Pesona Surga dalam Kenikmatan Penduduknya
5.1 Keutamaan
Keni’matan Jannah
Dibanding Kesenangan Dunia
Kesenangan dunia
adalah kenyataan yang disaksikan, dan keni’matan Jannah adalah ghoib
yang dijanjikan. Manusia terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan saksikan,
dan terasa berat di hati mereka untuk meninggalkan apa yang ada di tangan
mereka menuju sesuatu yang akan mereka raih di masa depan. Apalagi jika yang
dijanjikan itu diraih setelah kematian?
Oleh karena itu, Alloh
ﷻ membandingkan antara kesenangan dunia dan
keni’matan Jannah, dan menjelaskan bahwa keni’matan Jannah lebih
baik daripada dunia dan lebih utama. Dia memperpanjang celaan terhadap dunia
dan menjelaskan keutamaan Akhiroh. Itu semua agar para hamba bersungguh-dalam
mencari Akhiroh dan meraih keni’matannya.
Engkau akan menemukan
celaan terhadap dunia dan pujian terhadap keni’matan Akhiroh, serta pengutamaan
apa yang ada di sisi Alloh di atas kesenangan dunia yang dekat dan cepat, di
banyak tempat. Seperti firman-Nya ﷻ:
لَٰكِنِ الَّذِينَ
اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ
“Tetapi orang-orang
yang bertaqwa kepada Robb mereka, bagi mereka kebun-kebun yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat tinggal
dari sisi Alloh. apa yang ada di
sisi Alloh lebih baik bagi abroor (orang-orang yang berbakti).” (QS. Ali ‘Imron: 198)
firman-Nya:
وَلَا تَمُدَّنَّ
عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ
رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“janganlah sekali-kali engkau tujukan
pandanganmu kepada keni’matan hidup duniawi yang telah Kami berikan kepada beberapa
golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka
dengannya. karunia Robb-mu lebih
baik dan lebih kekal.” (QS. Thoha: 131)
Di tempat yang ketiga,
Alloh berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ
حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ * قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم
بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۖ لِلَّذِينَ
اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
“Dijadikan indah bagi
manusia kecintaan pada hal-hal yang diinginkan, berupa wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, hewan
ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan (matā’) hidup di dunia, dan
di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan
kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Bagi orang-orang yang
bertaqwa, di sisi Robb mereka ada kebun-kebun yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta
keridhoan dari Alloh. Alloh Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imron:
14-15)
Jika kita mencari tahu
rahasia keutamaan keni’matan Akhiroh di atas kesenangan dunia, kita akan
menemukannya dari berbagai sisi:
Pertama: Kesenangan dunia itu sedikit. Alloh ﷻ berfirman:
قُلْ مَتَاعُ
الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ
“Katakanlah: ‘Kesenangan dunia itu sedikit, dan Akhiroh itu
lebih baik bagi orang yang bertaqwa.’” (QS.
An-Nisa’: 77)
Rosululloh ﷺ
menggambarkan sedikitnya kesenangan dunia dibandingkan keni’matan Akhiroh
dengan perumpamaan yang beliau buat:
وَاللَّهِ
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ
– وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Alloh, tidaklah
dunia dibandingkan Akhiroh melainkan seperti salah seorang dari kalian menaruh
jarinya ini – dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya – ke dalam lautan.
Maka lihatlah, dengan apa ia (jarinya) kembali.” (HR. Muslim: no. 2858)
Apa yang diambil jari
jika dicelupkan ke lautan yang luas? Ia tidak mengambil setetes pun darinya.
Itulah perbandingan dunia dengan Akhiroh.
Karena kesenangan
dunia itu sedikit, Alloh mencela mereka yang mengutamakan kesenangan dunia di
atas keni’matan Akhiroh:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ
إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا
مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Wahai orang-orang
yang beriman! Mengapa kalian, jika dikatakan kepada kalian: ‘Berangkatlah (berjihad) di jalan Alloh,’ kalian merasa berat dan cenderung kepada bumi (dunia)? Apakah kalian lebih ridho dengan kehidupan
dunia daripada Akhiroh? Padahal kesenangan kehidupan dunia (dibanding) Akhiroh
hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)
Kami telah menyebutkan
dalam kitab ini nash-nash yang menunjukkan banyaknya keni’matan dunia dan tidak
adanya habis dan putus.
Kedua: Ia (keni’matan Jannah) lebih utama
dari sisi jenisnya. Pakaian penduduk Jannah, makanan, minuman,
perhiasan, dan istana mereka – lebih utama daripada yang ada di dunia. Bahkan,
tidak ada perbandingan. Tempat satu cambuk di Jannah lebih baik daripada
dunia dan seisinya.
Dalam Shohih
Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
مَوْضِعُ سَوْطٍ
فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Tempat satu cambuk di
Jannah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih,
no. 5613)
Dalam Hadits lain yang
juga diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
وَلَقَابُ
قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Tempat sejengkal
busur panah salah seorang dari kalian di Jannah lebih baik daripada
segala sesuatu yang diterangi matahari (dunia seisinya).” (Misykatul Mashobih, no. 5615)
Bandingkan wanita-wanita
penduduk Jannah dengan wanita-wanita dunia, niscaya engkau akan tahu
keutamaan yang ada di Jannah di atas yang ada di dunia.
Dalam Shohih
Al-Bukhori, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
لَوْ أَنَّ
امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ عَلَى الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ
مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا
خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Seandainya seorang
wanita dari wanita penduduk Jannah menampakkan diri ke bumi, niscaya ia
akan menerangi apa yang ada di antara keduanya, dan memenuhi apa yang ada di
antara keduanya dengan aroma wangi. Nashīf (kerudung)nya di atas kepalanya
lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih, no. 5614)
Ketiga: Jannah itu bersih dari kotoran dunia
dan kekeruhannya. Makanan dan minuman penduduk dunia menghasilkan air seni dan
kotoran, dan bau yang tidak sedap. Jika seseorang meminum khomr dunia, akalnya
akan hilang. Wanita-wanita dunia mengalami haidh dan melahirkan, dan haidh adalah kotoran.
Jannah bersih dari semua itu. Penduduknya tidak buang
air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak mengeluarkan ingus.
Khomr Jannah,
sebagaimana Alloh yang menciptakannya menyifati:
بَيْضَاءَ
لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ * لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
“(Warnanya) putih
bersih, lezat rasanya bagi peminumnya Tidak ada di dalamnya ghoul (minuman
memabukkan, penyakit, kejelekan), dan mereka tidak akan mabuk karenanya.” (QS.
Ash-Shoffat: 46-47)
Air Jannah
tidak berubah rasa dan baunya, dan susu Jannah tidak berubah rasanya:
أَنْهَارٌ
مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ
“Sungai-sungai dari
air yang tidak berubah rasa dan baunya, dan sungai-sungai dari susu yang tidak
berubah rasanya.” (QS. Muhammad: 15)
Wanita-wanita penduduk
Jannah suci dari haidh,
nifās, dan semua kotoran wanita dunia. Sebagaimana firman Alloh ﷻ:
وَلَهُمْ فِيهَا
أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
“di sana bagi mereka ada
pasangan-pasangan yang suci.” (QS. Al-Baqoroh: 25)
Hati penduduk Jannah
bersih (shōfiyah), perkataan mereka baik (thoyyibah), dan amal
mereka sholih. Engkau tidak akan mendengar di Jannah kata-kata buruk
yang mengeruhkan pikiran, mengganggu suasana hati, atau memancing amarah. Jannah
bersih dari perkataan dan perbuatan yang batil:
لَّا لَغْوٌ
فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ
“Di dalamnya mereka
tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula perkataan yang
menimbulkan dosa.” (QS. Ath-Thūr: 23)
tidak ada yang terdengar
kecuali kata-kata yang benar, baik, dan selamat dari celaan ucapan penduduk
dunia:
لَّا يَسْمَعُونَ
فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا
“Di dalamnya mereka
tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula kedustaan.” (QS.
An-Naba’: 35)
لَّا يَسْمَعُونَ
فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا
“Di dalamnya mereka
tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) kecuali ucapan salām
(keselamatan).” (QS. Maryam: 62)
لَّا تَسْمَعُ
فِيهَا لَاغِيَةً
“Di dalamnya kamu
tidak akan mendengar perkataan yang tidak berguna.” (QS. Al-Ghosyiyah: 11)
Ia adalah negeri
kesucian dan kemurnian serta kebersihan, yang bersih dari segala cacat dan
kekeruhan. Ia adalah Dār As-Salām (negeri keselamatan) dan ketenangan:
لَّا يَسْمَعُونَ
فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا
“Di
dalamnya mereka tidak mendengar laghw (perkataan sia-sia) dan tidak pula
perkataan yang menimbulkan dosa Kecuali ucapan salāman salāmā (selamat,
damai).” (QS. Al-Waqi’ah: 25-26)
Oleh karena itu,
ketika penduduk Jannah telah bebas dari Naar, mereka ditahan di qonthoroh
(jembatan kecil) antara Jannah dan Naar, kemudian mereka disucikan dan
dibersihkan. Yaitu dengan di-qishosh-kan sebagian mereka dari sebagian
yang lain. Maka mereka masuk Jannah dalam keadaan hati mereka bersih,
dan hilanglah dari jiwa mereka kebencian dan kedengkian, dan yang semisalnya
yang ada di dunia.
Dalam Shohihain,
dalam sifat penduduk Jannah ketika mereka memasukinya:
لَا اخْتِلَافَ
بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ
بُكْرَةً وَعَشِيًّا
“Tidak ada
perselisihan di antara mereka, dan tidak ada kebencian. Hati mereka adalah hati
satu orang. Mereka bertasbih kepada Alloh di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Bukhori.
Fathul Baari: 6/318)
Ia dibenarkan firman Alloh ﷻ:
وَنَزَعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
“Kami cabut rasa
dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan
sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)
Ghill adalah kedengkian (ĥiqd). Telah dinukil
dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa
ketika penduduk Jannah masuk Jannah, mereka minum dari sebuah
mata air, lalu Alloh menghilangkan ghill (kedengkian) yang ada di hati
mereka. mereka minum dari mata
air lain, maka wajah mereka berseri dan rupa mereka bersih. Mungkin mereka
mengambil faedah ini dari firman Alloh ﷻ:
وَسَقَاهُمْ
رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا
“Robb mereka memberi
mereka minum dengan minuman yang suci.” (QS. Al-Insan: 21) (At-Tadzkiroh,
Al-Qurthubi: 499)
Keempat: Keni’matan dunia itu sirna, dan keni’matan Akhiroh
itu kekal dan abadi. Oleh karena itu, Alloh ﷻ
menamakan apa yang dihiaskan kepada manusia dari bunga dunia sebagai
kesenangan, karena ia dini’mati kemudian sirna. Adapun keni’matan Akhiroh, ia
kekal, tidak ada habisnya:
مَا عِندَكُمْ
يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada pada
kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal.” (QS.
An-Naĥl: 96)
إِنَّ هَٰذَا
لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ
“Sungguh, ini adalah rizqi
dari Kami yang tidak ada habis-habisnya.” (QS. Shod: 54)
أُكُلُهَا
دَائِمٌ وَظِلُّهَا
“Buah-buahannya tidak
henti-henti, sedang naungannya (juga demikian).” (QS. Ar-Ro’d: 35)
Alloh telah membuat
perumpamaan untuk cepatnya sirna dan berlalunya dunia:
وَاضْرِبْ
لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ
بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا * الْمَالُ
وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا
وَخَيْرٌ أَمَلًا
“buatkanlah untuk mereka perumpamaan
kehidupan dunia, seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, sehingga
tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur karenanya, kemudian (tumbuhan) itu
menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Alloh Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal
kebajikan yang abadi (al-bōqiyātush shōliĥāt) lebih baik pahalanya di
sisi Robb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 45-46)
Alloh membuat
perumpamaan cepatnya sirna dan berlalunya dunia dengan air yang turun dari
langit, yang bercampur dengannya tumbuh-tumbuhan bumi sehingga ia menjadi
hijau, berbunga, dan berbuah. Tidak lama kemudian, keindahannya hilang, ia layu
dan menguning, kemudian diterbangkan angin ke segala tempat. Begitu juga
perhiasan dunia berupa masa muda, harta, anak-anak, pertanian, dan tanaman...
semua itu akan lenyap dan berakhir. Masa muda layu dan pergi, kesehatan dan
kebugaran berganti menjadi tua dan sakit. Harta dan anak-anak bisa pergi, dan
manusia bisa dicabut dari keluarganya dan hartanya.
