Cari Artikel

Mempersiapkan...

Berhias: Setrategi Istri Agar Disayang Suami - Nor Kandir

 


1.1  Mengapa Suami Begitu Terobsesi dengan Pandangan Mata?

Pernahkah Bunda bertanya-tanya, mengapa suami begitu mudah terpaku pada apa yang ia lihat? Mengapa satu pandangan singkat pada sesuatu yang indah bisa langsung mengubah suasana hatinya, atau bahkan mengubah arah pikirannya dalam sekejap? Ini bukan sekadar kebetulan, Bun. Ini adalah perkara mendasar yang sudah tertanam dalam cetakan penciptaan lelaki.

Alloh menciptakan lelaki dengan kecenderungan visual yang sangat kuat. Jika bagi wanita “telinga” adalah pintu masuk utama menuju hati (melalui kata-kata manis), maka bagi lelaki, “mata” adalah gerbang utamanya. Apa yang ia lihat akan langsung diterjemahkan oleh otaknya menjadi sinyal ketertarikan, kenyamanan, atau bahkan gairah. Inilah mengapa dalam bimbingan Wahyu, kriteria istri terbaik selalu dikaitkan dengan aspek visual ini.

Perhatikan sabda Rosululloh berikut ini ketika ditanya wanita terbaik:

«الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ»

“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan suaminya jika memandangnya, menaatinya jika memerintahnya, dan tidak menyelisihi suami dengan apa dibencinya pada dirinya serta harta suaminya.” (HSR. An-Nasa’i no. 3231)

Coba Bunda renungkan kalimat pertama: “yang menyenangkan suami jika memandangnya”. Rosululloh menempatkan urusan “pemandangan” di urutan pertama sebelum urusan ketaatan. Mengapa? Karena pandangan yang indah adalah kunci pembuka pintu ketaatan dan kasih sayang. Saat suami pulang kerja dalam keadaan lelah, penat, dan stres, lalu matanya menangkap sosok istri yang segar, rapi, dan menyejukkan mata, maka separuh beban pikirannya seolah luruh seketika.

Secara teori psikologi moderen, lelaki memang memiliki bagian otak yang disebut visual cortex yang lebih aktif dalam merespons stimuli visual dibandingkan wanita. Hal ini berkaitan dengan peran alaminya sebagai pelindung dan pemburu (nafkah). Mata lelaki selalu “mencari”, dan jika ia tidak menemukan keindahan di dalam rumahnya, maka matanya akan dipaksa bekerja keras untuk menundukkan pandangan di luar rumah. Bukankah Bunda ingin menjadi tempat peristirahatan paling indah bagi mata suami?

Pertanyaannya sekarang: Apa yang suami Bunda lihat saat pertama kali membuka pintu rumah? Apakah daster yang sudah bolong di bagian ketiak dengan aroma bawang putih yang menyengat? Ataukah sosok bidadari dunia yang harum dan berseri-seri?

Sungguh, mata suami adalah radar yang sangat sensitif. Jika Bunda mampu menguasai apa yang ia lihat, maka Bunda telah memegang kendali atas sebagian besar hatinya. Jangan biarkan mata itu haus akan keindahan di rumahnya sendiri. Ingatlah, memanjakan mata suami bukan sekadar urusan kecantikan fisik semata, melainkan bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Alloh .

1.2  Tampil Berani, Seksi, dan Vulgar di Hadapan Suami

Mari kita bicara jujur dari hati ke hati, Bun. Di dalam kamar pribadi, tidak ada istilah “tabu” antara suami dan istri. Sayangnya, banyak istri yang merasa malu atau bahkan merasa “tidak pantas” jika harus mengenakan pakaian yang sangat terbuka, seksi, atau vulgar di depan suaminya sendiri. Padahal, di situlah letak ladang pahala yang sangat luas.

Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ

“Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 187)

Fungsi pakaian adalah untuk menutupi, melindungi, dan menghiasi. Sebagai “pakaian” bagi suami, Bunda memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi perhiasan yang paling menggoda baginya. Jika di luar rumah Bunda diwajibkan menutup aurot dengan sempurna demi menjaga kehormatan, maka di dalam kamar, “hijab” itu harus dilepas sepenuhnya untuk suami.

Tahukah Bunda, bahwa salah satu kebutuhan terdalam lelaki adalah melihat “keutuhan” keindahan istrinya tanpa penghalang? Teori kedekatan fisik (intimasi) menyebutkan bahwa keterbukaan visual antara pasangan suami istri mampu meningkatkan hormon oksitosin yang memperkuat ikatan emosional. Saat Bunda tampil berani dan vulgar—tentu dalam konteks yang syar’i di depan suami—Bunda sedang mengirimkan pesan: “Aku adalah milikmu seutuhnya, dan hanya kamu yang boleh menikmati ini.”

