Metode Kaum Nufaat (Penolak Sifat Alloh) dalam Hal yang Wajib Ditetapkan atau Dinafikan dari Sifat-Sifat Alloh
Kaum Nufaat bersepakat untuk menetapkan bagi Alloh sifat-sifat yang
dituntut oleh akal mereka untuk ditetapkan, dan menafikan dari-Nya sifat-sifat
yang dituntut oleh akal mereka untuk dinafikan, baik itu sesuai dengan Al-Kitab
dan Sunnah maupun menyelisihinya. Maka, jalan penetapan atau penafian
sifat-sifat Alloh menurut mereka adalah akal.
Kemudian mereka berselisih tentang hal yang akal tidak menuntut
penetapan atau penafiannya.
Sebagian besar dari mereka menafikannya dan menyelewengkan apa yang
datang darinya kepada makna majaz (kiasan).
Dan sebagian dari mereka berhenti (tawaqquf) di dalamnya dan
menyerahkan ilmunya kepada Alloh, disertai penafian petunjuknya pada sifat apa
pun.
Mereka mengklaim bahwa dengan metode ini mereka telah menyelaraskan
antara dalil-dalil akal dan wahyu, tetapi mereka berdusta dalam klaim itu, karena
dalil-dalil akal dan wahyu selaras dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan
bagi Alloh.
Dan semua yang datang dalam Al-Kitab dan Sunnah tentang sifat-sifat
Alloh tidak menyelisihi akal, meskipun akal tidak mampu memahami rinciannya.
Sungguh kaum Nufaat ini serupa dalam metode mereka dengan orang-orang
yang Alloh berfirman tentang mereka:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ
أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ
أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ
الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ
صُدُوداً فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ
جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ إِحْسَاناً وَتَوْفِيقاً
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa
yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka ingin
berhukum kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk
mengingkarinya. Dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang
jauh. Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah berhukum kepada apa yang
diturunkan Alloh dan kepada Rosul’, kamu lihat orang-orang munafik itu
berpaling darimu dengan sangat. Maka, bagaimana jika mereka ditimpa musibah
disebabkan apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri, kemudian mereka
datang kepadamu, bersumpah demi Alloh: ‘Kami tidak bermaksud selain berbuat
baik (ihsan) dan mencari keselarasan (tawfiq).’” (QS. An-Nisa’:
60-62)
Sisi keserupaan mereka dari beberapa sisi:
Pertama: Setiap dari kedua kelompok itu mengklaim bahwa
ia beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ, padahal mereka tidak menerima semua yang beliau bawa.
Kedua: Kaum Nufaat ini, jika diseru kepada apa yang
datang dalam Al-Kitab dan Sunnah berupa penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi
Alloh, mereka berpaling dan menolak.
Sebagaimana orang-orang munafik itu, jika dikatakan kepada mereka: ‘Marilah
berhukum kepada apa yang diturunkan Alloh dan kepada Rosul’, mereka berpaling
dan menolak.
Ketiga: Kaum Nufaat ini memiliki para thowaghit
(tiran) yang mereka taklid dan dahulukan atas apa yang dibawa oleh para Rosul,
dan mereka ingin berhukum kepada mereka saat terjadi perselisihan, bukan kepada
Al-Kitab dan Sunnah.
Sebagaimana orang-orang munafik itu ingin berhukum kepada Thoghut,
padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya.
Keempat: Kaum Nufaat ini mengklaim bahwa dengan metode
mereka ini, mereka bermaksud melakukan perbuatan baik dan mencari keselarasan
antara akal dan wahyu.
Sebagaimana orang-orang munafik itu bersumpah bahwa mereka tidak
bermaksud selain berbuat baik (ihsan) dan mencari keselarasan (tawfiq).
Setiap orang yang bathil bersembunyi di balik kebathilannya dan
menampakkan kebenaran, maka ia akan datang dengan klaim-klaim bathil yang
dengannya ia menyebarkan kebathilannya.
Tetapi siapa yang dianugerahi Alloh ilmu, pemahaman, hikmah, dan niat
yang baik, niscaya kebathilan tidak akan kabur baginya, dan klaim-klaim dusta
tidak akan laku padanya.
