Cari Artikel

Mempersiapkan...

Pesona Surga dalam Kenikmatan Penduduknya

 


 

5.1 Keutamaan Keni’matan Jannah Dibanding Kesenangan Dunia

Kesenangan dunia adalah kenyataan yang disaksikan, dan keni’matan Jannah adalah ghoib yang dijanjikan. Manusia terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan saksikan, dan terasa berat di hati mereka untuk meninggalkan apa yang ada di tangan mereka menuju sesuatu yang akan mereka raih di masa depan. Apalagi jika yang dijanjikan itu diraih setelah kematian?

Oleh karena itu, Alloh membandingkan antara kesenangan dunia dan keni’matan Jannah, dan menjelaskan bahwa keni’matan Jannah lebih baik daripada dunia dan lebih utama. Dia memperpanjang celaan terhadap dunia dan menjelaskan keutamaan Akhiroh. Itu semua agar para hamba bersungguh-dalam mencari Akhiroh dan meraih keni’matannya.

Engkau akan menemukan celaan terhadap dunia dan pujian terhadap keni’matan Akhiroh, serta pengutamaan apa yang ada di sisi Alloh di atas kesenangan dunia yang dekat dan cepat, di banyak tempat. Seperti firman-Nya :

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ

“Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Robb mereka, bagi mereka kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat tinggal dari sisi Alloh. apa yang ada di sisi Alloh lebih baik bagi abroor (orang-orang yang berbakti).” (QS. Ali ‘Imron: 198)

firman-Nya:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada keni’matan hidup duniawi yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengannya. karunia Robb-mu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 131)

Di tempat yang ketiga, Alloh berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ * قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۖ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada hal-hal yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan (matā’) hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Bagi orang-orang yang bertaqwa, di sisi Robb mereka ada kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta keridhoan dari Alloh. Alloh Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imron: 14-15)

Jika kita mencari tahu rahasia keutamaan keni’matan Akhiroh di atas kesenangan dunia, kita akan menemukannya dari berbagai sisi:

Pertama: Kesenangan dunia itu sedikit. Alloh berfirman:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ

“Katakanlah: Kesenangan dunia itu sedikit, dan Akhiroh itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa.(QS. An-Nisa’: 77)

Rosululloh menggambarkan sedikitnya kesenangan dunia dibandingkan keni’matan Akhiroh dengan perumpamaan yang beliau buat:

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Demi Alloh, tidaklah dunia dibandingkan Akhiroh melainkan seperti salah seorang dari kalian menaruh jarinya ini – dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya – ke dalam lautan. Maka lihatlah, dengan apa ia (jarinya) kembali.” (HR. Muslim: no. 2858)

Apa yang diambil jari jika dicelupkan ke lautan yang luas? Ia tidak mengambil setetes pun darinya. Itulah perbandingan dunia dengan Akhiroh.

Karena kesenangan dunia itu sedikit, Alloh mencela mereka yang mengutamakan kesenangan dunia di atas keni’matan Akhiroh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian, jika dikatakan kepada kalian: Berangkatlah (berjihad) di jalan Alloh, kalian merasa berat dan cenderung kepada bumi (dunia)? Apakah kalian lebih ridho dengan kehidupan dunia daripada Akhiroh? Padahal kesenangan kehidupan dunia (dibanding) Akhiroh hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)

Kami telah menyebutkan dalam kitab ini nash-nash yang menunjukkan banyaknya keni’matan dunia dan tidak adanya habis dan putus.

Kedua: Ia (keni’matan Jannah) lebih utama dari sisi jenisnya. Pakaian penduduk Jannah, makanan, minuman, perhiasan, dan istana mereka – lebih utama daripada yang ada di dunia. Bahkan, tidak ada perbandingan. Tempat satu cambuk di Jannah lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Dalam Shohih Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Tempat satu cambuk di Jannah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih, no. 5613)

Dalam Hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Tempat sejengkal busur panah salah seorang dari kalian di Jannah lebih baik daripada segala sesuatu yang diterangi matahari (dunia seisinya).” (Misykatul Mashobih, no. 5615)

Bandingkan wanita-wanita penduduk Jannah dengan wanita-wanita dunia, niscaya engkau akan tahu keutamaan yang ada di Jannah di atas yang ada di dunia.

Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

لَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ عَلَى الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Seandainya seorang wanita dari wanita penduduk Jannah menampakkan diri ke bumi, niscaya ia akan menerangi apa yang ada di antara keduanya, dan memenuhi apa yang ada di antara keduanya dengan aroma wangi. Nashīf (kerudung)nya di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih, no. 5614)

Ketiga: Jannah itu bersih dari kotoran dunia dan kekeruhannya. Makanan dan minuman penduduk dunia menghasilkan air seni dan kotoran, dan bau yang tidak sedap. Jika seseorang meminum khomr dunia, akalnya akan hilang. Wanita-wanita dunia mengalami haidh dan melahirkan, dan haidh adalah kotoran.

Jannah bersih dari semua itu. Penduduknya tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak mengeluarkan ingus.

Khomr Jannah, sebagaimana Alloh yang menciptakannya menyifati:

بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ * لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

“(Warnanya) putih bersih, lezat rasanya bagi peminumnya Tidak ada di dalamnya ghoul (minuman memabukkan, penyakit, kejelekan), dan mereka tidak akan mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shoffat: 46-47)

Air Jannah tidak berubah rasa dan baunya, dan susu Jannah tidak berubah rasanya:

أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ

“Sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, dan sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya.” (QS. Muhammad: 15)

Wanita-wanita penduduk Jannah suci dari haidh, nifās, dan semua kotoran wanita dunia. Sebagaimana firman Alloh :

وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ

di sana bagi mereka ada pasangan-pasangan yang suci.” (QS. Al-Baqoroh: 25)

Hati penduduk Jannah bersih (shōfiyah), perkataan mereka baik (thoyyibah), dan amal mereka sholih. Engkau tidak akan mendengar di Jannah kata-kata buruk yang mengeruhkan pikiran, mengganggu suasana hati, atau memancing amarah. Jannah bersih dari perkataan dan perbuatan yang batil:

لَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ

“Di dalamnya mereka tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.” (QS. Ath-Thūr: 23)

tidak ada yang terdengar kecuali kata-kata yang benar, baik, dan selamat dari celaan ucapan penduduk dunia:

لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا

“Di dalamnya mereka tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula kedustaan.” (QS. An-Naba’: 35)

لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا

“Di dalamnya mereka tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) kecuali ucapan salām (keselamatan).” (QS. Maryam: 62)

لَّا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً

“Di dalamnya kamu tidak akan mendengar perkataan yang tidak berguna.” (QS. Al-Ghosyiyah: 11)

Ia adalah negeri kesucian dan kemurnian serta kebersihan, yang bersih dari segala cacat dan kekeruhan. Ia adalah Dār As-Salām (negeri keselamatan) dan ketenangan:

لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

“Di dalamnya mereka tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa Kecuali ucapan salāman salāmā (selamat, damai).” (QS. Al-Waqi’ah: 25-26)

Oleh karena itu, ketika penduduk Jannah telah bebas dari Naar, mereka ditahan di qonthoroh (jembatan kecil) antara Jannah dan Naar, kemudian mereka disucikan dan dibersihkan. Yaitu dengan di-qishosh-kan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Maka mereka masuk Jannah dalam keadaan hati mereka bersih, dan hilanglah dari jiwa mereka kebencian dan kedengkian, dan yang semisalnya yang ada di dunia.

Dalam Shohihain, dalam sifat penduduk Jannah ketika mereka memasukinya:

لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Tidak ada perselisihan di antara mereka, dan tidak ada kebencian. Hati mereka adalah hati satu orang. Mereka bertasbih kepada Alloh di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/318)

Ia dibenarkan firman Alloh :

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Kami cabut rasa dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Ghill adalah kedengkian (ĥiqd). Telah dinukil dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika penduduk Jannah masuk Jannah, mereka minum dari sebuah mata air, lalu Alloh menghilangkan ghill (kedengkian) yang ada di hati mereka. mereka minum dari mata air lain, maka wajah mereka berseri dan rupa mereka bersih. Mungkin mereka mengambil faedah ini dari firman Alloh :

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

“Robb mereka memberi mereka minum dengan minuman yang suci.” (QS. Al-Insan: 21) (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 499)

Keempat: Keni’matan dunia itu sirna, dan keni’matan Akhiroh itu kekal dan abadi. Oleh karena itu, Alloh menamakan apa yang dihiaskan kepada manusia dari bunga dunia sebagai kesenangan, karena ia dini’mati kemudian sirna. Adapun keni’matan Akhiroh, ia kekal, tidak ada habisnya:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada pada kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal.” (QS. An-Naĥl: 96)

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ

“Sungguh, ini adalah rizqi dari Kami yang tidak ada habis-habisnya.” (QS. Shod: 54)

أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا

“Buah-buahannya tidak henti-henti, sedang naungannya (juga demikian).” (QS. Ar-Ro’d: 35)

Alloh telah membuat perumpamaan untuk cepatnya sirna dan berlalunya dunia:

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

buatkanlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, sehingga tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur karenanya, kemudian (tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang abadi (al-bōqiyātush shōliĥāt) lebih baik pahalanya di sisi Robb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 45-46)

Alloh membuat perumpamaan cepatnya sirna dan berlalunya dunia dengan air yang turun dari langit, yang bercampur dengannya tumbuh-tumbuhan bumi sehingga ia menjadi hijau, berbunga, dan berbuah. Tidak lama kemudian, keindahannya hilang, ia layu dan menguning, kemudian diterbangkan angin ke segala tempat. Begitu juga perhiasan dunia berupa masa muda, harta, anak-anak, pertanian, dan tanaman... semua itu akan lenyap dan berakhir. Masa muda layu dan pergi, kesehatan dan kebugaran berganti menjadi tua dan sakit. Harta dan anak-anak bisa pergi, dan manusia bisa dicabut dari keluarganya dan hartanya.

Adapun Akhiroh, tidak ada pergi (terusir), tidak ada fana, dan tidak ada sirna:

وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ * جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

sungguh, Dārul Ākhiroh (negeri Akhiroh) lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) Jannah ‘Adn (tempat tinggal abadi), mereka memasukinya, mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. An-Naĥl: 30-31)

Kelima: Beramal untuk kesenangan dunia dan melupakan Akhiroh akan diikuti oleh penyesalan (ĥasroh) dan masuk Naar:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap jiwa akan merasakan kematian. hanya pada hari Kiamatlah disempurnakan balasan kalian. Maka siapa yang dijauhkan dari Naar dan dimasukkan ke Jannah, dia telah beruntung (menang). kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya (ghurūr).” (QS. Ali ‘Imron: 185)

5.2 Makanan dan Minuman Penduduk Jannah

Telah kami bahas sebelumnya tentang pohon-pohon Jannah dan buah-buahannya, serta gugusan buahnya yang dekat (dāniyah) dan dimudahkan untuk dipetik (tadzlīlā). Juga tentang pilihan penduduk Jannah dari buah-buahan itu sesuai yang mereka inginkan dan sukai.