Jangan biarkan rasa malu yang salah tempat menghalangi Bunda. Justru sifat “genit” dan “berani” seorang istri di hadapan suaminya adalah sifat yang sangat terpuji. Rosululloh pernah bertanya kepada Jabir bin Abdillah (74 H) yang baru saja menikah dengan seorang janda:

«فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ، وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ»

“Mengapa kamu tidak menikahi gadis sehingga kamu bisa bermain-main dengannya dan ia pun bisa bermain-main denganmu, kamu bisa membuatnya tertawa dan ia pun bisa membuatmu tertawa?” (HR. Al-Bukhori no. 5367 dan Muslim no. 715)

Kata “bermain-main” di sini mencakup segala bentuk keromantisan dan keintiman, termasuk dalam hal berpenampilan. Gunakanlah pakaian yang mungkin selama ini hanya tersimpan di lemari karena Bunda merasa “terlalu berani”. Cobalah sesekali tampil dengan lingerie yang menggoda, atau pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh Bunda saat hanya berdua dengannya.

Apakah Bunda pernah mencoba bertanya kepada suami, jenis pakaian apa yang paling membuatnya bergairah? Jangan kaget jika jawabannya mungkin sesuatu yang menurut Bunda sangat sederhana namun bagi suami itu sangat “nakal”. Ingat, Bun, menjadi “vulgar” di depan suami adalah bentuk kesetiaan. Dengan memberikan pemandangan yang paling maksimal di rumah, Bunda sedang memagari hati dan mata suami dari fitnah wanita-wanita di luar sana yang mungkin sengaja memamerkan keindahan mereka. Jadilah satu-satunya objek fantasi halal bagi suami Bunda.

1.3  Dandan Vulgar yang Berpahala

Ini adalah fenomena yang cukup unik sekaligus menyedihkan, Bun. Seringkali kita melihat seorang istri begitu bersemangat memoles wajahnya berjam-jam, memakai bulu mata palsu, dan gincu paling mahal hanya untuk pergi ke kondangan atau sekadar arisan bersama teman-temannya. Namun, begitu pulang ke rumah dan bertemu suami, semua riasan itu dihapus, lalu ia kembali mengenakan daster “kebangsaan” yang baunya campur aduk antara bumbu dapur dan keringat.

Bukankah ini sebuah terbalik-balik dalam logika cinta? Siapa yang sebenarnya lebih berhak menikmati kecantikan Bunda? Orang-orang di pasar, teman-teman sosialita, ataukah lelaki yang telah menyerahkan seluruh nafkah dan hidupnya untuk Bunda?

Islam sangat melarang tabarruj (pamer kecantikan) di depan lelaki asing, namun sebaliknya, Islam sangat menganjurkan seorang istri untuk bersolek semaksimal mungkin di depan suaminya. Inilah yang kita sebut sebagai “Dandan Vulgar yang Berpahala”.

Alloh berfirman mengenai perintah untuk menjaga kecantikan hanya bagi yang berhak:

﴿وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ ...﴾

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka...” (QS. An-Nur: 31)

Ayat ini secara tersirat menunjukkan bahwa di depan suami, perhiasan dan kecantikan itu justru harus ditampakkan. Tidak ada batasannya. Jika Bunda ingin memakai riasan wajah yang tebal, menggunakan parfum yang semerbak, atau memakai perhiasan emas yang gemerlap, maka di depan suamilah tempatnya.

Pernahkah Bunda mendengar kisah tentang para wanita Salaf? Mereka adalah wanita-wanita yang sangat menjaga kesucian, namun mereka sangat “liar” dalam berhias untuk suami. Diceritakan bahwa sebagian dari mereka selalu memakai wangi-wangian dan bersolek setiap sore sebelum suami mereka pulang, seolah-olah mereka sedang menyambut tamu agung.

Gaya penulisan santai kita ini membawa sebuah pertanyaan: Kapan terakhir kali Bunda sengaja memakai make-up lengkap hanya untuk menunggu suami pulang kantor, padahal Bunda tidak punya agenda keluar rumah sama sekali?

Jika Bunda merasa malas karena “toh di rumah saja”, ingatlah bahwa setiap detik mata suami memandang Bunda dalam keadaan cantik, di situ mengalir aliran pahala yang terus-menerus. Dandan untuk suami adalah investasi. Saat suami merasa bahwa Bunda selalu menghargainya dengan cara tampil cantik di hadapannya, ia akan merasa sangat spesial. Ia akan merasa bahwa dirinya lebih penting daripada orang-orang di luar sana.

Jangan biarkan suami Bunda hanya melihat Bunda “menor” saat hendak pergi ke pesta orang lain. Mulai sekarang, baliklah kebiasaan itu. Jadikanlah momen di rumah sebagai panggung utama Bunda untuk memamerkan kecantikan. Gunakanlah warna gincu kesukaannya, rapikan rambut Bunda dengan gaya yang ia senangi, dan pakailah perhiasan yang pernah ia hadiahkan. Sungguh, kecantikan yang Bunda persembahkan untuk suami adalah bukti nyata dari rasa syukur Bunda atas ikatan suci pernikahan ini.

