Cari Artikel

Mempersiapkan...

Menunjukkan Merasa Butuh Kepada Suami: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 

5.1  Mengapa Lelaki Ingin Merasa Menjadi Pahlawan bagi Istrinya?

Bunda, ada satu rahasia besar di balik punggung lebar suami Bunda. Jauh di lubuk hatinya, setiap lelaki memiliki dorongan alami untuk menjadi pelindung, penyedia, dan pahlawan bagi orang yang ia cintai. Dalam bahasa bimbingan Wahyu, inilah yang disebut dengan fungsi qowwam.

Alloh berfirman:

﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ ...﴾

“Para lelaki adalah pemimpin (pelindung) bagi para wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...” (QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini bukan tentang siapa yang lebih tinggi derajatnya secara kemanusiaan, tapi tentang pembagian tugas. Lelaki didesain untuk “memberi” dan “melindungi”. Saat ia merasa berhasil melindungi istrinya atau membuat istrinya merasa aman, di situlah harga diri dan rasa cintanya tumbuh subur.

Banyak istri moderen yang merasa “terlalu kuat” dan “terlalu mandiri” sehingga jarang menunjukkan rasa butuh kepada suaminya. Padahal, jika seorang suami merasa ia tidak lagi dibutuhkan sebagai pahlawan, ia akan kehilangan motivasi untuk memberikan yang terbaik. Ia akan merasa hambar.

Lelaki butuh pengakuan. Ia ingin melihat bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil berupa kebahagiaan Bunda. Ia ingin mendengar bahwa Bunda merasa tenang karena ada dia di samping Bunda. Ini bukan berarti Bunda harus menjadi lemah atau tidak berdaya, tapi ini tentang “seni menunjukkan ketergantungan” yang manis.

Coba Bunda renungkan: Kapan terakhir kali Bunda memberikan pujian yang tulus atas perlindungan atau bantuan yang ia berikan? Misalnya dengan berkata, “Mas, aku merasa tenang banget kalau ada kamu di rumah,” atau, “Makasih ya Mas sudah benerin kran air, kalau nggak ada kamu aku nggak tahu harus gimana.”

Kalimat sederhana seperti itu bagi suami adalah “bahan bakar” yang luar biasa. Ia akan merasa seperti pahlawan yang baru saja menyelamatkan sebuah kota. Saat ia merasa sangat dibutuhkan oleh Bunda, secara otomatis rasa sayangnya akan berlipat ganda karena ia merasa memiliki tanggung jawab yang mulia. Jangan curi peran pahlawan ini darinya; biarkan ia menjadi sosok yang paling Bunda andalkan dalam hidup ini.

5.2  Bahaya Menjadi Istri yang Terlalu Mandiri dan “Sok Bisa Segala Hal”

Bunda, di zaman sekarang, banyak wanita yang didorong untuk menjadi sosok “super” yang serba bisa. Bisa cari uang sendiri, bisa benerin genteng bocor sendiri, sampai bisa angkat galon sendiri tanpa bantuan siapa pun. Tentu, kemandirian itu bagus untuk bertahan hidup. Namun, dalam ruang lingkup rumah tangga, sifat “terlalu mandiri” yang ditonjolkan di depan suami justru bisa menjadi bumerang yang mematikan kemesraan.

Mengapa demikian? Karena secara fithroh, lelaki diciptakan untuk menjadi pengayom. Jika Bunda selalu menunjukkan bahwa Bunda tidak butuh bantuannya sama sekali, maka suami akan merasa kehilangan peran. Ia akan merasa seperti pemain cadangan di rumahnya sendiri yang tidak pernah dipanggil ke lapangan. Pelan tapi pasti, ia akan menjauh karena merasa kehadirannya tidak memberi pengaruh apa-apa bagi hidup Bunda.

Ingatlah bimbingan dari Rosululloh yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh (58 H):

«اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ»

“Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para wanita, karena sungguh wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas.” (HR. Al-Bukhori no. 5186 dan Muslim no. 1468)

Tulang rusuk itu ada di bawah perlindungan tulang dada dan lengan. Ia diciptakan untuk dilindungi, bukan untuk berdiri tegak sendirian menghadapi badai seperti tulang punggung. Saat Bunda memaksakan diri menjadi “tulang punggung” yang sok kuat dalam segala hal di depan suami, Bunda sebenarnya sedang melawan fithroh kelembutan yang Alloh titipkan.

Lelaki moderen mungkin berkata mereka suka wanita mandiri, tapi secara biologis dan psikologis, mereka jauh lebih mencintai wanita yang membiarkan dirinya “dijaga”. Istri yang terlalu dominan dan sok bisa segala hal seringkali tanpa sadar merendahkan wibawa suaminya.

