Cari Artikel

Mempersiapkan...

Berusaha Patuh Kepada Suami: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 

7.1  Memahami Kedudukan Suami sebagai Pemimpin Mutlak dalam Rumah Tangga

Bunda, dalam setiap organisasi, bahkan sekecil apa pun, pasti dibutuhkan seorang nakhoda. Begitu pula dalam rumah tangga. Alloh yang Maha Mengetahui telah menetapkan bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Ini bukan tentang siapa yang lebih pintar atau siapa yang lebih banyak beramal, tapi ini adalah pembagian peran demi tegaknya keteraturan dalam rumah tangga.

Memahami kedudukan suami sebagai pemimpin mutlak adalah langkah awal agar Bunda tidak merasa berat saat harus mengikuti arahannya. Jika Bunda masih menganggap suami adalah “saingan” atau teman yang sejajar dalam segala hal pengambilan keputusan, maka akan sering terjadi benturan ego.

Perhatikan firman Alloh yang sangat mendasar ini:

﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ

“Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Kata qowwam di sini bermakna pemimpin yang bertanggung jawab penuh, pelindung, dan pengayom. Suami Bunda memikul beban yang sangat berat di pundaknya. Ia harus memastikan kebutuhan fisik dan bimbingan ilmu bagi Bunda dan anak-anak terpenuhi. Kedudukan ini menuntut penghormatan yang luar biasa dari pihak istri.

Abu Huroiroh (58 H) meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda mengenai besarnya hak suami:

«لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا»

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1159)

Tentu saja tidak boleh sujud kepada selain Alloh , namun Hadits ini menggambarkan betapa tingginya kedudukan suami. Jika Bunda sudah memahami ini, maka Bunda akan memandangnya dengan rasa hormat, bukan dengan tatapan meremehkan. Kepatuhan Bunda kepadanya bukan karena Bunda lemah, tapi karena Bunda sedang patuh kepada perintah Alloh .

Pertanyaannya untuk Bunda: Apakah selama ini Bunda sudah memposisikan suami sebagai “Raja” di rumah, ataukah Bunda masih sering merasa lebih tahu dan lebih berhak mengatur segalanya?

Ingatlah, Bun, seorang lelaki yang merasa dihormati sebagai pemimpin akan tumbuh menjadi sosok yang sangat bertanggung jawab. Sebaliknya, pemimpin yang sering “dikudeta” oleh istrinya sendiri akan kehilangan wibawa dan semangat untuk melindungi. Jadikanlah suami Bunda sebagai nakhoda sejati, dan Bunda adalah navigator yang paling setia di sampingnya.

Wanita bukanlah pemimpin baik dari sisi syariat maupun akal. Dari sisi akal, mereka lemah akalnya dan tidak kokoh pandangannya dibanding kaum lelaki. Dari sisi syariat, Nabi bersabda:

«لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً»

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita sebagai pemimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 4425)

Yakni wanita bukan pemimpin bagi lelaki. Tetapi ketika suami di luar, wanita menjadi pemimpin untuk anak-anaknya. Wanita juga menjadi pemimpin untuk anak-anak sekolah dasar dan sesama mereka.

7.2  Keutamaan Taat kepada Suami Selama Bukan dalam Kemaksiatan

Bunda, tahukah Bunda bahwa bagi seorang Muslimah yang sudah menikah, jalan tercepat menuju Jannah ada pada keridhoan suaminya? Islam memberikan diskon besar-besaran bagi istri untuk masuk ke pintu Jannah mana saja yang ia sukai, hanya dengan syarat yang tergolong ringan jika dibandingkan dengan beratnya Jihad para lelaki di medan perang.

Ketaatan kepada suami adalah kunci pembuka pintu-pintu kemuliaan itu. Selama suami tidak memerintahkan hal yang melanggar hukum Alloh , maka kata “iya” dan “siap” harus menjadi hiasan lisan Bunda.

Rosululloh memberikan kabar gembira yang luar biasa melalui riwayat dari Anas bin Malik (93 H):

«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ»

“Apabila seorang wanita melaksanakan Sholat lima waktunya, berPuasa di bulan Romadhonnya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam Jannah dari pintu Jannah mana saja yang engkau kehendaki.’” (HHR. Ahmad no. 1661)

Coba Bunda perhatikan, menaati suami disejajarkan dengan Sholat dan Puasa! Ini menunjukkan bahwa ketaatan Bunda bukan hanya urusan cinta lahiriyah, tapi merupakan ibadah tingkat tinggi. Namun, tentu ada batasannya. Ketaatan itu hanya berlaku dalam hal yang makruf (baik). Jika suami mengajak kepada kemaksiatan, misalnya menyuruh melepas hijab atau meninggalkan Sholat, maka saat itulah Bunda harus menolak dengan cara yang paling halus.

Ada sebuah kaidah agung dalam Islam:

«لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ»

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Alloh.” (HSR. Ahmad no. 1095)

Selain dalam kemaksiatan, tidak ada alasan bagi Bunda untuk membangkang. Bahkan dalam urusan ibadah sunnah pun, idzin suami harus didahulukan. Hal ini semata-mata agar hak suami tidak terabaikan hanya karena Bunda sibuk dengan ibadah yang sifatnya tambahan.

