LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: KEADILAN DAN PEMENUHAN HAK EMOSIONAL
Pernahkah
Anda melihat seorang anak yang tiba-tiba memukul adiknya tanpa sebab yang
jelas? Atau seorang kakak yang menjadi pembangkang sejak kelahiran adiknya yang
baru? Jika ya, kemungkinan besar ada masalah dalam “timbangan keadilan”
di rumah Anda.
Anak-anak
memiliki radar keadilan yang sangat sensitif. Mereka bisa merasakan ketimpangan
kasih sayang sekecil apapun. Dalam psikologi, ketidakadilan ini melahirkan sibling
rivalry (persaingan antar saudara) yang berujung pada perilaku agresif
(nakal). Islam sebagai agama yang sempurna telah meletakkan keadilan sebagai
pondasi utama dalam muamalah, termasuk muamalah orang tua terhadap
anak-anaknya.
Langkah
keempat ini mengajak kita untuk mengevaluasi kembali: Apakah kenakalan anak
kita murni karena karakter buruknya, ataukah itu adalah teriakan protes atas
ketidakadilan yang kita lakukan?
1.
Bahaya Pilih Kasih Antara Saudara Kandung
Pilih kasih
(favoritisme) adalah racun yang mematikan hubungan persaudaraan dan
merusak jiwa anak. Anak yang diistimewakan akan tumbuh menjadi pribadi yang
sombong dan manja, sedangkan anak yang dikesampingkan akan tumbuh dengan rasa
rendah diri (insecurity), dendam, dan kebencian.
Sejarah
mencatat kisah pilu Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang dibuang ke sumur oleh
saudara-saudaranya. Apa penyebabnya? Bukan karena saudara-saudaranya jahat
sejak lahir, melainkan karena rasa cemburu (hasad) yang membakar hati mereka
melihat kecintaan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang lebih besar kepada
Yusuf. Ya’qub sudah berusaha adil dalam nafkah dan perhatian kepada
anak-anaknya, tetapi cinta tidak bisa dibohongi.
Alloh Ta’ala
mengabadikan curahan hati mereka dalam Al-Qur’an:
﴿إِذْ قَالُوا
لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا
لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾
“(Ingatlah),
ketika mereka berkata: ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bun-yamin)
lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah
satu golongan yang kuat. Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.’” (QS. Yusuf: 8)
Lihatlah!
Ketimpangan cinta bisa membuat anak menilai ayahnya “sesat” (keliru) dan
merencanakan pembunuhan. Jika anak Nabi saja bisa cemburu sedemikian hebat,
apalagi anak-anak kita. Oleh karena itu, Rosululloh ﷺ memperingatkan dengan sangat
keras agar orang tua berlaku adil, bahkan dalam hal pemberian hadiah atau
ciuman.
Dalam
Hadits yang diriwayatkan oleh An-Nu’man bin Basyir (64 H) rodhiyallahu ‘anhuma,
beliau menceritakan bahwa ayahnya pernah memberinya seorang budak, namun ibunya
menolak kecuali jika Rosululloh ﷺ menyaksikannya. Maka ayahnya
datang kepada Nabi ﷺ.
Nabi
bertanya: “Apakah engkau memberikan hal yang sama kepada seluruh
anak-anakmu?”
Ayahnya
menjawab: “Tidak.”
Maka
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ»
“Maka
bertaqwalah kepada Alloh dan berlakulah adil di antara anak-anak kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 2587 dan
Muslim no. 1623)
Dalam
riwayat lain Nabi ﷺ
bersabda dengan nada yang lebih tegas:
«أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ
فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟»
“Bukankah
engkau senang jika mereka (anak-anakmu) semuanya sama dalam berbakti kepadamu?” (HR. Muslim no. 1623)
Ini adalah
poin psikologis yang jenius. Jika kita ingin semua anak kita berbakti (tidak
nakal), maka kitalah yang harus adil lebih dulu. Ketidakadilan akan melahirkan
pembangkangan pada anak yang merasa terzholimi. Mereka akan mencari perhatian
dengan cara negatif: merusak mainan kakaknya, mengompol kembali, atau mogok
makan, semata-mata agar mata orang tua tertuju padanya.
2.
Memenuhi Tangki Cinta Anak: Perhatian dan Kasih Sayang
Setiap anak
terlahir dengan membawa “tangki cinta” (love tank) dalam jiwanya. Tangki
ini harus diisi penuh dengan kasih sayang, perhatian, dan waktu berkualitas.