Wallahul musta’an.
Konsekuensi Bathil dari Metode Kaum Nufaat
Fashl (Subbagian)
Metode kaum Nufaat mengharuskan konsekuensi-konsekuensi bathil, di antaranya:
1) Al-Kitab dan Sunnah secara tegas mengajak kepada kekafiran dan seruan
kepadanya.
Karena keduanya penuh dengan penetapan sifat-sifat Alloh yang menurut
klaim kaum Nufaat ini, penetapannya adalah tasybih (penyerupaan) dan
kekafiran.
2) Al-Kitab dan Sunnah tidak menjelaskan kebenaran.
Karena kebenaran menurut mereka adalah penafian sifat-sifat, padahal di
dalam Al-Kitab dan Sunnah tidak ada yang menunjukkan penafian sifat-sifat
kesempurnaan dari Alloh, baik secara nash maupun zhohir.
Puncak upaya orang yang paling cerdas dari mereka adalah mengambil
kesimpulan itu dari seperti firman Alloh:
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
“Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama (samiyya) dengan Dia?” (QS.
Maryam: 65)
Dan firman Alloh:
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash:
4)
Dan sudah diketahui oleh setiap orang yang berakal bahwa maksud dari nash-nash
seperti ini adalah menetapkan kesempurnaan Alloh, dan bahwa Dia tidak memiliki
serupa (syabiih) dalam sifat-sifat-Nya.
Dan tidak mungkin dimaksudkan dengannya adalah penjelasan penafian
sifat-sifat dari-Nya.
Karena tidak diragukan bahwa siapa yang menunjukkan manusia kepada
penafian sifat-sifat Alloh dengan perkataan seperti ini, maka ia adalah: entah
membingungkan (mulghiz) dalam perkataannya, atau menipu (mudallis),
atau tidak mampu (‘aajiz) dalam menjelaskan.
Dan semua hal ini mustahil pada firman Alloh dan sabda Rosul-Nya ﷺ.
Sungguh firman keduanya mengandung kesempurnaan penjelasan dan kehendak,
maka tujuannya bukanlah untuk menyesatkan makhluk dan mengaburkan bagi mereka,
dan di dalamnya tidak ada kekurangan dalam penjelasan dan kefasihan.
3) Orang-orang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan
Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, adalah
orang-orang yang mengatakan kebathilan dan menyembunyikan kebenaran, atau tidak
mengetahuinya.
Karena telah mutawatir nukilan dari mereka dengan penetapan
sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh, yang menurut klaim kaum Nufaat ini adalah
bathil.
Dan mereka tidak pernah berbicara satu kali pun tentang penafian sifat-sifat
yang menurut klaim kaum Nufaat ini adalah kebenaran.
Dan konsekuensi ini mustahil bagi generasi terbaik dan ummat yang paling
utama.
4) Jika sifat kesempurnaan dinafikan dari Alloh, niscaya wajib bagi-Nya
disifati dengan sifat-sifat kekurangan.
Karena setiap yang ada di alam semesta ini pasti memiliki sifat. Jika
sifat-sifat kesempurnaan dinafikan darinya, niscaya wajib disifati dengan
sifat-sifat kekurangan.
Dengan ini, urusan akan berbalik kepada kaum Nufaat ini, dan mereka akan
terjerumus ke dalam keburukan yang lebih besar dari yang mereka hindari.
Syubhat yang Dijadikan Sandaran Kaum Nufaat
Fashl (Subbagian)
Kaum Nufaat sifat bersandar pada syubhat-syubhat yang bathil yang
diketahui kebathilannya oleh siapa pun yang dianugerahi Alloh ilmu yang benar
dan pemahaman yang sehat.
Umumnya yang mereka sandarkan adalah:
1.
Klaim Dusta
Seperti klaim mereka tentang ijma’ atas pendapat mereka, atau bahwa itu
adalah penyelesaian, atau bahwa itu adalah pendapat para muhaqqiq (ahli
yang meneliti), atau bahwa pendapat lawan mereka menyelisihi ijma’, dan yang
sejenisnya.
2.