Teori loyalitas dalam hubungan menyebutkan bahwa kepatuhan yang tulus menciptakan rasa aman yang mendalam. Saat suami tahu bahwa Bunda adalah istri yang patuh, ia akan merasa tenang dan tidak perlu banyak menuntut. Ia akan memberikan kepercayaan penuh kepada Bunda.

Pertanyaan untuk hati kecil Bunda: Manakah yang lebih Bunda utamakan, ego pribadi untuk melakukan sesuatu, ataukah meraih ridho suami yang merupakan jaminan Jannah bagi Bunda?

Jadilah istri yang ringan dalam taat. Jangan banyak mendebat untuk hal-hal yang sifatnya sepele. Ketaatan Bunda adalah investasi Akhiroh yang hasilnya akan Bunda nikmati saat kaki Bunda melangkah masuk ke dalam Na’imnya Alloh .

7.3  Meminta Idzin Sebelum Keluar Rumah atau Memasukkan Orang Lain

Bunda, rumah adalah wilayah kekuasaan suami. Sebagai pemimpin, ia memiliki hak untuk mengetahui siapa saja yang masuk ke rumahnya dan ke mana saja istrinya pergi. Meminta idzin bukan berarti Bunda adalah tawanan, tapi itu adalah bentuk etika, penghormatan, dan penjagaan kehormatan bagi seorang istri Muslimah yang mulia.

Seorang istri yang keluar rumah tanpa idzin suaminya—meskipun untuk tujuan yang baik—berisiko mengundang fitnah dan kemarahan dari langit. Rumah adalah benteng perlindungan Bunda, dan idzin suami adalah “paspor” yang membuat setiap langkah kaki Bunda di luar rumah diliputi oleh rohmat Alloh .

Rosululloh memberikan bimbingan yang sangat tegas mengenai hal ini:

«لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ»

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berPuasa (sunnah) sedangkan suaminya ada di rumah kecuali dengan idzinnya, dan tidak boleh ia mengidzinkan (orang lain) masuk ke rumahnya kecuali dengan idzin suaminya.” (HR. Al-Bukhori no. 5195 dan Muslim no. 1026)

Begitu pula dalam hal keluar rumah. Bunda harus memastikan suami tahu dan ridho ke mana Bunda melangkah. Di zaman moderen ini, idzin bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui pesan singkat atau telepon. Tidak ada alasan lagi untuk berkata “lupa”.

Kenapa memasukkan orang lain juga harus minta idzin? Karena suami mungkin punya privasi atau ada orang-orang tertentu yang ia tidak suka jika mereka masuk ke rumahnya. Dengan meminta idzin, Bunda menjaga perasaan dan kehormatan suami sebagai pemilik rumah.

Ingatlah kisah Shohabiyah (rodhiyallahu ‘anha) zaman dahulu yang sangat menjaga idzin suaminya bahkan untuk menjenguk orang tuanya yang sakit, karena ia memegang teguh pesan suaminya sebelum pergi. Meskipun ini adalah bentuk ketaatan yang sangat tinggi, intinya adalah: prioritaskan idzin suami di atas segalanya.

Pertanyaannya bagi Bunda: Apakah Bunda masih sering menganggap idzin itu sebagai beban yang merepotkan? Atau Bunda merasa “bebas” melakukan apa saja saat suami tidak ada di rumah?

Mulailah membiasakan diri untuk selalu “lapor” dan meminta restu. Katakanlah, “Mas, aku mau ke rumah Ibu ya, boleh nggak?” atau, “Mas, nanti sore teman-temanku mau main ke rumah sebentar, Mas idzinkan?”. Kalimat-kalimat sederhana ini akan membuat suami merasa sangat dihargai dan diakui keberadaannya. Saat Bunda menjaga idzinnya, Alloh akan menjaga langkah Bunda di mana pun Bunda berada.

7.4  Menjaga Harta dan Anak-Anak Saat Suami Tidak Ada di Rumah

Bunda, amanah terbesar seorang istri diuji saat pintu rumah tertutup dan suami melangkah keluar untuk mencari nafkah. Saat ia tidak ada di samping Bunda, apakah Bunda tetap menjadi sosok yang sama? Menjaga harta suami dan mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya adalah bentuk kesetiaan tingkat tinggi yang akan membuat suami merasa sangat tenang di luar sana.

Sungguh, seorang istri adalah penguasa dan penjaga di dalam rumah suaminya. Alloh memuji para istri yang mampu menjaga rahasia dan harta saat suami mereka tidak di tempat. Perhatikan firman-Nya:

﴿... فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ ...﴾

“...Maka wanita yang Sholihah adalah yang taat (kepada Alloh) lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada, karena Alloh telah memelihara (mereka)...” (QS. An-Nisa: 34)

Menjaga harta bukan berarti Bunda tidak boleh menggunakannya, tapi Bunda menggunakannya dengan bijak, tidak boros, dan tidak menghamburkannya untuk hal-hal yang tidak disukai suami. Bunda harus menjadi “manajer keuangan” yang cerdas. Saat suami pulang dan melihat hartanya terjaga dengan baik, ia akan semakin percaya dan tidak ragu untuk memberikan lebih banyak lagi kepada Bunda.

