Cari Artikel

Mempersiapkan...

Rangkuman 7 Langkah Mendidik Anak Nakal dalam Bimbingan Wahyu dan Psikologi Modern

 


KESIMPULAN

Perjalanan mendidik anak bukanlah perjalanan sesaat, melainkan perjalanan seumur hidup (long life journey). Kita telah melewati delapan bab yang mengupas tuntas seluk-beluk kenakalan anak dan terapinya dari sudut pandang Wahyu dan kejiwaan. Kini, sampailah kita pada muara pemahaman, di mana semua teori dan dalil bermuara pada satu titik: ketundukan total kepada Alloh.

Dalam bahasan ini, kita akan mengikat kembali simpul-simpul ilmu yang mungkin tercecer, menyatukan kepingan strategi yang telah kita pelajari, dan meneguhkan kembali tekad kita untuk mencetak generasi Robbani.

1. Rangkuman Intisari 7 Langkah Pendidikan

Jika kita peras seluruh pembahasan dalam buku ini, maka saripatinya adalah “Tujuh Langkah Emas” yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain:

Langkah Pertama (Hubungan dengan Alloh): Ini adalah fondasi. Sebelum memperbaiki anak, perbaiki diri sendiri. Kesholihan orang tua adalah asuransi langit bagi anak.

Langkah Kedua (Keteladanan): Ini adalah metode visual. Anak tidak mendengar nasihat, tapi meniru perbuatan. Jadilah Al-Qur’an berjalan di hadapan mereka.

Langkah Ketiga (Komunikasi): Ini adalah jembatan hati. Gunakan telinga untuk mendengar keluh kesah mereka, dan gunakan lisan yang lembut (qoulan layyina) untuk menasihati tanpa melukai.

Langkah Keempat (Keadilan & Kasih Sayang): Ini adalah nutrisi jiwa. Penuhi tangki cinta mereka agar mereka tidak mencari perhatian dengan cara nakal. Berlaku adillah agar tidak muncul dendam antar saudara.

Langkah Kelima (Ketegasan & Disiplin): Ini adalah pagar pengaman. Buat aturan yang jelas, konsisten, dan terapkan sanksi sesuai tahapan Sunnah (nasihat, boikot, lalu pukulan mendidik di usia 10 tahun).

Langkah Keenam (Pengalihan Aktivitas): Ini adalah penyaluran energi. Sibukkan mereka dengan Al-Qur’an, olahraga fisik, dan lingkungan teman yang sholih agar syaithon tidak memiliki celah untuk masuk.

Langkah Ketujuh (Kesabaran & Tawakkal): Ini adalah napas panjang. Hasil akhir adalah milik Alloh. Tugas kita hanya berusaha maksimal dan menyerahkan hati anak kepada Sang Pemilik Hati.

Ketujuh langkah ini bukanlah resep instan seperti membalik telapak tangan, melainkan sebuah siklus yang harus terus diputar. Jika satu langkah gagal, ulangi lagi dari awal dengan strategi yang lebih baik dan doa yang lebih kencang.

2. Sinergi Antara Usaha Langit (Do’a) dan Usaha Bumi (Pola Asuh)

Banyak orang tua yang terjebak pada salah satu ekstrem: hanya berdoa tanpa usaha, atau hanya berusaha tanpa berdoa. Keduanya adalah bentuk kesombongan atau kebodohan. Islam mengajarkan Tawakkal yang sejati, yaitu perpaduan sempurna antara ikhtiar bumi dan tawakkal langit.

Ibarat petani yang ingin panen raya. Ia harus mencangkul tanah, memberi pupuk, dan menyiram air (usaha bumi). Namun, ia juga harus sadar bahwa hujan yang turun dan benih yang tumbuh adalah mutlak kuasa Alloh (usaha langit). Jika petani hanya berdoa tanpa menanam, ia gila. Jika ia menanam tapi sombong merasa bisa menumbuhkan tanpa Alloh, ia kufur ni’mat.

Begitu pula mendidik anak. Pola asuh psikologi, teknik komunikasi, dan disiplin adalah “cangkul” kita. Sedangkan hidayah adalah “hujan” dari Alloh. Kita butuh keduanya. Rosululloh mengajarkan doa sapu jagat yang mencakup kebaikan dunia dan Akhiroh bagi keluarga kita:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh dan peliharalah kami dari siksa Neraka.” (QS. Al-Baqoroh: 201)

Sinergi ini akan melahirkan ketenangan (thuma’ninah). Kita tidak akan stres berlebihan saat anak belum berubah, karena kita tahu kita punya Alloh tempat bersandar. Dan kita tidak akan bermalas-malasan, karena kita tahu Alloh memerintahkan kita untuk beramal.

3. Optimisme Mencetak Anak Sholih Penyejuk Mata

Di akhir kesimpulan ini, mari kita tanamkan optimisme yang membaja. Jangan pernah berkata: “Anak saya sudah terlanjur rusak,” atau “Sudah terlambat untuk berubah.” Pintu rohmat Alloh selalu terbuka selebar langit dan bumi.

Sejarah Islam penuh dengan kisah anak-anak “nakal” atau “bermasalah” yang kemudian menjadi bintang peradaban. Fudhoil bin Iyadh dulunya perampok, akhirnya menjadi ulama besar (Abidul Haromain). Umar bin Khoththob dulunya siap membunuh Nabi, akhirnya menjadi Kholifah yang paling dicintai Nabi.

