Cari Artikel

Mempersiapkan...

Munculnya Ajaran Ta’thil (Menolak Sifat Alloh) dan Sumbernya

 

Ajaran Ta’thil (penolakan sifat) tersebar setelah generasi-generasi terbaik (al-qurun al-mufadhdholah) –para Shohabat, Tabi’in, dan pengikut mereka– meskipun akarnya telah muncul di akhir masa Tabi’in.

Orang pertama yang berbicara dengan ta’thil adalah Ja’d bin Dirham (w. 124 H).

Ia berkata: “Sungguh Alloh tidak menjadikan Ibrohim sebagai Kholiil (kekasih), dan tidak berfirman kepada Musa dengan firman yang sebenarnya.”

Maka Kholid bin Abdillah al-Qosri (w. 126 H), yang merupakan gubernur Irak bagi Hisyam bin Abdil Malik, membunuhnya.

Ia membawanya ke lapangan ‘Ied dengan terikat, kemudian ia berkhutbah kepada orang banyak, dan berkata: “Wahai sekalian manusia! Berkurbanlah, semoga Alloh menerima kurban kalian. Sungguh aku akan berkurban dengan Ja’d bin Dirham, karena ia mengklaim bahwa Alloh tidak menjadikan Ibrohim sebagai Kholiil, dan tidak berfirman kepada Musa dengan firman yang sebenarnya.”

Kemudian ia turun dan menyembelihnya. Hal itu terjadi pada ‘Iedul Adh-ha tahun 119 H. [Ada pula pendapat 124 H—pen]

Mengenai hal itu, Ibnul Qoyyim (w. 751 H) rohimahulloh berkata dalam “An-Nuniyyah”:

Dan karena itulah Kholid al-Qosri mengurbankan Ja’d,

Pada hari penyembelihan kurban.

Karena ia berkata Ibrohim bukanlah kekasih-Nya,

Tidak pula Musa yang diajak bicara (al-Kaliim) yang dekat.

Setiap Shohibus Sunnah berterima kasih atas kurban itu,

Semoga Alloh memberkahimu wahai saudara berkurban.

Kemudian ajaran itu diambil dari Ja’d oleh seorang laki-laki yang dipanggil Jahm bin Shofwan (w. 128 H), yang dinisbatkan kepadanya madz-hab Jahmiyyah Mu’atthilah, karena dialah yang menyebarkannya. Maka Salam bin Ahwaz (w. 170 H), kepala kepolisian Nashr bin Sayyar, membunuhnya di Khurosan pada tahun 128 H.

Sekitar abad kedua Hijriyyah, kitab-kitab Yunani dan Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Arob, sehingga urusan semakin parah dan berat.

Kemudian sekitar abad ketiga Hijriyyah, ajaran Jahmiyyah menyebar lewat Bisyr bin Ghiyats al-Marisi (w. 218 H) dan golongannya, yang para imam telah bersepakat mencela mereka, dan sebagian besar dari mereka mengkafirkan atau menyesatkan mereka.

Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (w. 280 H) menulis sebuah kitab untuk membantah al-Marisi yang dinamainya: “Naqdh Utsman bin Sa’id ‘alal Kaafir al-’Anid fiimaftaro ‘alalloh min at-Tauhid.”

Siapa yang menelaah kitab ini dengan ilmu dan keadilan, akan jelas baginya lemahnya hujjah kaum Mu’atthilah ini, bahkan kebathilannya.

Dan sungguh ta’wilaat (penyelewengan makna) yang terdapat dalam perkataan banyak orang muta’akhirin seperti ar-Rozi (w. 606 H), al-Ghozali (w. 505 H), Ibnu ‘Aqil (w. 513 H), dan selain mereka, sama persis dengan ta’wilaat Bisyr.

Adapun sumber ajaran Ta’thil adalah Yahudi, musyrikin, dan kesesatan kaum Shoobi’ah dan Filosof.

Sungguh Ja’d bin Dirham (w. 124 H) mengambil ajarannya –sebagaimana dikatakan– dari Aban bin Sam’an (w. 138 H), dari Tholut, dari Labid bin al-A’shom al-Yahudi yang menyihir Nabi .

Kemudian Ja’d –sebagaimana dikatakan– berasal dari wilayah Harron, dan di sana terdapat banyak orang musyrik, Shoobi’ah, dan Filosof.

Dan tidak diragukan bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang kuat terhadap Aqidah dan akhlak seseorang.

Madz-hab kaum Nufaat (penolak sifat) dari kalangan ini adalah bahwa Alloh tidak memiliki sifat-sifat tsubutiyyah (penetapan).

Karena penetapan sifat –menurut klaim mereka– menuntut bahwa Alloh serupa dengan makhluk-Nya. Dan mereka hanya menetapkan bagi-Nya sifat-sifat salbiyyah (peniadaan), sifat-sifat idh’ofiyyah (penyandaran), atau yang tersusun dari keduanya.

Sifat salbiyyah: Yaitu yang maknanya adalah ketiadaan suatu perkara yang tidak layak bagi Alloh ‘azza wa jalla.

Seperti perkataan mereka: “Sungguh Alloh Waahid (Esa)”, maknanya adalah: dinafikan dari-Nya pembagian jumlah, atau perkataan, dan dinafikan dari-Nya sekutu.

Sifat idh’ofiyyah: Yaitu yang Alloh tidak disifati dengannya sebagai sifat yang tetap bagi-Nya, tetapi disifati dengannya berdasarkan penyandarannya kepada selain-Nya.

Seperti perkataan mereka tentang Alloh: “Sungguh Dia Mabda (asal mula) dan ‘Illah (penyebab).”

Dia adalah Mabda’ dan ‘Illah berdasarkan bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya, bukan berdasarkan sifat yang tetap bagi-Nya yang berupa Bada (asal mula) dan ‘Illiyah (penyebab).

Sifat yang tersusun dari keduanya: Yaitu yang bersifat salbiyyah dari satu sisi, dan idh’ofiyyah dari sisi lain.

Seperti perkataan mereka tentang Alloh: “Sungguh Dia Awwal (Yang Awal).”

Ia adalah salbiyyah ditinjau dari bahwa dinafikan dari-Nya kebaruan (huduts). Dan idh’ofiyyah ditinjau dari bahwa segala sesuatu setelah-Nya.

Jika ini adalah sumber dari mana metode kaum Nufaat (penolak sifat) mengambilnya, maka bagaimana hati seorang Mu’min atau orang berakal akan merasa nyaman mengambilnya dan meninggalkan jalan orang-orang yang Alloh berikan ni’mat kepada mereka, dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’, dan Sholihin?


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url