Selain harta, ada amanah yang lebih besar: Anak-anak. Bunda adalah sekolah pertama bagi mereka. Saat suami berjuang di luar, jadikanlah anak-anak sebagai pengikat cinta. Didiklah mereka untuk menghormati ayahnya. Jangan pernah menjelekkan ayah mereka di depan anak-anak, meski mungkin Bunda sedang ada masalah dengannya.

Rosululloh memberikan gambaran tanggung jawab ini melalui sabda beliau yang diriwayatkan dari Ibnu Umar (73 H):

«وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»

“Dan seorang wanita adalah pemimpin (penjaga) di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia jaga tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Secara psikologis, suami yang tahu bahwa istri dan anak-anaknya terjaga dengan baik di rumah akan memiliki produktivitas kerja yang lebih tinggi. Ia tidak akan cemas. Ketenangan hatinya adalah buah dari amanah yang Bunda jaga.

Pertanyaannya, Bun: Saat suami tidak ada, apakah Bunda masih menjaga kehormatan dengan tidak memasukkan orang yang tidak ia sukai ke rumah? Ataukah Bunda menggunakan uang belanja untuk hal-hal yang sebenarnya suami tidak ridho?

Mulai sekarang, jadikanlah diri Bunda sebagai “benteng” bagi rumah tangga kalian. Jagalah setiap rupiah yang ia hasilkan dengan susah payah, dan jagalah permata hati kalian (anak-anak) agar tumbuh menjadi penyejuk mata bagi ayahnya. Kesetiaan Bunda saat ia tidak melihat adalah bukti cinta yang paling murni.

7.5  Menjadi Istri Sholihah: Investasi Terindah bagi Dunia dan Akhiroh Suami

Bunda, sampailah kita pada muara dari segala strategi yang telah kita bahas. Dari urusan dandan, aroma, ranjang, masakan, hingga ketaatan, semuanya bermuara pada satu gelar yang paling diimpikan oleh setiap wanita Muslimah: Istri Sholihah. Bunda harus tahu, bahwa di mata seorang lelaki Mu’min, memiliki istri yang Sholihah adalah puncak dari segala kejayaan di dunia ini.

Dunia ini penuh dengan perhiasan yang menyilaukan mata—harta, tahta, dan kemewahan—namun tidak ada satu pun dari perhiasan itu yang mampu menandingi nilai seorang istri yang Sholihah. Rosululloh bersabda dengan kalimat yang sangat indah melalui riwayat Abdullah bin Amr (65 H):

«الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»

“Dunia adalah perhiasan (kesenangan), dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) yang Sholihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Mengapa disebut terbaik? Karena istri yang Sholihah tidak hanya menemani suaminya saat di dunia yang fana ini, tapi ia adalah pasangan yang akan digandeng tangannya menuju Jannah yang abadi. Istri yang Sholihah adalah ia yang jika dipandang menyenangkan, jika diperintah menaati, dan jika ditinggal pergi ia menjaga diri dan harta suaminya.

Menjadi Sholihah bukan berarti Bunda harus menjadi manusia sempurna tanpa cela. Sholihah adalah tentang arah dan usaha. Ia adalah istri yang selalu berusaha memperbaiki diri, yang segera meminta maaf jika salah, dan yang selalu meletakkan ridho suaminya di atas keinginan pribadinya selama tidak bermaksiat kepada Alloh .

Teori kebahagiaan sejati menyebutkan bahwa kepuasan hidup tidak datang dari apa yang kita miliki, tapi dengan siapa kita berbagi hidup. Suami yang memiliki istri Sholihah akan merasa kaya meskipun hartanya sedikit. Ia akan merasa kuat meskipun dunia sedang menghimpitnya.

Coba Bunda bayangkan: Di hari Akhiroh nanti, saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, Bunda dipanggil masuk ke Jannah melalui pintu mana saja yang Bunda sukai karena ketaatan Bunda kepada suami. Lalu di sana, Bunda akan kembali bertemu dengan suami dalam keadaan yang jauh lebih cantik daripada bidadari mana pun. Bukankah itu tujuan akhir kita?

Pertanyaan penutup untuk strategi ini: Apakah hari ini Bunda sudah meniatkan setiap polesan gincu, setiap masakan, dan setiap senyuman untuk meraih predikat Sholihah itu?

Jadikanlah diri Bunda sebagai investasi terbaik bagi suami Bunda. Buatlah ia merasa bahwa memiliki Bunda adalah ni’mat terbesar setelah ni’mat iman dan Islam. Dengan begitu, kasih sayangnya kepada Bunda tidak akan pernah luntur oleh waktu, bahkan akan terus mekar hingga ke dalam Jannah-Nya.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url