Cari Artikel

Mempersiapkan...

Masakan Enak dan Menjaga Jadwal Tidur Suami: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 

4.1  Menyiapkan Makanan Tepat Waktu

Pernahkah Bunda mendengar istilah bahwa jalan menuju hati lelaki adalah melalui perutnya? Mungkin terdengar klasik, tapi percayalah, ini adalah kebenaran yang tidak lekang oleh waktu. Bagi seorang lelaki yang seharian bekerja keras memeras keringat dan pikiran, makanan bukan sekadar pengisi lambung. Ia adalah simbol penghargaan dan perhatian dari istrinya.

Ketepatan waktu adalah kuncinya. Lelaki memiliki jam biologis yang cukup kaku jika sudah menyangkut rasa lapar. Ketika perut lapar, kadar gula darah turun, dan secara medis ini memicu pelepasan hormon stres yang membuat seseorang mudah tersinggung atau “emosian”. Inilah mengapa menyiapkan makanan tepat waktu sangat krusial untuk menjaga mood suami agar tetap stabil.

Alloh memberikan pujian kepada orang-orang yang gemar memberi makan, dan tentu saja, memberi makan suami adalah sedekah yang paling utama bagi seorang istri. Rosululloh bersabda:

«إِذَا أَنْفَقَتِ المَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا»

“Jika seorang wanita menginfakkan (memberikan makanan) dari rumah suaminya tanpa menimbulkan kerusakan, maka baginya pahala atas apa yang ia infakkan, dan bagi suaminya pahala atas apa yang ia usahakan. Begitu pula berlaku bagi pelayan. Tanpa saling mengurangi pahala sedikitpun.(HR. Al-Bukhori no. 1425)

Memberi makan suami bukan sekadar rutinitas dapur, tapi sebuah pengabdian. Bayangkan jika suami pulang dan meja makan masih kosong, atau ia harus menunggu berjam-jam saat perutnya sudah berbunyi. Rasa kesal yang timbul bisa merembet ke hal-hal lain. Sebaliknya, saat ia datang dan hidangan sudah tersaji hangat tepat pada waktunya, ia akan merasa sangat dimuliakan.

Pertanyaannya, Bun: Apakah Bunda sudah memiliki jadwal rutin kapan harus mulai memasak agar makanan siap sebelum suami merasa lapar? Ataukah Bunda seringkali baru sibuk di dapur justru saat suami sudah menanyakan makanan?

Secara teori manajemen, ketepatan waktu menunjukkan bahwa Bunda menghargai keberadaannya. Cobalah untuk mengenali pola lapar suami. Jika ia biasa makan siang jam satu, pastikan jam satu kurang sepuluh menit meja sudah rapi. Jika ia biasa makan malam setelah Sholat Maghrib, jangan biarkan ia menunggu sampai Isya. Pelayanan yang sigap dalam urusan perut adalah bentuk “sihir” yang membuat suami merasa aman dan nyaman di samping Bunda.

4.2  Menghafal Menu Kesukaan dan Jam Lapar Suami

Bunda, setiap lelaki itu unik, terutama dalam urusan lidah. Ada yang sangat suka pedas, ada yang tidak bisa makan tanpa kerupuk, atau ada yang sangat fanatik dengan masakan tertentu yang mengingatkannya pada masa kecil. Mengenali dan menghafal detail-detail kecil ini adalah level lanjutan dari strategi “manajemen perut”.

Lelaki akan merasa sangat dicintai ketika ia mendapati istrinya memasakkan menu favoritnya tanpa perlu diminta. Itu menunjukkan bahwa Bunda benar-benar memperhatikannya. Rosululloh sendiri memiliki makanan yang sangat beliau sukai. Anas bin Malik (93 H) mengisahkan:

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الدُّبَّاءُ»

“Dahulu Nabi sangat menyukai buah labu.” (HR. Al-Bukhori no. 5433)

Selain itu, dalam riwayat lain dari Aisyah (58 H) disebutkan:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ الْحَلْوَاءَ وَالْعَسَلَ»

“Sungguh Rosululloh sangat menyukai makanan manis dan madu.” (HR. Al-Bukhori no. 5431)

Jika Bunda tahu suami sedang lelah atau sedang menghadapi masalah di kantor, coba sajikan menu “andalan” yang paling ia sukai. Secara psikologis, mengonsumsi makanan favorit dapat memicu pelepasan dopamin yang membuat perasaan menjadi lebih tenang dan bahagia. Ini adalah cara paling lembut untuk merayu hatinya tanpa perlu banyak bicara.

