Cari Artikel

Mempersiapkan...

Aroma Harum: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 


2.1  Kekuatan Bau Wangi dalam Membangkitkan Memori Kasih Sayang

Setelah kita membahas apa yang dilihat, kini saatnya kita membahas apa yang dicium oleh suami. Tahukah Bunda bahwa indra penciuman memiliki jalur pintas menuju bagian otak yang mengatur emosi dan ingatan? Inilah mengapa aroma tertentu bisa langsung membuat seseorang teringat akan kenangan masa lalu yang sangat dalam.

Rosululloh adalah manusia yang paling menjaga aroma tubuhnya. Beliau sangat mencintai wangi-wangian dan sangat membenci bau yang tidak sedap. Dari Anas bin Malik (93 H), beliau menceritakan tentang kecintaan Nabi :

«حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»

“Dijadikan aku mencintai bagian dari dunia kalian: wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku ada di dalam Sholat.” (HSR. An-Nasa’i no. 3939)

Lelaki sangat sensitif terhadap bau. Jika mata adalah pintu pertama, maka hidung adalah pengikat emosinya. Aroma tubuh istri yang selalu wangi akan menciptakan “jejak aroma” di otak suami. Saat ia sedang bekerja di luar rumah dan mencium aroma yang mirip dengan parfum Bunda, hatinya akan langsung terpaut dan ingin segera pulang. Sebaliknya, bau badan yang tidak sedap atau bau dapur yang melekat pada pakaian istri bisa menjadi penghalang (barrier) bagi suami untuk mendekat secara fisik.

Secara teori, fenomena ini disebut sebagai proustian memory, di mana bau-bauan memiliki kemampuan unik untuk memicu ingatan emosional yang kuat. Jika Bunda selalu harum saat berada di dekatnya, maka keberadaan Bunda akan selalu diasosiasikan dengan kenyamanan dan kebahagiaan.

Lantas, aroma seperti apa yang Bunda sajikan untuk suami hari ini? Apakah bau matahari karena seharian menjemur pakaian, ataukah aroma melati, mawar, atau oud yang menenangkan?

Menjaga agar tubuh dan ruangan selalu wangi adalah strategi jitu agar suami selalu rindu. Gunakanlah minyak wangi terbaik yang Bunda miliki saat hendak menyambutnya atau saat hendak beristirahat di sampingnya. Jangan biarkan ada satu pun aroma negatif yang tercium dari tubuh Bunda. Sungguh, bau wangi adalah “sihir” halal yang bisa membuat suami tunduk dalam kasih sayang tanpa perlu banyak kata. Aroma yang sedap adalah bentuk pemuliaan Bunda terhadap kehadiran suami di rumah.

2.2  Menghilangkan Bau Dapur Sebelum Suami Tiba

Bunda, memasak untuk suami adalah ibadah yang sangat mulia. Setiap butir keringat yang jatuh di depan kompor dan setiap aroma bawang yang meresap ke pakaian saat Bunda menyiapkan hidangan kesukaannya adalah catatan amal sholih. Namun, ada satu jebakan yang sering tidak disadari: jangan sampai “bau pengabdian” itu terbawa hingga ke pelukan suami.

Bayangkan skenarionya begini: Suami pulang dengan harapan mencium aroma kesegaran dari istrinya, namun begitu pintu dibuka, yang menyambut hidungnya adalah aroma tajam bawang merah goreng, asap ikan asin, atau bau minyak jelantah yang menempel erat di daster dan rambut Bunda. Tentu saja, selera romantisnya bisa langsung drop seketika.

Islam mengajarkan kita untuk sangat peka terhadap bau-bauan yang mengganggu orang lain. Rosululloh memberikan tuntunan yang sangat tegas dalam urusan bau ini, meski dalam konteks Masjid, namun kaidahnya sangat bisa kita tarik ke dalam rumah tangga. Beliau bersabda:

«مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ»

“Siapa yang memakan bawang merah, bawang putih, dan bawang kucai, maka janganlah sekali-kali mendekati Masjid kami, karena sungguh Malaikat itu merasa terganggu dengan apa yang membuat anak Adam (manusia) merasa terganggu.” (HR. Muslim no. 564)

Jika Malaikat saja terganggu dengan bau bawang, apalagi suami Bunda yang merupakan manusia biasa dengan indra penciuman yang sensitif? Pelajaran besarnya adalah: singkirkan semua aroma yang tidak sedap sebelum Bunda berinteraksi dekat dengan suami.

Secara teori manajemen rumah tangga moderen, ada yang disebut dengan “ritual transisi”. Bunda harus memiliki jeda waktu antara selesai memasak dengan jam kedatangan suami. Gunakan waktu 15 sampai 30 menit sebelum ia tiba untuk mandi besar, mencuci rambut, dan mengganti pakaian dapur dengan pakaian rumah yang segar. Jangan pernah menyambut suami dengan pakaian yang baru saja Bunda gunakan untuk bertempur di dapur.