Di Jannah ada apa yang diinginkan jiwa berupa makanan dan minuman:

وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

buah-buahan dari apa yang mereka pilih. daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 20-21)

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ

di dalamnya terdapat apa yang diinginkan oleh nafsu dan sedap dipandang mata.” (QS. Az-Zukhruf: 71)

Alloh telah mengizinkan mereka untuk mengambil dari kebaikan-kebaikan Jannah dan jenis-jenis makanan serta minumannya apa yang mereka inginkan:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“Makan dan minumlah dengan ni’mat, karena amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Ĥāqqah: 24)

Kami juga telah menyebutkan sebelumnya bahwa di Jannah ada lautan air, lautan khomr, lautan susu, dan lautan madu. sungai-sungai Jannah terbelah dari lautan-lautan ini.

Di Jannah terdapat banyak mata air (‘uyūn), dan penduduk Jannah minum dari lautan, sungai, dan mata air tersebut.

Alloh berfirman:

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

“Sungguh, orang-orang yang Abror (berbakti) minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah kāfūr. (Yaitu) mata air (aynan) yang diminum oleh hamba-hamba Alloh, yang mereka alirkan terus-menerus dengan pengaliran yang deras.” (QS. Al-Insan: 5-6)

Dia berfirman:

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا * عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا

di sana mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjabīl (jahe). (Yang diambil) dari sebuah mata air di Jannah yang dinamakan salsabīl.” (QS. Al-Insan: 17-18)

firman-Nya:

وَمِزَاجُهُ مِن تَسْنِيمٍ * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

campurannya dari tasnīm. (Yaitu) mata air yang diminum oleh al-muqorrobūn (orang-orang yang didekatkan).” (QS. Al-Muthoffifin: 27-28)

5.2.1 Khomr (Minuman Keras) Penduduk Jannah

Di antara minuman yang Alloh karuniakan kepada penduduk Jannah adalah khomr. Khomr Jannah bersih dari cacat dan kerusakan yang melekat pada khomr dunia. Khomr dunia menghilangkan akal, membuat kepala pusing, menyebabkan sakit perut, merusak badan, mendatangkan penyakit, dan mungkin cacat dalam pembuatannya atau warnanya atau lainnya.

Adapun khomr Jannah, ia bersih dari semua itu, indah, murni, dan jernih:

يُطَافُ عَلَيْهِم بِكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ * بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ * لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

“Diedarkan kepada mereka gelas (berisi minuman) dari mata air yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, lezat rasanya bagi peminumnya. Tidak ada di dalamnya ghowl (minuman memabukkan, penyakit, kejelekan), dan mereka tidak akan mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shoffat: 45-47)

Alloh menjelaskan keindahan warnanya. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ia lezat bagi peminumnya tanpa menghilangkan akalnya, sebagaimana firman-Nya:

وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ

sungai-sungai dari khomr (minuman keras) yang lezat bagi peminumnya.” (QS. Muhammad: 18)

Kemudian, peminumnya tidak akan bosan meminumnya:

وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

mereka tidak akan mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shoffat: 47)

Di tempat lain, Dia menyifati khomr Jannah:

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ لَّا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزَفُونَ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang kekal, dengan membawa gelas, cerek, dan minuman bening yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak (pula) mabuk.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-19)

Ibnu Katsir (774 H) berkata dalam tafsir ayat ini: “Kepala mereka tidak pusing, dan akal mereka tidak hilang. Bahkan, akal mereka tetap ada bersama keni’matan yang memabukkan dan kelezatan yang didapatkan. Adh-Dhohhāk (105 H) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: ‘Khomr (dunia) memiliki 4 sifat: memabukkan (as-sukr), pusing (aṣ-ṣudā’), muntah (al-qay’), dan buang air kecil (al-baul). Maka Alloh menyebutkan khomr Jannah, dan membersihkannya dari sifat-sifat ini.’” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/514)

Alloh berfirman di tempat ketiga:

يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ خِتَامُهُ مِسْكٌ

“Mereka diberi minum dari roĥīq (minuman murni) yang dimeteraikan. Laknya (khitāmuhū) adalah misik.” (QS. Al-Muthoffifin: 25-26)

Roĥīq adalah khomr. Khomr ini disifati dengan dua sifat: Pertama, ia dimeteraikan (makhtūm), yaitu diberi segel. Kedua, ketika mereka meminumnya, mereka mendapati di akhir minumnya ada aroma misik.

5.2.2 Makanan Pertama Penduduk Jannah

Makanan pertama yang Alloh anugerahkan kepada penduduk Jannah adalah ziyādat kabidi l-ĥūt (tambahan hati ikan paus)

Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

تَكُونُ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً، يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ، كَمَا يَتَكَفَّأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ نُزُلًا لِأَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bumi pada hari Kiamat akan menjadi satu roti (khubzah) saja. Al-Jabbār (Dzat Yang Maha Perkasa) membolak-baliknya dengan Tangan-Nya, sebagaimana salah seorang dari kalian membolak-balik rotinya dalam perjalanan, sebagai hidangan (nuzul) bagi penduduk Jannah.”

Maka seorang laki-laki Yahudi datang dan berkata: “Semoga Ar-Roĥmān memberkahimu, wahai Abul Qōsim. Maukah aku beritahu engkau tentang hidangan penduduk Jannah pada hari Kiamat?”

Beliau bersabda: “Tentu.”

Ia berkata: “Bumi akan menjadi satu roti saja,” sebagaimana yang Nabi sabdakan. Nabi melihat kepada kami, kemudian tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Kemudian beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِإِدَامِهِمْ؟ بِاللَّامِ وَالنُّونِ. قَالُوا: وَمَا هَذَا؟ قَالَ: ثَوْرٌ وَنُونٌ، يَأْكُلُ مِنْ زَائِدَةِ كَبِدِهِمَا سَبْعُونَ أَلْفًا

“Maukah aku beritahu engkau tentang lauk-pauk mereka? Dengan lām dan nūn (yaitu Ikan Paus dan Sapi Jantan). Mereka bertanya: ‘Apa ini?’ Beliau bersabda: ‘Sapi jantan (tsaur) dan ikan paus (nūn). 70.000 orang makan dari tambahan hati kedua hewan tersebut.” (Misykatul Mashobih: 3/56)

An-Nawawi (676 H) berkata dalam Syarh Hadits ini, yang ringkasannya: “An-Nuzul: apa yang disiapkan untuk tamu ketika ia turun (singgah). Yatakaffa’uhā bi yadih: membolak-balikkannya dari satu tangan ke tangan lain hingga ia terkumpul dan rata, karena ia tidak datar seperti roti tipis (ruqōqoh) dan semisalnya. Makna Hadits: Alloh Ta’ala akan menjadikan bumi seperti roti yang besar, dan ia menjadi makanan dan hidangan bagi penduduk Jannah. An-Nūn: Ikan paus. Al-Bā’ dan lām adalah lafazh dalam bahasa Ibrani, maknanya: Sapi jantan (tsaur). Zā’idat kabid al-ĥūt: adalah potongan yang terpisah yang melekat pada hati, dan itu adalah bagian yang paling lezat.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim: 17/136)

Dalam Shohih Al-Bukhori, ‘Abdulloh bin Sallam rodhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi pada kedatangan beliau yang pertama di Madinah, di antara pertanyaan itu adalah: “Apa makanan pertama yang dimakan penduduk Jannah?” Beliau bersabda:

زِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ

“Tambahan hati ikan paus.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/270)

Dalam Shohih Muslim, dari Tsaubān rodhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang Yahudi bertanya kepada Rosululloh : “Maka apa hidangan (tuĥfah) mereka ketika mereka masuk Jannah?” Beliau bersabda:

زِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ

“Tambahan hati ikan paus.”

Ia bertanya: “Maka apa makanan utama (ghidhā’) mereka setelah itu?”

Beliau bersabda:

يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا

“Disembelih untuk mereka sapi jantan Jannah yang dimakan dari tepiannya.”

Ia bertanya: “Maka apa minuman mereka setelah itu?”

Beliau bersabda:

مِنْ عَيْنٍ تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

“Dari mata air yang dinamakan salsabīl.”

Ia berkata: “Engkau benar.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/270)

5.2.3 Makanan dan Minuman Penduduk Jannah Tidak Disertai Kotoran

Mungkin terlintas di pikiran bahwa makanan dan minuman di Jannah akan menghasilkan apa yang dihasilkan oleh makanan dan minuman penduduk dunia, berupa air seni, kotoran, ingus, ludah, dan yang semisalnya. Namun, perkaranya tidaklah demikian. Jannah adalah negeri yang bersih dari kotoran, dan penduduknya disucikan dari segala cacat penduduk dunia.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ash-Shōĥihān (Al-Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , menafikan dugaan ini, beliau bersabda:

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ فِيهَا وَلَا يَمْتَخِطُونَ، وَلَا يَبْزُقُونَ

“Rombongan pertama yang masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama. Mereka tidak meludah di dalamnya, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak meludah.” (HR. Al-Bukhori, dan Muslim, no. 2834)

Ini tidak hanya khusus bagi rombongan pertama yang masuk Jannah, melainkan berlaku umum bagi setiap orang yang masuk Jannah.

Dalam riwayat Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، ثُمَّ هُمْ بَعْدَ ذَلِكَ مَنَازِلُ، لَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَتَبَوَّلُونَ، وَلَا يَبْزُقُونَ

“Rombongan pertama yang masuk Jannah dari umatku, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama. Kemudian yang mengikuti mereka seperti bintang yang paling terang cahayanya di langit. Kemudian mereka setelah itu bertingkat-tingkat (manāzil). Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, dan tidak meludah.” (HR. Muslim, no. 2834)

Maka yang membedakan penduduk Jannah, yang disebutkan dalam Hadits, adalah kekuatan cahaya masing-masing mereka. Adapun bersihnya mereka dari kotoran, mereka semua sama dalam hal itu. Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak meludah, dan tidak mengeluarkan ingus.

Mungkin ada yang berpendapat: Lalu ke mana perginya sisa-sisa makanan dan minuman? Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Rosululloh oleh para Shohabat. Beliau menjelaskan bahwa sisa-sisa makanan dan minuman berubah menjadi keringat (rosy-ĥun) seperti keringat misik yang mengalir dari tubuh mereka. Sebagiannya juga berubah menjadi sendawa (jushā’), tetapi sendawa itu mengeluarkan aroma wangi semerbak yang harum.

Dalam Shohih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتْفِلُونَ، وَلَا يَتَبَوَّلُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ

“Penduduk Jannah makan dan minum di dalamnya, dan mereka tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan ingus.”

Mereka bertanya: “Lalu bagaimana dengan makanan?”

Beliau bersabda:

جُشَاءٌ كَجُشَاءِ الْمِسْكِ

“Sendawa seperti sendawa misik.” (HR. Muslim, no. 2835)

5.2.4 Mengapa Penduduk Jannah Makan, Minum, dan Bersisir?

Jika penduduk Jannah kekal di dalamnya, dan Jannah bersih dari rasa sakit (ālām), penyakit (aujā’), dan penyakit (amrooḍh), tidak ada lapar di dalamnya, tidak ada haus, tidak ada kotoran, dan tidak ada cemar, lalu mengapa penduduk Jannah makan dan minum di dalamnya? mengapa mereka memakai wewangian dan bersisir?

