Cari Artikel

Mempersiapkan...

Memuaskan Ranjang Suami: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 


3.1  Memahami Bahwa Jimak Adalah Kebutuhan Primer Lelaki

Sekarang kita masuk ke pembahasan yang sangat penting dan mendasar, Bun. Banyak konflik rumah tangga bermula dari ketidakpahaman istri terhadap hal ini. Bunda harus menyadari sepenuhnya bahwa bagi seorang lelaki, urusan jimak atau hubungan intim bukanlah sekadar “hiburan” atau “bonus” dalam pernikahan. Bagi mereka, ini adalah kebutuhan primer yang setara dengan rasa lapar dan haus.

Alloh menciptakan lelaki dengan dorongan biologis yang sangat kuat dan terfokus. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik di rumah, maka keseimbangan emosi dan fokus suami bisa terganggu. Inilah mengapa agama kita memberikan penekanan yang sangat luar biasa agar istri selalu siap sedia melayani suami dalam urusan ini.

Perhatikan sabda Rosululloh yang sangat tegas ini:

«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ»

“Jika seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan intim) lalu sang istri menolak, sehingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para Malaikat akan melaknat istri tersebut hingga waktu pagi.” (HR. Al-Bukhori no. 3237 dan Muslim no. 1436)

Mungkin sebagian wanita merasa Hadits ini “berat”, namun jika kita melihat dari sisi kasih sayang, Hadits ini sebenarnya adalah bentuk penjagaan terhadap keharmonisan rumah tangga. Sungguh, Islam ingin memastikan bahwa suami mendapatkan penyaluran yang halal dan ni’mat di dalam rumahnya, sehingga ia tidak tergoda untuk mencari pelampiasan di luar yang penuh dengan Naar.

Secara medis, hubungan intim bagi lelaki berfungsi sebagai sarana pelepasan hormon stres (kortisol) dan penggantinya dengan hormon kebahagiaan. Saat Bunda melayani suami dengan penuh keridhoan, Bunda bukan hanya sedang menjalankan tugas, tapi sedang memberikan “obat” bagi kesehatan mental dan fisiknya.

Pertanyaannya: Apakah selama ini Bunda menganggap ajakan suami sebagai beban yang melelahkan, ataukah Bunda melihatnya sebagai peluang emas untuk meraih ridho Alloh dan cinta terdalam suami?

Pahami bahwa saat suami mengajak, itu adalah bentuk pengakuan bahwa ia sangat membutuhkan Bunda. Ia sedang menunjukkan kerentanannya dan mencari ketenangan hanya pada Bunda. Maka, sambutlah dengan hangat. Jangan biarkan ia tertidur dalam keadaan haus akan kasih sayang Bunda. Dengan memahami kebutuhan ini sebagai prioritas, Bunda telah mengunci pintu hati suami dengan sangat rapat.

3.2  Menjadi Istri yang Genit dan Aktif Memulai

Bunda, ada satu rahasia yang jarang dibicarakan secara terbuka: Lelaki itu sangat suka jika sesekali istrinya yang mengambil inisiatif. Jangan terjebak dalam pemikiran kuno bahwa istri harus selalu pasif, malu-malu kucing, atau “menunggu bola”. Menjadi istri yang genit, aktif, dan ekspresif di atas ranjang adalah salah satu kunci utama agar suami tidak pernah bosan kepada Bunda.

Ingatlah kembali percakapan Rosululloh dengan Jabir bin Abdillah (74 H). Beliau menyarankan untuk menikahi gadis yang bisa “bermain-main” dan “saling membuat tertawa”. Kata “tula’ibuha wa tula’ibuka” (kamu bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu) menunjukkan adanya interaksi timbal balik yang aktif, bukan komunikasi satu arah.

Istri yang hanya diam “seperti patung” saat berhubungan intim seringkali membuat suami merasa tidak diinginkan atau merasa bahwa ia sedang melakukannya sendirian. Sebaliknya, istri yang berani menunjukkan gairahnya, memberikan respon yang aktif, bahkan sesekali memulai godaan sejak di ruang tamu atau melalui pesan singkat, akan membuat suami merasa sangat dihargai sebagai lelaki.

Bunda bisa memulai dengan hal-hal kecil:

1. Memberikan tatapan nakal saat ia baru pulang.

2. Membisikkan kalimat-kalimat yang menggoda di telinganya.

3. Memakai pakaian yang sangat terbuka (seperti yang kita bahas di Bab 1) khusus untuk memancing perhatiannya.

4. Menjadi pihak yang mengajak lebih dulu tanpa merasa rendah diri.

Sungguh, tidak ada kata “malu” dalam kemesraan suami istri. Justru sifat genit Bunda di depan suami adalah sebuah keutamaan. Para Salaf dahulu bahkan ada yang mengatakan bahwa sebaik-baik istri adalah yang melepaskan rasa malunya saat sedang bersama suaminya, dan kembali mengenakan rasa malunya saat ia keluar rumah.

