhluk, maka itu mustahil.

Dan jika yang dimaksud adalah bahwa Dia terpisah (munhaaz) dari makhluk, berbeda dengan mereka, maka itu benar.

Kemudian mereka menyusun syubhat-syubhat ini dengan ungkapan-ungkapan yang dihiasi, panjang, dan aneh, yang orang yang tidak tahu mengira itu adalah kebenaran karena dihiasi dengan perhiasan perkataan.

Tetapi jika diperiksa secara hakiki, jelaslah bahwa itu adalah syubhat-syubhat bathil, sebagaimana dikatakan:

Hujjah-hujjah itu runtuh seperti kaca, kamu mengira itu benar,

Padahal setiap yang memecah akan terpecah.

Bantahan terhadap mereka dari beberapa sisi:

1) Merusak syubhat dan hujjah mereka, dan bahwa apa yang mereka tetapkan juga mengharuskan konsekuensi serupa dari yang mereka hindari pada apa yang mereka nafikkan.

2) Menjelaskan kontradiksi dan kegoyahan perkataan mereka, di mana setiap kelompok dari mereka mengklaim bahwa akal mewajibkan apa yang diklaim oleh kelompok lain bahwa akal melarangnya, dan yang sejenisnya.

Bahkan, satu orang dari mereka kadang mengatakan suatu perkataan yang ia klaim diwajibkan oleh akal, lalu ia merusaknya di tempat lain.

Dan kontradiksi perkataan adalah di antara dalil terkuat atas kerusakannya.

3) Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi bathil yang ditimbulkan oleh penafian mereka, karena rusaknya konsekuensi menunjukkan rusaknya apa yang mengharuskannya.

4) Nash-nash yang datang tentang sifat-sifat tidak mengandung kemungkinan ta’wil (penyelewengan makna).

Dan seandainya sebagiannya mengandung kemungkinan ta’wil, maka tidak ada padanya yang mencegah irodah (maksud) zhohir (makna lahiriah), maka wajiblah kembali kepada zhohir.

5) Sebagian besar perkara sifat-sifat ini diketahui secara dhoruroh (pasti) dari agama Islam bahwa Rosul membawanya.

Maka, menyelewengkannya sama kedudukannya dengan penyelewengan kaum Qoromithoh dan Bathiniyyah terhadap Sholat, Puasa, Haji, dan yang sejenisnya.

6) Akal yang jernih –yaitu yang selamat dari syubhat dan syahawat (hawa nafsu)– tidak menganggap mustahil apa yang datang dalam nash-nash tentang sifat-sifat Alloh.

Bahkan akal menunjukkan penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh secara umum, meskipun dalam nash-nash terdapat perincian-perincian dalam bab ini yang akal tidak mampu memahaminya dan meliputinya.

Sungguh para tokoh besar dari kalangan mereka telah mengakui bahwa akal tidak mungkin mencapai keyakinan dalam sebagian besar tuntutan ilahiyah.

Berdasarkan ini, maka yang wajib adalah menerima hal itu dari kenabian sebagaimana adanya, tanpa tahrif (penyelewengan)

Wallahu a’lam.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url