Coba Bunda ingat-ingat: Kapan terakhir kali Bunda memberikan kejutan berupa makanan kesukaan suami, bukan karena ada acara spesial, tapi murni hanya ingin menyenangkannya?

Jangan hanya memasak apa yang Bunda ingin masak, tapi masaklah apa yang ia ingin makan. Catatlah menu-menu yang membuatnya lahap, dan perhatikan jam-jam di mana ia biasanya mulai merasa butuh camilan atau kopi hangat. Dengan menjadi “ahli gizi” pribadinya yang penuh pengertian, Bunda tidak hanya menjaga kesehatannya, tapi juga sedang memikat jiwanya agar tidak pernah berpaling dari masakan Bunda. Masakan istri yang dibuat dengan rasa cinta dan niat ibadah memiliki rasa yang tidak akan pernah bisa ditemukan di restoran semahal apa pun.

Termasuk kesalahan istri adalah menjadikan makanan satu rasa untuk menyesuaikan anak-anak sehingga rasanya tawar atau hambar. Yang benar adalah memasak dua rasa, untuk suami berbeda untuk anak-anak. Banyak pertengkaran hebat di rumah ternyata sumber “kasat mata”-nya menu satu rasa.

4.3  Menyambut Suami Pulang Kerja: Antara Air Minum dan Pijatan Ringan

Bunda, momen 10 menit pertama saat suami menginjakkan kaki di rumah setelah bekerja adalah waktu yang sangat menentukan suasana sisa hari itu. Apakah ia akan merasa relaks, atau justru semakin penat? Di sinilah strategi penyambutan fisik memegang peranan vital. Jangan biarkan ia masuk ke rumah dan hanya disambut oleh tumpukan cucian atau pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan pikiran.

Sambutlah ia dengan segelas air dingin yang segar atau secangkir teh hangat, tergantung cuaca dan seleranya. Dalam sejarah Islam, kita melihat betapa luar biasanya Khodijah (3 SH) rodhiyallahu ‘anha menyambut Rosululloh saat beliau pulang dari gua Hiro dalam keadaan ketakutan dan gemetar. Khodijah tidak langsung bertanya, “Kenapa?” atau “Ada apa?”. Beliau justru menyelimuti Nabi , memberikan ketenangan fisik, dan berkata dengan kalimat yang sangat menguatkan jiwa.

Pelajaran besarnya: Berikan kenyamanan fisik dulu sebelum komunikasi lisan yang berat. Setelah ia sedikit tenang, berikanlah pijatan ringan di bahu atau kaki. Lelaki seringkali membawa ketegangan otot setelah seharian beraktivitas. Sentuhan tangan Bunda yang lembut saat memijat bukan hanya sekadar urusan pegal-pegal, tapi itu adalah bentuk transfer energi kasih sayang.

Rosululloh bersabda mengenai kemuliaan melayani suami:

«لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا»

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1159)

Tentu saja sujud tidak diperbolehkan kepada manusia, namun Hadits ini menunjukkan betapa besarnya hak suami yang harus ditunaikan oleh istri dengan penuh pengabdian dan kerendahan hati. Melayani suami dengan minuman dan pijatan adalah bentuk nyata dari pengabdian tersebut.

Secara medis, pijatan ringan dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang memperkuat ikatan emosional. Saat Bunda memijat suami, ia akan merasa bahwa Bunda adalah sosok yang paling mengerti penderitaannya dan paling tulus menghargai kerja kerasnya.

Pertanyaan untuk Bunda: Saat suami pulang, apakah Bunda menyambutnya di depan pintu dengan wajah berseri dan tawaran minum, ataukah Bunda hanya berteriak dari dalam kamar atau dapur?

Mulai hari ini, buatlah ritual penyambutan yang manis. Biarkan suami merasa bahwa melangkahkan kaki ke dalam rumah adalah masuk ke dalam sebuah pelukan yang hangat. Dengan air minum yang segar dan pijatan yang tulus, Bunda sedang menghapus segala luka dan lelah yang ia dapatkan di luar sana. Jadikan diri Bunda sebagai pelabuhan terakhir di mana ia selalu ingin berlabuh setelah mengarungi samudera kehidupan yang keras.

4.4  Memastikan Suami Tidur dalam Keadaan Nyenyak dan Tenang

Bunda, setelah lelah beraktivitas seharian, puncak dari segala kenyamanan yang dicari suami adalah tidur yang berkualitas. Tidur bukan sekadar memejamkan mata, tapi momen di mana tubuh dan pikirannya melakukan pemulihan total. Jika Bunda mampu menjadi fasilitator bagi tidurnya yang nyenyak, maka setiap kali ia bangun dengan perasaan segar, hatinya akan secara otomatis berterima kasih kepada Bunda.