Adapun Akhiroh, tidak
ada pergi (terusir), tidak ada fana,
dan tidak ada sirna:
وَلَدَارُ
الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
* جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“sungguh, Dārul Ākhiroh (negeri Akhiroh)
lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu)
Jannah ‘Adn (tempat tinggal abadi), mereka memasukinya, mengalir
di bawahnya sungai-sungai.” (QS. An-Naĥl: 30-31)
Kelima: Beramal untuk kesenangan dunia dan melupakan Akhiroh
akan diikuti oleh penyesalan (ĥasroh) dan masuk Naar:
كُلُّ نَفْسٍ
ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap jiwa akan
merasakan kematian. hanya pada
hari Kiamatlah disempurnakan balasan kalian. Maka siapa yang dijauhkan dari
Naar dan dimasukkan ke Jannah, dia telah beruntung (menang). kehidupan dunia tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdaya (ghurūr).” (QS. Ali ‘Imron: 185)
5.2 Makanan
dan Minuman Penduduk Jannah
Telah kami bahas
sebelumnya tentang pohon-pohon Jannah dan buah-buahannya, serta gugusan
buahnya yang dekat (dāniyah) dan dimudahkan untuk dipetik (tadzlīlā).
Juga tentang pilihan penduduk Jannah dari buah-buahan itu sesuai yang
mereka inginkan dan sukai.
Di Jannah ada
apa yang diinginkan jiwa berupa makanan dan minuman:
وَفَاكِهَةٍ
مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
“buah-buahan dari apa yang mereka pilih. daging
burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 20-21)
وَفِيهَا مَا
تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ
“di dalamnya terdapat apa yang
diinginkan oleh nafsu dan sedap dipandang mata.” (QS. Az-Zukhruf: 71)
Alloh telah
mengizinkan mereka untuk mengambil dari kebaikan-kebaikan Jannah dan
jenis-jenis makanan serta minumannya apa yang mereka inginkan:
كُلُوا وَاشْرَبُوا
هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan
dan minumlah dengan ni’mat, karena amal yang telah kalian kerjakan pada
hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Ĥāqqah: 24)
Kami juga telah
menyebutkan sebelumnya bahwa di Jannah ada lautan air, lautan khomr,
lautan susu, dan lautan madu. sungai-sungai
Jannah terbelah dari lautan-lautan ini.
Di Jannah
terdapat banyak mata air (‘uyūn), dan penduduk Jannah minum dari
lautan, sungai, dan mata air tersebut.
Alloh ﷻ berfirman:
إِنَّ الْأَبْرَارَ
يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ
اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا
“Sungguh, orang-orang
yang Abror (berbakti) minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah
kāfūr. (Yaitu) mata air (aynan)
yang diminum oleh hamba-hamba Alloh, yang mereka alirkan terus-menerus dengan
pengaliran yang deras.” (QS. Al-Insan: 5-6)
Dia berfirman:
وَيُسْقَوْنَ
فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا * عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا
“di sana mereka diberi minum segelas
(minuman) yang campurannya adalah zanjabīl (jahe). (Yang diambil) dari sebuah mata air di Jannah yang dinamakan salsabīl.”
(QS. Al-Insan: 17-18)
firman-Nya:
وَمِزَاجُهُ
مِن تَسْنِيمٍ * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ
“campurannya dari tasnīm. (Yaitu) mata air yang diminum oleh al-muqorrobūn (orang-orang
yang didekatkan).” (QS. Al-Muthoffifin: 27-28)
5.2.1 Khomr (Minuman Keras) Penduduk Jannah
Di antara minuman yang
Alloh karuniakan kepada penduduk Jannah adalah khomr. Khomr Jannah
bersih dari cacat dan kerusakan yang melekat pada khomr dunia. Khomr dunia
menghilangkan akal, membuat kepala pusing, menyebabkan sakit perut, merusak
badan, mendatangkan penyakit, dan mungkin cacat dalam pembuatannya atau
warnanya atau lainnya.
Adapun khomr Jannah,
ia bersih dari semua itu, indah, murni, dan jernih:
يُطَافُ عَلَيْهِم
بِكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ * بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ * لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا
هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
“Diedarkan kepada
mereka gelas (berisi minuman) dari mata air yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, lezat rasanya bagi peminumnya. Tidak ada di
dalamnya ghowl (minuman memabukkan, penyakit, kejelekan), dan mereka
tidak akan mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shoffat: 45-47)
Alloh menjelaskan
keindahan warnanya. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ia lezat bagi peminumnya
tanpa menghilangkan akalnya, sebagaimana firman-Nya:
وَأَنْهَارٌ
مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ
“sungai-sungai dari khomr (minuman
keras) yang lezat bagi peminumnya.” (QS. Muhammad: 18)
Kemudian, peminumnya
tidak akan bosan meminumnya:
وَلَا هُمْ
عَنْهَا يُنزَفُونَ
“mereka tidak akan mabuk karenanya.” (QS.
Ash-Shoffat: 47)
Di tempat lain, Dia
menyifati khomr Jannah:
يَطُوفُ عَلَيْهِمْ
وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ لَّا يُصَدَّعُونَ
عَنْهَا وَلَا يُنزَفُونَ
“Mereka dikelilingi
oleh anak-anak muda yang kekal, dengan membawa gelas,
cerek, dan minuman bening yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak (pula) mabuk.” (QS. Al-Waqi’ah:
17-19)
Ibnu Katsir (774 H)
berkata dalam tafsir ayat ini: “Kepala mereka tidak pusing, dan akal mereka
tidak hilang. Bahkan, akal mereka tetap ada bersama keni’matan yang memabukkan
dan kelezatan yang didapatkan. Adh-Dhohhāk (105 H) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: ‘Khomr (dunia) memiliki 4 sifat:
memabukkan (as-sukr), pusing (aṣ-ṣudā’), muntah (al-qay’),
dan buang air kecil (al-baul). Maka Alloh menyebutkan khomr Jannah,
dan membersihkannya dari sifat-sifat ini.’” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/514)
Alloh berfirman di
tempat ketiga:
يُسْقَوْنَ
مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ خِتَامُهُ مِسْكٌ
“Mereka diberi minum
dari roĥīq (minuman murni) yang dimeteraikan. Laknya (khitāmuhū) adalah misik.” (QS. Al-Muthoffifin: 25-26)
Roĥīq adalah khomr. Khomr ini disifati dengan dua
sifat: Pertama, ia dimeteraikan (makhtūm), yaitu diberi segel. Kedua, ketika
mereka meminumnya, mereka mendapati di akhir minumnya ada aroma misik.
5.2.2 Makanan Pertama Penduduk Jannah
Makanan pertama yang
Alloh anugerahkan kepada penduduk Jannah adalah ziyādat kabidi l-ĥūt (tambahan hati ikan paus)
Al-Bukhori dan Muslim
meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
ﷺ
bersabda:
تَكُونُ الْأَرْضُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً، يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ، كَمَا
يَتَكَفَّأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ نُزُلًا لِأَهْلِ الْجَنَّةِ
“Bumi pada hari Kiamat
akan menjadi satu roti (khubzah) saja. Al-Jabbār (Dzat Yang Maha
Perkasa) membolak-baliknya dengan Tangan-Nya, sebagaimana salah seorang dari
kalian membolak-balik rotinya dalam perjalanan, sebagai hidangan (nuzul)
bagi penduduk Jannah.”
Maka seorang laki-laki
Yahudi datang dan berkata: “Semoga Ar-Roĥmān memberkahimu, wahai Abul Qōsim.
Maukah aku beritahu engkau tentang hidangan penduduk Jannah pada hari
Kiamat?”
Beliau bersabda: “Tentu.”
Ia berkata: “Bumi akan
menjadi satu roti saja,” sebagaimana yang Nabi ﷺ
sabdakan. Nabi ﷺ melihat kepada kami, kemudian tertawa hingga terlihat gigi
gerahamnya. Kemudian beliau bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكَ
بِإِدَامِهِمْ؟ بِاللَّامِ وَالنُّونِ. قَالُوا: وَمَا هَذَا؟ قَالَ: ثَوْرٌ وَنُونٌ،
يَأْكُلُ مِنْ زَائِدَةِ كَبِدِهِمَا سَبْعُونَ أَلْفًا
“Maukah aku beritahu
engkau tentang lauk-pauk mereka? Dengan lām dan nūn (yaitu Ikan
Paus dan Sapi Jantan). Mereka bertanya: ‘Apa ini?’ Beliau bersabda: ‘Sapi
jantan (tsaur) dan ikan paus (nūn). 70.000 orang
makan dari tambahan hati kedua hewan tersebut.” (Misykatul Mashobih: 3/56)
An-Nawawi (676 H)
berkata dalam Syarh Hadits ini, yang ringkasannya: “An-Nuzul: apa
yang disiapkan untuk tamu ketika ia turun (singgah). Yatakaffa’uhā bi yadih:
membolak-balikkannya dari satu tangan ke tangan lain hingga ia terkumpul dan
rata, karena ia tidak datar seperti roti tipis (ruqōqoh) dan semisalnya.
Makna Hadits: Alloh Ta’ala akan menjadikan bumi seperti roti yang besar,
dan ia menjadi makanan dan hidangan bagi penduduk Jannah. An-Nūn:
Ikan paus. Al-Bā’ dan lām adalah lafazh dalam bahasa Ibrani, maknanya: Sapi
jantan (tsaur). Zā’idat kabid al-ĥūt: adalah potongan yang
terpisah yang melekat pada hati, dan itu adalah bagian yang paling lezat.” (Syarh
An-Nawawi ‘ala Muslim: 17/136)
Dalam Shohih
Al-Bukhori, ‘Abdulloh bin Sallam rodhiyallahu ‘anhu bertanya kepada
Nabi ﷺ pada
kedatangan beliau yang pertama di Madinah, di antara pertanyaan itu adalah: “Apa
makanan pertama yang dimakan penduduk Jannah?” Beliau bersabda:
زِيَادَةُ
كَبِدِ الْحُوتِ
“Tambahan hati ikan
paus.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/270)
Dalam Shohih Muslim,
dari Tsaubān rodhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang Yahudi bertanya kepada Rosululloh
ﷺ: “Maka
apa hidangan (tuĥfah) mereka ketika mereka masuk Jannah?” Beliau
bersabda:
زِيَادَةُ
كَبِدِ الْحُوتِ
“Tambahan
hati ikan paus.”
Ia bertanya: “Maka apa
makanan utama (ghidhā’) mereka setelah itu?”
Beliau bersabda:
يُنْحَرُ لَهُمْ
ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا
“Disembelih untuk
mereka sapi jantan Jannah yang dimakan
dari tepiannya.”
Ia bertanya: “Maka apa
minuman mereka setelah itu?”
Beliau bersabda:
مِنْ عَيْنٍ
تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا
“Dari mata air yang
dinamakan salsabīl.”
Ia berkata: “Engkau
benar.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/270)
5.2.3 Makanan dan Minuman Penduduk Jannah Tidak
Disertai Kotoran
Mungkin terlintas di
pikiran bahwa makanan dan minuman di Jannah akan menghasilkan apa yang
dihasilkan oleh makanan dan minuman penduduk dunia, berupa air seni, kotoran,
ingus, ludah, dan yang semisalnya. Namun, perkaranya tidaklah demikian. Jannah
adalah negeri yang bersih dari kotoran, dan penduduknya disucikan dari segala
cacat penduduk dunia.
Dalam Hadits yang
diriwayatkan oleh Ash-Shōĥihān (Al-Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh
rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ,
menafikan dugaan ini, beliau bersabda:
أَوَّلُ زُمْرَةٍ
تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ
فِيهَا وَلَا يَمْتَخِطُونَ، وَلَا يَبْزُقُونَ
“Rombongan pertama
yang masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama.
Mereka tidak meludah di dalamnya, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak meludah.”
(HR. Al-Bukhori, dan Muslim, no. 2834)
Ini tidak hanya khusus
bagi rombongan pertama yang masuk Jannah, melainkan berlaku umum bagi
setiap orang yang masuk Jannah.
Dalam riwayat Muslim
dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
أَوَّلُ زُمْرَةٍ
تَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، ثُمَّ هُمْ
بَعْدَ ذَلِكَ مَنَازِلُ، لَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَتَبَوَّلُونَ، وَلَا يَبْزُقُونَ
“Rombongan
pertama yang masuk Jannah dari umatku, rupa mereka seperti rupa bulan di
malam purnama. Kemudian yang mengikuti mereka seperti bintang yang paling
terang cahayanya di langit. Kemudian mereka setelah itu bertingkat-tingkat (manāzil).
Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, dan tidak meludah.” (HR.
Muslim, no. 2834)
Maka yang membedakan
penduduk Jannah, yang disebutkan dalam Hadits, adalah kekuatan cahaya
masing-masing mereka. Adapun bersihnya mereka dari kotoran, mereka semua sama
dalam hal itu. Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak
meludah, dan tidak mengeluarkan ingus.
Mungkin ada yang berpendapat: Lalu ke mana perginya
sisa-sisa makanan dan minuman? Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Rosululloh
ﷺ oleh
para Shohabat. Beliau menjelaskan bahwa sisa-sisa makanan dan minuman berubah
menjadi keringat (rosy-ĥun) seperti keringat misik yang mengalir dari
tubuh mereka. Sebagiannya juga berubah menjadi sendawa (jushā’), tetapi
sendawa itu mengeluarkan aroma wangi semerbak yang harum.
Dalam Shohih Muslim,
dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh
ﷺ
bersabda:
إِنَّ أَهْلَ
الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتْفِلُونَ، وَلَا يَتَبَوَّلُونَ،
وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ
“Penduduk Jannah
makan dan minum di dalamnya, dan mereka tidak meludah, tidak buang air kecil,
tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan ingus.”