Al-Qurthubi (671 H) menjawab pertanyaan ini dalam At-Tadzkiroh dengan berkata: “Keni’matan dan pakaian penduduk Jannah itu bukanlah untuk menghilangkan rasa sakit yang menimpa mereka. Maka, makan mereka bukan karena lapar, minum mereka bukan karena haus, dan memakai wewangian mereka bukan karena bau busuk. Melainkan, itu adalah kelezatan yang berkelanjutan, dan keni’matan yang berturut-turut.

Tidakkah engkau lihat firman Alloh kepada Adam:

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ

“Sungguh, (ada jaminan) bagimu di Jannah, engkau tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. sungguh, engkau tidak akan kehausan di dalamnya dan tidak akan terkena terik matahari.” (QS. Thoha: 118-119)

Hikmahnya adalah bahwa Alloh Ta’ala memperkenalkan kepada mereka di Jannah jenis keni’matan yang dahulu mereka ni’mati di dunia, dan Dia menambahkan kepada mereka yang di atasnya, yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla.” (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 475. lihat Fathul Baari: 6/325)

5.2.5 Bejana Makanan dan Minuman Penduduk Jannah

Bejana makanan dan minuman penduduk Jannah yang mereka gunakan untuk makan dan minum terbuat dari emas dan perak. Alloh berfirman:

يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, begitu pula gelas-gelas (akwāb).” (QS. Az-Zukhruf: 71)

Dia berfirman:

وَيُطَافُ عَلَيْهِم بِآنِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا * قَوَارِيرَ مِن فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا

diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan gelas-gelas yang bening (qowārīroo), bening yang terbuat dari perak, mereka mengukurnya dengan ukuran yang tepat.” (QS. Al-Insan: 15-16)

Yaitu, terkumpul di dalamnya kejernihan gelas dan warna putih perak.

Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam Shohihain, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ.. وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا

“Bagi seorang Mu’min di Jannah ada kemah dari satu mutiara berongga... dua Jannah dari perak, bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas, bejana-bejana dan isinya.”

Maksudnya: Mu’min mendapatkan dua Jannah.

Di antara bejana yang mereka gunakan untuk minum adalah akwāb (gelas tanpa telinga), abārīq (cerek), dan ku’ūs (gelas dengan minuman di dalamnya):

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang kekal, dengan membawa gelas-gelas (akwāb) dan cerek-cerek (abārīq) dan gelas dengan minuman (ka’sin) dari mata air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17)

Al-Kūb: yang tidak memiliki telinga, pegangan, dan cerat. Al-Abārīq: yang memiliki telinga dan pegangan. Al-Ka’s: gelas yang berisi minuman.

5.3 Pakaian, Perhiasan, dan Wewangian Penduduk Jannah

Penduduk Jannah mengenakan pakaian yang mewah di dalamnya, dan berhias dengan berbagai jenis perhiasan dari emas, perak, dan mutiara.

Di antara pakaian mereka adalah sutra (ĥarīr). di antara perhiasan mereka adalah gelang dari emas, perak, dan mutiara:

وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, berupa Jannah dan (pakaian) sutra.” (QS. Al-Insan: 12)

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Al-Ĥajj: 23)

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Jannah ‘Adn, mereka memasukinya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Fāthir: 33)

وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

mereka dihiasi dengan gelang-gelang dari perak, dan Robb mereka memberi mereka minum dengan minuman yang suci.” (QS. Al-Insan: 21)

Pakaian mereka beraneka warna. Di antara warna pakaian yang mereka kenakan adalah hijau dari sundus (sutra halus) dan istabroq (sutra tebal):

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

“Di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mereka mengenakan pakaian hijau dari sundus (sutra halus) dan istabroq (sutra tebal), sambil bersandar dengan nyaman di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang paling indah.” (QS. Al-Kahfi: 31)

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ

“Pakaian mereka (semua) yang di atas sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan mereka dihiasi dengan gelang-gelang dari perak.” (QS. Al-Insan: 21)

Pakaian mereka lebih unggul dari pakaian mana pun yang dibuat manusia.

Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Al-Baro’ bin ‘Āzib rodhiyallahu ‘anhumā, ia berkata: “Didatangkan kepada Rosululloh sehelai kain sutra. Mereka mulai kagum dengan keindahan dan kelembutannya.” Rosululloh bersabda:

لَمَنَادِيلُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فِي الْجَنَّةِ أَفْضَلُ مِنْ هَذَا

“Saputangan Sa’d bin Mu’ādz rodhiyallahu ‘anhu di Jannah lebih utama daripada ini.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/319)

Rosululloh mengabarkan kepada kita bahwa bagi penduduk Jannah ada sisir dari emas dan perak. mereka menghirup aroma dengan kayu wangi, padahal aroma misik telah tercium dari tubuh mereka yang suci.

Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, tentang sifat orang-orang yang masuk Jannah:

آنِيَتُهُمُ الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ، وَأَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَوَقُودُ مَجَامِرِهِمُ الْأَلُوَّةُ قَالَ أَبُو الْيَمَانِ: عُودُ الطِّيبِ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ

“Bejana mereka (terbuat dari) emas dan perak, sisir mereka dari emas, bahan Bakr perapian mereka adalah aluwwah (gaharu wangi) – Abu Al-Yaman (Al-Hakam bin Nāfi’) berkata: kayu wangi – dan keringat mereka adalah misik.” (Sumber sebelumnya)

Di antara perhiasan mereka adalah mahkota. Dalam Sunan At-Tirmidzi (279 H) dan Ibnu Majah (273 H), dari Al-Miqdām bin Ma’dī Karib rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh , dalam menyebutkan sifat-sifat yang diberikan kepada Syahid:

وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

diletakkan di atas kepalanya tāj al-waqōr (mahkota ketenangan/ kemuliaan), satu butir yaqut padanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih: no. 3834)

Pakaian dan perhiasan penduduk Jannah tidak usang dan tidak fana.

Dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ

“Siapa yang masuk Jannah, ia akan diberi keni’matan dan tidak akan mengalami kesengsaraan. Pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan sirna.” (HR. Muslim, no. 2836)

5.4 Perabotan Penduduk Jannah

Istana-istana Jannah, dan tempat-tempat duduk di kebun-kebunnya dan tamannya, telah disiapkan dengan berbagai jenis perabotan mewah dan indah untuk duduk, bersandar, dan yang semisalnya. Dipan-dipan banyak dan mewah. Permadani agung nilainya, lapisan dalamnya dari istabroq (sutra tebal), maka bagaimana dengan lapisan luarnya?

Di sana engkau akan melihat bantal-bantal (namāriq) yang tersusun rapi dengan cara yang menyenangkan pikiran dan membuat jiwa bahagia. permadani tebal (zarōbī) terhampar dalam bentuk yang terkoordinasi dan terpadu.

Alloh berfirman:

فِيهَا سُرُرٌ مَّرْفُوعَةٌ * وَأَكْوَابٌ مَّوْضُوعَةٌ * وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ * وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ

“Di dalamnya ada dipan-dipan (surur) yang ditinggikan, gelas-gelas (akwāb) yang tersedia, bantal-bantal (namāriq) yang tersusun, permadani-permadani tebal (zarōbī) yang terhampar.” (QS. Al-Ghosyiyah: 13-16)

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ

“Mereka bersandar di atas permadani (furūsy) yang lapisan dalamnya (bathō’inuhā) dari istabroq (sutra tebal).” (QS. Ar-Rohman: 54)

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Mereka bersandar di atas dipan-dipan (surur) yang tersusun rapi, dan Kami nikahkan mereka dengan al-ĥūru l-’īn (bidadari bermata jeli).” (QS. Ath-Thūr: 20)

ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ * وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ * عَلَىٰ سُرُرٍ مَّوْضُونَةٍ * مُّتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ

“Sekelompok besar dari orang-orang terdahulu dan sekelompok kecil dari orang-orang kemudian, di atas dipan-dipan (surur) yang bertahtakan emas dan permata (mawḍūnah). Mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqi’ah: 13-16)

Bersandarnya mereka di atas dipan dengan cara ini adalah salah satu jenis keni’matan yang dini’mati penduduk Jannah ketika mereka berkumpul.

Sebagaimana Alloh berfirman:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Kami cabut rasa dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Dia berfirman:

مُّتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

“Mereka bersandar pada rofrof (bantal-bantal besar) yang hijau dan permadani-permadani yang indah (‘abqorīy ĥisān).” (QS. Ar-Rohman: 76)

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ

“Mereka bersandar di dalamnya di atas dipan-dipan yang indah (al-arō’ik).” (QS. Al-Kahfi: 31)

Yang dimaksud dengan an-namāriq adalah bantal-bantal (mikhādd), dan al-wasā’id adalah sandaran. Az-Zarōbī adalah permadani tebal. Al-Abqorīy adalah permadani yang bagus. Ar-Rofrof adalah taman-taman Jannah. Ada yang berpendapat: sejenis kain. Al-Arō’ik: dipan-dipan yang indah.

5.5 Pelayan Penduduk Jannah (Khodam)

Penduduk Jannah dilayani oleh anak-anak muda (wildān) yang Alloh ciptakan untuk melayani mereka, dalam puncak keindahan dan kesempurnaan. Alloh berfirman:

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda (wildān) yang kekal, dengan membawa gelas-gelas, cerek-cerek, dan gelas dengan minuman dari mata air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18)

Di tempat lain Dia berfirman:

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا

mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang kekal. Apabila engkau melihat mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19)

Ibnu Katsir (774 H) roĥimahullōhu berkata: “Anak-anak muda dari anak-anak Jannah berputar melayani penduduk Jannah. Mukhalladūn (kekal): yaitu dalam satu keadaan yang sama, mereka kekal di dalamnya, tidak berubah darinya. Usia mereka tidak bertambah dari usia itu. siapa yang menafsirkannya bahwa mereka memakai anting-anting di telinga mereka, maka ia hanya mengungkapkan maknanya, karena yang pantas untuk itu hanyalah anak kecil, bukan orang dewasa. firman-Nya : (Apabila engkau melihat mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan) (QS. Al-Insan: 19): yaitu jika engkau melihat mereka dalam penyebaran mereka untuk menunaikan kebutuhan tuan-tuan mereka, dan banyaknya mereka, serta keindahan wajah, warna kulit, pakaian, dan perhiasan mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan. tidak ada yang lebih baik dari perumpamaan ini dalam perbandingan, dan tidak ada yang lebih baik dari pemandangan mutiara yang bertaburan di tempat yang indah.” (Tafsir Ibnu Katsir: 7/183)

Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak muda ini adalah anak-anak yang meninggal ketika masih kecil dari anak-anak orang Mu’min atau musyrik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) roĥimahullōhu membantah pendapat ini, dan menjelaskan bahwa wildān mukholladūn (anak-anak muda yang kekal) adalah ciptaan dari ciptaan Jannah. Ia berkata: “anak-anak muda yang mengelilingi penduduk Jannah: mereka adalah ciptaan dari ciptaan Jannah, bukan dari anak-anak dunia. Bahkan, anak-anak penduduk dunia jika mereka masuk Jannah, penciptaan mereka akan sempurna seperti penduduk Jannah, dalam rupa bapak mereka Adam.” (Majmu’ Fatawa: 4/279. lihat: 4/311)

5.6: Pasar Penduduk Jannah (Sūq)

Muslim (261 H) meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَسُوقًا، يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ، فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ، فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ، فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ، وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا

