HAKIKAT KENAKALAN ANAK, SEBAB, DAN DAMPAKNYA
Setiap
penyakit pasti ada obatnya, dan setiap penyimpangan perilaku pasti ada akar
masalahnya. Sebelum kita melangkah jauh mengobati “kenakalan” anak, kita
wajib memahami terlebih dahulu apa sejatinya hakikat dari kenakalan itu
sendiri. Seringkali, orang tua terburu-buru menghukum tanpa memahami diagnosa,
ibarat dokter yang menyuntik pasien tanpa memeriksa penyakitnya, yang justru
bisa berakibat fatal. Dalam bab ini, kita akan menyelami definisi kenakalan
dalam kacamata syari’at dan jiwa, menelusuri ragam bentuknya, serta membongkar
sebab-sebab tersembunyi yang sering luput dari perhatian kita.
1.
Definisi “Nakal” dalam Timbangan Syari’at dan Tinjauan Jiwa
Kata “nakal”
dalam kamus bahasa kita sering diasosiasikan dengan perilaku buruk, suka
mengganggu, dan tidak menurut. Namun, dalam timbangan syari’at Islam,
istilah ini memiliki dimensi yang lebih dalam. Kenakalan anak pada hakikatnya
adalah bentuk inhirof (penyimpangan) dari jalan yang lurus dan penolakan
terhadap nilai-nilai kebaikan yang telah digariskan oleh Alloh dan Rosul-Nya.
Dalam
Al-Qur’an, perilaku menyimpang ini sering disebut dengan istilah fusuq
(kefasikan) atau ‘ishyan (kedurhakaan). Alloh Ta’ala berfirman
menggambarkan sifat orang-orang yang membenci keimanan dan condong kepada
keburukan:
﴿وَلَكِنَّ
اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ
الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ﴾
“Tetapi
Alloh menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah
dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurot: 7)
Ayat yang
mulia ini memberikan isyarat bahwa anak yang “nakal” adalah anak yang
fithroh cintanya kepada keimanan sedang tertutup, dan rasa bencinya kepada
kefasikan (dosa) sedang tumpul. Dalam tinjauan kejiwaan Islam (An-Nafs),
kenakalan bukanlah sifat permanen yang melekat pada DNA anak, melainkan sebuah
gejala bahwa jiwanya sedang sakit atau “lapar”.
Jiwa yang
tidak diisi dengan dzikir dan ketaatan akan menjadi liar, gelisah, dan mencari
pelampiasan. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh pernah
menjelaskan bahwa hati yang kosong dari kebenaran pasti akan diisi oleh
kebatilan. Ketika seorang anak bertingkah nakal—seperti berteriak, memukul,
atau membangkang—sejatinya itu adalah bahasa tubuh yang meneriakkan: “Jiwaku
kosong! Aku butuh perhatian, aku butuh kasih sayang, aku butuh bimbingan!”
Rosululloh ﷺ juga mengaitkan perilaku
buruk dengan kondisi hati yang keruh. Beliau bersabda:
«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا
صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا
وَهِيَ الْقَلْبُ»
“Ketahuilah,
sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah
seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)
Maka,
definisi “nakal” yang harus kita pegang adalah: Ketidakmampuan anak
dalam mengendalikan dorongan hawa nafsunya (syahwat dan amarah) akibat lemahnya
iman dan kurangnya tarbiyah (pendidikan) yang menyentuh hati. Anak yang
nakal bukanlah “penjahat kecil”, melainkan “korban” dari
ketidaktahuannya sendiri atau kelalaian lingkungan dalam membimbing jiwanya.
Psikologi
modern pun mengakui bahwa “bad behavior” (perilaku buruk) seringkali
merupakan “cry for help” (permintaan tolong). Anak yang merasa tidak
aman, tidak dicintai, atau tertekan, akan mereaksi dengan perilaku agresif.