Pertanyaannya untuk Bunda: Apakah Bunda merasa bangga saat bisa melakukan semuanya tanpa melibatkan suami, ataukah Bunda menyadari bahwa dengan melibatkan suami, Bunda sedang memberikan jalan baginya untuk mendapatkan pahala pemimpin?

Jangan takut terlihat lemah di depan suami. Kelemahan Bunda adalah ruang bagi kekuatannya. Jika Bunda bisa melakukan suatu hal, tapi suami juga bisa melakukannya, maka biarlah ia yang melakukan untuk Bunda. Tahanlah keinginan untuk selalu memegang kendali. Berikan dia kesempatan untuk menjadi “pahlawan” yang Bunda andalkan. Dengan begitu, ia akan merasa sangat berarti dan akan semakin sayang kepada Bunda karena ia merasa benar-benar dibutuhkan.

5.3  Meminta Tolong dengan Manja: Taktik Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Suami

Bunda, ada perbedaan besar antara “memerintah” dan “meminta tolong dengan manja”. Banyak istri yang gagal karena mereka menggunakan nada memerintah saat butuh bantuan, yang akhirnya membuat suami merasa seperti pembantu, bukan pemimpin. Strategi jitu agar suami semakin sayang adalah dengan menggunakan teknik “meminta tolong yang memikat”.

Meminta tolong dengan cara yang manis adalah bentuk pengakuan atas kehebatan suami. Saat Bunda berkata, “Mas, aku nggak bisa buka tutup botol ini, tanganku nggak sekuat tangan Mas, tolongin ya?”, kalimat itu mengandung dua hal: pengakuan akan kelemahan Bunda dan pujian akan kekuatan suami. Lelaki mana yang tidak akan langsung merasa terbang ke langit mendengarnya?

Kita bisa belajar dari gaya interaksi ibunda kita, Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha. Beliau adalah wanita yang cerdas, namun beliau tahu cara bersikap manja di depan Rosululloh untuk menumbuhkan kemesraan. Beliau bercerita:

«كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فَيَّ، فَيَشْرَبُ»

“Aku pernah minum saat aku sedang haidh, kemudian aku memberikannya kepada Nabi , lalu beliau meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku, kemudian beliau pun minum.” (HR. Muslim no. 300)

Minta tolong untuk hal-hal kecil dengan nada yang lembut adalah “sihir” yang diperbolehkan. Seseorang akan lebih menyukai orang lain yang meminta bantuan kepadanya. Mengapa? Karena memberi bantuan membuat orang tersebut merasa berguna dan memiliki posisi yang penting.

Bunda bisa mencoba taktik ini:

1. Gunakan nada suara yang sedikit lebih rendah dan lembut (mendayu).

2. Gunakan kata-kata yang menunjukkan Bunda sangat mengandalkannya.

3. Berikan tatapan mata yang penuh harap (seperti anak kecil yang minta digendong)

Pertanyaan refleksi: Kapan terakhir kali Bunda sengaja “berpura-pura” butuh bantuan untuk hal kecil hanya agar suami bisa menunjukkan kebolehannya di depan Bunda?

Jangan gengsi untuk minta tolong. Meminta tolong dengan manja bukan berarti Bunda tidak mampu, tapi Bunda sedang memberi nutrisi bagi jiwa kepemimpinan suami. Saat ia berhasil menolong Bunda, ia akan merasa puas dengan dirinya sendiri, dan kepuasan itu akan ia tumpahkan dalam bentuk kasih sayang yang lebih besar kepada Bunda. Jadikan diri Bunda sebagai sosok yang selalu butuh bimbingan dan bantuannya, maka ia akan menjadi pelindung yang paling setia bagi Bunda.

5.4  Memuji Kehebatan dan Kerja Keras Suami

Bunda, satu hal yang paling ditakuti oleh seorang istri sholihah adalah termasuk dalam golongan wanita yang dikritik oleh Nabi karena kurang bersyukur kepada suaminya. Lelaki itu, meski terlihat tangguh, hatinya sangat haus akan apresiasi. Baginya, pujian dari mulut Bunda jauh lebih berharga daripada kenaikan pangkat di kantornya.

Ada sebuah peringatan keras dari Rosululloh melalui riwayat Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash (65 H):

«لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكَرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ»

“Alloh tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia sangat butuh kepada suaminya tersebut.” (HSR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 9086)

Kalimat “padahal ia sangat butuh” menunjukkan bahwa sebenarnya kita sebagai istri sangat bergantung pada nafkah dan perlindungan suami, tapi terkadang ego menutupi rasa syukur itu. Kurangnya apresiasi adalah racun yang secara perlahan membunuh rasa sayang suami. Jika ia merasa kerja kerasnya seharian di luar rumah dianggap “biasa saja” atau bahkan dikritik karena kurang banyak, maka semangatnya untuk membahagiakan Bunda akan padam.