“Di Jannah ada pasar, mereka mendatanginya setiap Jum’ah (sepekan sekali). Lalu bertiuplah angin utara. Angin itu meniup wajah dan pakaian mereka, sehingga mereka bertambah indah dan cantik. Mereka kembali kepada keluarga mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan cantik. Maka keluarga mereka berkata kepada mereka: ‘Demi Alloh, kalian telah bertambah indah dan cantik, setelah kami tinggalkan.’ Maka mereka menjawab: ‘kalian juga, demi Alloh, kalian telah bertambah indah dan cantik setelah kami tinggalkan.’” (HR. Muslim, no. 2833)

An-Nawawi (676 H) berkata dalam Syarh Hadits ini: “Yang dimaksud dengan as-sūq (pasar) adalah tempat berkumpul bagi mereka, mereka berkumpul sebagaimana manusia berkumpul di pasar di dunia. Makna ya’tūnahā kulla Jum’ah (mereka mendatanginya setiap Jumat) adalah dalam perkiraan setiap Jumat, yaitu sepekan. di sana tidak ada hakikat sepekan, karena tidak ada matahari, malam, dan siang. Angin Jannah dikhususkan dengan syamāl (utara) karena ia adalah angin hujan di kalangan Arob, yang bertiup dari arah Syam, dan dengannya datang awan hujan. Mereka berharap pada awan Syam. Dalam Hadits itu, angin ini dinamakan al-muthīroh (yang menggerakkan), yaitu yang menggerakkan, karena ia menggerakkan di wajah mereka apa yang ia gerakkan dari misik tanah Jannah dan keni’matan lainnya.” (An-Nawawi ‘ala Muslim: 17/170)

5.7 Pertemuan Penduduk Jannah dan Pembicaraan Mereka

Penduduk Jannah saling mengunjungi, dan berkumpul di majelis-majelis yang baik, mereka berbincang-bincang, dan mengingat apa yang telah mereka lakukan di dunia, dan karunia yang Alloh berikan kepada mereka berupa masuk Jannah.

Alloh berfirman dalam menjelaskan sifat pertemuan penduduk Jannah:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Kami cabut rasa dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Alloh mengabarkan kepada kita salah satu jenis pembicaraan yang mereka bicarakan di perkumpulan mereka:

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Mereka berkata: ‘Sungguh, kami dahulu (ketika) berada di tengah-tengah keluarga kami, selalu merasa takut (akan adzab Alloh). Maka Alloh memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab samūm (angin yang sangat panas). Sungguh, kami dahulu selalu menyembah-Nya. Sungguh, Dia adalah Al-Barr (Yang Melimpahkan Kebaikan) lagi Ar-Rohīm (Maha Penyayang).” (QS. Ath-Thūr: 25-28)

di antaranya adalah mereka mengingat musuh-musuh dari kalangan orang-orang jahat yang dahulu meragukan orang-orang yang beriman, dan mengajak mereka kepada kekafiran:

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ * قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ * يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ * أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ * قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ * فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ * قَالَ تَاللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ * أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Berkata salah seorang dari mereka: ‘Sungguh, aku dahulu mempunyai teman, yang berkata: ‘Apakah engkau termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)? Apakah apabila kita telah mati dan menjadi tanah serta tulang belulang, kita akan diberi balasan?’ Ia berkata: Maukah kalian menengok? Lalu ia menengok, dan melihat temannya itu berada di tengah-tengah Naar Jahīm. Ia berkata: ‘Demi Alloh, engkau hampir mencelakakanku. kalau bukan karena ni’mat Robb-ku, aku termasuk orang-orang yang diseret (ke Naar). Maka apakah kita (orang-orang Mu’min) tidak akan mati, kecuali kematian kita yang pertama (di dunia), dan kita tidak akan diadzab?’ Sungguh, ini adalah keberuntungan yang agung. Untuk (meraih) yang seperti ini, hendaknya orang-orang yang beramal mengerjakan (amal sholih).” (QS. Ash-Shoffat: 50-61)

5.8 Harapan Penduduk Jannah (Amānī)

Sebagian penduduk Jannah mengharapkan harapan (amānī) di dalamnya yang akan terwujud dengan cara yang menakjubkan, tidak seperti apa yang terjadi di dunia. Rosululloh telah menceritakan kepada kita tentang sebagian harapan ini dan bagaimana terwujudnya.

Ini adalah salah seorang penduduk Jannah yang meminta izin kepada Robb-nya untuk bercocok tanam. Alloh mengizinkannya. Ia belum selesai menabur benih, tiba-tiba akarnya telah menancap di tanah, kemudian ia tumbuh, menjadi sempurna, dan matang pada saat yang sama. Hasilnya seperti gunung-gunung. Alloh Ta’ala berfirman:

دُونَكَ يَا ابْنَ آدَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ

“Ambillah, wahai anak Adam, tidak ada sesuatu pun yang akan memuaskanmu.”

Maka orang A’rābiy (Arob Badui) itu berkata: “Demi Alloh, engkau tidak akan mendapatinya kecuali orang Quroisy atau Anshor, karena mereka adalah ahli bercocok tanam, sedangkan kami bukan ahlinya.” Maka Rosululloh tertawa.” (Misykatul Mashobih: no. 5653)

ini adalah yang lain yang mengharapkan anak, maka Alloh mewujudkan harapannya dalam sesaat saja. Di mana ia hamil dan melahirkan dalam sesaat.

At-Tirmidzi (279 H) dalam Sunan-nya, Ahmad (241 H) dalam Musnad-nya, dan Ibnu Hibban (354 H) dalam Shohih-nya meriwayatkan dengan sanad shohih, dari Abu Sa’id rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ، كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا يَشْتَهِي

“Orang Mu’min jika ia menginginkan anak di Jannah, maka kehamilannya, kelahirannya, dan usianya terjadi dalam sesaat saja, sebagaimana yang ia inginkan.” (HR. Al-Jami’: no. 6525)

5.9 Wanita Penduduk Jannah

5.9.1 Istri Mu’min di Dunia adalah Istrinya di Akhiroh Jika Ia Mu’minah

Jika seorang Mu’min masuk Jannah, dan istrinya adalah wanita sholihah, maka ia juga akan menjadi istrinya di Jannah:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

Jannah ‘Adn, mereka memasukinya bersama orang-orang sholih dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka.” (QS. Ar-Ro’d: 23)

Mereka di Jannah dalam keni’matan bersama pasangan-pasangan mereka. Mereka bersandar di naungan Jannah dengan gembira dan bahagia:

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

“Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam naungan, bersandar di atas dipan-dipan yang indah.” (QS. Yā Sīn: 56)

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

“Masuklah kalian ke Jannah, kalian dan pasangan-pasangan kalian, akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70)

5.9.2 Wanita untuk Suami Terakhirnya

Abu ‘Ali Al-Ĥarroni (318 H) meriwayatkan dalam Tārīkh Ar-Roqqah dari Maimūn bin Mihrān (117 H), ia berkata: Mu’awiyah bin Abi Sufyān rodhiyallahu ‘anhuma melamar Ummu Ad-Dardā’ rodhiyallahu ‘anhā, tetapi ia menolak menikah dengannya, dan berkata:

Aku mendengar Abu Ad-Dardā’ rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rosululloh bersabda:

الْمَرْأَةُ فِي آخِرِ أَزْوَاجِهَا، أَوْ قَالَ: لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita itu bersama suami terakhirnya, atau beliau bersabda: untuk suami terakhirnya.” Rowi sanad ini terpercaya, selain Al-Abbās bin Shōliĥ yang tidak ada biografinya.

Abu Asy-Syaikh (369 H) meriwayatkannya dalam At-Tārīkh dengan sanad shohih, hanya mencukupkan pada bagian yang marfu’ (sampai kepada Nabi ). Ath-Thobroni (360 H) meriwayatkannya dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dengan sanad dho’if (lemah), tetapi dengan kumpulan kedua jalur periwayatan itu, ia menjadi kuat. bagian yang marfu’ darinya adalah shohih.

Ia memiliki dua syāhid (penguat) yang Mauqūf (perkataan Shohabat).

Yang pertama diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir (571 H) dari ‘Ikrimah (105 H): “Asmā’ binti Abi Bakr rodhiyallahu ‘anhumā berada di bawah (pernikahan) Az-Zubair bin Al-Awwām rodhiyallahu ‘anhu. Az-Zubair bersikap keras kepadanya. Ia mendatangi bapaknya (Abu Bakr), lalu mengeluhkan hal itu kepadanya. Bapaknya berkata: ‘Wahai putriku, bersabarlah. Karena wanita jika ia memiliki suami yang sholih, kemudian suaminya meninggal, dan ia tidak menikah lagi setelahnya, Alloh akan mengumpulkan keduanya di Jannah.’” Rowinya terpercaya, hanya saja di dalamnya ada irsāl (sanad terputus), karena ‘Ikrimah tidak menjumpai Abu Bakr, kecuali jika ia menerimanya dari Asmā’.

Yang kedua, dikeluarkan oleh Al-Baihaqi (458 H) dalam As-Sunan bahwa Ĥudzaifah rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada istrinya: “Jika engkau ingin menjadi istriku di Jannah, janganlah engkau menikah lagi setelahku. Karena wanita itu bersama suami terakhirnya di dunia.”[1]

Oleh karena itu, Alloh mengharomkan istri-istri Nabi untuk menikah setelah beliau, karena mereka akan menjadi istri-istri beliau di Akhiroh.

5.9.3 Al-Ĥūr Al-’Īn (Bidadari Bermata Jeli)

Alloh menikahkan orang-orang Mu’min di Jannah dengan istri-istri cantik yang bukan istri mereka di dunia.

Sebagaimana firman-Nya :

كَذَٰلِكَ ۖ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Demikianlah. Kami nikahkan mereka dengan al-ĥūr al-’īn (bidadari bermata jeli).” (QS. Ad-Dukhōn: 54)

Al-Ĥūr adalah bentuk jamak dari ĥaurā’, yaitu yang putih matanya sangat putih, dan hitam matanya sangat hitam. Al-’Īn adalah bentuk jamak dari ‘aynā’, dan aynā’ adalah yang lebar matanya.

Al-Qur’an menyifati al-ĥūr al-’īn bahwa mereka adalah kawā’ib (montok) dan atrōb (gadis-gadis yang sebaya)

Alloh berfirman:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا

“Sungguh, bagi orang-orang yang bertaqwa ada kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan kebun-kebun anggur, gadis-gadis yang montok dan sebaya usianya.” (QS. An-Naba’: 31-33)

Al-Kā’ib: wanita cantik yang dadanya montok. Al-Atrōb: yang sebaya usianya.

