LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: KESABARAN TANPA BATAS DAN TAWAKKAL
Jika Anda
merasa lelah, kecewa, dan ingin menyerah menghadapi tingkah laku anak yang tak
kunjung berubah, ketahuilah bahwa Anda sedang berada di titik paling krusial
dalam pendidikan. Di titik inilah syaithon sering membisikkan keputusasaan agar
kita berhenti mendidik. Padahal, boleh jadi perubahan itu tinggal selangkah
lagi, tepat di balik pintu kesabaran kita.
Dalam
tinjauan kejiwaan, kemampuan menunda kepuasan dan bertahan dalam kesulitan
disebut resilience (ketangguhan). Namun Islam memiliki istilah yang jauh
lebih agung: Ash-Shobru (kesabaran). Sabar dalam mendidik anak nakal
adalah Jihad (perjuangan sungguh-sungguh) yang pahalanya tanpa batas.
Alloh Ta’ala
berfirman tentang ganjaran bagi orang-orang yang bersabar, yang tidak bisa
dihitung dengan kalkulator manusia:
﴿إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Langkah
ketujuh ini adalah tentang manajemen hati orang tua. Bagaimana agar kita tetap
waras, tenang, dan optimis meskipun badai kenakalan anak sedang menerpa.
1.
Menahan Amarah Saat Anak Berbuat Salah
Musuh
terbesar dalam mendidik anak bukanlah anak itu sendiri, melainkan amarah (ghodhob)
yang bersemayam dalam diri orang tua. Marah adalah api yang membakar logika dan
memadamkan cahaya kasih sayang. Saat marah, kita cenderung mengucapkan
kata-kata laknat yang akan kita sesali seumur hidup.
Anak yang “nakal”
seringkali memang memancing emosi. Namun, merespon kenakalan dengan kemarahan
yang meledak-ledak hanya akan menambah masalah. Anak akan belajar bahwa “cara
menyelesaikan masalah adalah dengan teriak dan marah”.
Rosululloh ﷺ memberikan resep anti-marah
yang sangat ampuh. Ketika seorang laki-laki meminta nasihat, beliau
mengulanginya tiga kali:
«لَا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ»
“Janganlah
kamu marah, maka bagimu Jannah (Surga).” (HSR. Ath-Thobaroni dalam Al-Ausath no.
2353)
Secara
psikologis, saat kita marah, otak reptil (batang otak) yang bekerja, sedangkan
otak berpikir (korteks prefrontal) macet. Kita tidak bisa mendidik saat
otak berpikir macet. Oleh karena itu, Islam mengajarkan teknik anger
management (mengatur marah) yang praktis:
Membaca
Ta’awudz: Marah itu
dari syaithon.
﴿وَإِمَّا
يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Dan
jika syaithon mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan
kepada Alloh. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 200)
Merubah
Posisi: Jika marah
sambil berdiri, duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Ini untuk meredakan
ketegangan otot dan menurunkan adrenalin.
«إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ،
فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ»
“Apabila
salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, jika
kemarahan itu hilang (maka itu baik), jika tidak maka berbaringlah.” (HSR. Abu Dawud no. 4782)
Diam: Jangan bicara saat emosi puncak.
«إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ»
“Jika salah
seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HSR. Ahmad no. 2136)
Ingatlah,
mendidik anak nakal membutuhkan “kepala dingin”. Air yang tenang bisa
memadamkan api, tapi minyak (amarah) justru membesarkannya. Jadilah air yang
menyejukkan bagi panasnya perilaku anak.
2.
Meyakini Bahwa Hidayah Hanyalah Milik Alloh Semata
Seringkali
orang tua stres dan depresi karena merasa “gagal” mengubah anaknya.
Mereka berpikir, “Saya sudah melakukan semuanya, kenapa dia masih nakal?”
Perasaan ini muncul karena kita mengambil alih hak Alloh, yaitu memberi
Hidayah.
Tugas kita
hanyalah menyampaikan (al-balagh) dan membimbing (al-irsyad).
Adapun membuka hati (at-taufiq), itu mutlak hak prerogatif Alloh. Kita
tidak bisa memaksa bunga mekar sebelum waktunya, begitu pula kita tidak bisa
memaksa hati anak terbuka sebelum Alloh menghendakinya.
Lihatlah
Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Ulul ‘Azmi, Nabi yang sangat sabar
berdakwah selama 950 tahun. Namun, anak kandungnya sendiri (Yam/Kan’an) memilih
tenggelam dalam kekafiran daripada naik ke bahtera keselamatan. Apakah Nabi Nuh
gagal mendidik? Tidak! Beliau sukses sebagai Nabi dan Ayah yang menyampaikan
kebenaran, namun Hidayah ada di tangan Alloh.