Jika tangki ini kosong, anak akan “mogok” atau “rusak mesinnya”
(berperilaku buruk).
Banyak
orang tua merasa sudah memenuhi kebutuhan anak hanya dengan membelikan mainan mahal,
gadget terbaru (ini keliru), atau menyekolahkan di sekolah elit. Padahal, mata
uang cinta bagi anak bukanlah rupiah atau dolar, melainkan waktu.
Anak yang “nakal”
seringkali adalah anak yang “lapar emosi”. Mereka melakukan kenakalan
sebagai sinyal SOS: “Lihat aku! Perhatikan aku! Aku ada di sini!”
Lebih
baik dimarahi tapi diperhatikan, daripada didiamkan dan tidak dianggap. Inilah
logika anak yang tangki cintanya kosong.
Islam
mengajarkan pemenuhan hak emosional ini dengan sangat indah. Rosululloh ﷺ tidak pernah terlalu sibuk
untuk anak-anak. Di tengah kesibukan mengurus negara dan umat, beliau masih
menyempatkan diri untuk membiarkan cucunya (Umamah binti Zainab) menaiki
punggung beliau saat Sholat.
Beliau juga
memanjangkan sujudnya hanya karena Al-Hasan atau Al-Husain menaiki punggungnya.
Sahabat bertanya heran, dan beliau menjawab:
«وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ
أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»
“Tetapi
anakku ini menunggangiku, maka aku tidak suka memburu-burunya hingga ia
menyelesaikan hajatnya (bermain).” (HSR. An-Nasai no. 1141)
Bayangkan!
Ibadah teragung (Sholat) disesuaikan temponya demi menjaga perasaan anak.
Beliau tidak membentak: “Turun! Kakek sedang Sholat!”, tetapi beliau
menunggu sampai anak itu puas. Ini adalah pemenuhan kebutuhan bermain dan kasih
sayang (emotional bonding).
Jika
Rosululloh ﷺ
saja menunda bangkit dari sujud demi perasaan anak, lantas apa alasan kita
mengabaikan anak hanya karena sibuk membalas pesan whatsApp atau menonton
berita? Mari kita isi tangki cinta mereka dengan:
Hadir
Sepenuhnya: Saat
bersama anak, letakkan dunia. Jadilah milik mereka seutuhnya.
Mendengarkan
Ceritanya: Walaupun
ceritanya tidak penting bagi kita, itu adalah hal paling penting bagi mereka.
Kata-kata
Sayang: Ucapkan “Ibu
sayang kamu” setiap hari. Jangan gengsi.
3.
Memberikan Apresiasi dan Hadiah atas Kebaikan Sekecil Apapun
Manusia,
secara fithroh, menyukai pujian dan penghargaan. Ini adalah motivasi terbesar
untuk berbuat baik. Namun sayangnya, kita seringkali “pelit” memuji tapi
“boros” mencela. Kita diam saja saat anak berbuat baik 100 kali, tapi
langsung berteriak saat anak berbuat salah 1 kali.
Akibatnya,
anak merasa: “Percuma berbuat baik, tidak ada yang peduli. Tapi kalau aku
nakal, Ayah langsung datang (marah).” Akhirnya, mereka memilih menjadi
nakal agar diperhatikan.
Untuk
mengubah perilaku buruk menjadi baik, kita harus membalik rumusnya: perbesar
apresiasi, perkecil kritik.
Dalam Islam,
konsep ini disebut At-Targhib (memberi motivasi/kabar gembira) dan Asy-Syukur
(berterima kasih). Alloh Ta’ala sendiri menamai Diri-Nya Asy-Syakur
(Yang Maha Mensyukuri), artinya Alloh menghargai amal hamba-Nya sekecil apapun
dengan balasan yang berlipat ganda.
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ﴾
“Sesungguhnya
Alloh mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak
bersyukur.” (QS.
Al-Baqoroh: 243)
Rosululloh ﷺ juga mengajarkan kita untuk
memberikan hadiah sebagai sarana mempererat cinta:
«تَهَادُوا تَحَابُّوا»
“Saling
memberilah hadiah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HHR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod
no. 594)
Hadiah
tidak harus barang mahal. Bagi anak, hadiah bisa berupa:
Pujian
lisan: “Masya
Alloh, Kakak hebat sudah bantu Ibu menyapu.”
Sentuhan
fisik: Acungan
jempol, pelukan hangat, atau ciuman di kening.
