Cari Artikel

Mempersiapkan...

LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: KETEGASAN, DISIPLIN, DAN HUKUMAN YANG MENDIDIK

 

Banyak orang tua modern yang terjebak dalam pola asuh “permisif” (serba membolehkan) karena takut kehilangan cinta anak atau takut dianggap kuno. Akibatnya, anak tumbuh menjadi “raja kecil” yang tidak mengenal kata tidak. Mereka menjadi rapuh saat menghadapi penolakan dunia nyata dan cenderung melanggar aturan agama karena terbiasa hidup tanpa batasan.

Dalam tinjauan kejiwaan, anak sebenarnya membutuhkan struktur dan batasan yang jelas untuk merasa aman. Aturan ibarat pagar di tepi jurang; ia bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan untuk menyelamatkan nyawa. Islam sebagai agama nizhom (keteraturan) sangat menekankan pentingnya disiplin. Sholat ada waktunya, Puasa ada aturannya, dan Haji ada manasiknya. Semua ini melatih seorang Muslim untuk hidup disiplin sejak dini.

Langkah kelima ini adalah tentang bagaimana menegakkan wibawa orang tua dan menerapkan syari’at di rumah dengan cara yang mendidik, bukan menyiksa.

1. Membuat Kesepakatan Aturan Rumah yang Jelas dan Tegas

Anak tidak dilahirkan dengan membawa buku manual tentang mana yang benar dan mana yang salah. Kitalah yang harus menuliskannya di lembaran putih hati mereka. Masalah sering muncul ketika orang tua menghukum anak atas kesalahan yang aturannya belum pernah disepakati sebelumnya. Ini adalah bentuk kezholiman.

Sebelum memberikan sanksi, harus ada qonun (undang-undang) rumah tangga yang jelas. Rosululloh mengajarkan kita untuk menjelaskan batasan-batasan Alloh (hududulloh) kepada umatnya dengan terang benderang, sehingga tidak ada alasan bagi pelanggar untuk berkata “Aku tidak tahu”.

Alloh Ta’ala berfirman tentang ketegasan batasan hukum-Nya:

﴿تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Itulah batasan-batasan hukum Alloh, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 187)

Ayat ini mengajarkan prinsip pendidikan: Jelaskan batasannya, lalu larang mendekatinya.

Dalam konteks rumah tangga, buatlah aturan sederhana namun tegas, misalnya:

Aturan Ibadah: Sholat 5 waktu wajib berjamaah bagi laki-laki. Tidak ada tawar-menawar.

Aturan Gadget: HP hanya boleh dipakai setelah ashar sampai maghrib dan hanya di hari Ahad atau saat tugas sekolah. Konten porno dan kekerasan adalah “zona merah”.

Aturan Akhlak: Dilarang memukul, meludah, dan berkata kotor.

Aturan Izin: Keluar rumah harus izin orang tua.

Libatkan anak dalam membuat aturan ini (jika mereka sudah tamyiz atau berakal). Katakan: “Nak, kita buat aturan HP ya, supaya mata kamu sehat dan sholatmu terjaga. Kira-kira berapa jam sehari yang cukup?”

Ketika anak dilibatkan, mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mematuhinya. Ini disebut internalized discipline (disiplin yang tumbuh dari dalam).

Ingatlah wasiat Nabi kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma tentang batasan syari’at:

«احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ»

“Jagalah (batasan-batasan) Alloh, niscaya Dia akan menjagamu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Menjaga aturan rumah adalah latihan kecil untuk menjaga aturan Alloh kelak saat mereka dewasa. Jika aturan rumah saja mereka remehkan, bagaimana mereka akan menghormati hukum Alloh?

2. Tahapan Memberi Sanksi Sesuai Tuntunan Sunnah

Hukuman (iqob) dalam Islam bukanlah pelampiasan amarah, melainkan metode pendidikan (ta’dib). Tujuannya adalah islaah (perbaikan), bukan intiqom (balas dendam). Oleh karena itu, Islam mengatur tahapan sanksi yang sangat indah dan bertingkat, tidak langsung main pukul.

