Cari Artikel

Mempersiapkan...

LANGKAH MENDIDIK ANAK NAKAL: MEMPERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLOH DAN KEKUATAN DO’A

 


Banyak orang tua yang sibuk mencari “obat” untuk kenakalan anaknya di luar sana—mendatangi psikolog, membelikan buku-buku parenting, atau mendaftarkan anak ke sekolah asrama (Boarding School) termahal—namun mereka melupakan “obat” yang paling manjur dan paling dekat, yaitu memperbaiki hubungan vertikal dengan Alloh ‘Azza wa Jalla.

Dalam tinjauan kejiwaan Islam (tazkiyatun nafs), keadaan hati orang tua memiliki koneksi batin (robithoh) yang kuat dengan hati anak. Jika hati orang tua keruh oleh maksiat, maka sinyal yang diterima oleh hati anak pun akan terganggu, sehingga anak menjadi gelisah, rewel, dan sulit diatur. Sebaliknya, jika hati orang tua bening oleh ketaatan, maka ketenangan itu akan mengalir ke dalam jiwa anak. Inilah langkah pertama dan yang paling utama: Perbaiki diri kita, niscaya Alloh akan memperbaiki anak-anak kita.

1. Kesholihan Orang Tua sebagai Pondasi Utama Perbaikan Anak

Ada sebuah rahasia besar dalam Al-Qur’an yang sering terlewatkan oleh kita. Bahwa kesholihan orang tua adalah tabungan terbaik bagi masa depan anak-anaknya, baik di dunia maupun di Akhiroh. Alloh Ta’ala menjamin penjagaan-Nya terhadap anak-anak yang memiliki orang tua sholih, bahkan setelah orang tua mereka tiada.

Mari kita renungkan firman Alloh dalam kisah Nabi Musa dan Khidhir ‘alaihimassalam, ketika Khidhir menegakkan dinding rumah milik dua anak yatim tanpa meminta upah:

﴿وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang sholih, maka Robbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rohmat dari Robbmu.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Perhatikan kalimat ( وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا ) “sedang ayahnya adalah seorang yang sholeh”. Para ahli tafsir seperti Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa kesholihan sang ayah menjadi sebab Alloh menjaga harta dan masa depan anak-anaknya. Sa’id bin Jubair (95 H) pernah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, sungguh aku akan menambah Sholatku (ibadahku) demi (kebaikan) kamu.” Beliau memahami bahwa ketaatannya akan berdampak pada penjagaan Alloh terhadap anaknya.

Dalam perspektif psikologi, anak adalah peniru ulung yang menyerap energi dari orang tuanya. Jika orang tua memiliki kestabilan emosi yang bersumber dari kedekatan dengan Alloh, anak akan merasa aman (secure). Sebaliknya, orang tua yang jauh dari Alloh cenderung mudah cemas, stres, dan temperamental. Kegelisahan inilah yang ditransfer kepada anak, membuat anak menjadi “nakal” sebagai reaksi atas ketidaknyamanan jiwa yang ia rasakan di rumah.

Alloh Ta’ala juga menjanjikan reuni keluarga di Jannah bagi orang-orang yang beriman dan diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Maka, jika anak kita hari ini nakal, jangan buru-buru memarahi mereka. Tengoklah ke dalam diri kita. Mungkin ada Sholat yang kita lalaikan? Mungkin ada harta harom yang kita makan? Atau mungkin ada maksiat tersembunyi yang kita lakukan? Bertaubatlah, perbaiki diri, maka Alloh akan melembutkan hati anak kita.

2. Dahsyatnya Do’a Ibu dan Ayah yang Menembus Langit

Senjata paling ampuh bagi seorang Mu’min adalah doa, dan doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang tidak memiliki hijab (penghalang) di sisi Alloh. Tidak ada kekuatan psikologis maupun strategi pendidikan manapun yang bisa menandingi kekuatan doa seorang ibu di sepertiga malam terakhir.

Rosululloh memberikan jaminan tentang terkabulnya doa orang tua dalam sabda beliau:

«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ»

“Tiga doa yang mustajab (dikabulkan) yang tidak diragukan lagi padanya: doa orang yang dizholimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk (atau atas) anaknya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1905)

Kata “ala waladihi” bermakna doa keburukan atas anaknya, namun riwayat “li waladihi” bermakna doa kebaikan untuk anaknya. Kedua-duanya mustajab. Maka, hati-hatilah! Jangan pernah mendoakan keburukan saat anak sedang nakal. Ubahlah amarah menjadi doa. Saat melihat anak membantah, katakan dalam hati atau lirih: “Ya Alloh, jadikanlah dia anak yang sholih, lembutkan hatinya.”

Kita belajar dari Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, bapak para Nabi. Beliau tidak pernah putus mendoakan anak keturunannya agar tetap mendirikan Sholat, padahal beliau adalah Nabi. Beliau berdoa:

﴿رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan Sholat, ya Robb kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrohim: 40)

Nabi Zakariya ‘alaihissalam juga memohon anak yang sholih di usia senjanya dengan doa yang penuh harap:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Robbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imron: 38)

Dalam tinjauan psikologi, mendoakan anak dengan suara yang bisa didengar oleh mereka (misalnya saat mengusap kepala mereka sebelum tidur) memberikan efek sugesti positif yang luar biasa. Anak akan merasa dicintai, berharga, dan didukung. Alam bawah sadar anak akan merekam kalimat-kalimat baik tersebut dan membentuk konsep diri (self-concept) yang positif: “Aku adalah anak yang diharapkan menjadi sholih.”

