Nada Genit dan Lembut: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir
6.1 Menghindari Nada Tinggi
dan Kalimat yang Menusuk Jantung
Bunda, tahukah Bunda bahwa lisan seorang
istri bisa menjadi Jannah sekaligus Naar bagi suaminya? Seberapa pun cantiknya
wajah Bunda dan seberapa pun hebatnya dandan Bunda, semuanya akan sirna
seketika jika lisan Bunda tajam, penuh sindiran, atau sering menggunakan nada
tinggi yang membentak. Lelaki mungkin terlihat kuat di luar, tapi lisan yang
kasar dari istri yang dicintainya bisa menusuk jantungnya lebih dalam daripada
belati.
Sungguh, menjaga lisan adalah kewajiban
yang sangat ditekankan dalam Islam. Rosululloh ﷺ
memberikan tuntunan yang sangat indah agar kita berkata yang baik atau diam.
Beliau ﷺ bersabda dalam riwayat Abu Huroiroh (58 H):
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Hari
Akhiroh, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no.
6018 dan Muslim no. 47)
Jika kepada orang lain saja kita
diperintahkan berbicara baik, maka kepada suami yang merupakan pintu Jannah
kita, tentu lebih utama lagi. Hindarilah kalimat-kalimat yang merendahkan
kemampuannya, menyindir penghasilannya, atau membanding-bandingkannya dengan
suami orang lain. Kalimat seperti, “Kamu sih nggak kayak suami si anu,”
adalah racun yang akan membuat suami merasa tidak berharga di depan Bunda.
Secara psikologis, lelaki akan merespons
negatif jika diberikan tekanan berupa nada suara yang tinggi. Nada tinggi Bunda
akan dianggap sebagai ancaman atau tantangan, yang akhirnya memicu pertengkaran
hebat. Sebaliknya, kelembutan adalah senjata paling ampuh untuk melunakkan hati
lelaki yang keras sekalipun.
Coba Bunda bayangkan: Suami melakukan
kesalahan kecil, misalnya lupa mematikan lampu. Mana yang lebih membuatnya
sadar dan sayang? Bunda yang berteriak marah-marah, atau Bunda yang mendekat
lalu berkata dengan suara rendah, “Mas, lampunya belum mati tuh, nanti boros
lho, tolong dimatiin ya Sayang.”
Tentu yang kedua, bukan?
Pertanyaan refleksi untuk Bunda: Apakah
Bunda sering merasa puas saat berhasil “menang” dalam adu mulut dengan suami?
Ingatlah, kemenangan lisan atas suami adalah kekalahan dalam kasih sayang.
Jangan biarkan lidah Bunda menjadi penghalang turunnya rohmat Alloh ﷻ di
rumah kalian. Belajarlah untuk menahan diri saat marah, dan pilihlah kata-kata
yang menyejukkan.
6.2 Seni Berbicara Manja,
Lembut, dan “Mendayu” di Telinga Suami
Setelah Bunda berhasil menahan lisan dari
hal-hal yang buruk, sekarang saatnya Bunda menguasai “sihir” kata-kata yang
halal, yaitu berbicara dengan manja, lembut, dan mendayu. Bunda, jangan pernah
meremehkan kekuatan suara. Suara istri yang lembut adalah musik paling indah
bagi telinga suami.
Alloh ﷻ
mengingatkan para istri Nabi—dan ini menjadi teladan bagi seluruh wanita
Muslim—untuk tidak melunakkan suara di depan lelaki asing agar tidak timbul
fitnah. Namun, sebaliknya, ini menunjukkan bahwa melunakkan suara di depan
suami adalah sebuah keharusan dan daya tarik yang luar biasa.
Perhatikan firman Alloh ﷻ:
﴿فَلَا تَخْضَعْنَا بِالْقَوْلِ
فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا﴾
“...Maka janganlah kamu tunduk (melembutkan
suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam
hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Jika di depan lelaki lain kita harus tegas
dan biasa saja, maka di depan suami, Bunda boleh—bahkan sangat dianjurkan—untuk
“tunduk” dalam berbicara. Gunakanlah nada suara yang lebih halus, manja, dan
sedikit mendayu. Ini bukan berarti lebay, tapi ini adalah ekspresi femininitas
Bunda yang fithrohnya sangat disukai lelaki.
Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha dikenal
sebagai istri yang sangat cerdas namun tetap memiliki sisi kemanjaan yang luar
biasa di depan Nabi ﷺ. Beliau tahu kapan harus berbicara serius dan kapan harus
menggunakan lisan yang memanjakan hati suami.
