Hukum Sholat Witir - Shohih Fiqih Sunnah
Para ulama memiliki 2 pendapat mengenai hukum Sholat Witir:
Pendapat Pertama: Wajib
Pendapat ini adalah madz-hab Abu Hanifah
(150 H). Ini merupakan salah satu pendapat tunggalnya, sampai-sampai Ibnu
Al-Mundzir (319 H) mengatakan, “Saya tidak mengetahui seorang pun yang sepakat
dengan Abu Hanifah dalam masalah ini.”
Hujjah (dalil) dari pendapat ini adalah:
1. Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu
secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi):
مَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا
“Siapa yang tidak Sholat Witir, maka dia
bukan dari golongan kami.” (Dho’if: HR. Ahmad (2/443), dan yang semisal
dengannya dari Hadits Buroidah juga dho’if. Lihat Al-Irwa’ (417))
2. Hadits Abu Ayyub rodhiyallahu ‘anhu
secara marfu’:
الْوِتْرُ حَقٌّ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ
يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ،
وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
“Witir adalah hak (wajib). Siapa yang suka
ber-Witir 5 roka’at, maka silakan ia lakukan. Siapa yang suka ber-Witir 3 roka’at,
maka silakan ia lakukan. Siapa yang suka ber-Witir 1 roka’at, maka silakan ia
lakukan.” (Shohih Mauquf (hanya sampai Shohabat): HR. Abu Dawud no. 1422,
An-Nasa’i (8/238), dan Ahmad (5/418). Para imam menshohihkan kedudukannya
sebagai Mauquf)
3. Hadits Abu Bashroh rodhiyallahu ‘anhu
secara marfu’:
إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً، وَهِيَ
صَلَاةُ الْوِتْرِ، فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ
“Sungguh Alloh telah menambahkan satu Sholat
untuk kalian, yaitu Sholat Witir. Maka Sholatlah ia di antara [Sholat] Isya
hingga Fajar.” (Dishohihkan oleh Al-Albani. HR. Ahmad (6/397), Ath-Thohawi
(1/250). Lihat juga jalannya dalam Al-Irwa’ (423))
4. Hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma
secara marfu’:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ
وِتْرًا
“Jadikanlah akhir Sholat kalian di malam
hari sebagai Witir.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 998 dan Muslim no. 751)
5. Hadits Abu Sa’id rodhiyallahu ‘anhu
secara marfu’:
أَوْتِرُوا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا
“Ber-Witirlah sebelum kalian masuk waktu
Shubuh.” (Shohih: HR. Muslim no. 754, At-Tirmidzi no. 468, An-Nasa’i (1/247),
dan Ibnu Majah no. 1189)
6. Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ
فَإِذَا أَوْتَرَ قَالَ: قُومِي فَأَوْتِرِي يَا عَائِشَةُ
“Nabi ﷺ biasa Sholat malam. Ketika beliau telah
ber-Witir, beliau berkata, “Bangunlah, ber-Witirlah wahai Aisyah!” (Shohih:
HR. Muslim no. 512, dan Al-Bukhori dengan redaksi serupa no. 512)
Pendapat Kedua: Sunnah Mu’akkadah
Ini adalah madz-hab mayoritas ulama
(jumhur), dari kalangan Shohabat, Tabi’in, dan ulama sesudah mereka. Termasuk
juga 2 murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Al-Hasan.
Mereka menjawab dalil-dalil Abu Hanifah
(yang telah disebutkan) dan yang semakna dengannya, bahwa kebanyakan dari
dalil-dalil itu adalah dho’if (lemah) dan tidak kokoh. Adapun Hadits yang
shohih dan secara zhohir menunjukkan kewajiban, maka maknanya diarahkan kepada Sunnah
(anjuran) berdasarkan dalil-dalil berikut:
1. Hadits Tholhah bin Ubaidillah rodhiyallahu
‘anhu tentang seorang lelaki yang datang bertanya kepada Nabi ﷺ
(tentang Sholat apa saja yang wajib) dan beliau menjawab:
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
“5 Sholat (wajib) dalam sehari semalam.”
Lelaki itu bertanya, “Apakah ada (Sholat)
lain yang wajib atasku?” Beliau menjawab:
لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ
“Tidak ada, kecuali bila
engkau ingin melakukan Sholat sunnah.”