1.4  Menjaga Kebersihan Area Privat dan Keindahan Tubuh

Jika pada bahasan sebelumnya kita membicarakan pakaian dan riasan, maka sekarang kita masuk ke lapisan yang lebih dalam, yaitu kebersihan fisik yang menjadi pondasi kenyamanan suami. Bunda, kecantikan visual akan terasa hambar jika tidak dibarengi dengan kebersihan yang paripurna. Bagi seorang lelaki, tidak ada yang lebih mengecewakan daripada melihat istri yang dandanannya cantik namun ternyata kurang menjaga kebersihan area-area tersembunyi.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kesucian dan kebersihan. Bahkan, ada bagian dari fitroh manusia yang secara khusus mengatur urusan area privat ini. Perhatikan sabda Nabi yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh (58 H):

«الْفِطْرَةُ خَمْسٌ - أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ - الْخِتَانُ، وَالاِسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ»

“Fitroh itu ada lima—atau lima perkara yang termasuk fitroh—yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memotong kumis.” (HR. Al-Bukhori no. 5889 dan Muslim no. 257)

Sungguh, bimbingan ini adalah rahasia kecantikan yang sangat luar biasa. Mencukur bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga soal estetika visual di depan suami. Bayangkan jika Bunda sudah memakai pakaian yang seksi namun area ketiak atau area privat terlihat tidak terawat? Tentu hal ini bisa menurunkan minat dan gairah suami.

Teori kesehatan moderen menyebutkan bahwa menjaga kebersihan area privat secara rutin dapat mencegah bau tak sedap dan pertumbuhan bakteri yang merugikan. Secara psikologis, seorang istri yang rajin merawat kebersihan tubuhnya akan tampil lebih percaya diri. Kepercayaan diri inilah yang akan terpancar sebagai daya tarik yang kuat di mata suami.

Sudahkah Bunda menjadwalkan waktu khusus untuk “bebersih” ini? Jangan tunggu sampai bulu-bulu tersebut lebat, karena batas maksimal yang diberikan oleh Rosululloh adalah 40 malam. Namun, tentu lebih cepat lebih baik demi kenyamanan pandangan suami. Selain itu, perhatikan pula kebersihan kuku. Kuku yang panjang dan kotor sangat tidak sedap dipandang, terutama saat Bunda sedang menyajikan makanan atau saat sedang bersentuhan fisik dengan suami. Jadikanlah tubuh Bunda sebagai taman yang selalu bersih, rapi, dan siap untuk dinikmati kapan saja.

1.5  Wajah yang Selalu Basah oleh Senyuman dan Pandangan Manis

Bunda, secantik apa pun wajah seorang istri, jika ia selalu menunjukkan wajah yang ditekuk, cemberut, dan ketus, maka kecantikan itu akan hilang tak berbekas. Di sisi lain, wajah yang biasa saja namun selalu dihiasi dengan senyuman yang tulus akan terlihat jauh lebih memikat dan menyejukkan. Inilah yang dalam lisan para ulama disebut sebagai bashasyatul wajhi (wajah yang berseri-seri).

Senyum bukan sekadar gerakan bibir, melainkan pantulan dari hati yang ridho. Nabi memberikan motivasi yang sangat indah mengenai hal ini melalui riwayat dari Abu Dzarr (32 H):

«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1956)

Jika kepada orang lain saja senyum itu bernilai sedekah, maka bayangkan betapa besarnya pahala senyuman yang Bunda berikan kepada suami tercinta? Sungguh, satu senyuman manis saat menyambut suami pulang kerja bisa menjadi obat paling mujarab bagi segala keletihan yang ia rasakan. Senyum adalah pesan tanpa kata yang bermakna: “Aku bahagia bersamamu, dan aku siap melayani kebutuhanmu.”

Pertanyaannya bagi kita semua: Mengapa terkadang kita begitu mudah tersenyum ramah kepada tetangga atau kurir paket, namun begitu kikir memberikan senyum kepada suami sendiri?

Dalam tinjauan ilmu perilaku, senyuman dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang menjadikan perasaan senang, baik bagi yang tersenyum maupun yang melihatnya. Saat suami melihat wajah Bunda yang selalu ceria, ia akan merasa betah berada di rumah. Rumah akan menjadi Jannah baginya karena ada sosok yang selalu menyambutnya dengan “cahaya” wajah yang positif.

Selain senyum, perhatikan pula pandangan mata. Jangan menatap suami dengan pandangan yang menantang, merendahkan, atau penuh curiga. Tataplah ia dengan pandangan yang lembut, penuh hormat, dan rasa butuh. Tatapan mata yang “manja” bisa meluluhkan hati lelaki yang paling keras sekalipun. Jadikan mata Bunda sebagai tempat di mana suami menemukan ketenangan dan penghargaan. Ingatlah, wajah Bunda adalah layar utama bagi suami; pastikan hanya konten terbaik yang ia tonton setiap hari.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url