Teori komunikasi menyebutkan bahwa cara menyampaikan
pesan (intonasi) seringkali lebih penting daripada isi pesan itu sendiri.
Kata-kata yang sama bisa bermakna beda jika diucapkan dengan nada yang berbeda.
Suara datar: “Mas, tolong bukain botol ini untuk
minum.” (Kesan: Memerintah).
Suara lembut mendayu: “Maaas... tolongin
buka botol ini dong, Mas kan
baeek...” (Kesan: Manja dan
penuh cinta).
Bunda, lelaki itu sangat mudah luluh dengan
kelembutan. Saat Bunda berbicara dengan nada yang manis, secara tidak sadar
suami akan merasa ingin terus melindungi dan menyenangkan Bunda. Suara Bunda
yang mendayu adalah pengingat baginya bahwa di rumah ada sosok wanita lembut
yang sangat membutuhkannya.
Pertanyaannya: Kapan terakhir kali Bunda
sengaja membisikkan kata-kata manja di telinga suami, atau berbicara dengan
nada yang sangat lembut saat ia sedang santai?
Jadilah “penyihir” lewat kata-kata.
Gunakanlah lisan Bunda untuk membangun mimpinya, menghapus lelahnya, dan
membangkitkan cintanya. Kata-kata yang lembut adalah investasi yang modalnya
gratis tapi keuntungannya luar biasa bagi keharmonisan rumah tangga Bunda.
6.3 Tidak Memotong Pembicaraan
dan Menjadi Pendengar yang Baik
Bunda, pernahkah Bunda merasa sangat ingin
bicara namun suami justru sedang asyik bercerita tentang pekerjaannya? Di
sinilah ujian kedewasaan cinta Bunda dimulai. Menjadi pendengar yang baik
adalah bentuk penghargaan tertinggi yang bisa Bunda berikan saat suami sedang
mencurahkan isi hatinya. Memotong pembicaraan bukan hanya tidak sopan, tapi
juga bisa mematikan keinginan suami untuk terbuka kepada Bunda di masa depan.
Islam sangat menjunjung tinggi etika dalam
berkomunikasi. Para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum) adalah teladan
terbaik dalam hal ini. Saat Rosululloh ﷺ
berbicara, mereka diam seribu bahasa seolah-olah ada burung yang hinggap di
atas kepala mereka karena saking khusyuknya mendengarkan.
Abu Huroiroh (58 H) meriwayatkan bimbingan
Nabi ﷺ:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Hari
Akhiroh, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no.
6018 dan Muslim no. 47)
Dalam konteks rumah tangga, “diam”
saat suami bicara adalah “diam” yang bermakna dukungan. Secara teori
komunikasi moderen, ini disebut dengan active listening (mendengar aktif).
Artinya, Bunda tidak hanya diam, tapi juga memberikan respon melalui tatapan
mata, anggukan kepala, atau sesekali gumaman yang menunjukkan bahwa Bunda
mengerti perasaannya.
Lelaki seringkali hanya butuh “didengarkan”
tanpa perlu diberi solusi yang panjang lebar, kecuali jika ia memintanya. Saat
Bunda tidak memotong kalimatnya, ia akan merasa bahwa pendapat dan ceritanya
sangat penting bagi Bunda. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan
kenyamanan emosional yang luar biasa baginya.
Pertanyaannya untuk Bunda: Apakah Bunda
lebih sering menunggu giliran bicara daripada benar-benar menyimak apa yang
suami katakan? Ataukah Bunda sering menyela dengan kalimat, “Ah, kalau itu
sih aku sudah tahu,”?
Mulai sekarang, cobalah untuk menjadi “telinga”
yang paling setia. Biarkan ia menuntaskan kalimatnya sampai akhir. Sungguh,
seorang istri yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian akan mendapatkan
tempat spesial di hati suami, karena ia tahu bahwa di rumah ada sosok yang
selalu menghargai setiap kata yang ia ucapkan.
6.4 Menjaga Rahasia Rumah
Tangga dan Tidak Mengumbar Aib Suami
Bunda, rahasia antara suami dan istri
adalah amanah yang sangat berat. Apa yang terjadi di balik pintu kamar,
kekurangan fisik suami, atau masalah intern keluarga bukanlah konsumsi publik,
bahkan bukan untuk diceritakan kepada orang tua atau sahabat karib sekalipun.
Menjaga rahasia adalah bukti kesetiaan dan kemuliaan akhlaq seorang istri
sholihah.
