3 Fase Aqidah Abul Hasan Asy’ari
Asy’ariyyah adalah
kelompok yang menisbahkan diri mereka kepada Imam Abu Hasan Al Asy’ari
–rahimahullah-. Abu Hasan Al Asy’ari ini melewati beberapa fase dalam
kehidupannya. Pada tahap pertama beliau sebagai Mu’tazilah sekitar selama 40
tahun, kemudian beliau kembali dan mengikuti pendapat Abdullah bin Sa’id bin
Kullab dan terpengaruh olehnya, inilah fase kedua beliau. Imam Ahmad bin Hambal
–rahimahullah- termasuk orang yang paling keras (menentang) Abdullah bin Sa’id
bin Kullab dan kepada pengikutnya seperti Harits dan yang lainnya, sebagaimana
yang dikabarkan oleh Ibnu Khuzaimah akan hal itu.[1]
Para ulama berbeda
pendapat: Apakah Abul Hasan telah rujuk meninggalkan pendapat Ibnu Kullab
secara total atau tidak?
Pendapat pertama: Sebagian orang berpendapat bahwa Abul Hasan telah
rujuk kepada madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang menyatakan demikian seperti
Al Hafidz Ibnu Katsir.
Mereka berdalil dengan
pernyataan beliau dalam kitabnya Al Ibanah ?yang merupakan kitab
terakhir yang beliau tulis? bahwa beliau berkata:
قولنا الذي نقول
به وديانتنا التي ندين بها : التمسك بكتاب الله ربنا عز وجل ، وبسنة نبينا محمد صلى
الله عليه وسلم وما روي عن السادة ، الصحابة والتابعين وأئمة الحديث ، ونحن بذلك معتصمون
، وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل نضر الله وجهه ، ورفع درجته
، وأجزل مثوبته قائلون ، ولما خالف قوله مخالفون ؛ لأنه الإمام الفاضل والرئيس الكامل
، الذي أبان الله به الحق ، ودفع به الضلال وأوضح به المنهاج ، وقمع به بدع المبتدعين
، وزيغ الزائغين ، وشك الشاكين ، فرحمة الله عليه من إمام مقدم ، وجليل معظم ، وكبير
مفهم
“Ucapan yang menjadi
pendapat kami dan agama yang menjadi agama kami adalah berpegang teguh dengan
kitab Allah dan dengan Sunnah Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- dan yang telah diriwayatkan dari para tokoh, para Sahabat, para Tabi’in
dan para imam hadits, kami berpegang teguh pada semua itu, dan dengan apa yang
dikatakan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Hambal –semoga Allah mencerahkan wajah
beliau-, mengangkat derajatnya, dan melipat gandakan pahalanya. Dan ketika para
penentangnya menyelisihi pendapat beliau; karena beliau adalah seorang imam
yang utama, pimpinan yang sempurna, yang Allah jelaskan kebenaran kepadanya,
mencegah kesesatan melalui dirinya, menjelaskan manhaj kepadanya, menekan para
ahli bid’ah, mereka yang tergelicir, mereka yang ragu-ragu melalui dirinya.
Semoga rahmat Allah tercurah kepadanya seorang imam yang terdepan, agung dan diagungkan,
besar dan memahamkan.”[2]
Hal ini merupakan bentuk
keterusterangan dari beliau akan rujuknya beliau ke madzhab Salaf yang diwakili
oleh Imam Ahmad, bahwa beliau berpendapat dengan pendapatnya, menyelisihi apa
yang diselisihinya. Imam Ahmad sangat keras menentang Kullabiyah; oleh karena
itu, ia menjauhi Harits Al Muhasibi karena dia adalah seorang Kullabi.
Pendapat kedua: Abul Hasan Asy’ari belum kembali dari madzhab
Kullabiyah secara keseluruhan, akan tetapi beliau mendekati Ahlus Sunnah wal Jama’ah
pada banyak permasalahan. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah,
Ibnul Qayyim dan yang lainnya. Meskipun bukunya Al-Ibanah telah banyak
mendekati madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hanya saja masih ada sisa-sisa
pendapat Kullabiyah.
Ibnu Taimiyah berkata: “Asy’ari
meskipun termasuk murid Mu’tazilah kemudian beliau bertaubat, beliau juga murid
dari Al Juba’i, dan beliau cenderung pada madzhabnya Ibnu Kullab. Tetapi
kemudian beliau mengambil ilmu dari Zakaria As Saaji, ahli hadits di Bashrah,
kemudian pada saat beliau mendatangi Baghdad, beliau juga berguru banyak hal
kepada para ulama Hanabilah di sana. Inilah fase terakhir perjalanan beliau,
sebagaimana yang telah beliau sampaikan sendiri dan para pengikutnya pada
buku-buku mereka.”[3]
Baca juga: “Mauqif Ibnu
Taimiyah minal Asya’irah karya Syeikh Abdurrahman Mahmud: 1/390”.
Mayoritas Asya’irah pada generasi belakangan
ini, mereka tidak berkomitmen kepada madzhab Abu Hasan Al Asy’ari, akan tetapi
banyak di antara mereka banyak yang mencampur aduk dengan madzhab Jahmiyyah dan
Mu’tazilah, bahkan madzhab para ahli filsafat juga. Mereka menyimpang dari Imam
Asy’ari dalam banyak hal, mereka menafikan sifat istiwa’ bagi Allah, sifat
tinggi, turun, tangan, mata, kaki dan kalam. Pada semua sifat itu mereka
menyelisi pendapat imam Asy’ari sendiri.