LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: KETELADANAN YANG BAIK (USWAH HASANAH)
Dalam dunia
pendidikan anak, ada sebuah kaidah emas yang tidak bisa ditawar: “Lisanul
hal afshohu min lisanil maqol” (Bahasa perbuatan itu lebih fasih daripada
bahasa lisan). Seribu nasihat yang kita ucapkan akan lenyap ditelan angin jika
perilaku kita justru mencontohkan sebaliknya.
Anak-anak
yang dianggap “nakal” seringkali hanyalah cermin yang memantulkan
bayangan orang tuanya yang retak. Mereka berteriak karena melihat kita
berteriak. Mereka memukul karena melihat kita ringan tangan. Mereka berbohong
karena melihat kita sering ingkar janji. Oleh karena itu, langkah kedua dalam
mendidik anak nakal adalah menjadi uswah hasanah (teladan yang baik).
Kita tidak bisa memaksa bayangan di cermin menjadi lurus jika objek aslinya
bengkok.
1.
Orang Tua adalah Cermin: Anak Meniru Apa yang Dilihat
Psikologi
perkembangan menegaskan bahwa metode belajar paling dasar bagi manusia adalah imitation
(peniruan). Sejak bayi, otak anak merekam setiap gerakan, mimik wajah, dan
intonasi suara orang di sekitarnya, lalu memutar ulang rekaman itu dalam
perilaku mereka.
Alloh Ta’ala
mengutus Nabi Muhammad ﷺ
bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi sebagai role model hidup
yang bisa dilihat dan ditiru. Alloh berfirman:
﴿لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾
“Sungguh
telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak
menyebut Alloh.” (QS.
Al-Ahzab: 21)
Ayat ini
mengajarkan kita bahwa pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan. Jika
Rosululloh ﷺ
mendidik para Shohabat dengan akhlak beliau sebelum dengan kata-kata beliau,
maka kita pun harus demikian.
Ada sebuah
syair Arob kuno yang menyindir orang tua yang menyuruh anaknya berjalan lurus,
padahal ia sendiri berjalan miring (seperti kepiting):
“Bagaimana
mungkin bayangan itu lurus, sedangkan tongkatnya bengkok?”
Jika kita
ingin anak kita rajin Sholat ke Masjid, jangan suruh mereka berangkat sambil kita
asyik nonton TV. Tapi, gandeng tangan mereka, ajak berwudhu bersama, dan
melangkahlah bersama ke rumah Alloh. Jika kita ingin anak kita berkata santun,
pastikan tidak pernah keluar satu pun kata kotor atau umpatan dari mulut kita,
bahkan saat kita sedang marah sekalipun.
Anak yang
melihat ayahnya menghormati ibunya, akan tumbuh menjadi laki-laki yang
menghargai wanita. Anak yang melihat ibunya taat dan melayani ayahnya dengan
penuh kasih, akan tumbuh menjadi wanita yang sholihah. Inilah kurikulum tanpa
suara, namun efeknya menembus jiwa.
2.
Keselarasan antara Ucapan dan Perbuatan dalam Mendidik
Salah satu
penyebab utama kenakalan dan pemberontakan anak (rebellious behavior)
adalah hilangnya kepercayaan (trust) kepada orang tua. Kepercayaan ini
runtuh ketika anak melihat adanya kemunafikan: Ayah menyuruhku jujur, tapi Ayah
berbohong kepada tamu. Ibu menyuruhku sabar, tapi Ibu sering membanting pintu
saat marah.
Ketidakselarasan
antara ucapan dan perbuatan ini adalah perkara yang sangat dibenci oleh Alloh.
Alloh Ta’ala memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:
﴿يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ
اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shoff: 2-3)
Istilah maqtan
dalam ayat ini bermakna kebencian yang sangat besar. Sungguh mengerikan jika
usaha kita mendidik anak justru mendatangkan murka Alloh karena kita tidak
mengamalkan apa yang kita ucapkan.
Ibnu
Qudamah (620 H) dalam kitabnya Minhajul Qoshidin menjelaskan bahwa seorang
pendidik yang perilakunya menyelisihi ucapannya, ibarat orang yang menulis di
atas air; tidak akan berbekas.
Anak-anak
memiliki “radar” yang sangat sensitif terhadap ketidaktulusan. Jika
mereka mendapati kita tidak konsisten, mereka akan kehilangan rasa hormat (respect).
Dan ketika rasa hormat itu hilang, maka pintu kenakalan akan terbuka lebar.
Mereka akan berkata dalam hati: “Ah, Ayah juga begitu kok.”
Maka, wahai
Ayah Bunda, sebelum memerintah anak untuk tidak main HP terus-menerus,
letakkanlah HP kita. Tatap mata mereka. Hadirkan jiwa kita untuk mereka.
Keteladanan menuntut pengorbanan hawa nafsu kita sendiri demi kebaikan anak.
3.
Meneladani Kelembutan Rosululloh ﷺ
kepada Anak-Anak
Banyak
orang tua yang salah kaprah, mengira bahwa mendidik anak harus dengan wajah
garang, suara keras, dan tangan yang siap memukul agar anak menjadi “disiplin”.
Padahal, kekerasan justru melahirkan jiwa yang kerdil atau justru pemberontak.
