Cari Artikel

Mempersiapkan...

Jumlah Roka’at dan Tata Cara Sholat Witir

 

Witir boleh dikerjakan dengan 1, 3, 5, 7, atau 9 roka’at.

1. Witir dengan 1 Roka’at

Ini dibolehkan oleh jumhur (mayoritas ulama), karena 1 roka’at sudah terhitung Witir. Ini berdasarkan sabda Nabi ,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ، صَلَّى وَاحِدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Sholat malam itu 2 roka’at 2 roka’at. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk Shubuh, maka Sholatlah 1 roka’at yang akan menjadikan Sholatnya yang telah ia kerjakan menjadi ganjil.” (Shohih: telah disebutkan sebelumnya)

Juga Hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi bersabda,

الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ

“Witir itu 1 roka’at dari akhir malam.” (Shohih: HR. Muslim no. 752 dan lainnya)

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ

“Sungguh Nabi biasa Sholat malam 11 roka’at, beliau ber-Witir darinya dengan 1 roka’at.” (Shohih: HR. Muslim no. 736, Abu Dawud no. 1335, At-Tirmidzi no. 440, An-Nasa’i (3/234), dan Ahmad (6/35))

Adapun Abu Hanifah (150 H) mengatakan bahwa Witir tidak boleh kurang dari 3 roka’at. Dalilnya adalah Hadits,

الْمَغْرِبُ وِتْرُ النَّهَارِ

“Sholat Maghrib adalah Witir di siang hari.” (Shohih: HR. Ahmad (2/30, 41), Ibnu Abi Syaibah (2/81), Abdur Rozzaq (4675) dari Hadits Ibnu Umar secara marfu’. HR. Malik (276) secara mauquf darinya, dan ini tidak mengapa karena Malik biasa me-mauquf-kan Hadits marfu’, dan Hadits ini punya penguat (syahid) dari Aisyah dan Ibnu Mas’ud)

Karena Maghrib menyerupai Witir di malam hari – dan Maghrib 3 roka’at – maka Witir di malam hari juga wajib 3 roka’at.

Saya (penulis kitab) berkata: Tidak mengapa jika Sholat Maghrib – yang 3 roka’at – itu Witir, tetapi itu tidak menghalangi Sholat lain juga menjadi Witir. Kemudian, jika Maghrib adalah Witir di siang hari, maka dalil-dalil sebelumnya telah menunjukkan bahwa 1 roka’at adalah Witir di malam hari, dan ini sudah jelas.

2. Witir dengan 3 Roka’at

Witir dengan 3 roka’at boleh dilakukan dengan 2 cara, dan keduanya disyariatkan:

Cara Pertama: Sholat 2 roka’at lalu salam, kemudian Sholat roka’at ketiga sendirian

Ini berdasarkan perbuatan Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَالْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

“Sungguh beliau biasa mengucapkan salam setiap 2 roka’at dan roka’at Witir, sampai-sampai beliau memerintahkan suatu keperluannya.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 991, dari Malik (1/125))

Juga diriwayatkan secara marfu’ dari beliau,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَفْصِلُ الشَّفْعَ وَالْوِتْرَ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ

“Rosululloh biasa memisahkan antara syaf’i (genap) dan Witir (ganjil) dengan salam yang kami dengar.” (Shohih dengan berbagai jalannya: HR. Ahmad (2/76), Ath-Thohawi (1/278), Ibnu Hibban (2433 - 2435). Al-Hafizh menguatkannya dalam Al-Fath (2/482))

Ini didukung oleh Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ يُوتِرُ بَعْدَهُمَا بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}، وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}، وَيَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} وَ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} وَ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس}

“Sungguh Rosululloh biasa membaca di 2 roka’at yang beliau Witir setelahnya dengan surah Al-A’laa dan Al-Kafirun, dan beliau membaca di Witir dengan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas.” (Dho’if dengan tambahan ini: HR. Ath-Thohawi (1/285), Al-Hakim (1/305), Ad-Daroquthni (2/35), dan Ibnu Hibban (3432). Namun shohih tanpa menyebut Al-Mu’awwidzatain [surah Al-Falaq dan An-Nas] dari Hadits Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab, sebagaimana akan disebutkan. Lihat At-Talkhish (533))

Ibnu Hibban membuat bab dalam Shohih-nya: Penyebutan kabar yang menunjukkan bahwa Nabi biasa memisahkan dengan salam antara roka’at kedua dan ketiga.”

Cara Kedua: Sholat 3 roka’at dengan 1 kali tasyahhud saja

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ يَزِيدُ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً: يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا...

