Cari Artikel

Mempersiapkan...

Perumpamaan Perbandingan Dua Golongan

 

10.1: Perumpamaan Budak dan Orang Merdeka

[1] Dalil

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوكًا لَّا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَّزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوِيَانِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Alloh membuat perumpamaan: seorang hamba sahaya yang dikuasai, yang tidak dapat berbuat sesuatu pun, dengan orang yang Kami berikan rezeki yang baik (rizqon ḥasanan) dari sisi Kami, lalu dia menginfakkan sebagian rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah kedua orang itu sama? Segala puji bagi Alloh! Sungguh, kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl: 75)

[2] Uraian Inti

Perumpamaan ini membandingkan antara budak yang tak berdaya (seperti berhala) dengan orang merdeka yang berlimpah rezeki (seperti Alloh ).

Budak (‘Abdan Mamlūkan): Ia tidak mampu berbuat sesuatu dan tidak mampu berinfak. Budak ini melambangkan berhala atau sesembahan orang kāfir.

Orang Merdeka: Ia diberi rezeki yang baik dari Alloh , dan ia berinfak. Orang ini melambangkan kekuasaan Alloh dalam memberi rezeki.

Perbandingan: Alloh bertanya, hal apakah keduanya sama? Ini adalah bantahan tegas bagi orang yang menyamakan sesembahan mereka (seperti budak) dengan Alloh .

[3] Poin Penting

Tauḥīd: Ayat ini adalah dalil nafyul masāwāt (penafian persamaan) antara Alloh dengan sesembahan kāfir.

Syukr: Kalimat ‘Segala puji bagi Alloh’ yang menyela di tengah ayat adalah i’tirōḍ (selingan) yang menunjukkan bahwa puji-pujian hanya milik Alloh karena hanya Dia yang memiliki sifat memberi rezeki.

10.2: Perumpamaan Orang Bisu dan Orang Berakal

[1] Dalil

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ

“Alloh membuat perumpamaan (lagi), dua orang lelaki. Salah seorang di antaranya abkam (bisu) yang tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi kallun (beban) atas walinya, ke mana pun ia diarahkan, ia tidak dapat mendatangkan kebaikan. Dan (seorang lagi) orang yang menyuruh berbuat adil, dan dia berada di atas jalan yang lurus. Apakah kedua orang itu sama?” (QS. An-Naḥl: 76)

[2] Uraian Inti

Ayat ini membuat perumpamaan dua orang lelaki yang sangat kontras.

Lelaki Pertama (Abkam): Ia bisu yang tidak dapat berbicara dan tidak dapat berbuat sesuatu pun. Ia menjadi beban bagi walinya dan tidak mendatangkan kebaikan ke mana pun ia diutus.

Lelaki Kedua: Menyuruh berbuat adil dan ia sendiri berada di atas jalan yang lurus (kebenaran).

Perbandingan: Lelaki pertama (bisu/ beban) melambangkan berhala atau sesembahan kāfir. Lelaki kedua (adil/ lurus) melambangkan Alloh , yang menyuruh manusia berbuat adil, dan perbuatan-Nya sendiri senantiasa lurus.

[3] Poin Penting

Hakikat Berhala: Berhala adalah bisu karena tidak dapat mendengar dan berbuat sesuatu pun, dan ia menjadi beban bagi penyembahnya.

Sifat Alloh : Alloh memiliki sifat sempurna, yaitu menyuruh berbuat adil dan dia berada di atas jalan yang lurus.

Dua Perbandingan: Perumpamaan budak tak berdaya versus orang merdeka, dan orang bisu yang menjadi beban versus orang yang menyuruh berbuat adil, semuanya menegaskan penafian persamaan antara Alloh dan sesembahan kāfir.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url