Islam memandang ini sebagai hilangnya sakinah (ketenangan) dalam jiwa. Oleh
karena itu, label “anak nakal” sebaiknya tidak kita ucapkan di depan
mereka, karena itu bisa menjadi doa buruk dan stigma yang akan mereka yakini
kebenarannya seumur hidup.
2.
Ragam Bentuk Kenakalan Anak: Dari Membantah hingga Merusak
Kenakalan
anak memiliki wajah yang beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat,
dari yang tersembunyi hingga yang terang-terangan. Kita perlu mengenali
jenis-jenis ini agar bisa memberikan “dosis obat” yang tepat. Secara
garis besar, kenakalan bisa dibagi menjadi tiga kategori utama berdasarkan
sasaran kerusakannya:
Pertama: Kenakalan Lisan
(Verbal)
Ini adalah
jenis yang paling sering terjadi. Bentuknya berupa berdusta, berkata kotor,
mencela, mengejek teman, hingga membentak orang tua. Dusta adalah pintu gerbang
menuju kejahatan yang lebih besar. Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras
tentang bahaya lisan yang tidak dijaga ini:
«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي
إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ»
“Jauhilah
oleh kalian perilaku dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada
kejahatan (fujur), dan sesungguhnya kejahatan itu menuntun ke Neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 6094 dan
Muslim no. 2607)
Kata al-fujur
dalam Hadits di atas bermakna penyimpangan dan kerusakan yang luas. Artinya,
anak yang terbiasa berbohong “hanya” untuk menghindari hukuman atau
mencari perhatian, lama-kelamaan jiwanya akan terbiasa dengan dosa-dosa lain
yang lebih besar.
Kedua: Kenakalan Fisik
(Agresif)
Bentuknya
seperti memukul teman, merusak barang (vandalisme), menganiaya hewan, atau
berkelahi. Ini adalah manifestasi dari ghodhob (amarah) yang tidak
terkendali. Dalam Islam, seorang Muslim yang sejati adalah yang orang lain
selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ
لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
“Seorang
Muslim (yang sejati) adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari
(gangguan) lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)
Jika anak
kita gemar memukul atau menyakiti saudaranya, ini adalah tanda bahaya. Ini
menunjukkan ada energi berlebih yang tidak tersalurkan secara positif, atau ada
contoh kekerasan yang ia lihat dan ia tiru—entah dari orang tua, lingkungan,
atau tontonan.
Ketiga: Kenakalan terhadap
Hak Alloh (Spiritual)
Ini adalah
jenis kenakalan yang paling fatal namun sering diremehkan oleh orang tua zaman
sekarang. Contohnya: malas Sholat, enggan mengaji, membuka aurot, atau
meremehkan syari’at. Banyak orang tua yang marah besar jika nilai matematika
anaknya jeblok, tapi santai saja jika anaknya tidak Sholat Subuh. Padahal,
meninggalkan Sholat adalah induk dari segala kerusakan. Alloh Ta’ala
berfirman tentang generasi yang rusak:
﴿فَخَلَفَ
مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ
غَيًّا﴾
“Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan Sholat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)
Kenakalan
jenis ketiga inilah yang menjadi akar dari kenakalan pertama dan kedua. Jika
hubungan anak dengan Alloh rusak (menyia-nyiakan Sholat), maka Alloh tidak akan
menjaga akhlaknya, sehingga ia mudah terseret arus syahwat dan perilaku buruk.
3.
Dampak Buruk Kenakalan bagi Masa Depan Dunia dan Akhiroh Anak
Jangan
pernah menganggap remeh kenakalan anak dengan dalih, “Ah, namanya juga
anak-anak, nanti juga berubah sendiri.” Pemikiran seperti ini adalah
jebakan syaithon. Kenakalan yang dibiarkan tanpa pelurusan akan mengkristal
menjadi karakter (khuluq), dan karakter itulah yang akan menentukan
nasibnya di dunia dan Akhiroh.
