Cari Artikel

Mempersiapkan...

LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: SENI KOMUNIKASI YANG MENYENTUH HATI

 

Banyak orang tua yang mengeluh, “Anak saya susah diatur,” atau “Anak saya membantah terus.” Padahal, jika ditelisik lebih dalam, masalah utamanya bukan pada telinga anak yang tuli, melainkan pada frekuensi komunikasi yang tidak tersambung. Kita berbicara di frekuensi AM, sementara anak berada di frekuensi FM. Akibatnya, yang terdengar hanyalah suara “kresek-kresek” yang mengganggu, bukan pesan yang jelas.

Dalam tinjauan kejiwaan, anak-anak yang dianggap “nakal” seringkali melakukan resistensi (penolakan) bukan terhadap isi nasihatnya, melainkan terhadap cara nasihat itu disampaikan. Mereka merasa diserang, dipojokkan, dan tidak dihargai sebagai manusia. Oleh karena itu, Islam mengajarkan seni bicara yang agung, yang disebut qoulan sadida (perkataan yang benar) dan qoulan layyina (perkataan yang lemah lembut).

Di bab ini, kita akan membedah bagaimana Rosululloh , sang komunikator terbaik sepanjang masa, menaklukkan hati manusia—bukan dengan pedang, melainkan dengan lisan yang mempesona dan telinga yang setia mendengar.

1. Menjadi Pendengar yang Baik bagi Keluh Kesah Anak

Salah satu kesalahan fatal dalam pengasuhan adalah orang tua terlalu banyak bicara (over-talking) dan terlalu sedikit mendengar (under-listening). Kita merasa bahwa mendidik itu sama dengan menceramahi. Padahal, mendidik dimulai dari mendengar.

Anak yang “nakal” seringkali menyimpan “sampah emosi” di dalam dadanya. Jika sampah ini tidak dikeluarkan, ia akan membusuk dan meledak menjadi perilaku buruk. Cara mengeluarkannya adalah dengan mendengarkan curhatannya.

Rosululloh memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Beliau adalah pendengar yang paling baik. Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah berkisah panjang lebar tentang 11 wanita yang menceritakan suami mereka (kisah Ummu Zar’), dan Nabi mendengarkan dengan seksama tanpa memotong sedikitpun, lalu menanggapi dengan indah di akhir cerita.

Bahkan, Alloh Ta’ala sendiri “Mendengar” keluhan seorang wanita yang datang kepada Nabi . Perhatikanlah firman Alloh dalam pembukaan surat Al-Mujadilah:

﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sungguh Alloh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Alloh. Dan Alloh mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Lihatlah bagaimana Alloh menggunakan kata tahawurokuma (dialog antara kalian berdua). Ini menunjukkan adanya interaksi dua arah. Nabi tidak mendominasi, tapi mendengarkan gugatan wanita tersebut (Khoulah binti Tsa’labah).

Dalam psikologi komunikasi, teknik ini disebut active listening (mendengar aktif). Cirinya adalah:

Hadir Utuh: Letakkan HP, matikan TV, dan hadapkan seluruh tubuh ke arah anak.

Kontak Mata: Tatap matanya dengan lembut, sejajarkan tinggi badan jika anak masih kecil.

Respon Empatik: Anggukkan kepala, gumamkan “Oh begitu...”, “Terus...”, “Masya Alloh...”.

Jangan pernah memotong pembicaraan anak dengan kalimat: “Ah, itu saja kok nangis!” atau “Makanya dengerin kata Ibu!”. Kalimat ini mematikan keberanian anak untuk bercerita. Jika anak sudah enggan bercerita kepada orang tuanya, dia akan mencari pendengar lain di luar sana—dan itulah awal mula musibah pergaulan bebas.

2. Teknik Menegur yang Efektif Tanpa Melukai Hati

Anak pasti berbuat salah, dan itu wajar. Tugas kita adalah meluruskan (taqwim), bukan mematahkan. Banyak orang tua yang saat menegur, justru menyerang kepribadian anak, bukan perilakunya.