Sebaliknya, label negatif dan sumpah serapah akan menanamkan sugesti kegagalan. Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H), seorang ulama besar yang dulunya perampok, menjadi sholih salah satunya karena doa-doa. Beliau pernah berkata tentang mendidik anak: “Ya Alloh, sungguh aku telah berusaha mendidik anakku (Ali bin Fudhoil), namun aku tidak sanggup. Maka didiklah dia untukku.” Akhirnya anaknya, Ali bin Fudhoil, menjadi ulama yang sangat takut kepada Alloh, bahkan wafat karena mendengar ayat azab dibacakan. Ini adalah bukti kekuatan tafwidh (berserah diri) dan doa.

3. Menanamkan Aqidah dan Rasa Takut kepada Alloh Sejak Dini

Langkah mendidik anak nakal tidak cukup hanya dengan aturan dan larangan manusiawi. “Jangan nakal nanti Ayah marah!” atau “Jangan ambil itu nanti dipukul!” adalah ancaman yang sifatnya eksternal dan sementara. Jika Ayah tidak ada, atau jika anak merasa bisa menghindari pukulan, dia akan kembali nakal.

Solusi Wahyu adalah menanamkan muroqobatulloh (perasaan diawasi oleh Alloh). Inilah inti dari Aqidah. Anak harus sadar bahwa ada CCTV Abadi yang tidak pernah mati, yaitu pengawasan Alloh Ta’ala. Ketika anak memiliki muroqobatulloh di dalam hatinya, dia akan menahan diri dari keburukan, baik saat sendirian maupun di keramaian.

Luqman Al-Hakim, seorang hamba sholih yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an, mengajarkan kurikulum aqidah ini kepada anaknya dengan sangat indah:

﴿يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Alloh Maha Halus lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Luqman: 16)

Ayat ini menanamkan kesadaran akan detailnya ilmu Alloh. Tidak ada kenakalan sekecil apapun yang luput. Dalam psikologi, ini disebut pembentukan Superego atau hati nurani yang berdasarkan nilai transenden.

Rosululloh juga mengajarkan aqidah ini kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma yang saat itu masih bocah cilik (ghulam), dengan kalimat yang sangat “mengena” dan membangun mentalitas juara:

«يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»

“Wahai Nak, sungguh aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Alloh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Alloh. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Perhatikan metodenya. Nabi memanggil dengan panggilan sayang “Ya Ghulam” (Wahai Nak), lalu menanamkan prinsip tauhid: ketergantungan hanya kepada Alloh. Anak yang “nakal” seringkali adalah anak yang rapuh, yang mencari sandaran pada teman atau benda. Dengan aqidah, kita ajarkan mereka bersandar pada Dzat Yang Maha Kuat.

4. Membangun Ketenangan Jiwa Anak dengan Dzikir dan Ibadah

Rumah adalah madrosah pertama. Suasana rumah sangat menentukan perilaku anak. Rumah yang bising dengan suara musik keras, teriakan, dan pertengkaran, akan menghasilkan anak yang jiwanya “panas” dan emosional. Sebaliknya, rumah yang dihiasi dengan lantunan Al-Qur’an, Dzikir, dan Sholat, akan menurunkan Sakinah (ketenangan) yang meredam gejolak kenakalan.

Alloh Ta’ala berfirman tentang obat kegelisahan jiwa:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Anak yang nakal seringkali adalah anak yang hatinya gersang. Ajaklah mereka beribadah bersama. Bukan dengan bentakan “Sholat sana!”, tetapi dengan ajakan “Ayo Nak, kita menghadap Alloh, kita minta ketenangan.”

Rosululloh memerintahkan kita untuk menjadikan rumah kita “hidup” dengan ibadah, agar tidak seperti kuburan yang angker dan gelap:

«اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا»

“Jadikanlah sebagian dari Sholat kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikannya sebagai kuburan.” (HR. Al-Bukhori no. 432 dan Muslim no. 777)

Dan beliau secara spesifik menyebutkan tentang surat Al-Baqoroh untuk mengusir syaithon—yang seringkali menghembuskan was-was kenakalan dan pembangkangan:

«لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya syaithon lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh.” (HR. Muslim no. 780)

Secara psikologis, rutinitas ibadah bersama (seperti jamaah Maghrib di rumah bagi wanita dan anak-anak yang belum wajib ke Masjid, atau tadarus bersama) membangun bonding (ikatan emosional) yang kuat. Anak merasa menjadi bagian dari “tim kebaikan”. Ketenangan yang terpancar dari wajah orang tua setelah berwudhu dan Sholat akan menular kepada anak, menurunkan kadar hormon stres (kortisol) mereka, dan membuat mereka lebih mudah menerima nasihat.

Jadi, Langkah Pertama ini adalah tentang “Energi”. Sebelum kita memperbaiki “Hardware” (perilaku fisik anak), kita harus memperbaiki “Software” dan “Supply Power”-nya, yaitu hati kita dan koneksi kita dengan Alloh. Jika Langkah Pertama ini berhasil, langkah-langkah berikutnya akan menjadi jauh lebih ringan dan mudah, bi idznillah.

Setelah kita memperbaiki hubungan dengan Alloh, langkah berikutnya adalah memperbaiki apa yang “dilihat” oleh anak. Anak-anak adalah pengamat yang jenius; mereka tidak belajar dari apa yang mereka dengar, melainkan dari apa yang mereka saksikan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url