Ash-Shiroth (Jembatan) Menurut Abul Hasan Al-Asy'ari
Imam
Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:
* والصراط حق
(Ahli Sunnah mengimani) Ash-Shiroth (Jembatan) itu benar adanya.
Bahasa:
(الصراط): bermakna jalan. Yang dimaksud di sini adalah sebuah
jembatan yang terbentang di atas punggung Jahannam.
Penjelasan:
Ahli Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat untuk menetapkan
adanya Ash-Shiroth, yaitu sebuah jembatan yang terbentang di atas Jahannam agar
kaum Muslimin bisa menyeberang di atasnya menuju Jannah. Jembatan ini lebih
tajam dari pedang dan lebih tipis dari rambut. Tidak ada yang bisa
menyeberanginya kecuali orang-orang beriman. Mereka melintas di atasnya sesuai
dengan kadar cahaya (iman) mereka; ada yang melesat secepat kedipan bintang,
ada yang secepat angin, ada yang secepat kedipan mata, dan ada yang berlari
kecil. Keberadaan jembatan ini ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا
مَقْضِيًّا﴾
“Tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewatinya
(Shiroth). Hal itu bagi Robbmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan.” (QS.
Maryam: 71)
Ayat ini ditafsirkan oleh ‘Abdulloh bin Mas’ud, Qotadah, dan
Zaid bin Aslam sebagai “melewati Ash-Shiroth.”
Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Pendapat yang lebih kuat adalah
bahwa maknanya adalah melewati Ash-Shiroth.
Namun, sekelompok ulama, di antaranya Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu,
menafsirkannya sebagai ‘masuk ke dalam Naar’ tetapi mereka akan diselamatkan
darinya.” (Lihat: Tafsir Al-Baghowi, 5/246)
Imam Al-Bukhori membuat sebuah bab dalam Shohihnya berjudul
“Bab: Ash-Shiroth adalah Jembatan
Jahannam.” Di dalamnya beliau menyebutkan hadits panjang dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu
‘Anhu yang berisi,
«ويُضرب جسر جهنم،
قال رسول الله ﷺ: فأكون أول من يُجيز، ودعاء الرسول يومئذ: اللهم سلم سلم،
وبه كلاليب مثل شوك السعدان»
“Dibentangkanlah jembatan di atas Jahannam.” Rosululloh ﷺ bersabda, “Maka aku adalah orang pertama yang menyeberang. Doa
para Rosul pada hari itu adalah: ‘Ya Alloh, selamatkanlah, selamatkanlah.’ Di
atasnya terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan.” (HR. Al-Bukhori
no. 6573)
Sebagian kaum Mu’tazilah mengingkari keberadaan Ash-Shiroth
ini. (Lihat:
Syarah Al-Ushul Al-Khomsah, 737, 378; Al-Irsyad lil Juwaini, hlm. 370, 380)
Kesimpulan:
Ahli Sunnah mengimani bahwa Ash-Shiroth itu benar adanya, sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ini adalah kesepakatan para ulama.
Diskusi:
S1: Apa
yang dimaksud dengan Ash-Shiroth? bagaimana sifatnya?
S2: Bagaimana
keyakinan Ahli Sunnah mengenai Ash-Shiroth?
S3: Sebutkan
beberapa kelompok yang menyelisihi dalam bab ini!