Rosululloh ﷺ,
panglima perang yang gagah berani, adalah sosok yang paling lembut kepada
anak-anak.
Mari kita
simak kesaksian Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, yang telah melayani
Nabi ﷺ
sejak usia 10 tahun. Beliau menceritakan pengalaman indahnya:
«خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ،
وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ،؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ»
“Aku
telah melayani Rosululloh ﷺ selama sepuluh tahun. Demi
Alloh, beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘Ah’ (Uff) sama sekali, dan beliau
tidak pernah berkata kepadaku terhadap apa yang aku kerjakan: ‘Kenapa engkau
melakukan ini?’, dan tidak pula (terhadap apa yang tidak aku kerjakan): ‘Kenapa
engkau tidak melakukan ini?’” (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan Muslim no. 2309)
Bayangkan!
Sepuluh tahun berinteraksi dengan anak kecil (Anas), dan Nabi ﷺ tidak pernah mencela, tidak pernah mengomel,
dan tidak pernah memprotes kesalahan Anas. Ini bukan berarti Nabi ﷺ membiarkan kesalahan, tetapi beliau mendidik
dengan cara yang tidak mempermalukan. Jika Anas salah, Nabi ﷺ akan membimbingnya tanpa menyakiti hatinya.
Sikap kasar
dan kaku justru menjauhkan anak dari kebaikan. Pernah suatu ketika, seorang
Badui bernama Al-Aqro’ bin Habis melihat Nabi ﷺ mencium cucu beliau, Al-Hasan
bin Ali. Al-Aqro’ merasa heran dan berkata: “Aku memiliki sepuluh orang
anak, namun aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka.”
Maka
Rosululloh ﷺ
menatapnya dan bersabda:
«مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ»
“Siapa
yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhori no. 5997 dan
Muslim no. 2318)
Hadits ini
adalah tamparan bagi orang tua yang gengsi menunjukkan kasih sayang kepada
anak. Mencium anak, memeluk mereka, dan bermain kuda-kudaan bersama mereka
bukanlah tindakan yang mengurangi wibawa. Justru itulah yang akan membasahi
jiwa anak dengan kasih sayang, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang
lembut dan penurut. Anak yang “kering” dari sentuhan fisik orang tua
akan mencari pelampiasan di luar, dan seringkali pelampiasan itu adalah
kenakalan.
4.
Menjadi Idola bagi Anak agar Mereka Tidak Mencari Idola di Luar
Setiap anak
membutuhkan sosok pahlawan atau idola dalam hidupnya. Secara fithroh, idola
pertama mereka adalah orang tuanya. Namun, seiring bertambahnya usia, jika
orang tua gagal menampilkan sosok yang “mengagumkan” dan “menyenangkan”,
anak akan mencari idola lain.
Di zaman
digital ini, saingan kita sangat berat. Ada YouTuber, selebgram, penyanyi
K-Pop, dan karakter game yang siap menjadi idola baru bagi anak-anak kita. Jika
idola mereka adalah orang-orang fasik, maka anak akan meniru gaya bicara,
pakaian, dan perilaku buruk idola tersebut. Inilah awal mula “kenakalan”
gaya baru.
Bagaimana
agar kita tetap menjadi idola bagi anak?
Jadilah
Sahabat yang Asyik:
Turunkan ego kita. Masuklah ke dunia mereka. Jadilah teman ngobrol yang seru,
bukan hanya komandan yang bisanya menyuruh.
Tunjukkan
Prestasi dan Kebaikan:
Ceritakan perjuangan kita mencari nafkah dengan halal, ceritakan pengalaman
kita menolong orang, agar tumbuh rasa bangga di hati anak terhadap orang
tuanya.
Kharisma
Kesholihan: Tidak
ada yang lebih mengagumkan bagi hati seorang Mu’min (termasuk anak kecil yang
masih fithroh) selain cahaya ketaatan. Jika anak melihat ayahnya menangis saat
membaca Al-Qur’an, atau ibunya begitu dermawan bersedekah, hati mereka akan
tertambat.
Umar bin
Khoththob rodhiyallahu ‘anhu pernah berpesan:
«لَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الرَّجُلِ
الدَّمِيمِ، فَإِنَّهُنَّ يُحْبِبْنَ مَا تُحْبِبُونَ»
“Janganlah
kalian memaksa putri-putri kalian menikah dengan laki-laki yang buruk rupa, karena
sesungguhnya mereka menyukai apa yang kalian sukai.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 4/94)
Meskipun
atsar ini konteksnya pernikahan, namun pelajarannya umum: anak-anak (dan
manusia) menyukai keindahan, kebaikan, dan penampilan yang menarik. Maka orang
tua harus tampil rapi, wangi, dan menarik di depan anak, serta memiliki akhlak
yang indah, agar anak betah di rumah dan bangga menjadikan orang tuanya sebagai
panutan.
Jika anak
sudah mengidolakan orang tuanya, maka mendidik mereka semudah menggerakkan
bayangan di cermin. Cukup kita bergerak baik, mereka akan otomatis mengikuti
kebaikan itu.
Setelah orang tua memperbaiki hubungannya dengan Alloh dan menjadi teladan yang baik, langkah berikutnya adalah memperbaiki seni bicara kepada anak.
