Cari Artikel

Mempersiapkan...

LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: PENGALIHAN KEPADA AKTIVITAS POSITIF DAN LINGKUNGAN SHOLIH

 

Setelah kita membersihkan hati anak dengan doa, memberikan teladan, menyentuh perasaannya, dan memangkas perilaku buruknya dengan aturan, kini saatnya kita menanam benih-benih baru. Ibarat lahan yang sudah dibersihkan dari rumput liar, ia tidak boleh dibiarkan kosong, melainkan harus segera ditanami tanaman yang bermanfaat.

Dalam tinjauan kejiwaan, “kenakalan” seringkali adalah energi yang salah alamat. Anak yang suka memukul sebenarnya punya bakat kekuatan fisik. Anak yang suka membantah sebenarnya punya bakat kritis dan verbal. Tugas orang tua bukan mematikan energi itu, tetapi mengalihkannya (channeling) ke arah yang diridhoi Alloh.

Langkah keenam ini berfokus pada dua hal: Aktivitas yang membangun dan lingkungan yang menjaga.

1. Menyibukkan Anak dengan Al-Qur’an dan Kegiatan Fisik (Olahraga)

Obat paling mujarab bagi kegelisahan jiwa dan liar-nya perilaku adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit yang ada di dalam dada. Anak yang hari-harinya disibukkan dengan menghafal dan muroja’ah Al-Qur’an, otaknya akan terlatih fokus, bahasanya akan tertata mulia, dan jiwanya akan tenang.

Alloh Ta’ala menjamin kemudahan bagi siapa saja yang mau mempelajari Al-Qur’an:

﴿ وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ ﴾

“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qomar: 17)

Jangan biarkan waktu anak kosong. Kosongnya waktu adalah celah masuknya syaithon. Selain Al-Qur’an, salurkan energi fisik mereka dengan olahraga. Islam sangat mendukung kekuatan fisik. Mu’min yang kuat lebih dicintai Alloh daripada Mu’min yang lemah.

Rosululloh memberikan panduan tentang jenis permainan atau olahraga yang bermanfaat. Beliau bersabda:

«كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلَّا أَرْبَعَ: مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَتَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ، وَمَشْيُهُ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ، وَتَعْلِيمُ الرَّجُلِ السَّبَّاحَة»

“Segala sesuatu yang tidak termasuk dzikir kepada Alloh adalah sia-sia dan main-main, kecuali empat perkara: senda gurau seorang suami dengan istrinya, seseorang melatih kudanya, berjalan di antara dua sasaran (memanah), dan seseorang yang mengajarkan renang.” (HSR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 8890)

Hadits ini mengajarkan kita untuk mengarahkan anak pada hobi yang melatih ketangkasan, fokus, dan keberanian: berkuda, memanah, dan berenang. Anak laki-laki yang “nakal” dan agresif, jika diikutkan klub berenang atau memanah, energinya akan tersalurkan menjadi prestasi. Emosinya akan stabil karena ia lelah dalam ketaatan dan latihan, sehingga saat pulang ke rumah, ia sudah tenang dan siap beristirahat, bukan lagi mencari masalah.

Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada para orang tua:

«عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ، وَمُرُوهُمْ فَلْيَثِبُوا عَلَى الْخَيْلِ وَثْبًا»

“Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka agar melompat ke atas punggung kuda dengan sekali lompatan.” (HR. Ath-Thobaroni. Lihat Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 13/12)

Ini adalah kurikulum pendidikan jasmani ala Sahabat. Tujuannya mencetak generasi pejuang, bukan generasi pemalas yang hanya duduk di depan layar.

2. Selektif Mencarikan Teman Duduk dan Sekolah yang Baik

Lingkungan (bi’ah) adalah faktor penentu kedua setelah orang tua. Betapa banyak orang tua yang sholih, namun anaknya rusak karena salah gaul. Anak ibarat spons yang menyerap warna air di sekitarnya. Jika dicelupkan ke air hitam, ia akan hitam. Jika dicelupkan ke air wangi, ia akan wangi.

Oleh karena itu, hijroh lingkungan seringkali menjadi solusi mutlak bagi kenakalan anak yang sudah kronis. Jika anak Anda nakal karena pengaruh teman komplek, maka pindahkanlah sekolahnya, atau bahkan pindahlah rumah jika perlu, demi menyelamatkan aqidah dan akhlaknya. Ini adalah bentuk uzlah (mengasingkan diri) dari keburukan.

Rosululloh bersabda tentang pentingnya memilah teman dekat:

«لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ»

“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang Mu’min, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HHR. Abu Dawud no. 4832)

Sekolah bukan sekadar tempat menitipkan anak agar pintar matematika. Sekolah adalah “rumah kedua”. Pilihlah sekolah yang bervisi Akhiroh, yang gurunya tidak merokok, yang pergaulan muridnya dipantau, dan yang kurikulumnya mengutamakan adab sebelum ilmu. Umumnya sekolah swasta lebih baik dari sekolah negeri dalam pembinaan akhlak, adab, dan hafalan, tetapi sedikit lebih mahal biayanya.