Contoh teguran yang salah (menyerang pribadi): “Dasar anak bodoh! Gitu aja nggak bisa!” atau “Kamu ini nakal sekali persis bapakmu!”

Ini melukai harga diri (izzah) anak. Luka di tubuh bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka di hati karena kata-kata bisa terbawa sampai mati.

Islam mengajarkan kita untuk membenci maksiatnya, bukan pelakunya. Kita harus memisahkan antara “Anakku Sayang” dengan “Perilaku Buruknya”.

Rosululloh mengajarkan teknik menegur yang sangat elegan. Beliau tidak pernah mempermalukan pelaku kesalahan di depan umum. Seringkali beliau menggunakan kalimat sindiran halus (ma baalu aqwamin - “Apa gerangan keadaan kaum yang melakukan begini dan begitu...”), tanpa menyebut nama.

Namun, jika harus menegur secara personal, lakukanlah dengan metode “sandwich” (roti lapis): puji - tegur - doakan.

Awali dengan kebaikan, sisipkan teguran di tengah, dan tutup dengan harapan positif.

Perhatikan bagaimana Nabi menegur Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma agar lebih rajin Sholat Malam:

«نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ»

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, seandainya dia mau melakukan Sholat Malam.” (HR. Al-Bukhori no. 1122 dan Muslim no. 2479)

Lihatlah susunannya:

Pujian: “Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah...” (Ini mengangkat jiwa dan harga diri).

Teguran/Saran: “...seandainya dia mau melakukan Sholat Malam.” (Ini inti nasihatnya, disampaikan dengan pengandaian yang halus).

Dampaknya? Salim (anak Ibnu Umar) menceritakan bahwa setelah itu ayahnya tidak pernah tidur malam kecuali sedikit sekali (selalu Sholat Malam). Teguran yang memuliakan akan melahirkan ketaatan yang tulus. Sebaliknya, teguran yang menghina akan melahirkan pembangkangan atau kemunafikan.

Jangan gunakan kalimat “JANGAN!” secara berlebihan tanpa penjelasan. Otak anak sulit memproses kata negasi (peniadaan) tanpa instruksi pengganti. Daripada berteriak “Jangan lari-lari!”, lebih baik katakan “Nak, jalan pelan-pelan ya.” Daripada “Jangan teriak!”, katakan “Bicaranya pelan saja, Ibu dengar kok.”

3. Memilih Waktu Terbaik untuk Memberi Nasihat (Qoulan Layyina)

Nasihat itu ibarat obat. Jika diberikan pada waktu yang salah, ia bisa menjadi racun. Atau ibarat benih, jika ditabur di tanah yang sedang keras dan kering, ia tidak akan tumbuh. Kita harus menunggu “tanah” (hati) anak menjadi gembur.

Kapan waktu yang dilarang atau tidak efektif untuk menasihati anak “nakal”?

Saat Marah Memuncak: Jangan mendidik saat emosi. Nabi bersabda:

«لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ»

“Janganlah seorang hakim memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah.” (HR. Al-Bukhori no. 7158)

Orang tua adalah hakim bagi anak-anaknya. Jika marah, diamlah dulu.

Saat Anak Lapar atau Lelah: Kondisi fisik yang lemah membuat emosi tidak stabil.

Di Depan Teman-temannya: Menasihati di depan umum adalah penghinaan (fadhihah), bukan nasihat (nashihah). Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh berkata dalam syairnya:

“Sengajalah menasihatiku saat aku sendirian... Karena nasihat di tengah khalayak adalah satu jenis penghinaan yang tak sudi aku dengarkan.”

Lalu, kapan waktu terbaik?

