Cari Artikel

Mempersiapkan...

Pembukaan Kitab Fathur Robb Al-Bariyyah bi Talkhis Al-Hamawiyyah Karya Ibnu Utsaimin

 

Segala puji hanyalah milik Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.

Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya. Semoga sholawat, salam, dan kesejahteraan yang banyak tercurah kepada beliau, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau.

Adapun setelah itu:

Sungguh Alloh mengutus Muhammad dengan petunjuk (ilmu) dan agama yang benar (amal); sebagai rohmat bagi seluruh alam, teladan bagi orang-orang yang beramal, dan hujjah (bukti) atas seluruh hamba. Beliau telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, menasihati ummat, dan menjelaskan kepada seluruh manusia segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam urusan dasar-dasar agama (ushuluddin) maupun cabang-cabangnya (furu’).

Beliau tidak meninggalkan satu pun kebaikan melainkan telah menjelaskannya dan menganjurkannya, dan tidak meninggalkan satu pun keburukan melainkan telah memperingatkan ummat darinya. Beliau meninggalkan ummatnya di atas jalan yang putih bersih, malamnya terang seperti siangnya.

Para Shohabat beliau rodhiyallahu ‘anhum berjalan di atas jalan itu dengan terang benderang, dan generasi-generasi terbaik (al-qurun al-mufadhdholah) menerima ajaran itu dari mereka juga dengan terang benderang. Hingga kemudian suasana menjadi gelap oleh berbagai macam bid’ah yang diciptakan oleh para penganutnya untuk memerangi Islam dan pemeluknya.

Mereka mulai berjalan tersandung-sandung di dalamnya seperti unta buta yang berjalan tanpa arah, dan membangun keyakinan mereka di atas rapuhnya sarang laba-laba.

Namun, Robb melindungi agama-Nya dengan wali-wali-Nya yang telah dianugerahi keimanan, ilmu, dan hikmah, yang dengannya mereka mampu menolak musuh-musuh ini dan mengembalikan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri. Tidaklah ada seseorang yang membuat bid’ah melainkan Alloh –dan segala puji bagi-Nya– akan membangkitkan dari kalangan Ahlus Sunnah orang yang akan menghancurkan dan membatalkan bid’ah tersebut.

Di antara tokoh terdepan yang bangkit melawan para mubtadi (pembuat bid’ah) ini adalah Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Abdilhalim bin Abdissalam bin Taimiyah Al-Harroni, kemudian Ad-Dimasyqi, yang dilahirkan di Harron pada hari Senin, 10 Robi’ul Awwal tahun 661 H, dan wafat dalam keadaan dipenjara secara zholim di benteng Damaskus pada bulan Dzul Qo’dah tahun 728 H, rohimahulloh.

Beliau memiliki banyak karya tulis yang menjelaskan Sunnah, mengukuhkan tiang-tiangnya, dan meruntuhkan bid’ah-bid’ah.

Di antara karya beliau dalam bab ini adalah risalah “Al-Fatwa Al-Hamawiyyah” yang beliau tulis sebagai jawaban atas pertanyaan yang sampai kepada beliau pada tahun 698 H dari “Hamah”, sebuah kota di Syam, yang bertanya tentang apa yang dikatakan oleh para fuqoha dan para imam agama mengenai ayat-ayat dan Hadits-Hadits tentang shifat (sifat-sifat Alloh).

Beliau menjawab dengan jawaban yang terdiri dari sekitar 83 halaman, dan karena itu beliau menghadapi cobaan dan bencana. Semoga Alloh membalas beliau dengan sebaik-baik balasan atas jasanya kepada Islam dan kaum Muslimin.

Karena pemahaman dan penguasaan terhadap jawaban ini terasa sulit bagi banyak pembacanya, saya ingin meringkas bagian-bagian pentingnya, dengan menambahkan hal-hal yang dibutuhkan. Saya menamakannya:

Fathur Robb Al-Bariyyah bi Talkhis Al-Hamawiyyah.”

Saya telah mencetaknya pertama kali pada tahun 1380 H, dan sekarang saya mencetaknya kembali untuk kedua kalinya (setelah itu dicetak berkali-kali), dan mungkin saya mengubah apa yang saya anggap perlu diubah, baik berupa penambahan atau penghapusan.

Saya memohon kepada Alloh agar menjadikan amal kami ikhlas hanya karena wajah-Nya dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Sungguh Dia adalah Jawwad (Maha Pemberi) lagi Karim (Maha Mulia).

Penulis

(Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url