Jangan ragu mengeluarkan biaya lebih untuk lingkungan yang baik, karena itu adalah investasi. Biaya rehabilitasi anak narkoba atau anak hamil di luar nikah jauh lebih mahal daripada biaya SPP sekolah Islam Terpadu atau Pondok Pesantren.

Alloh Ta’ala mengisahkan tentang Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang menyelamatkan iman mereka dengan cara meninggalkan lingkungan yang rusak menuju gua yang sempit.

﴿إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Robb kami, berikanlah rohmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’” (QS. Al-Kahfi: 10)

Terkadang, “gua” (pesantren/lingkungan tertutup) lebih luas dan menenangkan bagi jiwa anak daripada “kota” (dunia luar) yang penuh maksiat. Carikanlah komunitas remaja Masjid (Remas), halaqoh Qur’an, hafalan Hadits, atau klub pecinta alam yang dipimpin oleh mentor yang sholih, agar anak menemukan circle of friends yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

3. Mengelola Gadget dan Tontonan yang Merusak Fitrah

Hari ini, “teman jahat” itu bisa masuk ke dalam kamar anak tanpa mengetuk pintu, melalui layar HP. Pornografi, kekerasan, paham liberal, dan game yang melalaikan adalah racun yang merusak sel-sel otak dan mematikan haya’ (rasa malu).

Banyak kasus “kenakalan” modern seperti cyber-bullying, kecanduan game judi, hingga penyimpangan seksual, bermula dari gadget yang tidak terkontrol. Mata yang sering melihat maksiat akan membuat hati menjadi gelap dan keras, sehingga sulit menerima nasihat.

Alloh Ta’ala memerintahkan kita untuk menjaga pandangan:

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30)

Kata azka lahum (lebih suci bagi mereka) menunjukkan bahwa menjaga mata akan membersihkan jiwa. Sebaliknya, mata yang liar akan membuat jiwa kotor (nakal).

Sebagai orang tua, kita harus tegas:

Pasang Filter: Gunakan aplikasi Parental Control.

Batasi Waktu: Gadget adalah alat, bukan tuan. Jangan biarkan anak diperbudak notifikasi.

Dampingi: Tontonlah apa yang mereka tonton. Jadikan bahan diskusi: “Menurut Kakak, perilaku tokoh di video ini baik atau buruk?”

Ingatlah peringatan Alloh bahwa pendengaran dan penglihatan akan dimintai pertanggungjawaban:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Jika kita membiarkan anak menonton sampah, maka kita sedang menimbun sampah di kepalanya yang kelak akan meledak menjadi perilaku busuk. Gantilah dengan konten siroh Nabi, kisah para Pahlawan Islam, dan kajian yang menarik.

4. Melibatkan Anak dalam Tugas Tanggung Jawab Harian

Salah satu penyebab kenakalan remaja adalah loss of meaning (kehilangan makna). Mereka merasa tidak berguna, hanya menjadi beban, dan dianggap anak kecil terus. Padahal, memberi tanggung jawab adalah cara terbaik untuk mendewasakan jiwa.

Anak yang sibuk mengurus amanah tidak akan sempat berbuat nakal. Lihatlah bagaimana Nabi Ya’qub memberikan tanggung jawab kepada Yusuf muda, dan bagaimana Nabi Yusuf ‘alaihissalam kemudian meminta tanggung jawab mengurus negara karena beliau merasa mampu dan amanah:

﴿قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’” (QS. Yusuf: 55)

Di zaman Nabi , anak-anak muda diberi peran besar. Usamah bin Zaid diangkat menjadi panglima perang di usia 18 tahun. Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Zaid bin Tsabit sudah aktif dalam majelis ilmu dan jihad sejak belia. Mereka tidak sempat “galau” atau “tawuran” karena bahu mereka memikul beban umat.

Di rumah, berikanlah tugas sesuai usia:

Usia TK: Merapikan mainan sendiri.

Usia SD: Menyapu kamar, melipat selimut, membantu mencuci piring.

Usia Remaja: Mengelola uang belanja harian, mengantar adik sekolah, atau membantu bisnis ayah.

Tugas-tugas ini melatih life skill dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap keluarga. Anak akan merasa: “Aku dibutuhkan di rumah ini. Peranku penting.” Perasaan dihargai ini akan mencegahnya mencari pengakuan di jalanan dengan cara yang salah.

Rosululloh sendiri mengajarkan kemandirian. Beliau menjahit bajunya sendiri dan memperbaiki sandalnya sendiri.

«كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ»

“Beliau biasa menjahit pakainya, memperbaiki sandalnya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan para lelaki di rumah mereka.” (HSR. Ahmad no. 24903)

Jika anak “nakal”, cobalah beri dia kepercayaan. “Nak, Ayah percaya kamu bisa jaga adik saat Ayah pergi.” Kepercayaan itu mahal. Jangan sia-siakan. Anak yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan itu, sedangkan anak yang dicurigai terus menerus akan membuktikan kecurigaan itu dengan kenakalan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url