Hukum Beberapa Roka’at Setelah Witir Sebelum Subuh
Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, tentang sifat Sholat malam Nabi ﷺ, ia berkata,
كَانَ يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً:
يُصَلِّي ثَمَانِيَ رَكْعَاتٍ، وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ، وَإِذَا سَلَّمَ كَبَّرَ فَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ جَالِسًا، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ أَذَانِ الْفَجْرِ وَالْإِقَامَةِ
“Beliau biasa Sholat 13 roka’at: beliau Sholat
8 roka’at, dan ber-Witir 1 roka’at. Jika beliau salam, beliau bertakbir lalu Sholat
2 roka’at sambil duduk. beliau Sholat
2 roka’at di antara adzan Fajar dan iqomah.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no.
1159 dan Muslim no. 738 dan lainnya)
Mengenai 2 roka’at setelah Witir ini, para
ulama memiliki 3 pandangan:
1. Nabi ﷺ melakukannya untuk menjelaskan kebolehan,
dan beliau tidak merutinkannya, tetapi hanya melakukannya 1 atau beberapa kali.
ucapan Aisyah rodhiyallahu ‘anha,
“kaana yusholli (beliau biasa Sholat)” tidak berarti harus terus-menerus
dan berulang, kecuali ada dalil lain yang menunjukkan hal itu. (Syarh Muslim,
An-Nawawi (676 H), 6/21)
2. Dua roka’at ini berkedudukan sebagai sunnah dan
penyempurna Witir. Karena Witir adalah ibadah tersendiri – apalagi jika
dikatakan wajib – maka 2 roka’at setelahnya seperti 2 roka’at setelah Maghrib.
Maghrib adalah Witir di siang hari, dan 2 roka’at setelahnya adalah penyempurna
baginya. Maka begitu juga 2 roka’at setelah Witir malam. (Zaadul Ma’aad, Ibnul
Qoyyim (751 H), 1/318, 319)
3. Dua roka’at ini khusus hanya untuk Nabi ﷺ. Sehingga Hadits ini
tidak mengkhususkan perintah untuk menjadikan akhir Sholat malam sebagai Witir.
Saya (penulis kitab) berkata: Kedua
pendapat pertama masing-masing memiliki sisi kuat, sedangkan pendapat ketiga
perlu dipertimbangkan. Karena kekhususan (khushushiyyah) tidak bisa
ditetapkan tanpa dalil, dan asalnya adalah semua perbuatan Nabi ﷺ disyariatkan untuk
diikuti. Jika dikatakan: “Perbuatan Nabi ﷺ tidak mengkhususkan perintah beliau untuk menjadikan akhir Sholat
malam sebagai Witir?” Kami katakan: Ya, tetapi perintah tersebut diarahkan kepada anjuran
(nadb) dengan dalil-dalil sebelumnya, yaitu sabda Nabi ﷺ:
مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَلَّا يَسْتَيْقِظَ
مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ لِيَرْقُدْ...
“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak
akan bangun di akhir malam, maka ber-Witirlah di awal malam lalu tidurlah....” (Shohih:
telah disebutkan sebelumnya)
pengakuan beliau ﷺ atas Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu yang
ber-Witir sebelum tidur. (Shohih: telah disebutkan sebelumnya)
Ini menunjukkan disyariatkannya Sholat
sunnah bagi siapa yang bangun tidur padahal ia telah ber-Witir sebelumnya.
Kemudian, saya menemukan perintah Nabi ﷺ untuk Sholat 2 roka’at
setelah Witir dalam Hadits Tsauban rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’,
إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ،
فَإِنْ أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلَّا
كَانَتَا لَهُ
“Sungguh safar (perjalanan) ini adalah
kesulitan dan beban berat. Maka jika salah seorang dari kalian telah ber-Witir,
hendaklah ia Sholat 2 roka’at. Jika ia terbangun (di malam hari), maka (itu
baik baginya), dan jika tidak, maka 2 roka’at itu telah ada untuknya.” (Dishohihkan
oleh Al-Albani. HR. Ad-Darimi no. 1594 – di dalamnya tertulis as-sahar
(begadang) bukan as-safar – Ibnu Khuzaimah no. 1106, Ad-Daroquthni (2/36).
Lihat Ash-Shohiihah (1993))
Maka, perintah ini sejalan dengan perbuatan
Nabi ﷺ, dan telah tetap pensyariatannya. perintah untuk menjadikan Witir sebagai penutup malam
diartikan sebagai anjuran (istihbab). Wallohu Ta’ala A’lam.
Bacaan dalam 2
Roka’at Setelah Witir
Dari Abu Umamah rodhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُصَلِّي
رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ يَقْرَأُ فِيهِمَا: {إِذَا زُلْزِلَتِ
الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا} وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}
“Sungguh Nabi ﷺ biasa Sholat 2 roka’at
setelah Witir sambil duduk, beliau membaca di dalamnya: surah ِAl-Zalzalah dan Al-Kafirun.” (Hasan: HR. Ahmad (5/260), Ath-Thohawi
(1/280-341), Ath-Thobroni dalam Al-Kabiir (8/277), Al-Baihaqi (3/33). memiliki penguat (syahid) dari Hadits
Anas)