Al-Ĥūr Al-’Īn adalah ciptaan Alloh di Jannah. Alloh menciptakan mereka dengan penciptaan khusus, lalu Dia menjadikan mereka abkār (gadis, senantiasa perawan), ‘urub (penuh cinta/manja), dan atrōb (sebaya):

إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا

“Sungguh, Kami menciptakan mereka (istri-istri Jannah) dengan penciptaan yang istimewa. Lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis, yang penuh cinta (‘urubā) lagi sebaya (atrōbā).” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37)

Status mereka sebagai abkār (gadis) mengharuskan bahwa tidak ada seorang pun, baik dari manusia maupun jin, yang menyentuh mereka sebelum mereka (penduduk Jannah). Sebagaimana firman Alloh :

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, dan tidak (pula) oleh jin.” (QS. Ar-Rohman: 56)

Ini menafikan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istri-istri yang Alloh ciptakan di Jannah adalah istri-istri mereka di dunia, di mana Alloh mengembalikan mereka menjadi muda setelah tua dan lemah. Makna ini benar, karena Alloh memasukkan wanita-wanita Mu’minah ke Jannah dalam usia muda. Tetapi mereka bukanlah al-ĥūr al-’īn yang Alloh ciptakan dengan penciptaan yang istimewa (langsung).

Yang dimaksud dengan urub adalah yang manja dan penuh cinta kepada suami mereka.

Al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang keindahan wanita Jannah:

وَحُورٌ عِينٌ * كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

ĥūr ‘īn (bidadari bermata jeli) seperti mutiara yang tersimpan.” (QS. Al-Waqi’ah: 22-23)

Yang dimaksud dengan maknūn adalah yang tersembunyi, yang terjaga, yang warna murninya tidak diubah oleh cahaya matahari, dan tidak disentuh oleh tangan.

Dia menyerupakan mereka di tempat lain dengan yāqūt (mirah delima) dan marjān (mutiara):

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ * فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ * كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

“Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan (qōṣirōtuth thorf) yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, dan tidak (pula) oleh jin. Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan. Seakan-akan mereka adalah yāqūt (mirah delima) dan marjān (mutiara).” (QS. Ar-Rohman: 56-58)

Yāqūt dan marjān adalah dua batu mulia yang memiliki keindahan dan pemandangan yang bagus dan menakjubkan.

Al-Ĥūr Al-’Īn disifati dengan qōṣirōtuth thorf, yaitu yang membatasi pandangan mereka hanya kepada suami mereka. Pandangan mereka tidak tertuju kepada selain suami mereka.

Alloh telah bersaksi atas keindahan dan kecantikan ĥūr Jannah. Cukuplah Alloh yang bersaksi, sehingga ia mencapai puncak keindahan dan kecantikan:

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang baik akhlaknya (khoirōt) dan cantik wajahnya (ĥisān). Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan. Bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 70-72)

Wanita Jannah tidak seperti wanita dunia. Mereka suci dari haid, nifās, ludah, ingus, buang air kecil, dan buang air besar. Ini adalah konsekuensi dari firman-Nya :

وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

di sana bagi mereka ada pasangan-pasangan yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh: 25)

Rosululloh telah menceritakan kepada kita tentang keindahan wanita penduduk Jannah.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ، آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمُ الْأَلُوَّةُ، وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحُسْنِ

“Rombongan pertama yang masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama. Mereka tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus. Bejana mereka di dalamnya dari emas. Sisir mereka dari emas dan perak. Tempat perapian mereka adalah aluwwah (gaharu wangi). Keringat mereka adalah misik. bagi setiap orang dari mereka ada dua istri (bidadari), yang sumsum betisnya terlihat dari balik daging karena keindahannya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim, no. 2834)

lihatlah keindahan yang diceritakan Rosululloh ini, apakah engkau menemukan padanannya dari apa yang engkau kenal?

لَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Seandainya seorang wanita dari penduduk Jannah menampakkan diri ke penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi apa yang ada di antara keduanya, dan memenuhi apa yang ada di antara keduanya dengan aroma wangi. Nashīf (kerudung)nya di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/15)

Penentuan jumlah istri bagi setiap orang di Jannah dengan dua orang, tampaknya itu adalah jumlah paling sedikit. Karena telah disebutkan bahwa Syahid dinikahkan dengan 70 dua bidadari (ĥūr ‘īn).

Dalam Sunan At-Tirmidzi (279 H) dan Sunan Ibnu Majah (273 H), dengan sanad shohih, dari Al-Miqdām bin Ma’dī Karib rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقْرِبَائِهِ

“Bagi Syahid ada enam perkara di sisi Alloh: ia diampuni sejak tetesan darahnya yang pertama, ia diperlihatkan tempatnya di Jannah, ia diselamatkan dari adzab kubur, ia aman dari ketakutan terbesar, diletakkan di atas kepalanya tāj al-waqōr (mahkota kemuliaan), satu butir yaqut padanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan ia dinikahkan dengan 70 dua istri dari al-ĥūr al-’īn (bidadari bermata jeli), dan ia diizinkan memberi syafa’at untuk 70 orang dari kerabatnya.” (Misykatul Mashobih: no. 3834)

Nyanyian Al-Ĥūr Al-’Īn (Bidadari Bermata Jeli):

Rosululloh mengabarkan kepada kita bahwa al-ĥūr al-’īn di Jannah bernyanyi dengan suara yang indah dan merdu.

Dalam Mu’jam Ath-Thobroni Al-Ausath, dengan sanad shohih, dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ. إِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ: نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ، يَنْظُرْنَ بِقُرَّةِ أَعْيَانٍ. وَإِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ بِهِ: نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا يَمُتْنَهْ، نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلَا يَخَفْنَهْ، نَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا يَظْعَنَّهْ

“Istri-istri penduduk Jannah akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara yang paling indah yang tidak pernah didengar seorang pun. Di antara yang mereka nyanyikan: ‘Kami adalah wanita-wanita yang baik dan cantik, istri-istri dari kaum yang mulia, yang memandang dengan penuh kesejukan mata.’ di antara yang mereka nyanyikan: ‘Kami adalah yang kekal dan tidak akan mati, kami adalah yang aman dan tidak akan takut, kami adalah yang tetap tinggal dan tidak akan pergi.’” (Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 1557)[2]

Samawaih (257 H) meriwayatkan dalam Fawā’id, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh :

إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ لَتُغَنِّينَ فِي الْجَنَّةِ، يَقُلْنَ: نَحْنُ الْحُورُ الْحِسَانُ، خُبِئْنَا لِأَزْوَاجٍ كِرَامٍ

Al-Ĥūru l-’īn bernyanyi di Jannah, mereka berkata: ‘Kami adalah al-ĥūr al-ĥisān (bidadari yang cantik), kami disimpan (dipelihara) untuk suami-suami yang mulia.’” (Al-Jami’, no. 1598)

Kecemburuan Al-Ĥūr Al-’Īn terhadap Suami Mereka di Dunia:

Rosululloh mengabarkan kepada kita bahwa al-ĥūr al-’īn cemburu terhadap suami mereka di dunia jika sang suami disakiti oleh istrinya di dunia.

Dalam Musnad Ahmad (241 H) dan Sunan At-Tirmidzi (279 H), dengan sanad shohih, dari Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh , beliau bersabda:

لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ دَخِيلٌ عِنْدَكِ، يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari al-ĥūrul ’īn (bidadari bermata jeli) berkata: ‘Jangan sakiti dia, semoga Alloh membinasakanmu. Ia hanyalah tamu di sisimu, sebentar lagi ia akan berpisah denganmu menuju kami.’” (Al-Jami’, no. 7069)

5.9.4 Mu’min Diberi Kekuatan 100 Laki-Laki di Jannah

Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا مِنَ الْجِمَاعِ

“Orang Mu’min di Jannah akan diberi kekuatan sekian dari jimak (berhubungan intim).”

Ditanyakan: “Wahai Rosululloh, apakah ia mampu melakukan itu?” Beliau bersabda:

يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ

“Ia diberi kekuatan 100 laki-laki.” (HR. At-Tirmidzi)[3]

5.10 Tawa Penduduk Jannah kepada Penduduk Naar

Setelah Alloh memasukkan penduduk Jannah ke Jannah, mereka akan memanggil musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir penduduk Naar, untuk mencela dan mencerca:

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَن قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَن لَّعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

penduduk Jannah menyeru penduduk Naar: ‘Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Robb kami kepada kami itu benar. Apakah kalian juga telah memperoleh apa yang dijanjikan Robb kalian itu benar? Mereka menjawab: ‘Ya.’ Lalu penyeru mengumumkan di antara mereka: Laknat Alloh ditimpakan kepada orang-orang yang zholim.” (QS. Al-A’roof: 44)

Dahulu di dunia, orang-orang kafir memusuhi orang-orang Mu’min, mengolok-olok mereka, dan menghina mereka. Pada hari itu, orang-orang Mu’min menang. Ketika mereka berada dalam keni’matan abadi, mereka melihat para pelaku dosa (mujrimūn), lalu mereka mengolok-olok dan menghina mereka:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ * عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ * تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ * يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ * خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ * وَمِزَاجُهُ مِن تَسْنِيمٍ * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ * إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ * وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ * وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ * وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ * فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ * عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sungguh, orang-orang yang Abror (berbakti) benar-benar berada dalam keni’matan yang abadi. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Engkau dapat melihat pada wajah mereka kilauan keni’matan. Mereka diberi minum dari roĥīq (minuman murni) yang dimeteraikan. Laknya adalah misik. untuk (meraih) itu, hendaknya orang-orang yang berlomba-lomba bersaing. campurannya dari tasnīm. (Yaitu) mata air yang diminum oleh al-muqorrobūn (orang-orang yang didekatkan). Sungguh, orang-orang yang berbuat dosa dahulu (di dunia) selalu menertawakan orang-orang yang beriman. apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata. apabila mereka kembali kepada keluarga mereka, mereka kembali dengan gembira (dengan mengejeknya). apabila mereka melihat orang-orang yang beriman, mereka berkata: Sungguh, mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat. Padahal mereka (orang-orang yang berbuat dosa) tidak diutus sebagai penjaga (pemantau amal) bagi orang-orang yang beriman. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Sambil (duduk) di atas dipan-dipan, mereka memandang. Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan atas apa yang selalu mereka perbuat? (QS. Al-Muthoffifin: 22-36)

Ya, demi Alloh, orang-orang kafir telah dibalas setimpal dengan apa yang mereka kerjakan. balasan itu sesuai dengan jenis amal.

Orang Mu’min di Jannah An-Na’im mengingat teman (qorīn) atau sahabat yang dahulu di dunia menghias-hiasi kekafiran baginya, dan mengajaknya kepada prinsip-prinsip yang sesat yang menjadikannya berada di barisan orang-orang kafir, musuh-musuh Alloh. Lalu ia menceritakan kepada saudara-saudaranya tentang teman itu, dan mengajak mereka untuk melihatnya di tempatnya yang ia diadzab di sana. Maka ketika ia melihat apa yang ia saksikan berupa adzab, ia mengetahui betapa besar ni’mat Alloh atasnya, dan bagaimana Dia menyelamatkannya dari keadaan itu. Kemudian ia menoleh kepadanya dengan celaan dan cacian:

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ * قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ * يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ * أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ * قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ * فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ * قَالَ تَاللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ * وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ * أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ * إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Berkata salah seorang dari mereka: ‘Sungguh, aku dahulu mempunyai teman (qorīn). Yang berkata: ‘Apakah engkau termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)? Apakah apabila kita telah mati dan menjadi tanah serta tulang belulang, kita akan diberi balasan?’ Ia berkata: ‘Maukah kalian menengok (si kafir itu)?’ Lalu ia menengok, dan melihat temannya itu berada di tengah-tengah Naar Jahīm Ia berkata: ‘Demi Alloh, engkau hampir mencelakakanku. kalau bukan karena ni’mat Robb-ku, aku termasuk orang-orang yang diseret (ke Naar). Maka apakah kita tidak akan mati kecuali kematian kita yang pertama (di dunia), dan kita tidak diadzab? Sungguh, ini (mati di atas iman) adalah keberuntungan yang agung.” (QS. Ash-Shoffat: 50-60)

5.11 Tasbih dan Takbir Termasuk Keni’matan Penduduk Jannah

Jannah adalah negeri pembalasan dan penganugerahan ni’mat, bukan negeri pembebanan hukum dan ujian.