Qiyas yang Rusak
Seperti perkataan mereka: “Penetapan sifat-sifat bagi Alloh mengharuskan
tasybih (penyerupaan), karena sifat-sifat itu adalah a’rodh
(sifat yang menempel), dan ‘arodh tidak ada kecuali pada jism (badan),
dan jism-jism itu serupa.”
3.
Berpegang kepada Musytarok
Berpegangan pada lafazh-lafazh yang musytarok (memiliki banyak
makna) antara makna yang boleh disandarkan kepada Alloh dan makna yang tidak
boleh disandarkan kepada-Nya.
Seperti: Jism (badan), Haiz (tempat), dan Jihah
(arah). Lafazh-lafazh mujmal (global) ini mereka gunakan dengan
menafikannya secara mutlak dari Alloh untuk menafikan sifat-sifat-Nya dari-Nya.
(Lihat: pembahasan tentang jihah di Bab 9, dan jism di Bab 10)
Adapun Haiz (tempat), ia dirinci: jika yang dimaksud adalah bahwa
Alloh diliputi oleh makhluk, maka itu mustahil.
Dan jika yang dimaksud adalah bahwa Dia terpisah (munhaaz) dari
makhluk, berbeda dengan mereka, maka itu benar.
Kemudian mereka menyusun syubhat-syubhat ini dengan ungkapan-ungkapan
yang dihiasi, panjang, dan aneh, yang orang yang tidak tahu mengira itu adalah
kebenaran karena dihiasi dengan perhiasan perkataan.
Tetapi jika diperiksa secara hakiki, jelaslah bahwa itu adalah
syubhat-syubhat bathil, sebagaimana dikatakan:
Hujjah-hujjah itu runtuh seperti kaca, kamu mengira
itu benar,
Padahal setiap yang memecah akan terpecah.
Bantahan terhadap mereka dari beberapa sisi:
1) Merusak syubhat dan hujjah mereka, dan bahwa apa yang mereka tetapkan
juga mengharuskan konsekuensi serupa dari yang mereka hindari pada apa yang
mereka nafikkan.
2) Menjelaskan kontradiksi dan kegoyahan perkataan mereka, di mana
setiap kelompok dari mereka mengklaim bahwa akal mewajibkan apa yang diklaim
oleh kelompok lain bahwa akal melarangnya, dan yang sejenisnya.
Bahkan, satu orang dari mereka kadang mengatakan suatu perkataan yang ia
klaim diwajibkan oleh akal, lalu ia merusaknya di tempat lain.
Dan kontradiksi perkataan adalah di antara dalil terkuat atas
kerusakannya.
3) Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi bathil yang ditimbulkan oleh
penafian mereka, karena rusaknya konsekuensi menunjukkan rusaknya apa yang
mengharuskannya.
4) Nash-nash yang datang tentang sifat-sifat tidak mengandung
kemungkinan ta’wil (penyelewengan makna).
Dan seandainya sebagiannya mengandung kemungkinan ta’wil, maka
tidak ada padanya yang mencegah irodah (maksud) zhohir (makna
lahiriah), maka wajiblah kembali kepada zhohir.
5) Sebagian besar perkara sifat-sifat ini diketahui secara dhoruroh
(pasti) dari agama Islam bahwa Rosul ﷺ
membawanya.
Maka, menyelewengkannya sama kedudukannya dengan penyelewengan kaum
Qoromithoh dan Bathiniyyah terhadap Sholat, Puasa, Haji, dan yang sejenisnya.
6) Akal yang jernih –yaitu yang selamat dari syubhat dan syahawat (hawa
nafsu)– tidak menganggap mustahil apa yang datang dalam nash-nash
tentang sifat-sifat Alloh.
Bahkan akal menunjukkan penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Alloh
secara umum, meskipun dalam nash-nash terdapat perincian-perincian dalam
bab ini yang akal tidak mampu memahaminya dan meliputinya.
Sungguh para tokoh besar dari kalangan mereka telah mengakui bahwa akal
tidak mungkin mencapai keyakinan dalam sebagian besar tuntutan ilahiyah.
Berdasarkan ini, maka yang wajib adalah menerima hal itu dari kenabian
sebagaimana adanya, tanpa tahrif (penyelewengan)
Wallahu a’lam.