Rosululloh memberikan grand design (rancangan besar) pendidikan disiplin dalam sabda beliau yang sangat masyhur:

«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan Sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 495)

Hadits ini mengandung kurikulum pentahapan sanksi:

Tahap 1: Usia 0-7 Tahun (Masa Bermain dan Meniru)

Pada fase ini, tidak ada hukuman fisik. Anak belum mumayyiz sempurna. Kesalahan mereka adalah kelucuan atau ketidaktahuan. Metodenya adalah teladan dan pembiasaan lembut. Jika anak memukul, tahan tangannya dan katakan “Sayang, tidak boleh pukul.”

Tahap 2: Usia 7-10 Tahun (Masa Perintah dan Disiplin Verbal)

Ini adalah masa tamrin (latihan). Kita punya waktu 3 tahun (7, 8, 9 tahun) yang berisi kira-kira 5.400 waktu Sholat untuk menyuruh, mengajak, dan mengingatkan.

Jika anak melanggar, sanksinya adalah:

Teguran Lisan: Mengingatkan dengan tegas namun tidak kasar.

Wajah Masam: Menunjukkan ketidaksukaan (disapproval) lewat ekspresi wajah. Anak yang hatinya sensitif akan langsung sadar jika orang tuanya diam atau memalingkan wajah.

Hajar (Boikot Sementara): Mendiamkan anak atau tidak mengajaknya bicara sebentar. Ini sangat efektif bagi anak yang haus perhatian.

Rosululloh pernah mendiamkan Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya selama 50 hari karena tidak ikut perang Tabuk tanpa udzur syar’i. Ini adalah sanksi psikologis yang berat namun menyucikan jiwa. (Lihat QS. At-Taubah: 118)

Tahap 3: Usia 10 Tahun ke Atas (Masa Konsekuensi Fisik)

Jika nasihat lisan tidak mempan, boikot tidak digubris, dan anak tetap meninggalkan kewajiban (seperti Sholat), barulah diperbolehkan sanksi fisik berupa pukulan yang mendidik (dhorban ghoiru mubarrih).

Syarat pukulan ini sangat ketat:

1)  Tidak boleh melukai, mematahkan tulang, atau meninggalkan bekas lebam.

2)  Tidak boleh dalam keadaan emosi meledak-ledak.

3)  Tujuannya untuk memberi efek kejut (shock therapy), bukan menyakiti fisik.

4)  Alatnya tidak boleh benda keras yang berbahaya.

Pukulan adalah jalan terakhir (ultimum remedium), seperti operasi amputasi yang dilakukan dokter jika obat lain tidak mempan.

3. Larangan Keras Memukul Wajah dan Mencela Fisik

Meskipun Islam membolehkan pukulan bersyarat di usia 10 tahun, namun ada area terlarang yang harom disentuh, yaitu wajah. Wajah adalah tempat berkumpulnya panca indera dan kemuliaan manusia. Memukul wajah (menampar) berarti menghinakan ciptaan Alloh.

Rosululloh bersabda dengan tegas:

«إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ»

“Apabila salah seorang dari kalian memukul saudaranya, maka hendaklah ia menjauhi (memukul) wajah.” (HR. Muslim no. 2612)

Dalam riwayat lain yang lebih spesifik tentang budak (dan bisa dikiaskan pada anak dalam hal larangan menzholimi):

«لَا تَضْرِبُوا الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحُوا»

“Janganlah kalian memukul wajah dan janganlah kalian menjelek-jelekkan (mencela fisik).” (HSR. Abu Dawud no. 4452)

Secara psikologis, tamparan di wajah memberikan trauma mendalam. Ia meruntuhkan harga diri anak seketika. Anak yang sering ditampar akan tumbuh menjadi pengecut yang minder, atau sebaliknya menjadi preman yang sadis. Syaraf-syaraf di wajah juga sangat sensitif dan terhubung langsung ke otak, sehingga pukulan di area ini berisiko cacat permanen.