Dampak Dunia:
Anak yang
tumbuh dengan karakter buruk akan mengalami kegagalan sosial. Ia akan dijauhi
oleh orang-orang baik, sulit mendapatkan kepercayaan, dan rentan terjerumus
dalam masalah hukum kriminal saat dewasa. Secara psikologis, anak yang nakal
sebenarnya menderita batin; ia tidak tenang, selalu gelisah, dan dihantui rasa
bersalah yang ia tutupi dengan perilaku agresif. Keberkahan hidupnya akan
dicabut, ilmunya sulit masuk, dan rezekinya tidak berkah. Imam Asy-Syafi’i (204
H) pernah mengeluh kepada gurunya tentang buruknya hafalan beliau, lalu gurunya
memberi nasihat:
«شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي ... فَأرْشَدَنِي
إلَى تَرْكِ المعَاصِي ... وَأخْبَرَنِي بِأَنَّ العِلْمَ نُورٌ ... وَنُورُ اللَّهِ
لَا يُهْدَى لِعَاصِي»
“Aku
mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku ... Maka beliau membimbingku
untuk meninggalkan maksiat ... Dan beliau mengabariku bahwa ilmu adalah cahaya
... Dan cahaya Alloh tidak diberikan kepada ahli maksiat.” (Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i)
Jika Imam
Asy-Syafi’i saja terhalang ilmunya karena maksiat, bagaimana dengan anak-anak
kita? Kenakalan adalah penghalang utama kesuksesan studi dan karir mereka.
Dampak Akhiroh:
Ini adalah
bencana yang sesungguhnya. Anak yang mati membawa dosa tanpa bertaubat terancam
adzab Alloh yang pedih. Lebih dari itu, kenakalan anak bisa menjadi jariyah
dosa bagi orang tuanya jika itu disebabkan oleh kelalaian dalam mendidik. Anak
bisa menuntut orang tuanya di hadapan Mahkamah Alloh kelak.
Alloh Ta’ala
menggambarkan penyesalan orang-orang yang durhaka di hari Kiamat, di mana
mereka saling menyalahkan, bahkan anak menyalahkan orang tuanya atau temannya
yang menyesatkan:
﴿وَيَوْمَ
يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ
سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا﴾
“Dan
(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya
berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul.
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu
teman akrab(ku).’” (QS.
Al-Furqon: 27-28)
Sungguh
mengerikan jika anak yang kita timang-timang saat bayi, kelak di hari Kiamat
berteriak di hadapan Alloh: “Ya Alloh, ayah dan ibuku tidak pernah
mengajariku Sholat! Mereka membiarkanku berbuat maksiat! Hukumlah mereka!”
4.
Andil Kesalahan Orang Tua dalam Membentuk Karakter Buruk Anak
Seringkali
kita menunjuk anak sebagai “trouble maker”, padahal kitalah “trouble
maker” yang sebenarnya. Sebelum menyalahkan anak, mari kita bercermin. Ada
sebuah kisah masyhur (yang disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab adab)
tentang seorang pria yang datang kepada Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu
untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar pun memanggil anak tersebut dan
menegurnya. Namun, sang anak bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin, bukankah anak
memiliki hak atas ayahnya?” Umar menjawab: “Benar.” Anak itu
bertanya lagi: “Apa haknya?” Umar menjawab: “Memilihkan ibu yang baik
baginya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an.”
Mendengar
itu, sang anak berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya ayahku tidak
melakukan satu pun dari hal itu. Ibuku adalah budak berkulit hitam bekas majusi,
namaku ‘Ju’al’ (kumbang kelapa/kotoran), dan dia tidak pernah mengajariku satu
huruf pun dari Al-Qur’an.” Umar bin Khoththob pun menoleh kepada sang ayah
dan berkata: “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau
telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu, dan engkau telah berbuat jahat
kepadanya sebelum dia berbuat jahat kepadamu!”
Kisah ini
menampar kita dengan keras. Kenakalan anak seringkali adalah pantulan dari
kesalahan kita sendiri. Beberapa andil kesalahan orang tua meliputi:
Memberi
Makan dengan Harta Harom: Tubuh yang tumbuh dari harta harom (riba, korupsi, curang) akan
cenderung kepada kemaksiatan. Daging yang tumbuh dari yang harom, Neraka lebih
pantas baginya.