Alloh Ta’ala
menghibur Nabi Muhammad ﷺ (dan kita semua) yang sedih memikirkan orang yang dicintainya
tidak beriman:
﴿إِنَّكَ
لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ﴾
“Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qoshosh: 56)
Memahami
konsep ini sangat melegakan jiwa (relieving). Beban berat di pundak kita
terangkat. Kita akan berkata: “Ya Alloh, aku telah berusaha mendidik
amanah-Mu ini sekuat tenagaku. Hasilnya aku serahkan kepada-Mu. Engkaulah
Pemilik hati anakku.”
Sikap
pasrah (tawakkal) inilah yang membuat orang tua tetap tenang dan tidak obsesif.
Justru ketenangan inilah yang seringkali menjadi magnet bagi hidayah.
3.
Tidak Berputus Asa: Terus Berusaha Meski Hasil Belum Terlihat
Putus asa
adalah sifat orang kafir. Orang beriman tidak pernah mengenal kata “menyerah”
dalam kamus hidupnya, apalagi dalam urusan anak. Mungkin hari ini anak kita
masih membangkang, tapi siapa tahu besok lusa dia menjadi ulama besar? Siapa
tahu dari keturunannya muncuk tokoh-tokoh besar?
Jangan
memvonis masa depan anak hanya karena masa lalunya yang kelam. Umar bin
Khoththob rodhiyallahu ‘anhu dulunya adalah penentang Islam yang keras,
dan berwatak kasar. Namun siapa sangka, beliau kemudian menjadi Amirul Mu’minin
yang paling tegas menegakkan keadilan? Hidayah bisa merubah arang menjadi
berlian.
Nabi Ya’qub
‘alaihissalam mengajarkan kita tentang optimisme (roja’). Beliau
kehilangan Yusuf puluhan tahun. Matanya sampai memutih (buta) karena kesedihan.
Namun beliau tidak pernah berhenti berharap kepada Alloh, dan melarang
anak-anaknya berputus asa saat mencari Yusuf:
﴿يَا بَنِيَّ
اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾
“Hai
anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya
dan jangan kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rohmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Dalam
psikologi, sikap ini disebut grit (kegigihan). Orang tua yang memiliki
grit akan melihat kenakalan anak sebagai “tantangan sementara”, bukan “kegagalan
permanen”.
Teruslah
menabur benih nasihat. Mungkin benih itu tidak tumbuh hari ini, tapi ia sedang
berakar kuat di dalam tanah, menunggu hujan rohmat Alloh untuk tumbuh menjadi
pohon yang rindang.
Imam Ahmad
bin Hanbal (241 H) pernah dipenjara dan disiksa karena mempertahankan aqidah.
Salah satu yang menguatkan beliau adalah ucapan seorang pencuri di dalam
penjara: “Wahai Imam, aku bersabar dipukul demi kebatilan (mencuri), masa
engkau tidak bersabar dipukul demi kebenaran?”
Kata-kata
pencuri itu menyadarkan sang Imam. Jika pencuri/anak nakal saja sabar dengan
kenakalannya, maka kita orang tua harus lebih sabar dalam kebaikan kita.
4.
Buah Manis Kesabaran dalam Mendidik Generasi
Setiap
tetes keringat dan air mata yang jatuh karena mendidik anak, tidak ada yang
sia-sia di sisi Alloh. Alloh mencatat setiap detik kesabaran kita sebagai
pemberat timbangan amal sholih.
Jika kita
bersabar, ada dua kemungkinan hasil yang indah:
Anak
Menjadi Sholih di Dunia: Ini adalah qurrota a’yun (penyejuk mata) yang paling indah.
Melihat anak yang dulunya nakal kini menjadi imam Masjid, penghafal Al-Qur’an,
dan berbakti kepada orang tua, adalah keni’matan yang melebihi dunia seisinya.
Pahala
Sabar di Akhiroh:
Jika pun qodarulloh anak belum berubah sampai kita wafat, kesabaran kita
mendidiknya menjadi tiket VIP menuju Jannah. Kita telah gugur kewajiban dan
menang dalam ujian.
Bahkan,
boleh jadi doa-doa yang kita panjatkan hari ini baru dikabulkan Alloh setelah
kita berada di alam kubur. Anak yang nakal itu tiba-tiba bertaubat, lalu
menjadi anak sholih yang senantiasa mendoakan kita. Doa anak sholih inilah yang
menjadi Amal Jariyah yang pahalanya terus mengalir saat kita sudah tidak bisa
beramal lagi.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ
إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ،
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila
manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara:
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Wahai Ayah
Bunda, bersabarlah sedikit lagi.
Seperti
petani yang menanam kurma, ia mungkin tidak ikut memanen buahnya, tapi ia yakin
bahwa benih yang ia tanam akan memberi manfaat bagi generasi setelahnya.
Mendidik anak adalah menanam peradaban.
Katakan pada diri sendiri: “Aku mendidik bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk mencari wajah Alloh. Lelahku Lillah, sabarku Billah, dan harapanku Ilallah.”