Pertanyaan untuk Bunda: Apakah Bunda merasa sudah cukup memberikan “hak hidung” suami dengan cara membersihkan diri setelah memasak? Ataukah Bunda merasa ia harus “menerima apa adanya” sebagai bukti ia menghargai masakan Bunda?

Ingatlah, Bun, menghargai masakan suami itu urusan lidah, tapi menghargai istri itu urusan semua indra. Mudahkanlah jalan suami untuk menyayangi Bunda dengan cara tampil bersih dan bebas dari aroma dapur. Pastikan saat ia memeluk Bunda, yang ia rasakan adalah aroma kedamaian, bukan aroma bumbu dapur.

2.3  Mengenal Jenis Wangi-Wangian yang Disukai Lelaki

Setelah Bunda memastikan bau dapur hilang, langkah selanjutnya adalah memilih “senjata” wangi yang tepat. Tidak semua parfum diciptakan sama, Bun. Ada aroma yang hanya sekadar segar, namun ada aroma yang memang diciptakan untuk “membius” perhatian lelaki.

Dalam sejarah Islam, wangi-wangian yang paling utama dan sangat direkomendasikan adalah Misk (Kasturi). Rosululloh memberikan predikat tertinggi untuk aroma ini. Beliau bersabda:

«وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيبِ»

Ia adalah sebaik-baik wangi-wangian.” (HR. Muslim no. 2252)

Misk memiliki karakter aroma yang hangat, dalam, dan sangat tahan lama. Aroma seperti ini secara teori aromaterapi dapat memberikan efek ketenangan sekaligus daya tarik biologis yang kuat. Lelaki cenderung menyukai aroma yang tidak terlalu “menusuk” atau terlalu manis seperti permen, melainkan aroma yang elegan dan memberikan kesan bersih serta dewasa.

Selain Misk, Bunda bisa mencoba varian aroma seperti:

1. Oud (Gaharu): Memberikan kesan mewah dan berwibawa. Sangat cocok digunakan saat malam hari.

2. Amber: Memberikan sentuhan hangat yang menggoda.

3. Floral yang lembut (seperti melati atau mawar): Memberikan kesan feminim dan lembut.

Pertanyaannya: Pernahkah Bunda bereksperimen dengan berbagai aroma untuk melihat mana yang paling membuat suami Bunda “betah” menempel? Setiap lelaki punya selera berbeda, namun rata-rata mereka akan sangat menyukai jika istrinya berbau segar seperti baru selesai mandi namun dibalut dengan sentuhan parfum yang lembut.

Aisha (58 H) rodhiyallahu ‘anha, istri tercinta Nabi , sangat paham akan hal ini. Beliau berkata:

«كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ إِحْرَامِهِ بِأَطْيَبِ مَا أَجِدُ»

“Aku pernah memercikkan wangi-wangian kepada Nabi dengan wewangian paling harum yang aku miliki saat ihrom.” (HR. Al-Bukhori no. 5928)

Jika Ummul Mukminin saja sangat memperhatikan keharuman untuk suami beliau, maka kita sebagai umatnya tentu harus lebih bersemangat lagi. Jangan pelit untuk membeli parfum yang berkualitas demi suami. Anggap saja itu sebagai sedekah harian Bunda. Pilihlah wangi yang paling ia sukai, dan gunakanlah secara strategis di titik-titik nadi Bunda agar wanginya menyebar dengan sempurna setiap kali Bunda bergerak di dekatnya.

2.4  Aroma Tubuh dan Rambut sebagai Pengikat Rindu

Bunda, banyak istri yang hanya fokus menyemprotkan parfum ke pakaian, padahal rahasia “jeratan” sejati ada pada aroma kulit dan rambut. Pakaian bisa diganti, namun aroma yang menyatu dengan tubuh Bunda akan selalu ia ingat. Rambut istri adalah salah satu bagian yang paling sering disentuh dan dicium oleh suami, maka pastikan bagian ini selalu dalam kondisi terbaiknya.

Rambut yang jarang dicuci akan mengeluarkan aroma asam dan apek yang sangat tidak nyaman. Sebaliknya, rambut yang harum adalah daya tarik luar biasa. Dalam banyak riwayat, para Shohabat dan Salaf sangat memperhatikan kebersihan rambut mereka, apalagi bagi seorang istri di depan suaminya.