Pertanyaan refleksi untuk Bunda: Kapan terakhir kali Bunda yang “menyerang” suami duluan dengan pelukan hangat atau ajakan manja ke kamar?

Jangan takut dianggap tidak sopan. Bagi suami, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mengetahui bahwa istrinya sangat menginginkannya secara biologis. Jadilah istri yang penuh variasi, ekspresif, dan ceria. Dengan menjadi aktif, Bunda tidak hanya memuaskan hasratnya, tapi juga membangun kepercayaan diri suami sebagai seorang pemimpin di rumah tangga. Biarkan ia selalu merasa penasaran dengan kejutan-kejutan romantis yang akan Bunda berikan setiap malamnya.

3.3  Larangan Menolak Ajakan Suami dan Resiko di Baliknya

Bunda yang baik, kita masuk ke pembahasan yang mungkin terasa sensitif, namun sungguh ini adalah bentuk penjagaan Alloh terhadap keutuhan rumah tangga Bunda. Pernahkah Bunda merasa sangat lelah, mengantuk, atau sedang tidak mood, lalu tiba-tiba suami memberikan sinyal atau ajakan untuk berhubungan intim? Di saat itulah, kesabaran dan ketaatan Bunda sedang diuji di level tertinggi.

Islam sangat menekankan agar seorang istri tidak menolak ajakan suaminya kecuali jika ada udzur syar’i yang menghalangi (seperti sakit parah, haidh, atau nifas). Mengapa demikian? Karena bagi seorang lelaki, penolakan dalam urusan ranjang bukan sekadar “gagal berhubungan”, melainkan sebuah hantaman bagi harga dirinya dan beban pikiran yang bisa merusak konsentrasinya.

Rosululloh memberikan peringatan yang sangat serius melalui sabdanya:

«إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ»

“Jika seorang lelaki mengajak istrinya untuk menunaikan hajatnya (jimak), maka hendaknya sang istri mendatanginya, meskipun ia sedang berada di depan tungku api (sedang memasak).” (HSR. At-Tirmidzi no. 1160)

Coba Bunda bayangkan, tungku api adalah simbol kesibukan yang sangat mendesak dan panas. Namun, Nabi tetap memerintahkan untuk mengutamakan hajat suami. Mengapa? Karena rasa lapar perut bisa ditahan, namun “rasa lapar” biologis lelaki seringkali bersifat mendesak dan jika tidak segera dipadamkan secara halal, dikhawatirkan syaithon akan membukakan pintu-pintu fitnah di luar sana.

Sungguh, menolak ajakan suami tanpa alasan yang dibenarkan bisa mendatangkan kemurkaan dari langit. Selain Hadits tentang laknat Malaikat yang sudah kita singgung sedikit, ada resiko psikologis yang nyata. Lelaki yang sering ditolak cintanya di rumah akan merasa tidak dihargai, menjadi mudah marah, atau yang paling berbahaya: ia akan menjadi dingin dan mulai mencari pelarian, baik itu melalui gadget atau hal-hal negatif lainnya.

Pertanyaannya untuk Bunda: Mana yang lebih berat, melawan rasa kantuk selama 15-30 menit demi melayani suami, atau menanggung resiko hilangnya keharmonisan dan ketenangan di dalam rumah tangga selama berhari-hari ke depan?

Secara teori hubungan, konsistensi dalam urusan ranjang adalah “perekat” yang paling kuat. Saat Bunda tetap menyambut suami meski sedang lelah, suami akan merasa sangat dicintai dan dihargai. Ia akan melihat Bunda sebagai pahlawan bagi jiwanya. Maka, singkirkanlah ego sejenak. Jika memang Bunda benar-benar sangat lelah, bicarakanlah dengan lembut sambil tetap memberikan pelayanan yang Bunda mampui, bukan dengan ketus atau menolak mentah-mentah. Ingatlah, keridhoan suami adalah jalan pintas Bunda menuju Jannah.

3.4  Variasi dan Komunikasi dalam Berhubungan Intim Agar Tidak Bosan

Bunda, rutinitas adalah musuh terbesar dalam kemesraan. Jika setiap kali berhubungan intim caranya selalu sama, tempatnya itu-itu saja, dan suasananya begitu-begitu saja, maka tidak heran jika lama-kelamaan gairah akan memudar.