Mereka bertanya: “Lalu
bagaimana dengan makanan?”
Beliau bersabda:
جُشَاءٌ كَجُشَاءِ
الْمِسْكِ
“Sendawa seperti
sendawa misik.” (HR. Muslim, no. 2835)
5.2.4 Mengapa Penduduk Jannah Makan,
Minum, dan Bersisir?
Jika penduduk Jannah
kekal di dalamnya, dan Jannah bersih dari rasa sakit (ālām),
penyakit (aujā’), dan penyakit (amrooḍh), tidak ada lapar di
dalamnya, tidak ada haus, tidak ada kotoran, dan tidak ada cemar, lalu mengapa
penduduk Jannah makan dan minum di dalamnya? mengapa mereka memakai wewangian dan bersisir?
Al-Qurthubi (671 H)
menjawab pertanyaan ini dalam At-Tadzkiroh dengan berkata: “Keni’matan
dan pakaian penduduk Jannah itu bukanlah untuk menghilangkan rasa sakit
yang menimpa mereka. Maka, makan mereka bukan karena lapar, minum mereka bukan
karena haus, dan memakai wewangian mereka bukan karena bau busuk. Melainkan, itu
adalah kelezatan yang berkelanjutan, dan keni’matan yang berturut-turut.
Tidakkah engkau lihat
firman Alloh ﷻ
kepada Adam:
إِنَّ لَكَ
أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ
“Sungguh,
(ada jaminan) bagimu di Jannah, engkau tidak akan kelaparan di dalamnya
dan tidak akan telanjang. sungguh, engkau tidak akan kehausan di dalamnya
dan tidak akan terkena terik matahari.” (QS. Thoha: 118-119)
Hikmahnya adalah bahwa
Alloh Ta’ala memperkenalkan kepada mereka di Jannah jenis keni’matan
yang dahulu mereka ni’mati di dunia, dan Dia menambahkan kepada mereka yang di
atasnya, yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla.”
(At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 475. lihat
Fathul Baari: 6/325)
5.2.5 Bejana Makanan dan Minuman Penduduk Jannah
Bejana makanan dan
minuman penduduk Jannah yang mereka gunakan untuk makan dan minum
terbuat dari emas dan perak. Alloh ﷻ
berfirman:
يُطَافُ عَلَيْهِم
بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ
“Diedarkan kepada
mereka piring-piring dari emas, begitu pula gelas-gelas (akwāb).” (QS.
Az-Zukhruf: 71)
Dia berfirman:
وَيُطَافُ
عَلَيْهِم بِآنِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا * قَوَارِيرَ مِن
فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا
“diedarkan kepada mereka bejana-bejana
dari perak dan gelas-gelas yang bening (qowārīroo), bening yang terbuat
dari perak, mereka mengukurnya dengan ukuran yang tepat.” (QS. Al-Insan:
15-16)
Yaitu, terkumpul di
dalamnya kejernihan gelas dan warna putih perak.
Al-Bukhori dan Muslim
meriwayatkan dalam Shohihain, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ
فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ.. وَجَنَّتَانِ مِنْ
فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا
فِيهِمَا
“Bagi
seorang Mu’min di Jannah ada kemah dari satu mutiara berongga... dua Jannah dari perak,
bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas, bejana-bejana dan
isinya.”
Maksudnya: Mu’min mendapatkan dua Jannah.
Di antara bejana yang
mereka gunakan untuk minum adalah akwāb (gelas tanpa telinga), abārīq
(cerek), dan ku’ūs (gelas dengan minuman di dalamnya):
يَطُوفُ عَلَيْهِمْ
وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ
“Mereka dikelilingi
oleh anak-anak muda yang kekal, dengan membawa gelas-gelas
(akwāb) dan cerek-cerek (abārīq) dan gelas dengan minuman (ka’sin)
dari mata air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17)
Al-Kūb: yang tidak memiliki telinga, pegangan, dan
cerat. Al-Abārīq: yang memiliki telinga dan pegangan. Al-Ka’s:
gelas yang berisi minuman.
5.3 Pakaian,
Perhiasan, dan Wewangian
Penduduk Jannah
Penduduk Jannah
mengenakan pakaian yang mewah di dalamnya, dan berhias dengan berbagai jenis
perhiasan dari emas, perak, dan mutiara.
Di antara pakaian
mereka adalah sutra (ĥarīr). di
antara perhiasan mereka adalah gelang dari emas, perak, dan mutiara:
وَجَزَاهُم
بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
“Dia memberi balasan kepada
mereka karena kesabaran mereka, berupa Jannah dan (pakaian) sutra.” (QS.
Al-Insan: 12)
يُحَلَّوْنَ
فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ
“Di dalamnya mereka
diberi perhiasan gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya
adalah sutra.” (QS. Al-Ĥajj: 23)
جَنَّاتُ عَدْنٍ
يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ
“Jannah ‘Adn,
mereka memasukinya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan
mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Fāthir: 33)
وَحُلُّوا
أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا
“mereka dihiasi dengan gelang-gelang
dari perak, dan Robb mereka memberi mereka minum dengan minuman yang suci.” (QS.
Al-Insan: 21)
Pakaian mereka
beraneka warna. Di antara warna pakaian yang mereka kenakan adalah hijau dari sundus
(sutra halus) dan istabroq (sutra tebal):
يُحَلَّوْنَ
فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Di dalamnya mereka
diberi perhiasan gelang dari emas dan mereka mengenakan pakaian hijau dari sundus
(sutra halus) dan istabroq (sutra tebal), sambil bersandar dengan nyaman
di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat
yang paling indah.” (QS. Al-Kahfi: 31)
عَالِيَهُمْ
ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ
“Pakaian mereka
(semua) yang di atas sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan mereka dihiasi
dengan gelang-gelang dari perak.” (QS. Al-Insan: 21)
Pakaian mereka lebih
unggul dari pakaian mana pun yang dibuat manusia.
Al-Bukhori
meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Al-Baro’ bin ‘Āzib rodhiyallahu ‘anhumā,
ia berkata: “Didatangkan kepada Rosululloh ﷺ
sehelai kain sutra. Mereka mulai kagum dengan keindahan dan kelembutannya.” Rosululloh
ﷺ
bersabda:
لَمَنَادِيلُ
سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فِي الْجَنَّةِ أَفْضَلُ مِنْ هَذَا
“Saputangan Sa’d bin
Mu’ādz rodhiyallahu ‘anhu di Jannah lebih utama daripada ini.” (HR.
Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/319)
Rosululloh ﷺ
mengabarkan kepada kita bahwa bagi penduduk Jannah ada sisir dari emas
dan perak. mereka menghirup aroma
dengan kayu wangi, padahal aroma misik telah tercium dari tubuh mereka yang
suci.
Dalam Shohih
Al-Bukhori, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, tentang sifat
orang-orang yang masuk Jannah:
آنِيَتُهُمُ
الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ، وَأَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَوَقُودُ مَجَامِرِهِمُ الْأَلُوَّةُ
– قَالَ أَبُو الْيَمَانِ: عُودُ الطِّيبِ – وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ
“Bejana mereka
(terbuat dari) emas dan perak, sisir mereka dari emas, bahan Bakr perapian
mereka adalah aluwwah (gaharu wangi) – Abu Al-Yaman (Al-Hakam bin
Nāfi’) berkata: kayu wangi – dan keringat mereka adalah misik.” (Sumber
sebelumnya)
Di antara perhiasan
mereka adalah mahkota. Dalam Sunan At-Tirmidzi (279 H) dan Ibnu Majah
(273 H), dari Al-Miqdām bin Ma’dī Karib rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh
ﷺ,
dalam menyebutkan sifat-sifat yang diberikan kepada Syahid:
وَيُوضَعُ
عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا
فِيهَا
“diletakkan di atas kepalanya tāj
al-waqōr (mahkota ketenangan/ kemuliaan), satu butir yaqut padanya lebih
baik daripada dunia dan seisinya.” (Misykatul Mashobih: no. 3834)
Pakaian dan perhiasan
penduduk Jannah tidak usang dan tidak fana.
Dalam Shohih Muslim,
dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
مَنْ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ
“Siapa
yang masuk Jannah, ia akan diberi keni’matan dan tidak akan mengalami
kesengsaraan. Pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan sirna.” (HR.
Muslim, no. 2836)
5.4 Perabotan
Penduduk Jannah
Istana-istana Jannah,
dan tempat-tempat duduk di kebun-kebunnya dan tamannya, telah disiapkan dengan
berbagai jenis perabotan mewah dan indah untuk duduk, bersandar, dan yang
semisalnya. Dipan-dipan banyak dan mewah. Permadani agung nilainya, lapisan
dalamnya dari istabroq (sutra tebal), maka bagaimana dengan lapisan
luarnya?
Di sana engkau akan
melihat bantal-bantal (namāriq) yang tersusun rapi dengan cara yang
menyenangkan pikiran dan membuat jiwa bahagia. permadani tebal (zarōbī) terhampar dalam bentuk yang
terkoordinasi dan terpadu.
Alloh ﷻ berfirman:
فِيهَا سُرُرٌ
مَّرْفُوعَةٌ * وَأَكْوَابٌ مَّوْضُوعَةٌ * وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ * وَزَرَابِيُّ
مَبْثُوثَةٌ
“Di dalamnya ada
dipan-dipan (surur) yang ditinggikan, gelas-gelas (akwāb) yang tersedia, bantal-bantal (namāriq) yang tersusun, permadani-permadani tebal (zarōbī) yang
terhampar.” (QS. Al-Ghosyiyah: 13-16)
مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ
“Mereka bersandar di
atas permadani (furūsy) yang lapisan dalamnya (bathō’inuhā) dari istabroq
(sutra tebal).” (QS. Ar-Rohman: 54)
مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُم
بِحُورٍ عِينٍ
“Mereka bersandar di
atas dipan-dipan (surur) yang tersusun rapi, dan Kami nikahkan mereka
dengan al-ĥūru l-’īn (bidadari bermata jeli).” (QS. Ath-Thūr: 20)
ثُلَّةٌ مِّنَ
الْأَوَّلِينَ * وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ * عَلَىٰ سُرُرٍ مَّوْضُونَةٍ * مُّتَّكِئِينَ
عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ
“Sekelompok besar dari
orang-orang terdahulu dan sekelompok kecil dari orang-orang
kemudian, di atas dipan-dipan (surur) yang
bertahtakan emas dan permata (mawḍūnah). Mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqi’ah: 13-16)
Bersandarnya mereka di
atas dipan dengan cara ini adalah salah satu jenis keni’matan yang dini’mati
penduduk Jannah ketika mereka berkumpul.
Sebagaimana Alloh ﷻ berfirman:
وَنَزَعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
“Kami cabut rasa
dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan
sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)
Dia berfirman:
مُّتَّكِئِينَ
عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ
“Mereka bersandar pada
rofrof (bantal-bantal besar) yang hijau dan permadani-permadani yang
indah (‘abqorīy ĥisān).” (QS. Ar-Rohman: 76)
مُتَّكِئِينَ
فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ
“Mereka bersandar di
dalamnya di atas dipan-dipan yang indah (al-arō’ik).” (QS. Al-Kahfi:
31)
Yang dimaksud dengan an-namāriq
adalah bantal-bantal (mikhādd), dan al-wasā’id adalah sandaran.
Az-Zarōbī adalah permadani tebal. Al-‘Abqorīy
adalah permadani yang bagus. Ar-Rofrof adalah taman-taman Jannah.
Ada yang berpendapat: sejenis kain. Al-Arō’ik: dipan-dipan yang indah.
5.5 Pelayan
Penduduk Jannah
(Khodam)
Penduduk Jannah
dilayani oleh anak-anak muda (wildān) yang Alloh ciptakan untuk melayani
mereka, dalam puncak keindahan dan kesempurnaan. Alloh ﷻ
berfirman:
يَطُوفُ عَلَيْهِمْ
وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ
“Mereka dikelilingi
oleh anak-anak muda (wildān) yang kekal, dengan membawa gelas-gelas, cerek-cerek, dan
gelas dengan minuman dari mata air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18)
Di tempat lain Dia
berfirman:
وَيَطُوفُ
عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا
“mereka dikelilingi oleh anak-anak muda
yang kekal. Apabila engkau melihat mereka, engkau mengira mereka mutiara yang
bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19)
Ibnu Katsir (774 H) roĥimahullōhu
berkata: “Anak-anak muda dari anak-anak Jannah berputar melayani
penduduk Jannah. Mukhalladūn (kekal): yaitu dalam satu keadaan yang
sama, mereka kekal di dalamnya, tidak berubah darinya. Usia mereka tidak
bertambah dari usia itu. siapa
yang menafsirkannya bahwa mereka memakai anting-anting di telinga mereka, maka
ia hanya mengungkapkan maknanya, karena yang pantas untuk itu hanyalah anak
kecil, bukan orang dewasa. firman-Nya
ﷻ: (Apabila engkau melihat mereka, engkau
mengira mereka mutiara yang bertaburan) (QS. Al-Insan: 19): yaitu
jika engkau melihat mereka dalam penyebaran mereka untuk menunaikan kebutuhan
tuan-tuan mereka, dan banyaknya mereka, serta keindahan wajah, warna kulit,
pakaian, dan perhiasan mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan. tidak ada yang lebih baik dari
perumpamaan ini dalam perbandingan, dan tidak ada yang lebih baik dari
pemandangan mutiara yang bertaburan di tempat yang indah.” (Tafsir Ibnu
Katsir: 7/183)
Sebagian ulama
berpendapat bahwa anak-anak muda ini adalah anak-anak yang meninggal ketika
masih kecil dari anak-anak orang Mu’min atau musyrik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
(728 H) roĥimahullōhu membantah pendapat ini, dan menjelaskan bahwa wildān
mukholladūn (anak-anak muda yang kekal) adalah ciptaan dari ciptaan Jannah.
