Cari Artikel

Mempersiapkan...

LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: KETELADANAN YANG BAIK (USWAH HASANAH)

 

Dalam dunia pendidikan anak, ada sebuah kaidah emas yang tidak bisa ditawar: “Lisanul hal afshohu min lisanil maqol” (Bahasa perbuatan itu lebih fasih daripada bahasa lisan). Seribu nasihat yang kita ucapkan akan lenyap ditelan angin jika perilaku kita justru mencontohkan sebaliknya.

Anak-anak yang dianggap “nakal” seringkali hanyalah cermin yang memantulkan bayangan orang tuanya yang retak. Mereka berteriak karena melihat kita berteriak. Mereka memukul karena melihat kita ringan tangan. Mereka berbohong karena melihat kita sering ingkar janji. Oleh karena itu, langkah kedua dalam mendidik anak nakal adalah menjadi uswah hasanah (teladan yang baik). Kita tidak bisa memaksa bayangan di cermin menjadi lurus jika objek aslinya bengkok.

1. Orang Tua adalah Cermin: Anak Meniru Apa yang Dilihat

Psikologi perkembangan menegaskan bahwa metode belajar paling dasar bagi manusia adalah imitation (peniruan). Sejak bayi, otak anak merekam setiap gerakan, mimik wajah, dan intonasi suara orang di sekitarnya, lalu memutar ulang rekaman itu dalam perilaku mereka.

Alloh Ta’ala mengutus Nabi Muhammad bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi sebagai role model hidup yang bisa dilihat dan ditiru. Alloh berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan. Jika Rosululloh mendidik para Shohabat dengan akhlak beliau sebelum dengan kata-kata beliau, maka kita pun harus demikian.

Ada sebuah syair Arob kuno yang menyindir orang tua yang menyuruh anaknya berjalan lurus, padahal ia sendiri berjalan miring (seperti kepiting):

“Bagaimana mungkin bayangan itu lurus, sedangkan tongkatnya bengkok?”

Jika kita ingin anak kita rajin Sholat ke Masjid, jangan suruh mereka berangkat sambil kita asyik nonton TV. Tapi, gandeng tangan mereka, ajak berwudhu bersama, dan melangkahlah bersama ke rumah Alloh. Jika kita ingin anak kita berkata santun, pastikan tidak pernah keluar satu pun kata kotor atau umpatan dari mulut kita, bahkan saat kita sedang marah sekalipun.

Anak yang melihat ayahnya menghormati ibunya, akan tumbuh menjadi laki-laki yang menghargai wanita. Anak yang melihat ibunya taat dan melayani ayahnya dengan penuh kasih, akan tumbuh menjadi wanita yang sholihah. Inilah kurikulum tanpa suara, namun efeknya menembus jiwa.

2. Keselarasan antara Ucapan dan Perbuatan dalam Mendidik

Salah satu penyebab utama kenakalan dan pemberontakan anak (rebellious behavior) adalah hilangnya kepercayaan (trust) kepada orang tua. Kepercayaan ini runtuh ketika anak melihat adanya kemunafikan: Ayah menyuruhku jujur, tapi Ayah berbohong kepada tamu. Ibu menyuruhku sabar, tapi Ibu sering membanting pintu saat marah.

Ketidakselarasan antara ucapan dan perbuatan ini adalah perkara yang sangat dibenci oleh Alloh. Alloh Ta’ala memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shoff: 2-3)

Istilah maqtan dalam ayat ini bermakna kebencian yang sangat besar. Sungguh mengerikan jika usaha kita mendidik anak justru mendatangkan murka Alloh karena kita tidak mengamalkan apa yang kita ucapkan.

Ibnu Qudamah (620 H) dalam kitabnya Minhajul Qoshidin menjelaskan bahwa seorang pendidik yang perilakunya menyelisihi ucapannya, ibarat orang yang menulis di atas air; tidak akan berbekas.

Anak-anak memiliki “radar” yang sangat sensitif terhadap ketidaktulusan. Jika mereka mendapati kita tidak konsisten, mereka akan kehilangan rasa hormat (respect). Dan ketika rasa hormat itu hilang, maka pintu kenakalan akan terbuka lebar. Mereka akan berkata dalam hati: “Ah, Ayah juga begitu kok.”

Maka, wahai Ayah Bunda, sebelum memerintah anak untuk tidak main HP terus-menerus, letakkanlah HP kita. Tatap mata mereka. Hadirkan jiwa kita untuk mereka. Keteladanan menuntut pengorbanan hawa nafsu kita sendiri demi kebaikan anak.

3. Meneladani Kelembutan Rosululloh kepada Anak-Anak

Banyak orang tua yang salah kaprah, mengira bahwa mendidik anak harus dengan wajah garang, suara keras, dan tangan yang siap memukul agar anak menjadi “disiplin”. Padahal, kekerasan justru melahirkan jiwa yang kerdil atau justru pemberontak. Rosululloh , panglima perang yang gagah berani, adalah sosok yang paling lembut kepada anak-anak.