“Rosululloh tidak pernah menambah (roka’at) baik di Romadhon maupun di luar Romadhon lebih dari 11 roka’at: beliau Sholat 4 roka’at – jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya – kemudian beliau Sholat 4 roka’at – jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya – kemudian beliau Sholat 3 roka’at....” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 1147, Muslim no. 738, dan lainnya)

Dari beliau (Aisyah) rodhiyallahu ‘anha,

كَانَ ﷺ يُوتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يَقْعُدُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ

“Beliau ber-Witir 3 roka’at, dan beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali di akhirnya.” (HR. Malik no. 466, An-Nasa’i (3/234), Ath-Thohawi (1/280), Al-Hakim (1/304), dan Al-Baihaqi (3/31))

Peringatan: Tidak disyariatkan Sholat 3 roka’at dengan 2 tasyahhud dan 1 salam, seperti Sholat Maghrib. Ini berdasarkan Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh bersabda,

لَا تُوتِرُوا بِثَلَاثٍ، أَوْ تُوتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ، وَلَا تَشَبَّهُوا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ

“Janganlah kalian ber-Witir dengan 3 roka’at (dengan 2 duduk), atau ber-Witirl dengan 5 atau 7 roka’at, dan janganlah menyerupai Sholat Maghrib.” (Shohih: HR. Al-Hakim (1/304), Al-Baihaqi (3/31), Ibnu Hibban (2429), dan Ad-Daroquthni (2/24). Al-Hafizh (Ibnu Hajar, 852 H) berkata dalam At-Talkhish: Seluruh isnad-nya terpercaya, dan tidak mengapa adanya mauquf [hanya sampai Shohabat] dari sebagian yang me-mauquf-kannya)

Bacaan Surat dalam Witir 3 Roka’at

Jika Witir 3 roka’at, disukai untuk membaca surat-surat berikut dalam 2 Hadits:

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}، وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}، وَ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} فِي كُلِّ رَكْعَةٍ رَكْعَةٍ

“Rosululloh biasa membaca dalam Witir dengan surah Al-A’la, Al-Kafirun, Al-Ikhlas pada setiap roka’atnya.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 461 dan An-Nasa’i (3/236))

Maksudnya: 1 surah di setiap roka’atnya.

Dari Ubay bin Ka’ab rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}، وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}، وَ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Rosululloh biasa membaca dalam Witir dengan surah Al-A’la, Al-Kafirun, Al-Ikhlas. Jika beliau telah salam, beliau mengucapkan, Subhaanal Malikil Qudduus sebanyak 3 kali.” (Shohih: HR. Abu Dawud no. 1423, An-Nasa’i (3/244), Ibnu Majah no. 1171. Terdapat sedikit perbedaan yang tidak mengapa, in syaa Alloh)

Pendapat Hanabilah adalah dengan 2 Hadits ini (tanpa mu’awwidzatain). Malikiyah dan Syafi’iyyah menyukai untuk menambahkan 2 surah mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) di roka’at ketiga, berdasarkan Hadits Aisyah yang telah disebutkan, namun Hadits tersebut tidak kokoh (laa yatsbut). Wallohu A’lam.

3. Witir dengan 5 Roka’at

Ini dibolehkan. Disukai jika ber-Witir 5 roka’at, ia tidak duduk tasyahhud kecuali di roka’at kelima.

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي آخِرِهَا

“Nabi biasa Sholat malam 13 roka’at, beliau ber-Witir darinya 5 roka’at, dan beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali di akhirnya.” (Shohih: HR. Muslim no. 737, Abu Dawud no. 1324, At-Tirmidzi no. 457)

4. Witir dengan 7 atau 9 Roka’at

Ini dibolehkan. Disukai jika ber-Witir dengan jumlah ini, ia mengerjakan roka’at-roka’at itu secara bersambung (sard) dan tidak duduk tasyahhud kecuali di roka’at sebelum terakhir – dan ia tidak salam – lalu ia bangkit untuk roka’at terakhir, kemudian tasyahhud dan salam.

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, tentang sifat Witir Nabi , ia berkata,

كُنَّا نَعُدُّ لَهُ ﷺ سِوَاكَهُ، فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ، وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُ وَيَدْعُوهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُومُ التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعَدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدَهُ وَيَدْعُوهُ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَاهُ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ، فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ، وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعَةِ الْأَوَّلِ، فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ

“Kami biasa menyiapkan siwak untuk Nabi . Lalu Alloh membangunkannya kapan pun yang Dia kehendaki di malam hari. Beliau bersiwak dan berwudhu, kemudian Sholat 9 roka’at. Beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali di roka’at ke-8. Beliau berdzikir kepada Alloh, memuji-Nya, dan berdo’a kepada-Nya. Kemudian beliau bangkit dan tidak salam. Lalu beliau berdiri untuk roka’at ke-9, kemudian beliau duduk, berdzikir kepada Alloh, memuji-Nya, dan berdo’a kepada-Nya. Kemudian beliau salam dengan salam yang kami dengar. Setelah itu beliau Sholat 2 roka’at sambil duduk. Itu semua 11 roka’at wahai anakku. Ketika Nabi Alloh telah tua dan badannya bertambah gemuk, beliau ber-Witir dengan 7 roka’at. beliau melakukan 2 roka’at setelahnya seperti yang beliau lakukan sebelumnya. Itu semua 9 roka’at wahai anakku.” (Shohih: HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1328, An-Nasa’i (3/199))

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url