Ia berkata: “anak-anak muda yang
mengelilingi penduduk Jannah: mereka adalah ciptaan dari ciptaan Jannah,
bukan dari anak-anak dunia. Bahkan, anak-anak penduduk dunia jika mereka masuk Jannah,
penciptaan mereka akan sempurna seperti penduduk Jannah, dalam rupa
bapak mereka Adam.” (Majmu’ Fatawa: 4/279. lihat:
4/311)
5.6: Pasar
Penduduk Jannah (Sūq)
Muslim (261 H)
meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي
الْجَنَّةِ لَسُوقًا، يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ، فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ، فَتَحْثُو
فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ، فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَرْجِعُونَ
إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ:
وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا، فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ،
وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا
“Di Jannah ada
pasar, mereka mendatanginya setiap Jum’ah (sepekan sekali). Lalu bertiuplah angin utara. Angin itu
meniup wajah dan pakaian mereka, sehingga mereka bertambah indah dan cantik. Mereka kembali kepada keluarga mereka dalam keadaan telah bertambah
indah dan cantik. Maka keluarga mereka berkata kepada mereka: ‘Demi Alloh,
kalian telah bertambah indah dan cantik, setelah kami tinggalkan.’ Maka mereka menjawab: ‘kalian juga, demi Alloh, kalian telah bertambah indah dan
cantik setelah kami tinggalkan.’” (HR. Muslim, no. 2833)
An-Nawawi (676 H)
berkata dalam Syarh Hadits ini: “Yang dimaksud dengan as-sūq
(pasar) adalah tempat berkumpul bagi mereka, mereka berkumpul sebagaimana
manusia berkumpul di pasar di dunia. Makna ya’tūnahā kulla Jum’ah
(mereka mendatanginya setiap Jumat) adalah dalam perkiraan setiap Jumat, yaitu
sepekan. di sana tidak ada
hakikat sepekan, karena tidak ada matahari, malam, dan siang. Angin Jannah
dikhususkan dengan syamāl (utara) karena ia adalah angin hujan di
kalangan Arob, yang bertiup dari arah Syam, dan dengannya datang awan hujan.
Mereka berharap pada awan Syam. Dalam Hadits itu, angin ini dinamakan al-muthīroh
(yang menggerakkan), yaitu yang menggerakkan, karena ia menggerakkan di wajah
mereka apa yang ia gerakkan dari misik tanah Jannah dan keni’matan
lainnya.” (An-Nawawi ‘ala Muslim: 17/170)
5.7 Pertemuan
Penduduk Jannah dan
Pembicaraan Mereka
Penduduk Jannah
saling mengunjungi, dan berkumpul di majelis-majelis yang baik, mereka
berbincang-bincang, dan mengingat apa yang telah mereka lakukan di dunia, dan
karunia yang Alloh berikan kepada mereka berupa masuk Jannah.
Alloh ﷻ berfirman dalam menjelaskan sifat
pertemuan penduduk Jannah:
وَنَزَعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
“Kami cabut rasa
dengki (ghill) yang ada dalam dada mereka, mereka saling berhadapan
sebagai saudara di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)
Alloh mengabarkan
kepada kita salah satu jenis pembicaraan yang mereka bicarakan di perkumpulan
mereka:
وَأَقْبَلَ
بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا
مُشْفِقِينَ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا
مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ
الْبَرُّ الرَّحِيمُ
“Sebagian mereka
menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Mereka berkata: ‘Sungguh, kami dahulu (ketika) berada di tengah-tengah
keluarga kami, selalu merasa takut (akan adzab Alloh). Maka Alloh memberikan
karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab samūm (angin yang
sangat panas). Sungguh, kami dahulu selalu menyembah-Nya.
Sungguh, Dia adalah Al-Barr (Yang Melimpahkan Kebaikan) lagi Ar-Rohīm (Maha
Penyayang).” (QS. Ath-Thūr: 25-28)
di antaranya adalah mereka
mengingat musuh-musuh dari kalangan orang-orang jahat yang dahulu meragukan
orang-orang yang beriman, dan mengajak mereka kepada kekafiran:
فَأَقْبَلَ
بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ * قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي
قَرِينٌ * يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ * أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا
وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ * قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ * فَاطَّلَعَ
فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ * قَالَ تَاللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ وَلَوْلَا
نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ * أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ إِلَّا
مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ * لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ
“Sebagian mereka
menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Berkata salah seorang dari mereka: ‘Sungguh, aku dahulu mempunyai teman, yang berkata: ‘Apakah engkau termasuk
orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)? Apakah apabila kita telah mati
dan menjadi tanah serta tulang belulang, kita akan diberi balasan?’ Ia berkata:
‘Maukah kalian menengok?’ Lalu ia menengok, dan melihat temannya itu berada di tengah-tengah Naar
Jahīm. Ia berkata: ‘Demi Alloh, engkau hampir
mencelakakanku. kalau bukan
karena ni’mat Robb-ku, aku termasuk orang-orang yang diseret (ke Naar). Maka apakah kita (orang-orang Mu’min) tidak akan mati, kecuali kematian kita yang pertama (di dunia), dan
kita tidak akan diadzab?’ Sungguh, ini adalah
keberuntungan yang agung. Untuk (meraih) yang
seperti ini, hendaknya orang-orang yang beramal mengerjakan (amal sholih).” (QS.
Ash-Shoffat: 50-61)
5.8 Harapan
Penduduk Jannah (Amānī)
Sebagian penduduk Jannah
mengharapkan harapan (amānī) di dalamnya yang akan terwujud dengan cara
yang menakjubkan, tidak seperti apa yang terjadi di dunia. Rosululloh ﷺ
telah menceritakan kepada kita tentang sebagian harapan ini dan bagaimana
terwujudnya.
Ini adalah salah
seorang penduduk Jannah yang meminta izin kepada Robb-nya untuk bercocok
tanam. Alloh mengizinkannya. Ia belum selesai menabur benih, tiba-tiba akarnya
telah menancap di tanah, kemudian ia tumbuh, menjadi sempurna, dan matang pada
saat yang sama. Hasilnya seperti gunung-gunung. Alloh Ta’ala berfirman:
دُونَكَ يَا
ابْنَ آدَمَ، فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ
“Ambillah, wahai anak
Adam, tidak ada sesuatu pun yang akan memuaskanmu.”
Maka orang A’rābiy (Arob
Badui) itu berkata: “Demi Alloh, engkau tidak akan mendapatinya kecuali orang
Quroisy atau Anshor, karena mereka adalah ahli bercocok tanam, sedangkan kami
bukan ahlinya.” Maka Rosululloh ﷺ
tertawa.” (Misykatul Mashobih: no. 5653)
ini adalah yang lain yang
mengharapkan anak, maka Alloh mewujudkan harapannya dalam sesaat saja. Di mana
ia hamil dan melahirkan dalam sesaat.
At-Tirmidzi (279 H)
dalam Sunan-nya, Ahmad (241 H) dalam Musnad-nya, dan Ibnu Hibban
(354 H) dalam Shohih-nya meriwayatkan dengan sanad shohih, dari Abu Sa’id
rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
الْمُؤْمِنُ
إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ، كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي
سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا يَشْتَهِي
“Orang Mu’min jika ia
menginginkan anak di Jannah, maka kehamilannya, kelahirannya, dan
usianya terjadi dalam sesaat saja, sebagaimana yang ia inginkan.” (HR. Al-Jami’:
no. 6525)
5.9 Wanita
Penduduk Jannah
5.9.1 Istri Mu’min di Dunia adalah
Istrinya di Akhiroh Jika Ia Mu’minah
Jika seorang Mu’min
masuk Jannah, dan istrinya adalah wanita sholihah, maka ia juga akan
menjadi istrinya di Jannah:
جَنَّاتُ عَدْنٍ
يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ
“Jannah ‘Adn,
mereka memasukinya bersama orang-orang sholih dari bapak-bapak mereka,
pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka.” (QS. Ar-Ro’d: 23)
Mereka di Jannah
dalam keni’matan bersama pasangan-pasangan mereka. Mereka bersandar di naungan Jannah
dengan gembira dan bahagia:
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ
فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
“Mereka dan
pasangan-pasangan mereka berada dalam naungan, bersandar di atas dipan-dipan
yang indah.” (QS. Yā Sīn: 56)
ادْخُلُوا
الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
“Masuklah
kalian ke Jannah, kalian dan pasangan-pasangan kalian, akan digembirakan.”
(QS. Az-Zukhruf: 70)
5.9.2 Wanita untuk Suami Terakhirnya
Abu ‘Ali Al-Ĥarroni
(318 H) meriwayatkan dalam Tārīkh Ar-Roqqah dari Maimūn bin Mihrān (117
H), ia berkata: Mu’awiyah bin Abi Sufyān rodhiyallahu ‘anhuma melamar
Ummu Ad-Dardā’ rodhiyallahu ‘anhā, tetapi ia menolak menikah dengannya,
dan berkata:
Aku mendengar Abu
Ad-Dardā’ rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
الْمَرْأَةُ
فِي آخِرِ أَزْوَاجِهَا، أَوْ قَالَ: لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu bersama
suami terakhirnya, atau beliau bersabda: untuk suami terakhirnya.” Rowi sanad ini
terpercaya, selain Al-‘Abbās
bin Shōliĥ yang tidak ada biografinya.
Abu Asy-Syaikh (369 H)
meriwayatkannya dalam At-Tārīkh dengan sanad shohih, hanya mencukupkan
pada bagian yang marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).
Ath-Thobroni (360 H) meriwayatkannya dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dengan sanad dho’if (lemah), tetapi dengan kumpulan kedua jalur
periwayatan itu, ia menjadi kuat. bagian
yang marfu’ darinya adalah shohih.
Ia memiliki dua syāhid
(penguat) yang Mauqūf
(perkataan Shohabat).
Yang pertama
diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir (571 H) dari ‘Ikrimah (105 H): “Asmā’ binti Abi Bakr
rodhiyallahu ‘anhumā berada di bawah (pernikahan) Az-Zubair bin Al-‘Awwām rodhiyallahu ‘anhu. Az-Zubair bersikap keras kepadanya. Ia mendatangi
bapaknya (Abu Bakr), lalu mengeluhkan hal itu kepadanya. Bapaknya berkata: ‘Wahai
putriku, bersabarlah. Karena wanita jika ia memiliki suami yang sholih,
kemudian suaminya meninggal, dan ia tidak menikah lagi setelahnya, Alloh akan
mengumpulkan keduanya di Jannah.’” Rowinya terpercaya, hanya saja di
dalamnya ada irsāl (sanad terputus), karena ‘Ikrimah tidak menjumpai Abu
Bakr, kecuali jika ia menerimanya dari Asmā’.
Yang kedua,
dikeluarkan oleh Al-Baihaqi (458 H) dalam As-Sunan bahwa Ĥudzaifah rodhiyallahu
‘anhu berkata kepada istrinya: “Jika engkau ingin menjadi istriku di Jannah,
janganlah engkau menikah lagi setelahku. Karena wanita itu bersama suami
terakhirnya di dunia.”[1]
Oleh karena itu, Alloh
mengharomkan istri-istri Nabi ﷺ untuk menikah setelah beliau, karena
mereka akan menjadi istri-istri beliau di Akhiroh.
5.9.3 Al-Ĥūr Al-’Īn (Bidadari Bermata Jeli)
Alloh menikahkan orang-orang
Mu’min di Jannah dengan istri-istri cantik yang bukan istri mereka di
dunia.
Sebagaimana firman-Nya
ﷻ:
كَذَٰلِكَ
ۖ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
“Demikianlah.
Kami nikahkan mereka dengan al-ĥūr al-’īn (bidadari bermata jeli).” (QS.
Ad-Dukhōn: 54)
Al-Ĥūr adalah bentuk
jamak dari ĥaurā’, yaitu yang putih matanya sangat putih, dan
hitam matanya sangat hitam. Al-’Īn adalah bentuk jamak dari ‘aynā’, dan ‘aynā’ adalah yang lebar matanya.
Al-Qur’an menyifati al-ĥūr
al-’īn bahwa mereka adalah kawā’ib (montok) dan atrōb
(gadis-gadis yang sebaya)
Alloh ﷻ berfirman:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ
مَفَازًا حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا
“Sungguh, bagi orang-orang
yang bertaqwa ada kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan
kebun-kebun anggur, gadis-gadis yang montok dan sebaya usianya.” (QS. An-Naba’: 31-33)
Al-Kā’ib: wanita
cantik yang dadanya montok.