Hal ini mungkin menjadi masalah dengan riwayat Al-Bukhori dan selainnya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, tentang sifat rombongan pertama yang masuk Jannah, beliau bersabda di akhirnya:

يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Mereka bertasbih kepada Alloh di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/318)

tidak ada masalah dalam hal itu In syā’ Alloh (jika Alloh menghendaki), karena ini bukan termasuk bab taklīf (pembebanan hukum).

Ibnu Hajar (852 H) berkata dalam Syarh Hadits ini: “Al-Qurthubi (671 H) berkata: ‘Tasbih ini bukan karena taklīf (pembebanan) dan keharusan! Jabir menafsirkannya dalam Haditsnya di sisi Muslim dengan sabdanya:

يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّكْبِيرَ كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ

‘Mereka diilhami tasbih dan takbir sebagaimana kalian diilhami nafas.’

Sisi penyerupaannya adalah bahwa bernafasnya manusia tidak memberatkannya, dan ia pasti terjadi. Maka Dia menjadikan bernafasnya mereka sebagai tasbih. sebabnya adalah hati mereka diterangi dengan ma’rifah (pengetahuan) tentang Robb , dan dipenuhi dengan cinta kepada-Nya. siapa yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya.” (Fathul Baari: 6/326)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) menetapkan bahwa tasbih dan takbir ini adalah salah satu jenis keni’matan yang dini’mati oleh penduduk Jannah. Ia berkata: “Ini bukanlah amal taklīf (pembebanan) yang dituntut darinya pahala yang terpisah, bahkan amal ini sendiri adalah keni’matan yang dini’mati dan lezat bagi jiwa.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam: 4/330)

5.12 Yang Paling Utama Diberikan kepada Penduduk Jannah adalah Keridhoan Alloh dan Melihat Wajah-Nya yang Mulia

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ؟ فَيَقُولُ: أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

“Alloh Ta’ala berfirman kepada penduduk Jannah: ‘Wahai penduduk Jannah!’ Mereka menjawab: ‘Labbayka Robbanā wa sa’daika, dan seluruh kebaikan ada di Tangan-Mu.’ Dia berfirman: ‘Apakah kalian ridho?’ Mereka menjawab: ‘Mengapa kami tidak ridho, wahai Robb? Padahal Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.’ Dia berfirman: ‘Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih utama dari itu?’ Mereka bertanya: ‘Wahai Robb, apa lagi yang lebih utama dari itu?’ Dia berfirman: ‘Aku turunkan kepada kalian ridho-Ku, maka Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini selamanya.’” (Muttafaq ‘Alaih. Misykatul Mashobih: 3/88)

keni’matan terbesar adalah melihat Wajah Alloh yang Mulia di Jannah An-Na’im. Ibnul Atsir (606 H) berkata: “Rū’yatullōh (melihat Alloh) adalah tujuan tertinggi dalam keni’matan Akhiroh, dan tingkatan tertinggi dari anugerah Alloh yang mewah. Semoga Alloh menyampaikan kita kepada apa yang kita harapkan darinya.” (Jami’ul Ushul: 10/557)

Alloh secara shorih (jelas) menyebutkan tentang rū’yah (melihat) hamba-hamba kepada Robb mereka di Jannah An-Na’im:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri (naaḍhiroh). Kepada Robb-nya ia memandang (naaẓiroh).” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)

Orang-orang kafir dan musyrik diharomkan dari keni’matan agung ini dan kemuliaan yang menakjubkan ini:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Muslim (261 H) dalam Shohih-nya dan At-Tirmidzi (279 H) dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Shuhaib Ar-Rūmi rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ، يَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنْجِنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Ketika penduduk Jannah masuk Jannah, Alloh Tabāroka wa Ta’āla berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan untuk kalian?’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke Jannah, dan menyelamatkan kami dari Naar?’ Maka Dia menyingkap ĥijāb (tabir yang menutupi Jannah dari Wajah-Nya). tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang kepada Robb mereka Tabāroka wa Ta’āla.’”

Beliau menambahkan dalam sebuah riwayat: “Kemudian beliau membaca ayat ini:

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/ Jannah) dan ziyādah (tambahan/ melihat Alloh).” (QS. Yūnus: 26).” (Jami’ul Ushul: 10/560)

Dalam Shohihain, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh bersabda:

إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا وَفِي رِوَايَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ، مَا يَرَوْنَ الْآخَرِينَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ

“Bagi seorang Mu’min di Jannah ada kemah dari mutiara berongga, lebarnya – dan dalam riwayat lain: panjangnya – 60 mil. Di setiap sudutnya ada istri-istri yang tidak dilihat oleh istri yang lain. Orang Mu’min mengelilingi mereka. dua Jannah dari perak, bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas, bejana-bejana dan isinya. tidak ada yang menghalangi kaum (Mu’min) untuk melihat Robb mereka Tabāroka wa Ta’āla kecuali Ridā’ Al-Kibriyā’ (Selendang Keagungan) di Wajah-Nya di Jannah ‘Adn.” (Misykatul Mashobih, no. 5616)

Melihat Wajah Alloh Ta’ala adalah termasuk al-mazīd (tambahan) yang Alloh janjikan kepada orang-orang yang berbuat baik (al-muĥsinīn):

لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami masih ada mazīd (tambahan).” (QS. Qōf: 35)

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/Jannah) dan ziyādah (tambahan).” (QS. Yūnus: 26)

Al-Ĥusnā ditafsirkan sebagai Jannah, dan Az-Ziyādah ditafsirkan sebagai melihat Wajah Alloh yang Mulia. Ini diisyaratkan oleh Hadits yang diriwayatkan Muslim yang kami sebutkan tadi.

Rū’yatullōh (melihat Alloh) adalah rū’yah yang hakiki, bukan seperti klaim sebagian kelompok yang menolak rū’yatullōh dengan tolok ukur akal yang batil, dan penyimpangan lafazh yang zholim.

Imam Malik bin Anas (179 H), Imam Dār Al-Hijroh, ditanya tentang firman Alloh :

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23)

Bahwa ada yang mengatakan bahwa orang-orang berkata: Yaitu (memandang) kepada pahala-Nya.

Maka Malik berkata: “Mereka dusta. Di manakah mereka dari firman Alloh :

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka? (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Malik berkata: “Manusia akan melihat Alloh pada hari Kiamat dengan mata kepala mereka. seandainya orang-orang Mu’min tidak melihat Robb mereka pada hari Kiamat, niscaya Alloh tidak akan mengungkapkan penghalang bagi orang-orang kafir. Lalu Dia berfirman: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15).” (HR. Syarhus Sunnah. Misykatul Mashobih, no. 5663)

Di antara ulama yang secara jelas menyebutkan rū’yatullōh (melihat Alloh) bagi orang-orang Mu’min di Jannah adalah Ath-Thoĥāwi (321 H) dalam Aqidah yang terkenal dengan nama Al-‘Aqīdah Ath-Thoĥāwiyyah.

Ia berkata: “rū’yah (melihat Alloh) adalah ĥaqq (benar adanya) bagi penduduk Jannah, tanpa iĥāthoh (meliputi) dan tanpa kaifiyyah (menanyakan bagaimana), sebagaimana yang diucapkan oleh Kitab Robb kita: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23). penafsirannya adalah sebagaimana yang Alloh kehendaki dan Dia ketahui. semua yang datang dalam Hadits shohih dari Rosululloh tentang hal itu, adalah sebagaimana yang beliau sabdakan, dan maknanya adalah sebagaimana yang Dia kehendaki. Kita tidak masuk ke dalamnya dengan ta’wīl (penafsiran menyimpang) dengan pendapat kita, dan tidak dengan tawahhum (prasangka) dengan hawa nafsu kita. Karena tidak ada yang selamat dalam agamanya kecuali siapa yang tunduk kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya . mengembalikan ilmu tentang apa yang samar kepadanya kepada Dzat yang mengetahuinya.” (Syarhut Thohawiyah: 203)

Syārihul Thohawiyyah (Ibn Abil ‘Izz Al-Ĥanafi, 792 H) menjelaskan madzhab kelompok-kelompok sesat dalam masalah ini dan madzhab Ahlul Ĥaqq (Ahli Kebenaran): “Yang menentang rū’yah adalah Al-Jahmiyyah, Al-Mu’tazilah, dan siapa yang mengikuti mereka dari Al-Khowārij dan Al-Imāmiyyah (Syiah). pendapat mereka batil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. yang berpendapat tetapnya rū’yah adalah para Shohabat, Tabi’in, para Imam Islam yang dikenal dengan keimamannya dalam agama, Ahlul Ĥadīts (Ahli Hadits), dan seluruh kelompok Ahlul Kalām (Ahli Ilmu Kalam) yang dinisbatkan kepada As-Sunnah wal Jamā’ah.”

Kemudian ia menjelaskan pentingnya masalah ini: “Masalah ini adalah salah satu masalah yang paling mulia dalam Ushūl Ad-Dīn (pokok-pokok agama) dan yang paling agung. Ia adalah tujuan puncak yang dicita-citakan oleh para pencari, dan diperebutkan oleh para pesaing. diharomkan bagi mereka yang terhalang dari Robb mereka, dan tertolak dari pintu-Nya.”

Kemudian ia menjelaskan bahwa firman Alloh :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)

adalah salah satu dalil yang paling jelas tentang masalah ini.

Adapun mereka yang menolak dan membelokkannya dengan apa yang mereka namakan ta’wīl (penafsiran menyimpang): “Ta’wīl terhadap nash-nash Al-Ma’ād (hari Kembali), Jannah, Naar, dan hisab, lebih mudah daripada ta’wīl terhadap ayat ini bagi para ahli ta’wīl. Tidak ada ahli kebatilan yang ingin ta’wīl nash dan membelokkannya dari tempatnya melainkan ia akan menemukan jalan untuk itu, sebagaimana yang ditemukan oleh ahli ta’wīl nash ini.”

ia menjelaskan bahaya ta’wīl (penafsiran menyimpang): “Inilah yang merusak dunia dan agama. Begitulah yang dilakukan Yahudi dan Nashoro terhadap nash-nash Taurot dan Injil. Alloh telah memperingatkan kita agar tidak berbuat seperti mereka. orang-orang yang berbuat batil enggan kecuali menempuh jalan mereka. Betapa banyak kejahatan yang ditimbulkan oleh ta’wīl yang rusak terhadap agama dan pemeluknya. Bukankah ‘Utsman rodhiyallahu ‘anhu dibunuh melainkan dengan ta’wīl yang rusak? Begitu juga yang terjadi pada perang Jamal, Shiffin, pembunuhan Al-Ĥusain (61 H), dan peristiwa Al-Ĥarroh. bukankah Al-Khowārij keluar, Al-Mu’tazilah memisahkan diri, Ar-Rowāfiḍh menolak, dan umat terpecah menjadi 70 tiga golongan, melainkan dengan ta’wīl yang rusak?!”

