Apakah Witir Disyaratkan Harus Didahului Sholat Genap (Syaf’i)?
Artinya, bolehkah orang yang Sholat hanya
melakukan 1 roka’at Witir tanpa didahului Sholat sunnah sebelumnya? Begitu juga
untuk 3 roka’at dan seterusnya?
Malikiyah – dan ini adalah salah satu
pendapat di kalangan Syafi’iyyah – berpendapat bahwa 1 roka’at Witir hanya
boleh dilakukan setelah didahului oleh Sholat genap (syaf’i).” (Al-Muntaqo,
Al-Baaji (474 H), 1/223)
Mereka mengatakan bahwa asalnya adalah
Hadits:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى،
فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ
صَلَّى
“Sholat malam itu 2 roka’at 2 roka’at. Jika
salah seorang dari kalian khawatir akan masuk Shubuh, maka Sholatlah 1 roka’at
yang akan menjadikan Sholatnya yang telah ia kerjakan menjadi ganjil.”
Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat
bolehnya ber-Witir dengan 1 roka’at. Mereka mengatakan, meskipun demikian,
membatasi diri pada 1 roka’at itu menyelisihi yang utama (khilaful aula),
dan tingkat kesempurnaan minimal adalah 3 roka’at. (Hasyiyyah Al-Qolyubi (1069 H), 1/212;
Kassyaful Qina’, 1/416; Al-Mughni, Ibnu Qudamah (620 H), 2/150)
Saya (penulis kitab) berkata: Mungkin dalil
kebolehan (ber-Witir 1 roka’at tanpa didahului syaf’i) adalah:
1. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي وَأَنَا
رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي
فَأَوْتَرْتُ
“Nabi ﷺ biasa Sholat, dan saya tidur melintang di
kasurnya. Jika beliau ingin ber-Witir, beliau membangunkan saya lalu saya
ber-Witir.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 512 dan Muslim no. 512)
Zhohirnya, Aisyah rodhiyallahu ‘anha langsung
ber-Witir tanpa didahului syaf’i.
2. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha
yang telah disebutkan sebelumnya tentang Sholat Witir Nabi ﷺ 7 atau
9 roka’at, kemudian beliau Sholat 2 roka’at sambil
duduk. Ini merupakan hujjah bahwa Witir tidak disyaratkan harus didahului Sholat
syaf’i (genap), karena Witir itu lebih dulu daripada syaf’i (2
roka’at setelahnya). Wallohu A’lam.