Al-Atrōb: yang sebaya usianya.
Al-Ĥūr Al-’Īn adalah ciptaan Alloh di Jannah. Alloh menciptakan
mereka dengan penciptaan khusus, lalu Dia menjadikan mereka abkār (gadis, senantiasa
perawan), ‘urub (penuh
cinta/manja), dan atrōb (sebaya):
إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ
إِنشَاءً فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا
“Sungguh, Kami
menciptakan mereka (istri-istri Jannah) dengan penciptaan yang istimewa. Lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis, yang penuh cinta (‘urubā)
lagi sebaya (atrōbā).” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37)
Status mereka sebagai abkār
(gadis) mengharuskan bahwa tidak ada seorang pun, baik dari manusia maupun jin,
yang menyentuh mereka sebelum mereka (penduduk Jannah). Sebagaimana
firman Alloh ﷻ:
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ
إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
“Mereka tidak pernah
disentuh oleh manusia sebelum mereka, dan tidak (pula) oleh jin.” (QS. Ar-Rohman:
56)
Ini menafikan pendapat
yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istri-istri yang Alloh ciptakan di Jannah
adalah istri-istri mereka di dunia, di mana Alloh mengembalikan mereka menjadi
muda setelah tua dan lemah. Makna ini benar, karena Alloh memasukkan
wanita-wanita Mu’minah ke Jannah dalam usia muda. Tetapi mereka bukanlah
al-ĥūr al-’īn yang Alloh ciptakan dengan penciptaan yang istimewa
(langsung).
Yang dimaksud dengan ‘urub adalah yang manja dan penuh cinta kepada suami mereka.
Al-Qur’an menceritakan
kepada kita tentang keindahan wanita Jannah:
وَحُورٌ عِينٌ
* كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
“ĥūr ‘īn (bidadari bermata jeli) seperti mutiara yang tersimpan.” (QS. Al-Waqi’ah:
22-23)
Yang dimaksud dengan maknūn
adalah yang tersembunyi, yang terjaga, yang warna murninya tidak diubah oleh
cahaya matahari, dan tidak disentuh oleh tangan.
Dia menyerupakan
mereka di tempat lain dengan yāqūt (mirah delima) dan marjān (mutiara):
فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ
الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ * فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا
تُكَذِّبَانِ * كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ
“Di dalamnya ada
bidadari-bidadari yang membatasi pandangan (qōṣirōtuth thorf) yang tidak
pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, dan tidak (pula) oleh jin. Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan. Seakan-akan mereka adalah yāqūt (mirah delima) dan marjān
(mutiara).” (QS. Ar-Rohman: 56-58)
Yāqūt dan marjān
adalah dua batu mulia yang memiliki keindahan dan pemandangan yang bagus dan
menakjubkan.
Al-Ĥūr Al-’Īn disifati dengan qōṣirōtuth thorf, yaitu yang
membatasi pandangan mereka hanya kepada suami mereka. Pandangan mereka tidak
tertuju kepada selain suami mereka.
Alloh telah bersaksi
atas keindahan dan kecantikan ĥūr Jannah. Cukuplah Alloh yang bersaksi,
sehingga ia mencapai puncak keindahan dan kecantikan:
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ
حِسَانٌ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ
“Di
dalamnya ada bidadari-bidadari yang baik akhlaknya (khoirōt) dan cantik wajahnya
(ĥisān). Maka ni’mat Robb kalian
yang manakah yang kalian dustakan. Bidadari-bidadari yang
dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 70-72)
Wanita Jannah
tidak seperti wanita dunia. Mereka suci dari haid, nifās, ludah, ingus, buang
air kecil, dan buang air besar. Ini adalah konsekuensi dari firman-Nya ﷻ:
وَلَهُمْ فِيهَا
أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“di sana bagi mereka ada
pasangan-pasangan yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh:
25)
Rosululloh ﷺ
telah menceritakan kepada kita tentang keindahan wanita penduduk Jannah.
Dalam Hadits yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
أَوَّلُ زُمْرَةٍ
تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ،
وَلَا يَمْتَخِطُونَ، آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمُ الْأَلُوَّةُ، وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ
مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحُسْنِ
“Rombongan
pertama yang masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam
purnama. Mereka tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus. Bejana mereka di
dalamnya dari emas. Sisir mereka dari emas dan perak. Tempat perapian mereka
adalah aluwwah (gaharu wangi). Keringat mereka adalah misik. bagi setiap orang dari mereka ada dua istri (bidadari), yang
sumsum betisnya terlihat dari balik daging karena keindahannya.” (HR. Al-Bukhori
dan Muslim, no. 2834)
lihatlah keindahan yang diceritakan
Rosululloh ﷺ ini,
apakah engkau menemukan padanannya dari apa yang engkau kenal?
لَوْ أَنَّ
امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا
بَيْنَهُمَا، وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا
وَمَا فِيهَا
“Seandainya seorang
wanita dari penduduk Jannah menampakkan diri ke penduduk bumi, niscaya
ia akan menerangi apa yang ada di antara keduanya, dan memenuhi apa yang ada di
antara keduanya dengan aroma wangi. Nashīf (kerudung)nya di atas kepalanya
lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/15)
Penentuan jumlah istri
bagi setiap orang di Jannah dengan dua orang, tampaknya itu adalah
jumlah paling sedikit. Karena telah disebutkan bahwa Syahid dinikahkan dengan 70
dua bidadari (ĥūr ‘īn).
Dalam Sunan
At-Tirmidzi (279 H) dan Sunan Ibnu Majah (273 H), dengan sanad
shohih, dari Al-Miqdām bin Ma’dī Karib rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
ﷺ
bersabda:
لِلشَّهِيدِ
عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى
مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ
الْأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ
مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ
الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقْرِبَائِهِ
“Bagi Syahid ada enam
perkara di sisi Alloh: ia diampuni sejak tetesan darahnya yang pertama, ia
diperlihatkan tempatnya di Jannah, ia diselamatkan dari adzab kubur, ia
aman dari ketakutan terbesar, diletakkan di atas kepalanya tāj al-waqōr
(mahkota kemuliaan), satu butir yaqut padanya lebih baik daripada dunia dan
seisinya, dan ia dinikahkan dengan 70 dua istri dari al-ĥūr al-’īn
(bidadari bermata jeli), dan ia diizinkan memberi syafa’at untuk 70 orang dari
kerabatnya.” (Misykatul Mashobih: no. 3834)
Nyanyian Al-Ĥūr Al-’Īn
(Bidadari Bermata Jeli):
Rosululloh ﷺ
mengabarkan kepada kita bahwa al-ĥūr al-’īn di Jannah bernyanyi
dengan suara yang indah dan merdu.
Dalam Mu’jam
Ath-Thobroni Al-Ausath, dengan sanad shohih, dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu
‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ أَزْوَاجَ
أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ مَا سَمِعَهَا
أَحَدٌ قَطُّ. إِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ: نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ
قَوْمٍ كِرَامٍ، يَنْظُرْنَ بِقُرَّةِ أَعْيَانٍ. وَإِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ بِهِ:
نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا يَمُتْنَهْ، نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلَا يَخَفْنَهْ، نَحْنُ
الْمُقِيمَاتُ فَلَا يَظْعَنَّهْ
“Istri-istri penduduk Jannah
akan bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara yang paling indah yang
tidak pernah didengar seorang pun. Di antara yang mereka nyanyikan: ‘Kami
adalah wanita-wanita yang baik dan cantik, istri-istri dari kaum yang mulia,
yang memandang dengan penuh kesejukan mata.’ di
antara yang mereka nyanyikan: ‘Kami adalah yang kekal dan tidak akan mati, kami
adalah yang aman dan tidak akan takut, kami adalah yang tetap tinggal dan tidak
akan pergi.’” (Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 1557)[2]
Samawaih (257 H) meriwayatkan dalam Fawā’id,
dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh ﷺ:
إِنَّ الْحُورَ
الْعِينَ لَتُغَنِّينَ فِي الْجَنَّةِ، يَقُلْنَ: نَحْنُ الْحُورُ الْحِسَانُ، خُبِئْنَا
لِأَزْوَاجٍ كِرَامٍ
“Al-Ĥūru l-’īn
bernyanyi di Jannah, mereka berkata: ‘Kami adalah al-ĥūr al-ĥisān
(bidadari yang cantik), kami disimpan (dipelihara) untuk suami-suami yang
mulia.’” (Al-Jami’, no. 1598)
Kecemburuan Al-Ĥūr
Al-’Īn terhadap Suami Mereka di Dunia:
Rosululloh ﷺ
mengabarkan kepada kita bahwa al-ĥūr al-’īn cemburu terhadap suami
mereka di dunia jika sang suami disakiti oleh istrinya di dunia.
Dalam Musnad Ahmad
(241 H) dan Sunan At-Tirmidzi (279 H), dengan sanad shohih, dari Mu’adz rodhiyallahu
‘anhu, dari Rosululloh ﷺ, beliau bersabda:
لَا تُؤْذِي
امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ:
لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ دَخِيلٌ عِنْدَكِ، يُوشِكُ أَنْ
يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
“Tidaklah seorang
istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari al-ĥūrul ’īn
(bidadari bermata jeli) berkata: ‘Jangan sakiti dia, semoga Alloh
membinasakanmu. Ia
hanyalah tamu di sisimu, sebentar lagi ia akan berpisah denganmu menuju kami.’”
(Al-Jami’, no. 7069)
5.9.4 Mu’min Diberi Kekuatan 100 Laki-Laki di Jannah
Dari Anas rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
يُعْطَى الْمُؤْمِنُ
فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا مِنَ الْجِمَاعِ
“Orang
Mu’min di Jannah akan diberi kekuatan sekian dari jimak (berhubungan
intim).”
Ditanyakan: “Wahai Rosululloh,
apakah ia mampu melakukan itu?” Beliau bersabda:
يُعْطَى قُوَّةَ
مِائَةِ رَجُلٍ
“Ia diberi kekuatan 100
laki-laki.” (HR. At-Tirmidzi)[3]
5.10 Tawa
Penduduk Jannah
kepada Penduduk Naar
Setelah Alloh
memasukkan penduduk Jannah ke Jannah, mereka akan memanggil
musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir penduduk Naar, untuk mencela
dan mencerca:
وَنَادَىٰ
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَن قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا
حَقًّا فَهَلْ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَن لَّعْنَةُ اللَّهِ عَلَى
الظَّالِمِينَ
“penduduk Jannah menyeru penduduk
Naar: ‘Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Robb kami kepada kami
itu benar. Apakah kalian juga telah memperoleh apa yang dijanjikan Robb kalian
itu benar?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’
Lalu penyeru mengumumkan di antara mereka: ‘Laknat Alloh ditimpakan kepada orang-orang yang
zholim.” (QS. Al-A’roof: 44)
Dahulu di dunia,
orang-orang kafir memusuhi orang-orang Mu’min, mengolok-olok mereka, dan
menghina mereka. Pada hari itu, orang-orang Mu’min menang. Ketika mereka berada
dalam keni’matan abadi, mereka melihat para pelaku dosa (mujrimūn), lalu
mereka mengolok-olok dan menghina mereka:
إِنَّ الْأَبْرَارَ
لَفِي نَعِيمٍ * عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ * تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ
النَّعِيمِ * يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ * خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ * وَمِزَاجُهُ
مِن تَسْنِيمٍ * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ * إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا
كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ
* وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ * وَإِذَا رَأَوْهُمْ
قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ * وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ *
فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ * عَلَى الْأَرَائِكِ
يَنظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sungguh, orang-orang
yang Abror (berbakti) benar-benar berada dalam keni’matan yang abadi. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Engkau dapat melihat pada wajah mereka kilauan keni’matan. Mereka diberi minum dari roĥīq (minuman murni) yang dimeteraikan. Laknya adalah misik. untuk
(meraih) itu, hendaknya orang-orang yang berlomba-lomba bersaing. campurannya
dari tasnīm. (Yaitu) mata air yang
diminum oleh al-muqorrobūn (orang-orang yang didekatkan). Sungguh, orang-orang yang berbuat dosa dahulu (di dunia) selalu
menertawakan orang-orang yang beriman. apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata. apabila
mereka kembali kepada keluarga mereka, mereka kembali dengan gembira (dengan
mengejeknya). apabila mereka melihat orang-orang yang beriman,
mereka berkata: ‘Sungguh,
mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka (orang-orang yang berbuat dosa) tidak diutus sebagai
penjaga (pemantau amal) bagi
orang-orang yang beriman. Maka pada hari ini,
orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Sambil (duduk) di atas dipan-dipan, mereka memandang. Bukankah orang-orang kafir telah diberi balasan atas apa yang selalu
mereka perbuat?” (QS. Al-Muthoffifin:
22-36)
Ya, demi Alloh,
orang-orang kafir telah dibalas setimpal dengan apa yang mereka kerjakan. balasan itu sesuai dengan jenis amal.