Mari kita simak kesaksian Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, yang telah melayani Nabi sejak usia 10 tahun. Beliau menceritakan pengalaman indahnya:

«خَدَمْتُ النَّبِيَّ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ،؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ»

“Aku telah melayani Rosululloh selama sepuluh tahun. Demi Alloh, beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘Ah’ (Uff) sama sekali, dan beliau tidak pernah berkata kepadaku terhadap apa yang aku kerjakan: ‘Kenapa engkau melakukan ini?’, dan tidak pula (terhadap apa yang tidak aku kerjakan): ‘Kenapa engkau tidak melakukan ini?’” (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan Muslim no. 2309)

Bayangkan! Sepuluh tahun berinteraksi dengan anak kecil (Anas), dan Nabi tidak pernah mencela, tidak pernah mengomel, dan tidak pernah memprotes kesalahan Anas. Ini bukan berarti Nabi membiarkan kesalahan, tetapi beliau mendidik dengan cara yang tidak mempermalukan. Jika Anas salah, Nabi akan membimbingnya tanpa menyakiti hatinya.

Sikap kasar dan kaku justru menjauhkan anak dari kebaikan. Pernah suatu ketika, seorang Badui bernama Al-Aqro’ bin Habis melihat Nabi mencium cucu beliau, Al-Hasan bin Ali. Al-Aqro’ merasa heran dan berkata: “Aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka.”

Maka Rosululloh menatapnya dan bersabda:

«مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ»

“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhori no. 5997 dan Muslim no. 2318)

Hadits ini adalah tamparan bagi orang tua yang gengsi menunjukkan kasih sayang kepada anak. Mencium anak, memeluk mereka, dan bermain kuda-kudaan bersama mereka bukanlah tindakan yang mengurangi wibawa. Justru itulah yang akan membasahi jiwa anak dengan kasih sayang, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang lembut dan penurut. Anak yang “kering” dari sentuhan fisik orang tua akan mencari pelampiasan di luar, dan seringkali pelampiasan itu adalah kenakalan.

4. Menjadi Idola bagi Anak agar Mereka Tidak Mencari Idola di Luar

Setiap anak membutuhkan sosok pahlawan atau idola dalam hidupnya. Secara fithroh, idola pertama mereka adalah orang tuanya. Namun, seiring bertambahnya usia, jika orang tua gagal menampilkan sosok yang “mengagumkan” dan “menyenangkan”, anak akan mencari idola lain.

Di zaman digital ini, saingan kita sangat berat. Ada YouTuber, selebgram, penyanyi K-Pop, dan karakter game yang siap menjadi idola baru bagi anak-anak kita. Jika idola mereka adalah orang-orang fasik, maka anak akan meniru gaya bicara, pakaian, dan perilaku buruk idola tersebut. Inilah awal mula “kenakalan” gaya baru.

Bagaimana agar kita tetap menjadi idola bagi anak?

Jadilah Sahabat yang Asyik: Turunkan ego kita. Masuklah ke dunia mereka. Jadilah teman ngobrol yang seru, bukan hanya komandan yang bisanya menyuruh.

Tunjukkan Prestasi dan Kebaikan: Ceritakan perjuangan kita mencari nafkah dengan halal, ceritakan pengalaman kita menolong orang, agar tumbuh rasa bangga di hati anak terhadap orang tuanya.

Kharisma Kesholihan: Tidak ada yang lebih mengagumkan bagi hati seorang Mu’min (termasuk anak kecil yang masih fithroh) selain cahaya ketaatan. Jika anak melihat ayahnya menangis saat membaca Al-Qur’an, atau ibunya begitu dermawan bersedekah, hati mereka akan tertambat.

Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu pernah berpesan:

«لَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الرَّجُلِ الدَّمِيمِ، فَإِنَّهُنَّ يُحْبِبْنَ مَا تُحْبِبُونَ»

“Janganlah kalian memaksa putri-putri kalian menikah dengan laki-laki yang buruk rupa, karena sesungguhnya mereka menyukai apa yang kalian sukai.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 4/94)

Meskipun atsar ini konteksnya pernikahan, namun pelajarannya umum: anak-anak (dan manusia) menyukai keindahan, kebaikan, dan penampilan yang menarik. Maka orang tua harus tampil rapi, wangi, dan menarik di depan anak, serta memiliki akhlak yang indah, agar anak betah di rumah dan bangga menjadikan orang tuanya sebagai panutan.

Jika anak sudah mengidolakan orang tuanya, maka mendidik mereka semudah menggerakkan bayangan di cermin. Cukup kita bergerak baik, mereka akan otomatis mengikuti kebaikan itu.

Setelah orang tua memperbaiki hubungannya dengan Alloh dan menjadi teladan yang baik, langkah berikutnya adalah memperbaiki seni bicara kepada anak.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url