Selain fisik, dilarang juga mencela fisik (verbal abuse).

Kata-kata seperti: “Dasar otak udang!”, “Goblok!”, “Mata kamu buta ya?” adalah harom diucapkan oleh lisan orang tua Mu’min. Panggilan buruk (laqob) dilarang keras dalam Al-Qur’an:

﴿وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.” (QS. Al-Hujurot: 11)

Mendidik anak nakal dengan cara mem-bully fisiknya tidak akan membuatnya sholih, justru akan membuatnya dendam. Ia akan menyimpan luka itu dan kelak akan membalasnya kepada anak-anaknya atau bahkan kepada kita saat kita tua renta.

4. Konsistensi Orang Tua: Kunci Keberhasilan Disiplin

Inilah bagian tersulit dari mendidik: istiqomah (konsistensi).

Banyak aturan rumah gugur bukan karena aturannya jelek, tapi karena polisinya (orang tua) “masuk angin” atau tidak konsisten.

Hari ini dilarang main HP, besok dibolehkan karena Ibu lagi sibuk masak biar anak diam. Hari ini dipukul karena tidak Sholat, besok dibiarkan tidak Sholat karena Ayah lagi capek kerja.

Sikap plin-plan (inconsistent) ini membuat anak bingung (confused). Anak akan berpikir: “Aturan ini tidak serius. Tergantung mood Ayah Ibu saja.”

Akhirnya, anak belajar menjadi manipulator. Mereka akan membaca suasana hati orang tua. Kalau orang tua lagi senang, mereka melanggar aturan. Kalau orang tua lagi marah, mereka pura-pura baik. Ini adalah cikal bakal sifat munafik.

Rosululloh sangat menekankan pentingnya menepati janji dan konsisten, bahkan kepada anak kecil.

Abdullah bin Amir rodhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rosululloh sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata: ‘Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.’ Maka Rosululloh bertanya kepada ibuku: ‘Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Aku akan memberinya kurma.’ Lalu Rosululloh bersabda kepadanya:

«أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ»

‘Adapun jika engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya akan dicatat atasmu satu kedustaan.’” (HHR. Abu Dawud no. 4991)

Lihatlah betapa detailnya Nabi menjaga konsistensi. Jika bilang “mau kasih”, ya harus dikasih. Jika bilang “mau hukum”, ya harus dihukum. Jangan mengancam kosong (bluffing).

“Awas ya kalau tidak Sholat Ashar, nanti Ayah larang makan malam!”

Tapi saat anak nakal, ancaman itu tidak dilaksanakan. Anak akan belajar bahwa perkataan Ayahnya adalah omong kosong. Wibawa orang tua runtuh seketika.

Oleh karena itu, prinsip ketegasan adalah:

Sedikit bicara, banyak tindakan, jangan banyak mengancam. Jika aturan dilanggar, langsung terapkan konsekuensi yang sudah disepakati dengan tenang tanpa emosi.

Kompak antara ayah dan ibu. Jangan sampai Ayah melarang, Ibu membolehkan. Ini celah yang akan dimanfaatkan anak untuk mengadu domba. Jadilah satu suara (one voice).

Tega demi kebaikan. Menghukum anak yang kita cintai itu sakit rasanya. Tapi kita harus tega demi menyelamatkan masa depan mereka. Seperti dokter yang tega menyuntik pasien demi kesembuhan.

Ketegasan yang konsisten akan melahirkan rasa aman. Anak tahu persis di mana garis batasnya. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai hukum, menepati janji, dan disiplin dalam ibadah. Inilah buah manis dari ketegasan yang dibingkai dengan syari’at.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url