Orang Mu’min di Jannah
An-Na’im mengingat teman (qorīn) atau sahabat yang dahulu di dunia
menghias-hiasi kekafiran baginya, dan mengajaknya kepada prinsip-prinsip yang
sesat yang menjadikannya berada di barisan orang-orang kafir, musuh-musuh
Alloh. Lalu ia menceritakan kepada saudara-saudaranya tentang teman itu, dan
mengajak mereka untuk melihatnya di tempatnya yang ia diadzab di sana. Maka
ketika ia melihat apa yang ia saksikan berupa adzab, ia mengetahui betapa besar
ni’mat Alloh atasnya, dan bagaimana Dia menyelamatkannya dari keadaan itu.
Kemudian ia menoleh kepadanya dengan celaan dan cacian:
فَأَقْبَلَ
بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ * قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي
قَرِينٌ * يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ * أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا
وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ * قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ * فَاطَّلَعَ
فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ * قَالَ تَاللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ * وَلَوْلَا
نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ * أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ * إِلَّا
مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
“Sebagian mereka
menghadap kepada sebagian yang lain, saling bertanya. Berkata salah seorang dari mereka: ‘Sungguh, aku dahulu mempunyai teman
(qorīn). Yang berkata: ‘Apakah
engkau termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)? Apakah apabila kita telah mati dan menjadi
tanah serta tulang belulang, kita akan diberi balasan?’ Ia berkata: ‘Maukah
kalian menengok (si kafir itu)?’ Lalu ia menengok, dan melihat temannya itu
berada di tengah-tengah Naar Jahīm Ia berkata: ‘Demi Alloh, engkau hampir
mencelakakanku. kalau bukan
karena ni’mat Robb-ku, aku termasuk orang-orang yang diseret (ke Naar). Maka apakah kita tidak akan mati kecuali kematian kita yang pertama (di
dunia), dan kita tidak diadzab? Sungguh, ini (mati di
atas iman) adalah keberuntungan
yang agung.” (QS. Ash-Shoffat: 50-60)
5.11 Tasbih
dan Takbir Termasuk Keni’matan Penduduk Jannah
Jannah adalah negeri pembalasan dan penganugerahan ni’mat,
bukan negeri pembebanan hukum dan ujian.
Hal ini mungkin
menjadi masalah dengan riwayat Al-Bukhori dan selainnya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, tentang sifat rombongan pertama yang masuk Jannah, beliau
bersabda di akhirnya:
يُسَبِّحُونَ
اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا
“Mereka bertasbih
kepada Alloh di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/318)
tidak ada masalah dalam hal
itu In syā’ Alloh (jika Alloh menghendaki), karena ini bukan termasuk
bab taklīf (pembebanan hukum).
Ibnu Hajar (852 H)
berkata dalam Syarh Hadits ini: “Al-Qurthubi (671 H) berkata: ‘Tasbih
ini bukan karena taklīf (pembebanan) dan keharusan! Jabir menafsirkannya
dalam Haditsnya di sisi Muslim dengan sabdanya:
يُلْهَمُونَ
التَّسْبِيحَ وَالتَّكْبِيرَ كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ
‘Mereka diilhami
tasbih dan takbir sebagaimana kalian diilhami nafas.’
Sisi penyerupaannya
adalah bahwa bernafasnya manusia tidak memberatkannya, dan ia pasti terjadi.
Maka Dia menjadikan bernafasnya mereka sebagai tasbih. sebabnya adalah hati mereka diterangi dengan ma’rifah
(pengetahuan) tentang Robb ﷻ, dan
dipenuhi dengan cinta kepada-Nya. siapa
yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya.” (Fathul Baari: 6/326)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
(728 H) menetapkan bahwa tasbih dan takbir ini adalah salah satu jenis keni’matan
yang dini’mati oleh penduduk Jannah. Ia berkata: “Ini bukanlah amal taklīf
(pembebanan) yang dituntut darinya pahala yang terpisah, bahkan amal ini
sendiri adalah keni’matan yang dini’mati dan lezat bagi jiwa.” (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam: 4/330)
5.12 Yang
Paling Utama Diberikan kepada Penduduk Jannah
adalah Keridhoan Alloh dan Melihat Wajah-Nya yang Mulia
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ
تَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ
رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيتُمْ؟
فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ
أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ؟ فَيَقُولُ: أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُونَ:
يَا رَبِّ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي
فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا
“Alloh Ta’ala
berfirman kepada penduduk Jannah: ‘Wahai penduduk Jannah!’ Mereka
menjawab: ‘Labbayka Robbanā wa sa’daika, dan seluruh kebaikan ada di Tangan-Mu.’ Dia berfirman: ‘Apakah kalian
ridho?’ Mereka menjawab: ‘Mengapa kami tidak ridho, wahai Robb? Padahal Engkau
telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun
dari makhluk-Mu.’ Dia berfirman: ‘Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih
utama dari itu?’ Mereka bertanya: ‘Wahai Robb, apa lagi yang lebih utama dari
itu?’ Dia berfirman: ‘Aku turunkan kepada kalian ridho-Ku, maka Aku tidak akan
murka kepada kalian setelah ini selamanya.’” (Muttafaq ‘Alaih. Misykatul
Mashobih: 3/88)
keni’matan terbesar adalah
melihat Wajah Alloh yang Mulia di Jannah An-Na’im. Ibnul Atsir (606 H)
berkata: “Rū’yatullōh (melihat Alloh) adalah tujuan tertinggi dalam keni’matan
Akhiroh, dan tingkatan tertinggi dari anugerah Alloh yang mewah. Semoga Alloh
menyampaikan kita kepada apa yang kita harapkan darinya.” (Jami’ul Ushul:
10/557)
Alloh ﷻ secara shorih (jelas) menyebutkan
tentang rū’yah (melihat) hamba-hamba kepada Robb mereka di Jannah
An-Na’im:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ
نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah pada hari
itu berseri-seri (naaḍhiroh). Kepada Robb-nya ia memandang (naaẓiroh).” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)
Orang-orang kafir dan
musyrik diharomkan dari keni’matan agung ini dan kemuliaan yang menakjubkan
ini:
كَلَّا إِنَّهُمْ
عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
“Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS.
Al-Muthoffifin: 15)
Muslim (261 H) dalam Shohih-nya
dan At-Tirmidzi (279 H) dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Shuhaib
Ar-Rūmi rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
إِذَا دَخَلَ
أَهْلُ الْجَنَّةِ، يَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟
فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنْجِنَا
مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ
مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Ketika penduduk Jannah
masuk Jannah, Alloh Tabāroka wa Ta’āla berfirman: ‘Apakah kalian
menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan untuk kalian?’ Mereka menjawab: ‘Bukankah
Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke Jannah,
dan menyelamatkan kami dari Naar?’ Maka Dia menyingkap ĥijāb (tabir yang
menutupi Jannah dari Wajah-Nya). tidak ada sesuatu pun yang diberikan
kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang kepada Robb mereka Tabāroka
wa Ta’āla.’”
Beliau menambahkan
dalam sebuah riwayat: “Kemudian beliau membaca ayat ini:
لِّلَّذِينَ
أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/ Jannah) dan ziyādah
(tambahan/ melihat Alloh).” (QS. Yūnus: 26).” (Jami’ul Ushul: 10/560)
Dalam Shohihain,
dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda:
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ
فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا – وَفِي رِوَايَةٍ طُولُهَا – سِتُّونَ مِيلًا، فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ، مَا
يَرَوْنَ الْآخَرِينَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ
آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا،
وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ
عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
“Bagi seorang Mu’min
di Jannah ada kemah dari mutiara berongga, lebarnya – dan dalam
riwayat lain: panjangnya – 60 mil. Di setiap sudutnya ada istri-istri yang tidak dilihat oleh istri yang
lain. Orang Mu’min mengelilingi
mereka. dua Jannah dari
perak, bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas, bejana-bejana
dan isinya. tidak ada yang
menghalangi kaum (Mu’min) untuk melihat Robb mereka Tabāroka wa Ta’āla
kecuali Ridā’ Al-Kibriyā’ (Selendang Keagungan) di Wajah-Nya di Jannah
‘Adn.” (Misykatul Mashobih, no. 5616)
Melihat Wajah Alloh Ta’ala
adalah termasuk al-mazīd (tambahan) yang Alloh janjikan kepada
orang-orang yang berbuat baik (al-muĥsinīn):
لَهُم مَّا
يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Mereka
memperoleh apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami masih ada mazīd
(tambahan).” (QS. Qōf: 35)
لِّلَّذِينَ
أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/Jannah) dan ziyādah
(tambahan).” (QS. Yūnus: 26)
Al-Ĥusnā ditafsirkan
sebagai Jannah, dan Az-Ziyādah ditafsirkan sebagai melihat Wajah Alloh
yang Mulia. Ini diisyaratkan oleh Hadits yang diriwayatkan Muslim yang kami
sebutkan tadi.
Rū’yatullōh (melihat Alloh) adalah rū’yah yang
hakiki, bukan seperti klaim sebagian kelompok yang menolak rū’yatullōh
dengan tolok ukur akal yang batil, dan penyimpangan lafazh yang zholim.
Imam Malik bin Anas
(179 H), Imam Dār Al-Hijroh, ditanya tentang firman Alloh ﷻ:
إِلَىٰ رَبِّهَا
نَاظِرَةٌ
“Kepada Robb-nya ia
memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23)
Bahwa ada yang mengatakan
bahwa orang-orang berkata: Yaitu (memandang) kepada pahala-Nya.
Maka Malik berkata: “Mereka
dusta. Di manakah mereka dari firman Alloh ﷻ:
كَلَّا إِنَّهُمْ
عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
“Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka?” (QS. Al-Muthoffifin: 15)
Malik berkata: “Manusia
akan melihat Alloh pada hari Kiamat dengan mata kepala mereka. seandainya orang-orang Mu’min tidak
melihat Robb mereka pada hari Kiamat, niscaya Alloh tidak akan mengungkapkan
penghalang bagi orang-orang kafir. Lalu Dia berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada
hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15).”
(HR. Syarhus Sunnah. Misykatul Mashobih, no. 5663)
Di antara ulama yang
secara jelas menyebutkan rū’yatullōh (melihat Alloh) bagi orang-orang Mu’min
di Jannah adalah Ath-Thoĥāwi (321 H) dalam Aqidah yang terkenal dengan
nama Al-‘Aqīdah Ath-Thoĥāwiyyah.
Ia berkata: “rū’yah (melihat Alloh) adalah ĥaqq
(benar adanya) bagi penduduk Jannah, tanpa iĥāthoh (meliputi) dan
tanpa kaifiyyah (menanyakan bagaimana), sebagaimana yang diucapkan oleh
Kitab Robb kita: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Robb-nya ia
memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23). penafsirannya adalah sebagaimana yang Alloh kehendaki dan Dia
ketahui. semua yang datang dalam
Hadits shohih dari Rosululloh ﷺ tentang hal itu, adalah sebagaimana yang
beliau sabdakan, dan maknanya adalah sebagaimana yang Dia kehendaki. Kita tidak
masuk ke dalamnya dengan ta’wīl (penafsiran menyimpang) dengan pendapat
kita, dan tidak dengan tawahhum (prasangka) dengan hawa nafsu kita.
Karena tidak ada yang selamat dalam agamanya kecuali siapa yang tunduk kepada
Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya ﷺ. mengembalikan ilmu tentang apa yang
samar kepadanya kepada Dzat yang mengetahuinya.” (Syarhut Thohawiyah: 203)
Syārihul Thohawiyyah
(Ibn Abil ‘Izz Al-Ĥanafi, 792 H) menjelaskan madzhab kelompok-kelompok sesat
dalam masalah ini dan madzhab Ahlul Ĥaqq (Ahli Kebenaran): “Yang menentang rū’yah
adalah Al-Jahmiyyah, Al-Mu’tazilah, dan siapa yang mengikuti mereka dari
Al-Khowārij dan Al-Imāmiyyah (Syiah). pendapat
mereka batil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. yang berpendapat tetapnya rū’yah
adalah para Shohabat, Tabi’in, para Imam Islam yang dikenal dengan keimamannya
dalam agama, Ahlul Ĥadīts (Ahli Hadits), dan seluruh kelompok Ahlul Kalām (Ahli
Ilmu Kalam) yang dinisbatkan kepada As-Sunnah wal Jamā’ah.”
Kemudian ia
menjelaskan pentingnya masalah ini: “Masalah ini adalah salah satu masalah yang
paling mulia dalam Ushūl Ad-Dīn (pokok-pokok agama) dan yang paling agung. Ia
adalah tujuan puncak yang dicita-citakan oleh para pencari, dan diperebutkan
oleh para pesaing. diharomkan
bagi mereka yang terhalang dari Robb mereka, dan tertolak dari pintu-Nya.”
Kemudian ia
menjelaskan bahwa firman Alloh ﷻ:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ
نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah pada hari
itu berseri-seri Kepada Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)
adalah salah satu
dalil yang paling jelas tentang masalah ini.