Kemudian ia menjelaskan bahwa dalil ayat itu tentang rū’yah berasal dari dua sisi: Pertama: Pemahaman mendalam terhadap nash. Kedua: Pemahaman para ulama Salaf terhadap nash ini.

Mengenai yang pertama, ia berkata: “Menyandarkan an-naẓor (memandang) kepada al-wajh (wajah), yang merupakan tempatnya, dalam ayat ini, dan didahului oleh kata ‘ilā (kepada) yang shorih (jelas) untuk pandangan mata. bersihnya kalam (ucapan) dari qorīnah (indikasi) yang menunjukkan sebaliknya, adalah hakikat yang jelas dan shorih bahwa Alloh menghendaki dengan itu pandangan mata yang ada di wajah kepada Robb Jalla Jalāluh.

Karena an-naẓor memiliki beberapa penggunaan, tergantung pada kata sambungnya atau jika ia bersambung dengan dirinya sendiri: Jika ia bersambung dengan dirinya sendiri, maknanya: menahan diri dan menunggu:

انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ

“Tunggulah kami agar kami dapat mengambil cahaya kalian.” (QS. Al-Ĥadīd: 13)

Jika didahului oleh (di/dalam), maknanya: berpikir dan mengambil pelajaran, seperti firman-Nya:

أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Apakah mereka tidak memperhatikan di malakūt (kerajaan) langit dan bumi? (QS. Al-A’roof: 185)

Jika didahului oleh ilā (kepada), maknanya: melihat dengan mata kepala (al-abṣōr), seperti firman-Nya :

انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ

“Perhatikanlah kepada buahnya ketika ia berbuah.” (QS. Al-An’ām: 99)

Maka bagaimana jika ia disandarkan kepada al-wajh (wajah) yang merupakan tempat penglihatan?”

Mengenai yang kedua, ia menyebutkan beberapa nash dari Salaf yang menjelaskan pemahaman mendalam mereka terhadap ayat ini. Dari Al-Ĥasan (110 H), ia berkata: “Ia memandang kepada Robb-nya, lalu ia berseri-seri dengan cahaya-Nya.” Abu Shōliĥ meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma: “Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23). Ia berkata: “Ia memandang kepada Wajah Robb-nya ‘Azza wa Jalla.” ‘Ikrimah (105 H) berkata: Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri.” (QS. Al-Qiyāmah: 22). Ia berkata: “Karena keni’matan.” Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23). Ia berkata: “Ia memandang kepada Robb-nya dengan pandangan.” Kemudian ia meriwayatkan yang semisalnya dari Ibnu ‘Abbas.

Ini adalah pendapat para mufassirūn (ahli tafsir) dari Ahlus Sunnah wal Ĥadīts (Ahli Sunnah dan Hadits).

Alloh berfirman:

لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami masih ada mazīd (tambahan).” (QS. Qōf: 35)

Ath-Thobari (310 H) berkata: “‘Ali bin Abi Tholib dan Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhumā berkata: ‘Ia adalah memandang kepada Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla.’”

Kemudian ia menyebutkan makna Az-Ziyādah (tambahan) dalam firman Alloh :

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/Jannah) dan ziyādah (tambahan).” (QS. Yūnus: 26)

Bahwa ia adalah memandang kepada Wajah Alloh yang Mulia. ia menyebutkan Hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shohih-nya, dari Shuĥaib rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh membaca: (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada Al-Ĥusnā dan ziyādah) (QS. Yūnus: 26). Beliau bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، نَادَى مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، إِنَّ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ مَوْعِدًا يُرِيدُ أَنْ يُنْجِزَكُمُوهُ، فَيَقُولُونَ: مَا هُوَ؟ أَلَمْ يُثْقِلْ مَوَازِينَنَا وَيُبَيِّضْ وُجُوهَنَا وَيُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَيُجِرْنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَمَا أَعْطَاهُمْ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَيْهِ، وَهِيَ الزِّيَادَةُ

“Ketika penduduk Jannah masuk Jannah, dan penduduk Naar masuk Naar, seorang penyeru memanggil: ‘Wahai penduduk Jannah, bagi kalian ada janji di sisi Alloh yang Dia ingin penuhi untuk kalian.’ Mereka berkata: ‘Apa itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke Jannah, dan menyelamatkan kami dari Naar?’ Maka Dia menyingkap ĥijāb (tabir). Lalu mereka memandang kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang Dia berikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang kepada-Nya, dan itulah Az-Ziyādah (tambahan).”

selainnya meriwayatkan dengan sanad-sanad yang banyak dan lafazh yang berbeda, yang maknanya adalah bahwa Az-Ziyādah adalah memandang kepada Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla. Begitu juga para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum menafsirkannya. Ibnu Jarir (310 H) meriwayatkan hal itu dari sekelompok ulama, di antaranya: Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu, Ĥudzaifah, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhum.

Di antara dalil-dalil tentang masalah ini adalah firman Alloh :

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Penulis (Ibn Abil ‘Izz) menyebutkan bahwa Asy-Syafi’i (204 H) – roĥimahullōh – dan para Imam lainnya berdalil dengan ayat ini atas rū’yah (melihat Alloh) bagi penduduk Jannah. Ath-Thobari (310 H) dan selainnya menyebutkan hal itu dari Al-Muzani (264 H) dari Asy-Syafi’i. Al-Hakim (405 H) berkata: “Al-Aṣhom (346 H) menceritakan kepada kami, Al-Robī’ bin Sulaimān (270 H) menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Aku menghadiri (majelis) Muhammad bin Idrīs Asy-Syafi’i. Datang kepadanya sebuah surat dari Ash-Sho’īd (Mesir Hulu) di dalamnya: Apa pendapatmu tentang firman Alloh ‘Azza wa Jalla: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)?’

Asy-Syafi’i berkata: ‘Karena Dia menghalangi mereka (orang kafir) dalam kemurkaan, maka dalam hal ini ada dalil bahwa para wali-Nya akan melihat-Nya dalam keridhoan.’”

Kemudian ia membahas dalil Mu’tazilah dengan firman Alloh :

لَن تَرَانِي

“Engkau tidak akan melihat-Ku.” (QS. Al-A’roof: 143)

firman-Nya :

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ

“Penglihatan mata tidak dapat menjangkau-Nya.” (QS. Al-An’ām: 103)

Ia menyebutkan bahwa kedua ayat itu adalah dalil yang menentang mereka.

Ayat pertama: menunjukkan tetapnya rū’yah dari beberapa sisi.

Pertama: Tidak mungkin kita menduga Kālīmullōh (orang yang diajak bicara langsung oleh Alloh) dan Rosul-Nya yang Mulia, serta orang yang paling mengetahui tentang Robb-nya pada masanya, akan meminta sesuatu yang tidak mungkin bagi-Nya. Bahkan, di sisi mereka (Mu’tazilah), itu adalah kebatilan yang paling besar.

Kedua: Alloh tidak mengingkari permintaannya. Sedangkan ketika Nūĥ meminta kepada Robb-nya keselamatan anaknya, Dia mengingkari permintaannya dan berfirman:

إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sungguh, Aku menasihatimu agar jangan termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hūd: 46)

Ketiga: Alloh Ta’ala berfirman: lan tarōniy (engkau tidak akan melihat-Ku), dan Dia tidak berfirman: innī lā urā (Aku tidak dilihat), atau lā tajūzu rū’yatī (tidak boleh melihat-Ku), atau lastu bi mar’iy (Aku tidak dapat dilihat). perbedaan antara dua jawaban itu jelas. Tidakkah engkau lihat bahwa siapa yang di dalam sakunya ada batu lalu ia menyangkanya makanan, maka benar jika ada yang berkata: engkau tidak akan memakannya.

Ini menunjukkan bahwa Dia dapat dilihat, tetapi kekuatan Musa tidak mampu melihat-Nya di dunia ini, karena lemahnya kekuatan manusia di dunia ini untuk melihat-Nya Ta’ala.

Keempat: Sisi ketiga diperjelas oleh firman Alloh :

وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي

“Tetapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau akan dapat melihat-Ku.” (QS. Al-A’roof: 143)

Maka Dia memberitahunya bahwa gunung, dengan kekuatan dan kekerasannya, tidak akan mampu bertahan terhadap tajallī (penampakan diri) di dunia ini. Maka bagaimana dengan manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah?

Kelima: Alloh Ta’ala mampu menjadikan gunung tetap di tempatnya, dan itu mungkin. Dia mengaitkan rū’yah (melihat) dengan kemungkinan itu. Seandainya rū’yah itu mustahil, niscaya (pengaitannya) sama dengan jika Dia berfirman: “Jika gunung tetap di tempatnya, niscaya Aku akan makan, minum, dan tidur.” semua itu, di sisi mereka (Mu’tazilah), adalah sama.

Keenam: Firman Alloh :

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا

“Maka ketika Robb-nya menampakkan Diri-Nya (tajallā) kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh.” (QS. Al-A’roof: 143)

Jika tajallī kepada gunung yang merupakan benda mati, yang tidak ada pahala dan adzab baginya, itu mungkin. Maka mengapa tajallī kepada Rosul-Nya dan para wali-Nya di Dār Al-Karōmah (negeri kemuliaan) menjadi terlarang? Hanya saja Alloh memberitahu Musa bahwa jika gunung tidak mampu bertahan untuk melihat-Nya di dunia ini, maka manusia lebih lemah.

Ketujuh: Alloh telah berbicara langsung dengan Musa, memanggilnya, dan boleh mendengarkan pembicaraan kalam-Nya tanpa perantara. Maka, rū’yah (melihat-Nya) lebih utama untuk dibolehkan. Oleh karena itu, penolakan rū’yah tidak akan sempurna tanpa menolak kalām (berbicara), dan mereka (Mu’tazilah) telah menggabungkan keduanya.

Kemudian ia menjawab klaim mereka bahwa ‘lan’ (tidak akan) memberikan makna keabadian (ta’bīd) dan menunjukkan penafian rū’yah di Akhiroh. Syaikh menjelaskan bahwa meskipun ‘lan’ dibatasi dengan ta’bīd, ia tidak menunjukkan kekekalan penafian di Akhiroh. Maka bagaimana jika ia dilepaskan (tidak dibatasi)?

Hal ini memiliki banyak contoh dalam Al-Qur’an. Alloh berfirman:

وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا

mereka tidak akan mengharapkan (kematian) itu selamanya.” (QS. Al-Baqoroh: 95)

Bersamaan dengan firman-Nya:

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

mereka berseru: Wahai Malik (Malaikat penjaga Naar)! Biarlah Robb-mu mematikan kami saja.” (QS. Az-Zukhruf: 77)

karena jika lan bermakna ta’bīd (kekekalan) mutlak, niscaya tidak boleh membatasi.

ia melanjutkan:

karena jika ‘lan’ (tidak akan) bermakna ta’bīd (kekekalan) mutlak, niscaya tidak boleh membatasi perbuatan setelahnya, padahal itu telah datang. Alloh Ta’ala berfirman:

فَلَن أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي

“Aku tidak akan meninggalkan bumi ini sampai ayahku mengizinkanku.” (QS. Yūsuf: 80)

Maka terbuktilah bahwa ‘lan’ tidak menuntut penafian yang abadi.