Keistimewaan
kecil: “Karena
Adik sudah Sholat tepat waktu, hari ini boleh pilih menu makan malam.”
Prinsip
psikologinya adalah positive reinforcement (penguatan positif). Perilaku
yang diberi penghargaan cenderung akan diulang. Jika kita ingin anak rajin
belajar, pujilah saat ia memegang buku, bukan memarahinya saat ia memegang HP.
Namun ingat,
pujian harus spesifik dan jujur. Jangan memuji berlebihan (lebay) yang membuat
anak sombong. Pujilah “usahanya”, bukan “hasilnya” atau “kecerdasannya”.
Contoh: “Bagus, Ayah bangga kamu sudah berusaha keras menghafal ayat ini,”
lebih baik daripada “Wah, kamu memang jenius!”
4.
Memahami Karakter Unik Setiap Anak yang Berbeda-beda
Kesalahan
fatal lainnya dalam mendidik adalah menyamaratakan semua anak (stereotyping).
Kita sering membanding-bandingkan: “Lihat tuh Kakakmu, dia penurut. Kenapa
kamu bandel?”
Kalimat ini
adalah pembunuh karakter nomor satu.
Setiap anak
adalah mahakarya Alloh yang unik. Mereka memiliki fithroh dan bakat bawaan yang
berbeda-beda. Memaksa anak pendiam menjadi periang, atau memaksa anak
kinestetik (aktif bergerak) untuk duduk diam berjam-jam, adalah bentuk
kezholiman yang melahirkan “kenakalan”.
Anak yang
aktif bergerak sering dilabeli “nakal” atau “hiperaktif”, padahal
mungkin dia memiliki kecerdasan kinestetik yang butuh penyaluran. Jika kita
memahaminya, kita tidak akan memarahinya, melainkan memfasilitasinya dengan
kegiatan fisik atau olahraga.
Para
Shohabat Nabi pun memiliki karakter yang beragam, dan Nabi ﷺ mendidik mereka sesuai
keunikannya masing-masing:
Abu Bakr
Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu berkarakter lembut dan penyayang.
Umar bin
Khoththob rodhiyallahu ‘anhu berkarakter tegas dan keras dalam
kebenaran.
Kholid bin
Walid rodhiyallahu ‘anhu berkarakter prajurit yang gagah berani.
Nabi ﷺ tidak pernah memaksa Umar
menjadi lembut seperti Abu Bakr, atau memaksa Abu Bakr menjadi panglima perang
seperti Khalid. Beliau memuji kelebihan masing-masing dan menempatkan mereka
pada posisi yang tepat (the right man in the right place).
Beliau
bersabda memuji keragaman umatnya:
«أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ،
وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ،
وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ
بْنُ ثَابِتٍ، وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ
هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ»
“Umatku
yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakr, yang paling tegas dalam
perintah Alloh adalah Umar, dan yang paling jujur rasa malunya adalah Utsman,
yang paling mengetahui ilmu faroidh adalah Zaid bin Tsabit, yang paling bagus
bacaan Qur’annya adalah Ubai bin Ka’ab, dan setiap umat memiliki amiin (orang
yang paling amanah) sementara amiin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarroh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3790)
Pelajaran
bagi orang tua:
Kenali
Karakter Anak:
Apakah dia tipe visual (belajar dengan melihat), auditori
(mendengar), atau kinestetik (gerak)? Apakah dia introvert atau ekstrovert?
Jangan
Membandingkan: Setiap
anak punya zona waktunya sendiri. Ada yang cepat bicara, ada yang cepat jalan.
Jangan panik dan jangan menghina yang lambat.
Fokus
pada Kelebihan:
Jika anak lemah di matematika tapi jago menggambar, dukunglah bakat
menggambarnya (selama tidak melanggar syari’at), sambil tetap memotivasinya
memperbaiki nilai matematika tanpa tekanan berlebihan.
Anak yang
merasa diterima apa adanya (unconditional acceptance) akan merasa
nyaman. Rasa nyaman inilah yang mematikan keinginan untuk berbuat nakal. Mereka
tidak perlu memberontak untuk membuktikan diri, karena mereka sudah merasa
berharga di mata orang tuanya.
Keadilan dalam membagi cinta, apresiasi, dan pemahaman karakter adalah kunci untuk membuka gembok hati anak. Jika Langkah Keempat ini terpenuhi, maka anak akan siap menerima disiplin dan aturan yang akan kita bahas di bab selanjutnya.