Adapun mereka yang
menolak dan membelokkannya dengan apa yang mereka namakan ta’wīl
(penafsiran menyimpang): “Ta’wīl terhadap nash-nash Al-Ma’ād (hari Kembali),
Jannah, Naar, dan hisab, lebih mudah daripada ta’wīl terhadap
ayat ini bagi para ahli ta’wīl. Tidak ada ahli kebatilan yang ingin ta’wīl
nash dan membelokkannya dari tempatnya melainkan ia akan menemukan jalan untuk
itu, sebagaimana yang ditemukan oleh ahli ta’wīl nash ini.”
ia menjelaskan bahaya ta’wīl
(penafsiran menyimpang): “Inilah yang merusak dunia dan agama. Begitulah yang
dilakukan Yahudi dan Nashoro terhadap nash-nash Taurot dan Injil. Alloh telah memperingatkan kita
agar tidak berbuat seperti mereka. orang-orang
yang berbuat batil enggan kecuali menempuh jalan mereka. Betapa banyak
kejahatan yang ditimbulkan oleh ta’wīl yang rusak terhadap agama dan
pemeluknya. Bukankah ‘Utsman rodhiyallahu ‘anhu dibunuh melainkan dengan
ta’wīl yang rusak? Begitu juga yang terjadi pada perang Jamal, Shiffin,
pembunuhan Al-Ĥusain (61 H), dan peristiwa Al-Ĥarroh. bukankah
Al-Khowārij keluar, Al-Mu’tazilah memisahkan diri, Ar-Rowāfiḍh menolak, dan
umat terpecah menjadi 70 tiga golongan, melainkan dengan ta’wīl yang
rusak?!”
Kemudian ia
menjelaskan bahwa dalil ayat itu tentang rū’yah berasal dari dua sisi:
Pertama: Pemahaman mendalam terhadap nash. Kedua: Pemahaman para ulama Salaf
terhadap nash ini.
Mengenai yang pertama,
ia berkata: “Menyandarkan an-naẓor (memandang) kepada al-wajh
(wajah), yang merupakan tempatnya, dalam ayat ini, dan didahului oleh kata ‘ilā
(kepada) yang shorih (jelas) untuk pandangan mata. bersihnya kalam (ucapan) dari qorīnah
(indikasi) yang menunjukkan sebaliknya, adalah hakikat yang jelas dan shorih
bahwa Alloh menghendaki dengan itu pandangan mata yang ada di wajah kepada Robb
Jalla Jalāluh.
Karena an-naẓor
memiliki beberapa penggunaan, tergantung pada kata sambungnya atau jika ia
bersambung dengan dirinya sendiri: Jika ia bersambung dengan dirinya sendiri,
maknanya: menahan diri dan menunggu:
انظُرُونَا
نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ
“Tunggulah kami agar
kami dapat mengambil cahaya kalian.” (QS. Al-Ĥadīd: 13)
Jika didahului oleh fī
(di/dalam), maknanya: berpikir dan mengambil pelajaran, seperti firman-Nya:
أَوَلَمْ يَنظُرُوا
فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Apakah mereka tidak
memperhatikan di malakūt (kerajaan) langit dan bumi?” (QS. Al-A’roof: 185)
Jika didahului oleh ilā
(kepada), maknanya: melihat dengan mata kepala (al-abṣōr), seperti
firman-Nya ﷻ:
انظُرُوا إِلَىٰ
ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ
“Perhatikanlah kepada
buahnya ketika ia berbuah.” (QS. Al-An’ām: 99)
Maka bagaimana jika ia
disandarkan kepada al-wajh (wajah) yang merupakan tempat penglihatan?”
Mengenai yang kedua,
ia menyebutkan beberapa nash dari Salaf yang menjelaskan pemahaman mendalam
mereka terhadap ayat ini. Dari Al-Ĥasan (110 H), ia berkata: “Ia memandang
kepada Robb-nya, lalu ia berseri-seri dengan cahaya-Nya.” Abu Shōliĥ
meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma: “Kepada Robb-nya ia
memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23). Ia berkata: “Ia memandang kepada Wajah
Robb-nya ‘Azza wa Jalla.” ‘Ikrimah (105 H) berkata: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri.” (QS. Al-Qiyāmah: 22).
Ia berkata: “Karena keni’matan.” “Kepada
Robb-nya ia memandang.” (QS. Al-Qiyāmah: 23). Ia berkata: “Ia memandang kepada Robb-nya
dengan pandangan.” Kemudian ia meriwayatkan yang semisalnya dari Ibnu ‘Abbas.
Ini adalah pendapat
para mufassirūn (ahli tafsir) dari Ahlus Sunnah wal Ĥadīts (Ahli Sunnah
dan Hadits).
Alloh ﷻ berfirman:
لَهُم مَّا
يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Mereka memperoleh apa
yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami masih ada mazīd
(tambahan).” (QS. Qōf: 35)
Ath-Thobari (310 H)
berkata: “‘Ali bin Abi Tholib dan Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhumā
berkata: ‘Ia adalah memandang kepada Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla.’”
Kemudian ia
menyebutkan makna Az-Ziyādah (tambahan) dalam firman Alloh ﷻ:
لِّلَّذِينَ
أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada Al-Ĥusnā (balasan yang terbaik/Jannah) dan ziyādah
(tambahan).” (QS. Yūnus: 26)
Bahwa ia adalah memandang
kepada Wajah Alloh yang Mulia. ia
menyebutkan Hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shohih-nya, dari Shuĥaib
rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ
membaca: (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada Al-Ĥusnā dan ziyādah) (QS.
Yūnus: 26). Beliau bersabda:
إِذَا دَخَلَ
أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، نَادَى مُنَادٍ: يَا أَهْلَ
الْجَنَّةِ، إِنَّ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ مَوْعِدًا يُرِيدُ أَنْ يُنْجِزَكُمُوهُ،
فَيَقُولُونَ: مَا هُوَ؟ أَلَمْ يُثْقِلْ مَوَازِينَنَا وَيُبَيِّضْ وُجُوهَنَا وَيُدْخِلْنَا
الْجَنَّةَ وَيُجِرْنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ،
فَمَا أَعْطَاهُمْ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَيْهِ، وَهِيَ الزِّيَادَةُ
“Ketika penduduk Jannah
masuk Jannah, dan penduduk Naar masuk Naar, seorang penyeru memanggil: ‘Wahai
penduduk Jannah, bagi kalian ada janji di sisi Alloh yang Dia ingin
penuhi untuk kalian.’ Mereka berkata: ‘Apa itu? Bukankah Dia telah memberatkan
timbangan kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke Jannah, dan
menyelamatkan kami dari Naar?’ Maka Dia menyingkap ĥijāb (tabir). Lalu
mereka memandang kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang Dia berikan kepada
mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang kepada-Nya, dan itulah
Az-Ziyādah (tambahan).”
selainnya meriwayatkan
dengan sanad-sanad yang banyak dan lafazh yang berbeda, yang maknanya adalah
bahwa Az-Ziyādah adalah memandang kepada Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla.
Begitu juga para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum menafsirkannya. Ibnu Jarir
(310 H) meriwayatkan hal itu dari sekelompok ulama, di antaranya: Abu Bakr
Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu, Ĥudzaifah, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Ibnu
‘Abbas rodhiyallahu ‘anhum.
Di antara dalil-dalil
tentang masalah ini adalah firman Alloh ﷻ:
كَلَّا إِنَّهُمْ
عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya
mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS.
Al-Muthoffifin: 15)
Penulis (Ibn Abil ‘Izz)
menyebutkan bahwa Asy-Syafi’i (204 H) – roĥimahullōh – dan para Imam
lainnya berdalil dengan ayat ini atas rū’yah (melihat Alloh) bagi
penduduk Jannah. Ath-Thobari (310 H) dan selainnya menyebutkan hal itu
dari Al-Muzani (264 H) dari Asy-Syafi’i. Al-Hakim (405 H) berkata: “Al-Aṣhom
(346 H) menceritakan kepada kami, Al-Robī’ bin Sulaimān (270 H) menceritakan
kepada kami, ia berkata: ‘Aku menghadiri (majelis) Muhammad bin Idrīs Asy-Syafi’i.
Datang kepadanya sebuah surat dari Ash-Sho’īd (Mesir Hulu) di dalamnya: Apa
pendapatmu tentang firman Alloh ‘Azza wa Jalla: “Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Robb mereka.” (QS.
Al-Muthoffifin: 15)?’
Asy-Syafi’i berkata: ‘Karena
Dia menghalangi mereka (orang kafir) dalam kemurkaan, maka dalam hal ini ada
dalil bahwa para wali-Nya akan melihat-Nya dalam keridhoan.’”
Kemudian ia membahas
dalil Mu’tazilah dengan firman Alloh ﷻ:
لَن تَرَانِي
“Engkau tidak akan
melihat-Ku.” (QS. Al-A’roof: 143)
firman-Nya ﷻ:
لَّا تُدْرِكُهُ
الْأَبْصَارُ
“Penglihatan mata
tidak dapat menjangkau-Nya.” (QS. Al-An’ām: 103)
Ia menyebutkan bahwa
kedua ayat itu adalah dalil yang menentang mereka.
Ayat pertama:
menunjukkan tetapnya rū’yah dari beberapa sisi.
Pertama: Tidak mungkin
kita menduga Kālīmullōh (orang yang diajak bicara langsung oleh Alloh) dan Rosul-Nya
yang Mulia, serta orang yang paling mengetahui tentang Robb-nya pada masanya,
akan meminta sesuatu yang tidak mungkin bagi-Nya. Bahkan, di sisi mereka (Mu’tazilah),
itu adalah kebatilan yang paling besar.
Kedua: Alloh tidak
mengingkari permintaannya. Sedangkan ketika Nūĥ meminta kepada Robb-nya
keselamatan anaknya, Dia mengingkari permintaannya dan berfirman:
إِنِّي أَعِظُكَ
أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Sungguh, Aku
menasihatimu agar jangan termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hūd: 46)
Ketiga: Alloh Ta’ala
berfirman: lan tarōniy (engkau tidak akan melihat-Ku), dan Dia tidak
berfirman: innī lā urā (Aku tidak dilihat), atau lā tajūzu rū’yatī
(tidak boleh melihat-Ku), atau lastu bi mar’iy (Aku tidak dapat
dilihat). perbedaan antara dua
jawaban itu jelas. Tidakkah engkau lihat bahwa siapa yang di dalam sakunya ada
batu lalu ia menyangkanya makanan, maka benar jika ada yang berkata: engkau
tidak akan memakannya.
Ini menunjukkan bahwa
Dia ﷻ dapat dilihat, tetapi kekuatan Musa tidak
mampu melihat-Nya di dunia ini, karena lemahnya kekuatan manusia di dunia ini
untuk melihat-Nya Ta’ala.
Keempat: Sisi ketiga diperjelas oleh firman Alloh ﷻ:
وَلَٰكِنِ
انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي
“Tetapi lihatlah ke
gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau akan
dapat melihat-Ku.” (QS. Al-A’roof: 143)
Maka Dia
memberitahunya bahwa gunung, dengan kekuatan dan kekerasannya, tidak akan mampu
bertahan terhadap tajallī (penampakan diri) di dunia ini. Maka bagaimana
dengan manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah?
Kelima: Alloh Ta’ala mampu menjadikan gunung
tetap di tempatnya, dan itu mungkin. Dia mengaitkan rū’yah (melihat)
dengan kemungkinan itu. Seandainya rū’yah itu mustahil, niscaya
(pengaitannya) sama dengan jika Dia berfirman: “Jika gunung tetap di tempatnya,
niscaya Aku akan makan, minum, dan tidur.” semua
itu, di sisi mereka (Mu’tazilah), adalah sama.
Keenam: Firman Alloh ﷻ:
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ
رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
“Maka ketika Robb-nya
menampakkan Diri-Nya (tajallā) kepada gunung itu, Dia menjadikannya
hancur luluh.” (QS. Al-A’roof: 143)
Jika tajallī
kepada gunung yang merupakan benda mati, yang tidak ada pahala dan adzab
baginya, itu mungkin. Maka mengapa tajallī kepada Rosul-Nya dan para
wali-Nya di Dār Al-Karōmah (negeri kemuliaan) menjadi terlarang? Hanya saja
Alloh memberitahu Musa bahwa jika gunung tidak mampu bertahan untuk melihat-Nya
di dunia ini, maka manusia lebih lemah.
Ketujuh: Alloh telah berbicara langsung dengan Musa,
memanggilnya, dan boleh mendengarkan pembicaraan kalam-Nya tanpa perantara.
Maka, rū’yah (melihat-Nya) lebih utama untuk dibolehkan. Oleh karena
itu, penolakan rū’yah tidak akan sempurna tanpa menolak kalām
(berbicara), dan mereka (Mu’tazilah) telah menggabungkan keduanya.
Kemudian ia menjawab
klaim mereka bahwa ‘lan’ (tidak akan) memberikan makna keabadian (ta’bīd)
dan menunjukkan penafian rū’yah di Akhiroh. Syaikh menjelaskan bahwa
meskipun ‘lan’ dibatasi dengan ta’bīd, ia tidak menunjukkan
kekekalan penafian di Akhiroh. Maka bagaimana jika ia dilepaskan (tidak
dibatasi)?