Ketidakhadiran
Sosok Ayah (Fatherless): Ayah sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik. Anak kehilangan figur
otoritas dan pelindung, sehingga mencari pengakuan di jalanan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ»
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
Doa
Buruk Orang Tua:
Hati-hati dengan lisan. Saat marah, jangan sekali-kali mendoakan keburukan bagi
anak. Doa orang tua itu mustajab (dikabulkan). Jangan sampai kenakalan anak
hari ini adalah buah dari sumpah serapah kita kemarin.
Rosululloh ﷺ melarang hal ini:
«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا
عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ
سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ»
“Janganlah
kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, janganlah kalian mendoakan
keburukan atas anak-anak kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan atas
harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu dari Alloh yang pada
waktu itu diminta suatu pemberian, sehingga Dia mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim no. 3009)
Inkonsistensi
(Tidak Istiqomah):
Menyuruh anak jujur, tapi orang tua sering berbohong. Menyuruh anak jangan main
HP, tapi orang tua seharian di depan layar. Ketidaksesuaian ini membingungkan
logika anak dan melahirkan pembangkangan.
5.
Pengaruh Lingkungan yang Rusak dan Teman Bergaul yang Buruk
Faktor
kedua terbesar setelah keluarga adalah lingkungan pergaulan (bi’ah).
Anak adalah peniru ulung. Jika di rumah ia dididik dengan baik, namun
dilepaskan di lingkungan yang penuh dengan kata-kata kotor, kekerasan, dan
kemaksiatan, maka perlahan tapi pasti benteng pertahanannya akan jebol.
Rosululloh ﷺ membuat perumpamaan yang
sangat indah tentang pengaruh teman duduk:
«مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ
المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا
أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ:
إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»
“Perumpamaan
teman duduk yang sholih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual
minyak wangi dan pandai besi. (Duduk bersama) penjual minyak wangi, mungkin
engkau akan membelinya atau engkau akan mendapatkan aroma wanginya. Adapun
(duduk bersama) pandai besi, ia akan membakar pakaianmu, atau engkau akan
mendapatkan bau yang busuk darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 5534 dan Muslim no.
2628)
Hari ini, “teman
duduk” itu tidak hanya berwujud manusia fisik. Gadget, YouTube, TikTok, dan
Game Online adalah “teman duduk” virtual yang menemani anak-anak kita
berjam-jam. Konten yang mereka konsumsi adalah “lingkungan” yang masuk
langsung ke dalam otak mereka. Banyak kasus anak yang menjadi agresif, berani
bicara porno, dan membantah orang tua, ternyata penyebabnya adalah tontonan
yang tidak tersaring.
Lingkungan
yang rusak akan menormalisasi kemaksiatan. Jika semua temannya merokok, anak
kita akan merasa “aneh” jika tidak merokok. Jika semua temannya pacaran,
ia akan merasa “kuper” jika menjaga diri. Tekanan teman sebaya (peer
pressure) ini sangat kuat mempengaruhi jiwa anak yang sedang mencari jati
diri.
Alloh Ta’ala
mengingatkan agar kita senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang jujur dan sholih:
﴿يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)
Maka,
sebagai orang tua, kita tidak bisa hanya menjadi “satpam rumah”. Kita
harus menjadi “intelijen” yang mengetahui siapa teman anak kita, apa
yang mereka bicarakan, dan apa yang mereka tonton. Membiarkan anak bergaul
bebas dengan dalih “sosialisasi” tanpa filter, sama saja dengan
melepaskan domba di tengah kawanan serigala.
Kesimpulannya, kenakalan anak adalah akumulasi dari kekosongan jiwa, kesalahan pola asuh, dan pengaruh lingkungan. Setelah kita memahami diagnosa ini, barulah kita bisa melangkah ke untuk memulai terapi yang paling mendasar: Memperbaiki Hubungan dengan Alloh.