Siapa yang menjamin bahwa anak kita yang hari ini membuat kita menangis, kelak tidak akan menjadi sebab kita tertawa bahagia di Surga? Alloh Ta’ala berfirman tentang janji-Nya bagi orang-orang yang bertaubat dan memperbaiki diri:

﴿إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal sholih; maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 70)

Ayat ini adalah kabar gembira terbesar. Bahkan keburukan masa lalu pun bisa diganti menjadi pahala kebaikan jika diakhiri dengan taubat yang tulus (taubatan nasuha). Maka, teruslah mendidik dengan cinta, teruslah berdoa dengan harap, dan yakinlah bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan air mata orang tua yang tulus.

 

PENUTUP

Wahai Ayah dan Bunda yang dirohmati Alloh...

Buku ini kini berada di halaman terakhirnya, namun tugas kita sebagai orang tua belumlah berakhir. Lembaran-lembaran kertas ini mungkin bisa ditutup, namun lembaran kehidupan anak-anak kita masih terus terbuka, menanti goresan tinta emas dari tangan kita.

Anak-anak kita adalah tamu istimewa yang Alloh titipkan sementara di rumah kita. Mereka bukan milik kita. Mereka adalah milik Alloh yang dipinjamkan untuk menguji siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Suatu saat nanti, mereka akan pergi—entah mereka yang meninggalkan rumah untuk membangun kehidupannya sendiri, atau kita yang meninggalkan mereka menuju liang lahat.

Maka, selagi waktu masih ada, selagi napas masih berhembus, dan selagi mereka masih berada dalam pelukan kita, mari kita manfaatkan kesempatan emas ini. Jangan biarkan kesibukan dunia melalaikan kita dari tugas agung ini. Jangan sampai kita sukses membangun gedung pencakar langit, namun gagal membangun jiwa anak sendiri.

Ingatlah selalu wajah polos mereka saat tidur. Di balik kenakalan yang kadang membuat dada sesak, tersimpan jiwa suci yang merindukan kasih sayang dan bimbingan. Di balik teriakan dan bantahan mereka, tersimpan jeritan hati yang memohon: “Ayah, Ibu, tolong bimbing aku ke Surga, jangan biarkan aku tersesat.”

Kita mungkin bukan orang tua yang sempurna. Kita pasti punya banyak salah dan khilaf. Namun, ketidaksempurnaan itu bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan memperbaiki diri. Alloh tidak menuntut kita menjadi sempurna, Alloh hanya menuntut kita untuk terus berusaha (mujahadah) dan bertaubat.

Semoga setiap huruf yang tertulis dalam buku ini menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan menjadi teman setia di saat Anda merasa lelah mendidik.

Kami akhiri dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, doa para ayah yang merindukan kesholihan anak keturunannya:

﴿رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Robb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan Sholat, ya Robb kami, perkenankanlah doaku. Ya Robb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang Mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. Ibrohim: 40-41)

Semoga Alloh mengumpulkan kita kembali bersama anak-anak dan keluarga kita di dalam Jannah Firdaus yang tertinggi, di atas dipan-dipan kebahagiaan, memandang Wajah Alloh yang Maha Mulia.

Walhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin.[NK]

Selesai ditulis dengan taufiq Alloh.

 

DAFTAR PUSTAKA

A. Al-Qur’an dan Tafsir

Al-Qur’anul Karim.

Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar (w. 774 H). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim.

Ath-Thobari, Muhammad bin Jarir (w. 310 H). Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an.

As-Sa’di, Abdurrohman bin Nashir (w. 1376 H). Taisir Al-Karim Ar-Rohman.

B. Kitab Hadits dan Takhrij

Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail (w. 256 H). Al-Jami’ Ash-Shohih (Shohih Al-Bukhori).

Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail (w. 256 H). Al-Adab Al-Mufrod.

Muslim, Abul Husain Muslim bin Hajjaj (w. 261 H). Al-Musnad Ash-Shohih (Shohih Muslim).

Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats (w. 275 H). As-Sunan.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa (w. 279 H). Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi).

An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib (w. 303 H). Al-Mujtaba min As-Sunan.

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid (w. 273 H). As-Sunan.

Ahmad bin Hanbal, Asy-Syaibani (w. 241 H). Al-Musnad.

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin (w. 1420 H). Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah.

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin (w. 1420 H). Shohih At-Targhib wat Tarhib.

C. Kitab Ulama Klasik (Adab & Tazkiyatun Nafs)

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (w. 751 H). Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (Kitab terlengkap tentang hukum dan pendidikan anak).

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (w. 751 H). Madarijus Salikin.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (w. 620 H). Mukhtashor Minhajul Qoshidin.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf (w. 676 H). Riyadhush Sholihin.

Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad (w. 748 H). Siyar A’lam An-Nubala (Untuk referensi kisah keteladanan).

D. Referensi Psikologi Islam & Tarbiyah Kontemporer

Nashih Ulwan, Abdullah (w. 1408 H). Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam).

Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh. Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah lith Thifl (Metode Pendidikan Nabi pada Anak/Prophetic Parenting).

Al-‘Adawi, Musthofa. Fiqhu Tarbiyatil Abna (Fiqih Mendidik Anak).

Badri, Malik. At-Tafakkur min Al-Musyahadah ila Asy-Syuhud (Rujukan Psikologi Islami tentang kontemplasi dan jiwa).

Najati, Muhammad Utsman. Al-Hadits An-Nabawi wa ‘Ilmun Nafs (Hadits Nabi dan Ilmu Jiwa/Psikologi).

Al-Mazru’i, Ahmad bin Mubarok. Nashoih wat Taujiihaat lil Aba’ wal Ummahat (Peringatan Mendidik bagi Ayah dan Ibu).

Zainu, Muhammad Jamil. Kaifa Nurobbi Auladana (Bagaimana Kita Mendidik Anak-Anak Kita).


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url