Alloh memberikan kebebasan yang sangat luas bagi pasangan suami istri untuk mengeksplorasi gaya dan variasi, selama dilakukan di tempat yang benar (kemaluan) dan bukan di dubur. Perhatikan firman Alloh :

﴿نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja (dengan cara apa saja) yang kamu sukai.” (QS. Al-Baqoroh: 223)

Ayat ini turun sebagai jawaban atas mitos-mitos kuno yang mengatakan bahwa gaya tertentu dalam berhubungan intim bisa menyebabkan anak lahir cacat atau juling. Islam datang menghapus mitos itu dan memberikan kebebasan penuh: mau dari depan, dari belakang, miring, atau gaya apa pun, silakan! Yang penting tujuannya adalah kebahagiaan bersama dan masuk kemaluan bukan anus.

Secara teori psikologi seksual, variasi sangat penting untuk menjaga kadar dopamin (hormon kesenangan) tetap tinggi. Bunda bisa mencoba beberapa strategi:

1. Ganti Lokasi: Tidak harus selalu di atas kasur. Sesekali di sudut ruangan lain yang aman dari jangkauan anak-anak bisa memberikan sensasi berbeda.

2. Ganti Suasana: Redupkan lampu, pasang wewangian (seperti yang kita bahas di BAB 2), atau ganti pakaian sebelum memulai.

3. Komunikasi Terbuka: Jangan malu untuk bertanya, “Mas, gaya seperti apa yang paling Mas suka?” atau memberikan masukan, “Aku lebih ni’mat kalau begini, Mas.”

Lelaki sangat menghargai istri yang komunikatif di atas ranjang. Jangan biarkan suami menebak-nebak apa yang Bunda rasakan. Komunikasi yang jujur akan menghilangkan kecanggungan dan membuat hubungan menjadi lebih berkualitas.

Pertanyaan untuk Bunda: Pernahkah Bunda sengaja mempelajari atau mencari ide (yang halal tentu saja) untuk memberikan kejutan gaya baru bagi suami? Ataukah Bunda hanya pasrah mengikuti apa pun yang suami lakukan?

Jadilah istri yang kreatif. Jadikan diri Bunda sebagai “kitab yang tak pernah habis dibaca” oleh suami. Dengan variasi yang terus Bunda berikan, suami tidak akan pernah memiliki alasan untuk melirik keindahan lain, karena ia telah menemukan semua yang ia butuhkan—bahkan lebih—pada diri Bunda.

3.5  Mandi Jinabat Bersama

Setelah selesai berhubungan intim, banyak pasangan yang langsung terlelap atau mandi sendiri-sendiri secara terburu-buru. Padahal, ada satu momen emas untuk memperkuat ikatan batin yang seringkali terlupakan: mandi jinabat bersama. Ini bukan sekadar urusan membersihkan diri dari hadats besar, tapi ini adalah ibadah yang dibalut dengan kemesraan luar biasa.

Bunda, tahukah Bunda bahwa Rosululloh sering melakukan hal ini bersama istri-istri beliau? Aisyah (58 H) menceritakan dengan sangat indah:

«كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ»

“Aku pernah mandi bersama Rosululloh dari satu wadah yang sama, tangan kami saling berebut (gayung karena becanda).(HR. Al-Bukhori no. 261 dan Muslim no. 321)

Bisa Bunda bayangkan betapa romantisnya suasana itu? Di bawah guyuran air, ada sentuhan fisik yang lembut, ada canda tawa, dan ada percakapan santai setelah momen intim. Mandi bersama bisa mencairkan suasana yang mungkin tadinya tegang dan menjadi sarana bonding yang sangat efektif.

Teori relasi moderen menyebutkan bahwa aktivitas bersama yang melibatkan kontak fisik dan air dapat meningkatkan rasa percaya dan kedekatan antar pasangan. Saat Bunda menawarkan, “Mas, mandinya bareng yuk?”, itu adalah sinyal bahwa Bunda sangat nyaman dan ingin terus dekat dengannya bahkan setelah urusan ranjang selesai.

Beberapa hal yang bisa Bunda lakukan saat mandi bersama:

1. Saling membantu membasuh bagian tubuh yang sulit dijangkau (seperti punggung).

2. Saling menyiramkan air dengan lembut.

3. Menyisir rambut suami atau membantu menyabuninya.

Pertanyaannya: Kapan terakhir kali Bunda mengajak suami untuk mandi jinabat bersama dalam satu kamar mandi? Ataukah selama ini Bunda selalu terburu-buru mandi sendiri karena merasa risih?

Jangan lewatkan momen ini, Bun. Mandi bersama adalah penutup yang sempurna bagi sebuah interaksi intim. Ia meninggalkan kesan bahwa hubungan Bunda dan suami bukan sekadar pemuasan syahwat, tapi sebuah penyatuan dua jiwa yang saling menyayangi dalam naungan syariat. Jadikan ritual mandi ini sebagai waktu berkualitas yang selalu dinanti-nantikan oleh suami.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url