Ringkasan 7 Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir
Sebagai penutup dari bagian inti buku ini,
mari kita menengok sejenak tujuh simpul yang telah kita ikat bersama. Bunda,
mencintai suami dan membuatnya sayang adalah sebuah seni yang membutuhkan
latihan, kesabaran, dan tentu saja landasan ilmu yang shohih.
Sungguh, tujuh strategi ini adalah satu
kesatuan yang saling menguatkan.
1. Visual: Bunda telah belajar
menjadi cahaya bagi matanya.
2. Aroma: Bunda telah belajar
menjadi aroma Surga bagi penciumannya.
3. Biologis: Bunda telah belajar
menjadi pemuas dahaga bagi hasratnya
dan birahinya.
4. Pelayanan: Bunda telah belajar menjadi pelayan
terbaik bagi perut dan istirahatnya.
5. Ketergantungan: Bunda telah
belajar menjadi wanita lembut yang butuh pelindungnya.
6. Komunikasi: Bunda telah belajar
menjadi pemilik lisan yang memikat hatinya.
7. Ketaatan: Bunda telah belajar
menjadi hamba Alloh yang taat melalui pengabdian kepada suaminya.
Rosululloh ﷺ
memberikan motivasi agar kita selalu optimis dalam beramal:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ»
“Sungguh setiap amal itu tergantung pada
niatnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)
Maka, perbaikilah niat Bunda sekarang juga.
Jangan lakukan ini hanya agar suami memberikan uang lebih atau agar suami tidak
melirik wanita lain, tapi lakukanlah karena Bunda ingin dicintai oleh Robbnya
suami Bunda, yaitu Alloh ﷻ. Saat Alloh ﷻ
sudah mencintai Bunda, maka Dia akan meletakkan rasa cinta di hati suami Bunda
untuk selalu menyayangi dan memuliakan Bunda.
Teori perubahan perilaku menyebutkan bahwa
sesuatu yang dilakukan secara konsisten selama 21 hari (3 pekan) akan menjadi
kebiasaan baru. Cobalah untuk mempraktikkan satu demi satu strategi ini. Jangan
terburu-buru, tapi mulailah dengan konsisten.
Bunda, perjalanan menjadi istri yang
disayang suami adalah perjalanan ibadah yang panjang. Akan ada saatnya Bunda
merasa lelah, namun ingatlah bahwa setiap lelah Bunda adalah penghapus dosa.
Setiap tetes air yang Bunda sajikan, setiap senyum yang Bunda paksakan saat
hati sedang gundah, semuanya dicatat sebagai amal sholih.
Jadilah wanita yang kehadirannya dirindukan
dan kepergiannya ditangisi. Jadilah sosok yang membuat suami berkata, “Aku
tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu di sampingku.” Semoga buku ini
menjadi panduan praktis yang mengubah rumah tangga Bunda menjadi lebih hangat,
lebih ni’mat, dan lebih barokah.
***
Kita telah menuntaskan perjalanan panjang
melalui tujuh strategi yang penuh dengan rahasia kebahagiaan rumah tangga.
Bunda yang sholihah, kini semua ilmu dan dalil itu telah berada di tangan
Bunda. Namun, perlu diingat bahwa ilmu tanpa amal hanyalah seperti pohon yang
tidak berbuah.
Buku ini bukan hanya untuk dibaca lalu
diletakkan kembali di rak buku. Ia adalah panduan operasional yang menunggu
sentuhan nyata dari Bunda di rumah. Sekarang, bola itu ada di tangan Bunda.
Apakah Bunda akan terus membiarkan suasana rumah terasa dingin, atau Bunda akan
mulai menyalakan api cinta dengan tujuh sumbu yang telah kita pelajari bersama?
Mungkin pada awalnya Bunda akan merasa
berat atau canggung. Mungkin ada bisikan syaithon yang mengatakan, “Kenapa
harus aku duluan yang berubah? Kenapa bukan suami saja yang mengerti aku?”
Buanglah bisikan itu jauh-jauh. Ingatlah kembali niat awal kita di Muqoddimah:
kita melakukan ini demi ridho Alloh ﷻ dan
demi meraih delapan pintu Jannah. Saat Bunda mulai berubah menjadi lebih
cantik, lebih harum, lebih taat, dan lebih lembut, saat itulah sebenarnya Bunda
sedang membangun Jannah kecil sebelum Jannah yang sesungguhnya di Akhiroh
nanti.
Jangan pernah meremehkan perubahan kecil.
Satu senyuman manis saat menyambutnya pulang, satu pujian tulus atas nafkahnya,
atau satu malam penuh kemesraan yang Bunda inisiasi, bisa menjadi titik balik
bagi keharmonisan keluarga Bunda. Lelaki itu fithrohnya lembut jika didekati
dengan kelembutan, dan ia akan menjadi pelindung yang paling tangguh jika ia
merasa dihargai.
Ingatlah pesan dari Ummu Aqil kepada putrinya saat
hendak menikah, yang sangat masyhur dalam literatur Salaf, bahwa kunci
kebahagiaan adalah menjadi bumi bagi suami agar suami menjadi langit yang menaungi, dan menjadi
budak bagi suami agar suami menjadi tawanan cinta bagi Bunda.
Rosululloh ﷺ
bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas (68 H):
«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ، الْوَلُودُ، الْعَؤُودُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا
آذَتْ أَوْ أُوذِيَتْ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ زَوْجِهَا، ثُمَّ تَقُولُ: وَاللهِ
لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى»
“Maukah aku kabarkan kepada kalian
tentang istri-istri kalian yang merupakan penduduk Jannah? Yaitu wanita yang
penuh cinta, yang banyak anaknya, dan yang selalu kembali kepada suaminya; yang
apabila ia berbuat jahat atau diperlakukan jahat (oleh suaminya), ia berkata: ‘Ini tanganku
ada di genggaman tanganmu, aku tidak akan bisa memejamkan mata untuk tidur
sampai engkau ridho kepadaku.’” (HSR. An-Nasai dalam Al-Kubro no. 9094)
Sungguh, itulah puncak dari kemuliaan
seorang istri. Semoga Alloh ﷻ memberikan kekuatan
kepada Bunda untuk mempraktikkan isi buku ini dengan penuh keikhlasan.
Semoga rumah tangga Bunda
dijauhkan dari fitnah, dipenuhi dengan Rohmat, dan disatukan kembali di Jannah
Al-Firdaus dalam keadaan saling mencintai karena Alloh ﷻ.
Allohu a’lam.[NK]