Kemudian lelaki itu
berkata, “Sungguh, saya tidak akan menambah atau mengurangi dari ini (5 Sholat
wajib).” Maka Nabi ﷺ bersabda:
أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
“Ia akan beruntung jika ia jujur.” (Muttafaq Alaih)
Dalam Hadits ini saja, terdapat 4 dalil
bahwa Witir itu tidak wajib, maka renungkanlah.
2. Hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma
bahwa ketika Rosululloh ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu ke Yaman,
beliau bersabda:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ،
فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ
صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا فَعَلُوهُ...
“Sungguh engkau akan mendatangi suatu kaum
dari Ahli Kitab. Maka jadikanlah seruan pertama yang engkau dakwahkan kepada
mereka adalah beribadah kepada Alloh. Jika mereka telah mengenal Alloh, maka
beritahukan kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan atas mereka 5 Sholat
dalam sehari semalam mereka. Jika mereka telah melakukannya....” (Shohih:
HR. Al-Bukhori no. 1395 dan Muslim no. 19)
Hadits ini adalah dalil terkuat, karena
pengutusan Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu ke Yaman terjadi tidak lama sebelum
wafatnya Nabi ﷺ. Jika Sholat Witir itu wajib, atau jika Witir adalah sesuatu
yang Alloh tambahkan untuk manusia di atas Sholat (wajib) mereka, tentulah Nabi
ﷺ akan
memerintahkan Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu untuk memberitahu mereka bahwa
Alloh mewajibkan 6 Sholat, bukan 5 Sholat.
3. Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu
bahwa Nabi ﷺ bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ
إِلَى الْجُمْعَةِ، كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Sholat yang 5 waktu, dan Jum’at ke Jum’at (berikutnya),
adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak
dilakukan.” (Shohih: HR. Muslim no. 233, At-Tirmidzi no. 214, dan Ibnu Majah
no. 1086)
Beliau tidak menyebutkan Witir dalam Sholat-Sholat
yang wajib disebutkan.
4. Hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُوتِرُ
عَلَى الْبَعِيرِ
“Sungguh Rosululloh ﷺ biasa Sholat Witir di
atas unta.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 999, Muslim no. 700, dan lainnya)
Jika Witir itu wajib, maka tidak boleh mengerjakannya
di atas kendaraan (unta), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
5. Hadits Ibnu Muhairiz, dari
Al-Mukhoddaji, ia berkata: seorang lelaki bertanya kepada Abu Muhammad, seorang
lelaki dari Anshor, tentang Sholat Witir. Abu Muhammad berkata, “Witir itu
wajib, sebagaimana wajibnya Sholat (fardhu).” Lalu ia mendatangi Ubadah bin
Ash-Shomit rodhiyallahu ‘anhu dan menceritakan hal itu kepadanya. Ubadah
rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Muhammad keliru. Saya mendengar Rosululloh ﷺ bersabda,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ
عَلَى عِبَادِهِ...
“5 Sholat yang diwajibkan oleh Alloh atas
hamba-hamba-Nya....” (Dho’if menurut pendapat yang rojiih (kuat): Lihat
takhrij secara rinci dalam Ta’zhim Qodris Sholah dengan takhrij saya)
6. Hadits Jabir rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ﷺ Sholat bersama kami 8 roka’at dan
ber-Witir,
pada bulan Romadhon. Ketika malam berikutnya tiba, kami berkumpul di Masjid dan
berharap beliau akan keluar dan Sholat bersama kami. Kami tetap tinggal di sana
hingga Shubuh. Kami berkata, “Wahai Rosululloh, kami berharap engkau keluar dan
Sholat bersama kami..”
فَقَالَ: إِنِّي كَرِهْتُ -أَوْ خَشِيتُ-
أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمُ الْوِتْرُ
“Beliau menjawab, “Sungguh, saya tidak suka
—atau saya khawatir— Witir akan diwajibkan atas kalian.” (Dho’if juga: HR.
Ibnu Khuzaimah no. 1070, Abu Ya’la no. 1802, dan Ibnu Hibban no. 2409)
Faidah:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) memilih pendapat bahwa Witir adalah wajib
bagi siapa yang memiliki kebiasaan Qiyamul Lail (Sholat malam).” (Al-Ikhtiyarot,
hal. 64)
Saya (penulis kitab) berkata: Mungkin
sandarannya adalah sabda Nabi ﷺ,
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ
وِتْرًا
“Jadikanlah akhir Sholat kalian di malam
hari sebagai Witir.”
Hadits ini telah disebutkan sebelumnya.