Carilah waktu-waktu mustajab secara psikologis dan syar’i, seperti:

Waktu Makan: Saat perut terisi, hati lebih tenang. Rosululloh sering menasihati anak tirinya, Umar bin Abi Salamah, saat makan bersama:

«يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai Nak, sebutlah nama Alloh (baca Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dalam Perjalanan (Boncengan/Mobil): Suasana santai membuat obrolan lebih masuk. Nabi membonceng Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhum sambil memberikan wasiat-wasiat agung.

Sebelum Tidur (Hypnoparenting): Saat gelombang otak anak masuk ke fase Alpha/Theta (rileks), nasihat akan mudah menembus alam bawah sadar. Bisikkan kata-kata cinta, maafkan kesalahannya hari itu, dan bacakan doa.

Gunakanlah qoulan layyina (perkataan yang lemah lembut). Bahkan kepada Fir’aun yang mengaku tuhan pun, Alloh memerintahkan Musa dan Harun untuk bicara lembut:

﴿فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 44)

Jika kepada Fir’aun yang kafir saja harus lembut, apalagi kepada anak kita sendiri yang beriman? Teriakan keras hanya akan membuat anak menutup telinganya, tapi kelembutan akan membuka hatinya.

4. Bahasa Tubuh dan Sentuhan Kasih Sayang yang Menentramkan

Komunikasi bukan hanya soal kata-kata (verbal), tapi juga bahasa tubuh (non-verbal). Penelitian menunjukkan bahwa dampak komunikasi ditentukan oleh: 7% kata-kata, 38% intonasi suara, dan 55% bahasa tubuh. Artinya, wajah yang masam dan tangan yang berkacak pinggang akan lebih “didengar” oleh anak daripada isi nasihat kita.

Salah satu bahasa tubuh terkuat adalah sentuhan (touch).

Sentuhan fisik seperti pelukan, usapan kepala, atau tepukan di bahu, merangsang keluarnya hormon oksitosin (hormon cinta) dan menurunkan hormon kortisol (stres). Anak yang “nakal” dan agresif seringkali adalah anak yang “haus sentuhan” (skin hunger).

Rosululloh tidak ragu untuk menyentuh para Shohabat dan anak-anak.

Lihatlah bagaimana beliau memegang tangan Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu sebelum memberi nasihat penting:

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»

“Wahai Mu’adz, demi Alloh, sungguh aku mencintaimu. Demi Alloh, sungguh aku mencintaimu.” (HSR. Abu Dawud no. 1522)

Bayangkan perasaan Mu’adz! Tangannya digenggam oleh manusia termulia, lalu didoakan dan dinyatakan cinta. Tentu setelah itu, apapun yang diperintahkan Nabi akan ia laksanakan dengan sepenuh hati.

Pernahkah kita memegang tangan anak kita, menatap matanya, lalu berkata: “Nak, Ayah sayang sama kamu. Ayah tegur kamu karena Ayah ingin kita masuk Surga bareng-bareng”?

Sentuhan ini akan meluruhkan kerasnya hati anak yang membatu.

Nabi juga sering mengusap kepala anak-anak dan mendoakan keberkahan. Beliau pernah mengusap pipi Jabir bin Samurah rodhiyallahu ‘anhu yang masih kecil. Jabir berkata: “Aku merasakan tangan beliau dingin dan berbau wangi, seolah-olah baru dikeluarkan dari tempat minyak wangi tukang parfum.” (HR. Muslim no. 2329)

Sentuhan-sentuhan kecil ini—mengusap kepala saat anak belajar, memijat bahunya saat lelah, memeluknya saat ia menangis—adalah “baterai” jiwa. Jika baterai kasih sayangnya penuh, ia tidak akan rewel. Namun jika baterai itu kosong, ia akan mencari perhatian dengan cara merusak (nakal).

Kesimpulannya, seni komunikasi dalam Islam adalah seni memenangkan hati. Menangkan hatinya, maka engkau akan memenangkan kepatuhannya. Jangan harap anak akan patuh jika hatinya lari dari kita.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url