Sebaliknya, pujian adalah “amunisi” bagi suami. Pujilah hal-hal kecil yang ia lakukan.

Jika ia membawakan martabak saat pulang, jangan cuma bilang “makasih”, tapi katakan, “Maa syaa Alloh, Mas kok tahu banget aku lagi pengen ini? Mas emang paling perhatian deh!”

Jika ia berhasil memperbaiki sesuatu di rumah, katakan, “Wah, kalau nggak ada Mas, aku gak tahu Alloh bantu aku lewat siapa. Mas hebat banget!”

Teori penguatan positif (positive reinforcement) menyatakan bahwa perilaku yang diberi penghargaan atau pujian cenderung akan diulangi. Jika Bunda ingin suami semakin rajin membantu atau semakin royal memberikan nafkah, maka perbanyaklah pujian atas apa yang sudah ia berikan sekarang.

Pertanyaannya: Apakah hari ini Bunda sudah mengucapkan terima kasih dan memberikan pujian tulus atas nafkah yang ia berikan, ataukah Bunda hanya diam saja seolah-olah itu sudah menjadi kewajibannya yang tidak perlu diapresiasi?

Ingatlah, Bun, suami Bunda bertaruh nyawa dan harga diri di luar sana demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Jadikanlah lisan Bunda sebagai penyejuk hatinya. Biarkan ia merasa bahwa di mata Bunda, dia adalah lelaki terhebat yang pernah ada. Pujian Bunda akan membuatnya merasa gagah, dan lelaki yang merasa gagah di depan istrinya akan memberikan seluruh dunianya untuk istri tersebut.

5.5  Menjadikan Suami sebagai Tempat Curhat dan Pengambil Keputusan Utama

Bunda, terkadang kita sebagai istri merasa sudah tahu jawaban atas masalah yang kita hadapi. Kita merasa sudah mandiri dan mampu memutuskan sendiri urusan rumah tangga, mulai dari memilih sekolah anak sampai urusan perabotan dapur. Namun, tahukah Bunda bahwa dengan “melangkahi” keputusan suami, Bunda sedang meruntuhkan perlahan wibawanya di rumah sendiri?

Lelaki akan merasa sangat dihargai dan dianggap sebagai pemimpin sejati saat istrinya menjadikan dia sebagai tempat berlabuh terakhir dalam setiap keluh kesah dan keputusan. Sungguh, ini bukan tentang Bunda tidak mampu, tapi tentang menempatkan suami pada kedudukan yang telah Alloh tetapkan.

Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾

“Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 34)

Sebagai pemimpin, ia punya hak untuk dimintai pertimbangan. Ketika Bunda datang kepadanya untuk bercerita tentang masalah hari ini, meskipun mungkin suami hanya bisa mendengarkan tanpa memberi solusi yang hebat, ia akan merasa bahwa dirinya sangat penting bagi Bunda. Ia akan merasa bahwa Bunda percaya kepadanya.

Bunda bisa belajar dari teladan ibunda kita, Khodijah (3 SH) rodhiyallahu ‘anha. Saat Rosululloh menerima Wahyu pertama dan merasa sangat gemetar serta takut, beliau segera pulang dan mencurahkan segala kegundahannya kepada Khodijah. Khodijah menjadi tempat curhat yang menenangkan, pendengar yang baik, dan penguat jiwa. Inilah yang membuat Nabi selalu merindukan Khodijah seumur hidup beliau.

Teori relasi moderen menyebutkan bahwa pasangan yang saling melibatkan dalam pengambilan keputusan memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi. Saat Bunda bertanya, “Mas, menurut kamu lebih baik aku ambil tawaran ini atau nggak ya?”, Bunda sedang memvalidasi egonya sebagai pemimpin.

Pertanyaan untuk Bunda: Apakah Bunda lebih sering curhat ke teman atau ke media sosial daripada ke suami sendiri? Ataukah Bunda sering mengambil keputusan besar tanpa idzinnya?

Mulai sekarang, jadikanlah suami sebagai orang pertama yang tahu rahasia dan rencana Bunda. Mintalah idzin dan pertimbangannya dalam segala hal. Meskipun mungkin Bunda punya pendapat berbeda, tunjukkanlah bahwa keputusan akhirnya ada di tangannya. Saat ia merasa benar-benar menjadi “nakhoda” dalam kapal rumah tangga kalian, ia akan semakin sayang dan merasa bertanggung jawab penuh untuk membahagiakan Bunda.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url