Syaikh Jamāl Ad-Dīn bin Mālik (672 H) roĥimahullōh berkata:

ومن رأى النفي بلن مؤبداً ××× فقوله اردد وسواه فاعضدا

siapa yang berpendapat penafian dengan ‘lan’ itu abadi ××× maka tolaklah perkataannya dan kuatkanlah (pendapat) yang selainnya).”

Adapun ayat kedua: Berdalil dengannya atas rū’yah (melihat Alloh) dari sisi yang indah dan lembut, yaitu: Bahwa Alloh Ta’ala menyebutkannya dalam konteks pujian. sudah diketahui bahwa pujian hanyalah terjadi dengan sifat-sifat tsubūtiyyah (penetapan), adapun ‘adam maĥdh (ketiadaan murni) bukanlah kesempurnaan sehingga tidak dipuji dengannya. Robb Ta’ala dipuji dengan penafian hanya jika ia mengandung suatu urusan wujūdi (eksistensi/ penetapan). Seperti pujian-Nya dengan menafikan tidur (sinah) dan kantuk (naum), yang mengandung kesempurnaan Al-Qoyyūmiyyah (kemandirian dan mengurus makhluk-Nya). menafikan kematian, yang mengandung kesempurnaan Al-Ĥayāh (kehidupan). menafikan rasa letih (lughūb) dan keletihan, yang mengandung kesempurnaan Al-Qudroh (kekuasaan). menafikan sekutu, pasangan, anak, dan penolong, yang mengandung kesempurnaan Shomadiyyah-Nya (tempat bergantung) dan kekayaan-Nya. menafikan kedzoliman, yang mengandung kesempurnaan ‘Adl-Nya (keadilan), ‘Ilm-Nya (pengetahuan), dan kekayaan-Nya. menafikan lupa dan luputnya sesuatu dari pengetahuan-Nya, yang mengandung kesempurnaan ‘Ilm-Nya dan Iĥāthoh-Nya (meliputi). menafikan tandingan, yang mengandung kesempurnaan Dzat dan Sifat-sifat-Nya.

Oleh karena itu, Dia tidak memuji Diri-Nya dengan ‘adam maĥdh (ketiadaan murni) yang tidak mengandung urusan tsubūtiy (penetapan). Karena yang tidak ada menyamai Dzat yang disifati dalam ‘adam (ketiadaan) itu. Yang Maha Sempurna tidak disifati dengan urusan yang ia dan yang tidak ada sama di dalamnya.

Karena maknanya: Dia dilihat, tetapi tidak dijangkau dan tidak diliputi. Maka firman-Nya:

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ

“Penglihatan mata tidak dapat menjangkau-Nya.” (QS. Al-An’ām: 103)

menunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya, dan bahwa Dia lebih besar dari segala sesuatu. bahwa karena kesempurnaan keagungan-Nya, Dia tidak dijangkau sehingga diliputi. Karena al-idrāk (menjangkau) adalah al-iĥāthoh (meliputi) sesuatu, dan ia adalah kadar yang melebihi rū’yah (melihat). Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ قَالَ كَلَّا

“Maka ketika kedua kelompok telah saling melihat, para pengikut Musa berkata: ‘Sungguh, kita benar-benar akan dijangkau (mudrokūn).’ Dia (Musa) menjawab: ‘Sekali-kali tidak!’” (QS. Asy-Syu’arō’: 61-62)

Musa tidak menafikan rū’yah, tetapi ia menafikan idrāk (jangkauan). Maka rū’yah dan idrāk, masing-masing terjadi bersama yang lain atau tanpa yang lain. Robb Ta’ala dilihat, tetapi tidak dijangkau, sebagaimana Dia diketahui tetapi tidak diliputi pengetahuannya. inilah yang dipahami para Shohabat dan para Imam dari ayat tersebut, sebagaimana yang aku sebutkan perkataan mereka dalam tafsir ayat itu.

Bahkan, matahari yang diciptakan ini tidak dapat dilihat secara menyeluruh oleh yang melihatnya sebagaimana adanya.

Kemudian Syaikh menyebutkan bahwa: “Hadits-Hadits dari Nabi dan para Shohabatnya, yang menunjukkan rū’yah adalah mutawātir, diriwayatkan oleh Aṣĥāb Aṣ-Ṣiĥāĥ (pemilik kitab-kitab shohih), Al-Masānīd (kitab-kitab musnad), dan As-Sunan (kitab-kitab sunan).

Di antaranya: Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu: “Sekelompok orang bertanya: ‘Wahai Rosululloh, apakah kami akan melihat Robb kami pada hari Kiamat?’

Rosululloh bersabda:

هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ؟

‘Apakah kalian kesulitan dalam melihat bulan di malam purnama?’

Mereka menjawab: ‘Tidak, wahai Rosululloh.’

Beliau bersabda:

هَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ؟

‘Apakah kalian kesulitan dalam melihat matahari yang tidak ada awan di bawahnya?’

Mereka menjawab: ‘Tidak.’

Beliau bersabda:

 فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ

‘Kalian akan melihat-Nya seperti itu.’” (HR. Al-Bukhori Muslim)

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu dalam Ash-Shoĥīĥain serupa dengannya.

Hadits Jarīr bin ‘Abdillah Al-Bajali rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami sedang duduk bersama Nabi . Beliau melihat ke bulan di malam ke-14 (purnama), lalu bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

‘Kalian akan melihat Robb kalian dengan mata kepala (‘iyānan), sebagaimana kalian melihat ini, kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.’” (Ash-Shoĥīĥain)

Hadits Shuhaib rodhiyallahu ‘anhu yang telah lalu, diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.

Hadits Abu Musa rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi , beliau bersabda:

وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ

dua Jannah dari perak, bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas, bejana-bejana dan isinya. tidak ada yang menghalangi kaum (Mu’min) untuk melihat Robb mereka Tabāroka wa Ta’āla kecuali Ridā’ Al-Kibriyā’ (Selendang Keagungan) di Wajah-Nya di Jannah ‘Adn.” (Ash-Shoĥīĥain)

dari Hadits ‘Adiy bin Ĥātim rodhiyallahu ‘anhu:

وَلَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ يَلْقَاهُ، وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تُرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ، فَيَقُولُ: أَلَمْ أَبْعَثْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَيُبَلِّغَكَ؟

sungguh, salah seorang dari kalian akan bertemu Alloh pada hari ia bertemu-Nya, dan tidak ada antara dia dengan-Nya ĥijāb (tabir) dan tidak ada penerjemah (turjumān) yang menerjemahkan untuknya. Dia berfirman: ‘Bukankah Aku telah mengutus seorang Rosul kepadamu, lalu ia menyampaikan kepadamu?’

Ia menjawab: بَلَى يَا رَبِّ ‘Tentu, wahai Robb.’

Dia berfirman:

 أَلَمْ أُعْطِكَ مَالًا وَأُفْضِلْ عَلَيْكَ؟

‘Bukankah Aku telah memberimu harta dan memberikan karunia kepadamu?’

Ia menjawab: بَلَى يَا رَبِّ ‘Tentu, wahai Robb.’” (HR. Al-Bukhori)[4]

5.13 Meraih Keni’matan Jannah Tidak Mengharuskan Meninggalkan Kesenangan Dunia

Para rohib (ruhbān) dan banyak ahli ibadah dari umat ini mengira bahwa keni’matan Akhiroh tidak dapat diraih kecuali jika seorang hamba menolak kebaikan dan kelezatan dunia. Oleh karena itu, engkau melihat mereka menyiksa tubuh mereka, dan menyulitkan diri mereka dengan terus-menerus berpuasa dan Sholat malam. Sebagian mereka bahkan mengharomkan kebaikan dari makanan, minuman, dan pakaian. sebagian mereka meninggalkan pekerjaan dan pernikahan.

Ini adalah pemikiran yang keliru. Karena Alloh menciptakan kebaikan untuk orang-orang Mu’min. Dia mencela siapa yang mengharomkan perhiasan Alloh yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Katakanlah: ‘Siapa yang mengharomkan perhiasan Alloh yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan ath-thoyyibāt (kebaikan-kebaikan) dari rizqi?’ Katakanlah: ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan (akan menjadi) khusus bagi mereka pada hari Kiamat.’” (QS. Al-A’roof: 32)

Dunia dicela jika ia menyibukkan (seseorang) dari Akhiroh. Namun, jika hamba menjadikannya sebagai jembatan dan jalan masuk untuk meraih Akhiroh, maka perkaranya tidak seperti yang disangka sebagian orang.

5.14 Penutup Seruan Mereka

Orang-orang Mu’min melewati kesulitan-kesulitan yang besar di Mauqif (lapangan Kiamat). Kemudian mereka melewati Ash-Shiroth (jembatan) di mana mereka menyaksikan kengerian dan ketakutan. Kemudian Alloh memasukkan mereka ke Jannah An-Na’im setelah Dia menghilangkan kesedihan dari mereka. Mereka melihat kebaikan-kebaikan agung yang Alloh persiapkan untuk mereka. Maka lisan mereka terangkat untuk bertasbih dan mengagungkan Robb mereka. Dia telah menghilangkan kesedihan dari mereka, menepati janji-Nya, dan mewariskan Jannah kepada mereka.

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ * الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ ۖ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

mereka berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Robb kami adalah benar-benar Ghofūr (Maha Pengampun), Syakūr (Maha Berterima Kasih), Yang menempatkan kami di Dār Al-Muqōmah (negeri tempat tinggal yang abadi) dari karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak disentuh oleh keletihan (naṣob) dan tidak disentuh oleh kelelahan (lughūb).” (QS. Fāthir: 34-35)

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

mereka berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah menepati janji-Nya kepada kami dan mewariskan kepada kami bumi (Jannah) ini. Kami menempati Jannah di mana saja kami kehendaki.’ Maka (Jannah) itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 74)

penutup seruan mereka di Jannah An-Na’im adalah: Alĥamdulillāhi robbil ‘ālamīn (Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam).

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Seruan mereka di dalamnya adalah: ‘Subĥānakallōhumma (Maha Suci Engkau, ya Alloh),’ dan penghormatan mereka di dalamnya adalah: ‘Salām (keselamatan),’ dan penutup seruan mereka adalah: ‘Alĥamdulillāhi robbil ‘ālamīn.” (QS. Yūnus: 10)


 



[1] Penelitian ini kami ambil dengan sedikit ringkasan dari Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah karya Syaikh Nashir: 3/275, no. 1281.

[2] Syaikh Nashir (Al-Albani) juga menisbatkannya kepada Ath-Thobroni dalam Al-Awsath, Abu Nu’aim, dan Adh-Dhiyā’ dalam Shifatul Jannah.

[3] Misykatul Mashobih: 3/90, no. 5636. Muĥaqqiq Misykatul Mashobih berkata: “At-Tirmidzi berkata: Hadits shohīĥ ghorīb.” Aku (muĥaqqiq) katakan: “Sanadnya ĥasan, bahkan shohīĥ, karena ia memiliki syawāhid (penguat), di antaranya dari Zayd bin Arqom di sisi Ad-Darimi dengan sanad shohih.”

[4] Lihat Syarhut Thohawiyah: 204-210.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url