Aisha (58 H) menceritakan bagaimana beliau merawat rambut Rosululloh dan memberikan wangi-wangian:

«كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا حَائِضٌ»

“Aku pernah menyisir rambut Rosululloh padahal aku sedang dalam keadaan haidh.” (HR. Al-Bukhori no. 295)

Dari sini kita belajar bahwa interaksi fisik di sekitar rambut (menyisir, membelai) adalah bagian dari kemesraan. Agar suami betah membelai dan mencium rambut Bunda, pastikan Bunda menggunakan sampo yang harum atau bahkan memberikan sedikit hair mist (parfum khusus rambut).

Selain itu, perhatikan aroma tubuh secara keseluruhan. Gunakanlah losion atau pelembap tubuh yang memiliki aroma senada dengan parfum Bunda. Teori layering (pelapisan aroma) dalam dunia kecantikan moderen membuktikan bahwa menggunakan sabun, losion, dan parfum dengan aroma yang sama akan membuat wangi tersebut bertahan seharian dan meresap ke dalam pori-pori kulit.

Coba Bunda bayangkan: Suami sedang rebahan di pangkuan Bunda, lalu ia mencium aroma rambut Bunda yang sangat segar dan harum bunga. Bukankah itu adalah momen yang sangat ni’mat? Bandingkan jika ia mencium aroma keringat yang sudah mengendap seharian. Mana yang akan membuatnya lebih cinta?

Jadi, pertanyaannya untuk Bunda: Kapan terakhir kali Bunda memberikan perhatian khusus pada keharuman rambut Bunda hanya agar suami merasa nyaman saat berada di dekat Bunda?

Jadikanlah aroma tubuh Bunda sebagai “candu” bagi suami. Saat ia berada jauh di kantor, aroma itulah yang akan membuatnya ingin segera pulang ke rumah. Aroma itulah yang akan menjadi pengikat rindu yang paling kuat, melampaui kata-kata manis apa pun yang bisa Bunda ucapkan. Rawatlah tubuh dan rambut Bunda sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh dan bukti cinta tulus kepada suami tercinta.

2.5  Menciptakan Kamar Tidur yang Harum dan Menenangkan

Bunda, jika tubuh sudah wangi dan pakaian sudah cantik, jangan sampai strategi kita terhenti di situ. Ada satu medan tempur utama yang harus Bunda kuasai aromanya: kamar tidur. Kamar tidur bukan sekadar tempat untuk memejamkan mata setelah lelah seharian, melainkan sebuah suaka, tempat di mana ikatan batin dan fisik antara Bunda dan suami bertaut paling erat.

Bayangkan jika suami sudah merasa nyaman dengan aroma tubuh Bunda, namun begitu ia merebahkan tubuh di ranjang, ia mencium bau apek dari sprei yang sudah berminggu-minggu tidak diganti, atau bau lembap dari tumpukan baju di pojok kamar. Tentu suasana romantis yang sudah dibangun bisa buyar seketika.

Kebersihan tempat tinggal adalah bagian dari keimanan. Disukai kebersihan dan keharuman di setiap sudut rumah. Nabi bersabda:

«طَهِّرُوا هَذِهِ الأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ»

“Bersihkanlah tubuh-tubuh ini, niscaya Alloh akan membersihkan kalian.” (HHR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 5087)

Jika tubuh saja diperintahkan untuk dibersihkan, maka tempat di mana tubuh itu beristirahat tentu juga demikian. Kamar tidur yang harum adalah bentuk pemuliaan Bunda terhadap suami. Secara teori kenyamanan moderen, aroma tertentu seperti lavender atau sandalwood terbukti dapat menurunkan tingkat stres dan membantu otot-otot tubuh menjadi lebih rileks. Saat suami masuk ke kamar yang harum, otaknya akan secara otomatis mengirim sinyal: “Ini adalah tempat aman, tempat aku bisa melepaskan semua penat.”

Bagaimana caranya? Bunda tidak perlu membeli pengharum ruangan yang mahal. Bunda bisa menggunakan diffuser dengan minyak esensial, atau sesederhana menyemprotkan parfum kain pada sprei dan bantal setiap pagi setelah merapikannya. Pastikan juga sirkulasi udara di kamar berjalan baik agar tidak ada bau yang terperangkap.

Pertanyaan untuk Bunda: Pernahkah Bunda memperhatikan, apakah suami lebih betah berlama-lama di dalam kamar atau justru lebih suka menghabiskan waktu di depan kopi di ruang tamu? Jika ia jarang di kamar, mungkin suasana dan aroma kamar kita perlu dievaluasi.

Jadikanlah kamar tidur Bunda sebagai cabang dari Jannah di bumi. Biarkan setiap sudutnya mengeluarkan aroma yang memikat dan menenangkan. Dengan begitu, kamar tidur bukan lagi sekadar tempat tidur, tapi menjadi magnet yang selalu menarik suami untuk segera pulang dan mendekap Bunda dalam kedamaian.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url