Sungguh, ancaman bagi mereka yang mengumbar
rahasia ranjang atau aib pasangan sangatlah mengerikan. Perhatikan sabda Nabi ﷺ yang
diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H):
«إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ
عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ،
وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»
“Sungguh, termasuk manusia yang paling
buruk kedudukannya di sisi Alloh pada Hari Kiamat adalah seorang lelaki yang
berhubungan dengan istrinya dan istri yang berhubungan dengan suaminya,
kemudian salah satu dari keduanya menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim no.
1437)
Meskipun Hadits ini menyebutkan tentang
rahasia intim, para ulama memperluas maknanya pada segala hal yang seharusnya
tetap tertutup di dalam rumah. Menjaga aib suami berarti menjaga wibawa Bunda
juga. Saat Bunda menceritakan kejelekan suami kepada orang lain, sebenarnya
Bunda sedang menjelekkan diri sendiri karena kalian adalah satu kesatuan.
Dalam tinjauan psikologi, kepercayaan
adalah pondasi utama pernikahan. Sekali Bunda membocorkan rahasianya, maka
hancurlah rasa aman suami di dekat Bunda. Ia akan merasa terancam dan tidak
lagi berani menjadi dirinya sendiri di depan Bunda.
Coba Bunda renungkan: Apakah Bunda merasa “plong”
setelah curhat tentang keburukan suami di grup WhatsApp atau saat kumpul
arisan? Ingatlah, rasa lega itu hanya sesaat, namun kerusakannya bisa abadi.
Jadilah seperti pakaian yang menutupi
kekurangan tubuh. Jika ada masalah, selesaikanlah berdua. Jika memang butuh
bantuan pihak ketiga, pilihlah orang yang bijak dan berilmu yang bisa menjaga
lisan. Menjaga rahasia suami adalah investasi keamanan jangka panjang bagi
kebahagiaan rumah tangga Bunda. Pastikan suami merasa bahwa rahasianya paling
aman saat berada di tangan Bunda.
6.5 Kalimat-Kalimat “Sakti”
yang Membuat Suami Merasa Dihargai
Bunda, tahukah Bunda bahwa ada beberapa
kalimat yang jika diucapkan dengan tulus akan bekerja seperti sihir yang
melembutkan hati lelaki? Kita menyebutnya “Kalimat Sakti”. Lelaki,
seberapa pun kuatnya ia di luar sana, tetaplah seorang manusia yang haus akan
apresiasi dan validasi dari wanita yang paling dicintainya.
Kunci dari segala ni’mat dunia adalah
syukur. Rosululloh ﷺ memberikan kaidah yang sangat indah melalui riwayat dari Abu
Huroiroh (58 H):
«لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ
لَا يَشْكُرُ النَّاسَ»
“Siapa yang tidak bersyukur (berterima
kasih) kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 4811)
Jika kepada manusia secara umum saja kita
wajib berterima kasih, maka kepada suami yang telah memberikan seluruh hidupnya
untuk Bunda, tentu ucapan terima kasih harus menjadi “zikir” harian
Bunda.
Apa saja kalimat sakti itu?
1. “Terima kasih ya Mas, sudah kerja
keras buat kami.” (Ini adalah validasi atas perannya sebagai pencari nafkah)
2. “Aku bangga banget punya suami kayak
kamu.” (Ini adalah suntikan harga diri yang sangat besar bagi lelaki)
3. “Maafin aku ya Mas, tadi aku salah.”
(Kalimat ini bisa memadamkan api amarah yang paling besar sekalipun)
4. “Aku butuh pendapat Abang, menurut Abang gimana?” (Ini menunjukkan bahwa Bunda menghargai akalnya)
Secara teori psikologi positif, apresiasi
kecil yang konsisten jauh lebih berdampak daripada hadiah mewah yang jarang
diberikan. Saat Bunda sering mengucapkan kalimat-kalimat ini, suami akan merasa
bahwa segala lelahnya terbayar tuntas. Ia akan merasa bahwa kehadirannya di
sisi Bunda bukanlah kesia-siaan.
Pertanyaan untuk Bunda: Kapan terakhir kali
Bunda membisikkan kalimat “Aku sayang kamu karena Alloh” tanpa ada
maunya? Ataukah lisan Bunda hanya keluar saat ingin meminta sesuatu saja?
Jadikan lisan Bunda sebagai pabrik
kata-kata indah. Biarkan telinga suami kenyang dengan pujian dan doa dari
Bunda. Kalimat-kalimat sakti ini tidak butuh biaya, hanya butuh ketulusan dan
sedikit kerendahan hati. Saat suami merasa dihargai dengan kata-kata, ia akan
dengan senang hati memberikan perbuatan terbaiknya untuk Bunda.