Hal ini memiliki
banyak contoh dalam Al-Qur’an. Alloh ﷻ
berfirman:
وَلَن يَتَمَنَّوْهُ
أَبَدًا
“mereka tidak akan mengharapkan
(kematian) itu selamanya.” (QS. Al-Baqoroh: 95)
Bersamaan dengan firman-Nya:
وَنَادَوْا
يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ
“mereka berseru: ‘Wahai Malik (Malaikat penjaga Naar)! Biarlah
Robb-mu mematikan kami saja.” (QS. Az-Zukhruf: 77)
karena jika lan
bermakna ta’bīd (kekekalan) mutlak, niscaya tidak boleh membatasi.”
ia melanjutkan:
“karena jika ‘lan’
(tidak akan) bermakna ta’bīd (kekekalan) mutlak, niscaya tidak boleh
membatasi perbuatan setelahnya, padahal itu telah datang. Alloh Ta’ala
berfirman:
فَلَن أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي
“Aku tidak akan meninggalkan bumi ini sampai ayahku mengizinkanku.” (QS.
Yūsuf: 80)
Maka terbuktilah bahwa ‘lan’ tidak menuntut penafian yang abadi.
Syaikh Jamāl Ad-Dīn bin Mālik (672 H) roĥimahullōh berkata:
ومن رأى النفي بلن مؤبداً ××× فقوله اردد وسواه فاعضدا
“siapa
yang berpendapat penafian dengan ‘lan’ itu abadi ××× maka tolaklah perkataannya
dan kuatkanlah (pendapat) yang selainnya).”
Adapun ayat kedua: Berdalil dengannya atas rū’yah (melihat Alloh)
dari sisi yang indah dan lembut, yaitu: Bahwa Alloh Ta’ala
menyebutkannya dalam konteks pujian. sudah
diketahui bahwa pujian hanyalah terjadi dengan sifat-sifat tsubūtiyyah
(penetapan), adapun ‘adam maĥdh (ketiadaan murni) bukanlah kesempurnaan
sehingga tidak dipuji dengannya. Robb Ta’ala dipuji dengan penafian
hanya jika ia mengandung suatu urusan wujūdi (eksistensi/ penetapan).
Seperti pujian-Nya dengan menafikan tidur (sinah) dan kantuk (naum),
yang mengandung kesempurnaan Al-Qoyyūmiyyah (kemandirian dan mengurus
makhluk-Nya). menafikan kematian,
yang mengandung kesempurnaan Al-Ĥayāh (kehidupan). menafikan rasa letih (lughūb) dan keletihan, yang
mengandung kesempurnaan Al-Qudroh (kekuasaan). menafikan sekutu, pasangan, anak, dan penolong, yang
mengandung kesempurnaan Shomadiyyah-Nya (tempat bergantung) dan kekayaan-Nya. menafikan kedzoliman, yang mengandung
kesempurnaan ‘Adl-Nya (keadilan), ‘Ilm-Nya (pengetahuan), dan kekayaan-Nya. menafikan lupa dan luputnya sesuatu
dari pengetahuan-Nya, yang mengandung kesempurnaan ‘Ilm-Nya dan Iĥāthoh-Nya
(meliputi). menafikan tandingan,
yang mengandung kesempurnaan Dzat dan Sifat-sifat-Nya.
Oleh karena itu, Dia tidak memuji Diri-Nya dengan ‘adam maĥdh
(ketiadaan murni) yang tidak mengandung urusan tsubūtiy (penetapan).
Karena yang tidak ada menyamai Dzat yang disifati dalam ‘adam (ketiadaan) itu. Yang
Maha Sempurna tidak disifati dengan urusan yang ia dan yang tidak ada sama di
dalamnya.
Karena maknanya: Dia dilihat, tetapi tidak dijangkau dan tidak diliputi.
Maka firman-Nya:
لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ
“Penglihatan mata tidak dapat menjangkau-Nya.” (QS. Al-An’ām:
103)
menunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya, dan bahwa Dia lebih besar dari
segala sesuatu. bahwa karena
kesempurnaan keagungan-Nya, Dia tidak dijangkau sehingga diliputi. Karena al-idrāk
(menjangkau) adalah al-iĥāthoh (meliputi) sesuatu, dan ia adalah kadar
yang melebihi rū’yah (melihat). Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ قَالَ كَلَّا
“Maka ketika kedua kelompok telah saling melihat, para pengikut Musa
berkata: ‘Sungguh, kita benar-benar akan dijangkau (mudrokūn).’ Dia (Musa)
menjawab: ‘Sekali-kali tidak!’” (QS. Asy-Syu’arō’: 61-62)
Musa tidak menafikan rū’yah, tetapi ia menafikan idrāk
(jangkauan). Maka rū’yah dan idrāk, masing-masing terjadi bersama
yang lain atau tanpa yang lain. Robb Ta’ala dilihat, tetapi tidak
dijangkau, sebagaimana Dia diketahui tetapi tidak diliputi pengetahuannya. inilah yang dipahami para Shohabat dan
para Imam dari ayat tersebut, sebagaimana yang aku sebutkan perkataan mereka
dalam tafsir ayat itu.
Bahkan, matahari yang diciptakan ini tidak dapat dilihat secara
menyeluruh oleh yang melihatnya sebagaimana adanya.
Kemudian Syaikh menyebutkan bahwa: “Hadits-Hadits dari Nabi ﷺ dan
para Shohabatnya, yang menunjukkan rū’yah adalah mutawātir,
diriwayatkan oleh Aṣĥāb Aṣ-Ṣiĥāĥ (pemilik kitab-kitab shohih), Al-Masānīd
(kitab-kitab musnad), dan As-Sunan (kitab-kitab sunan).
Di antaranya: Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu: “Sekelompok
orang bertanya: ‘Wahai Rosululloh, apakah kami akan melihat Robb kami pada hari
Kiamat?’
Rosululloh ﷺ
bersabda:
هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ؟
‘Apakah kalian kesulitan dalam melihat bulan di malam purnama?’
Mereka menjawab: ‘Tidak, wahai Rosululloh.’
Beliau bersabda:
هَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ؟
‘Apakah kalian kesulitan dalam melihat matahari yang tidak ada awan di
bawahnya?’
Mereka menjawab: ‘Tidak.’
Beliau bersabda:
فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ
‘Kalian akan melihat-Nya seperti itu.’” (HR. Al-Bukhori Muslim)
Hadits Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu dalam Ash-Shoĥīĥain
serupa dengannya.
Hadits Jarīr bin ‘Abdillah Al-Bajali rodhiyallahu ‘anhu, ia
berkata: “Kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ. Beliau melihat ke bulan di malam ke-14
(purnama), lalu bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا، كَمَا تَرَوْنَ
هَذَا، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
‘Kalian akan melihat Robb kalian dengan mata kepala (‘iyānan),
sebagaimana kalian melihat ini, kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.’”
(Ash-Shoĥīĥain)
Hadits Shuhaib rodhiyallahu ‘anhu yang telah lalu, diriwayatkan
oleh Muslim dan selainnya.
Hadits Abu Musa rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا،
وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ
أَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى
وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
“dua Jannah
dari perak, bejana-bejana dan isinya, dan dua Jannah dari emas,
bejana-bejana dan isinya. tidak
ada yang menghalangi kaum (Mu’min) untuk melihat Robb mereka Tabāroka wa
Ta’āla kecuali Ridā’ Al-Kibriyā’ (Selendang Keagungan) di Wajah-Nya di Jannah
‘Adn.” (Ash-Shoĥīĥain)
dari Hadits ‘Adiy bin Ĥātim rodhiyallahu ‘anhu:
وَلَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ يَلْقَاهُ، وَلَيْسَ
بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تُرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ، فَيَقُولُ: أَلَمْ
أَبْعَثْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَيُبَلِّغَكَ؟
“sungguh, salah
seorang dari kalian akan bertemu Alloh pada hari ia bertemu-Nya, dan tidak ada
antara dia dengan-Nya ĥijāb (tabir) dan tidak ada penerjemah (turjumān) yang
menerjemahkan untuknya. Dia berfirman: ‘Bukankah Aku telah mengutus seorang Rosul
kepadamu, lalu ia menyampaikan kepadamu?’
Ia menjawab: بَلَى
يَا رَبِّ ‘Tentu, wahai Robb.’
Dia berfirman:
أَلَمْ أُعْطِكَ مَالًا وَأُفْضِلْ
عَلَيْكَ؟
‘Bukankah Aku telah memberimu harta dan memberikan karunia
kepadamu?’
Ia menjawab: بَلَى
يَا رَبِّ ‘Tentu, wahai Robb.’” (HR. Al-Bukhori)[4]
5.13 Meraih Keni’matan Jannah Tidak Mengharuskan Meninggalkan Kesenangan
Dunia
Para rohib (ruhbān)
dan banyak ahli ibadah dari umat ini mengira bahwa keni’matan Akhiroh tidak
dapat diraih kecuali jika seorang hamba menolak kebaikan dan kelezatan dunia. Oleh karena
itu, engkau melihat mereka menyiksa tubuh mereka, dan menyulitkan diri mereka
dengan terus-menerus berpuasa dan Sholat malam. Sebagian mereka bahkan mengharomkan
kebaikan dari makanan, minuman, dan pakaian. sebagian
mereka meninggalkan pekerjaan dan pernikahan.
Ini adalah pemikiran yang keliru. Karena Alloh menciptakan kebaikan
untuk orang-orang Mu’min. Dia mencela siapa yang mengharomkan perhiasan Alloh
yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ
وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Katakanlah: ‘Siapa yang mengharomkan perhiasan Alloh yang telah Dia
keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan ath-thoyyibāt (kebaikan-kebaikan)
dari rizqi?’ Katakanlah: ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia, dan (akan menjadi) khusus bagi mereka pada hari Kiamat.’” (QS.
Al-A’roof: 32)
Dunia dicela jika ia menyibukkan (seseorang) dari Akhiroh. Namun, jika
hamba menjadikannya sebagai jembatan dan jalan masuk untuk meraih Akhiroh, maka
perkaranya tidak seperti yang disangka sebagian orang.
5.14 Penutup Seruan Mereka
Orang-orang Mu’min melewati kesulitan-kesulitan yang besar di Mauqif
(lapangan Kiamat). Kemudian mereka melewati Ash-Shiroth (jembatan) di mana
mereka menyaksikan kengerian dan ketakutan. Kemudian Alloh memasukkan mereka ke
Jannah An-Na’im setelah Dia menghilangkan kesedihan dari mereka. Mereka
melihat kebaikan-kebaikan agung yang Alloh persiapkan untuk mereka. Maka lisan
mereka terangkat untuk bertasbih dan mengagungkan Robb mereka. Dia telah
menghilangkan kesedihan dari mereka, menepati janji-Nya, dan mewariskan Jannah
kepada mereka.
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ
ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ * الَّذِي أَحَلَّنَا
دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ ۖ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا
يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ
“mereka berkata: ‘Segala
puji bagi Alloh yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Robb
kami adalah benar-benar Ghofūr (Maha Pengampun), Syakūr (Maha Berterima Kasih),
Yang menempatkan kami di Dār Al-Muqōmah (negeri tempat tinggal yang abadi) dari
karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak disentuh oleh keletihan (naṣob) dan
tidak disentuh oleh kelelahan (lughūb).” (QS. Fāthir: 34-35)
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ
وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“mereka berkata: ‘Segala
puji bagi Alloh yang telah menepati janji-Nya kepada kami dan mewariskan kepada
kami bumi (Jannah) ini. Kami menempati Jannah di mana saja kami
kehendaki.’ Maka (Jannah) itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang
yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 74)
penutup seruan mereka di Jannah An-Na’im
adalah: Alĥamdulillāhi robbil ‘ālamīn (Segala puji bagi Alloh, Robb
semesta alam).
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ
فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Seruan mereka di dalamnya adalah: ‘Subĥānakallōhumma (Maha Suci
Engkau, ya Alloh),’ dan penghormatan mereka di dalamnya adalah: ‘Salām
(keselamatan),’ dan penutup seruan mereka adalah: ‘Alĥamdulillāhi robbil ‘ālamīn.”
(QS. Yūnus: 10)
[1] Penelitian ini kami ambil dengan sedikit
ringkasan dari Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah karya Syaikh Nashir:
3/275, no. 1281.
[2] Syaikh Nashir (Al-Albani) juga menisbatkannya
kepada Ath-Thobroni dalam Al-Awsath, Abu Nu’aim, dan Adh-Dhiyā’ dalam Shifatul
Jannah.
[3] Misykatul Mashobih: 3/90, no. 5636. Muĥaqqiq Misykatul
Mashobih berkata: “At-Tirmidzi berkata: Hadits shohīĥ ghorīb.” Aku
(muĥaqqiq) katakan: “Sanadnya ĥasan, bahkan shohīĥ, karena ia memiliki syawāhid
(penguat), di antaranya dari Zayd bin Arqom di sisi Ad-Darimi dengan sanad
shohih.”
[4] Lihat Syarhut Thohawiyah: 204-210.