Sungguh, suasana sebelum tidur sangat menentukan suasana hati suami saat bangun di pagi hari. Islam memberikan perhatian besar pada etika tidur. Perhatikan bimbingan Rosululloh yang diceritakan oleh istri beliau, Aisha (58 H):

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ، غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ»

“Dahulu Rosululloh jika ingin tidur dalam keadaan junub, beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhunya untuk Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 288 dan Muslim no. 305)

Dari sini kita belajar bahwa kesucian dan kesegaran sebelum tidur adalah sunnah. Bunda bisa membantu suami menyiapkan air hangat untuk wudhu, atau sekadar memastikan sprei sudah dikibas bersih dari debu. Secara teori kesehatan, suhu ruangan yang sejuk dan kegelapan yang cukup sangat membantu otak memproduksi hormon melatonin yang bikin tidur lebih dalam.

Coba Bunda bayangkan, suami masuk ke kamar, lampu sudah redup, aroma kamar harum menenangkan (seperti yang kita bahas sebelumnya), dan Bunda sudah siap di sampingnya dengan pakaian yang seksi. Jangan biarkan ia tidur sambil memegang beban pikiran. Jadilah pendengar yang baik jika ia ingin bercerita sebentar, atau berikan usapan lembut di kepalanya sampai ia terlelap.

Pertanyaannya, Bun: Apakah Bunda sering mengajak suami berdebat atau membahas masalah keuangan tepat saat ia sudah menarik selimut? Jika iya, segera hentikan. Kamar tidur adalah zona damai. Masalah berat bisa dibahas besok pagi setelah energinya pulih. Pastikan ia menutup mata dengan senyuman dan perasaan bahwa ia adalah lelaki paling beruntung karena memiliki Bunda sebagai pelindungnya di kala lelap.

4.5  Menata Rumah Agar Menjadi Tempat Istirahat yang Paling Nyaman (Baiti Jannati)

Bunda, rumah adalah cerminan hati penghuninya. Pernahkah Bunda merasa pusing dan penat hanya karena melihat rumah yang berantakan, mainan anak berceceran, atau cucian yang menumpuk? Jika Bunda saja merasa begitu, apalagi suami yang baru pulang dari luar rumah yang penuh dengan hiruk-pikuk dan ketegangan.

Alloh berfirman dalam Al-Qur’an mengenai fungsi rumah:

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا ...﴾

“Dan Alloh menjadikan rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal (tempat ketenangan) bagimu...” (QS. An-Nahl: 80)

Kata “sakan” dalam ayat tersebut berarti tempat untuk tenang dan tentram. Rumah tidak harus mewah, tidak harus luas, dan tidak harus penuh dengan barang mahal. Rumah yang sederhana namun tertata rapi, bersih, dan harum jauh lebih dicintai lelaki daripada istana yang berantakan.

Lelaki secara alami menyukai keteraturan visual meskipun terkadang mereka sendiri sulit untuk melakukannya.

Tugas Bunda adalah menjadi “manajer” keindahan di rumah. Pastikan ruang tamu selalu siap menyambutnya, dan meja makan selalu bersih dari sisa makanan. Penataan cahaya yang hangat di sore hari juga bisa mengubah suasana rumah menjadi lebih romantis dan menenangkan.

Teori tata ruang moderen menyebutkan bahwa rumah yang rapi dapat menurunkan tingkat hormon kortisol (penyebab stres). Saat suami merasa rumahnya adalah tempat paling nyaman di dunia, ia tidak akan punya alasan untuk sering-sering “nongkrong” di luar rumah tanpa keperluan jelas. Ia akan selalu rindu untuk segera pulang karena “Jannah” kecilnya ada di rumah bersama Bunda.

Pertanyaan untuk Bunda: Bagian mana dari rumah yang paling disukai suami untuk bersantai? Sudahkah Bunda memberikan perhatian ekstra agar sudut tersebut selalu bersih dan nyaman baginya?

Jangan remehkan urusan merapikan bantal kursi atau menyeka debu di meja. Setiap usaha Bunda menata rumah dengan niat menyenangkan suami adalah ibadah yang nilai pahalanya sangat besar. Jadikan rumah Bunda sebagai magnet yang selalu menarik hati suami untuk kembali dan menetap dalam kedamaian.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url