Cari Artikel

Mempersiapkan...

Memadu Kasih di Hari Valentine?

 

Setiap tanggal 14 Februari, beberapa kaula muda merayakan hari valentine atau valentine’s day. Di hari tersebut mereka saling memberi kado kepada pacarnya, dan tidak jarang suami istri ikut-ikutan merayakannya dengan memberi kado kepada pasangannya. Mereka beranggapan bahwa itu hari mengekpresikan kasih-sayang kepada lawan jenisnya. Tidak jarang mereka dugem, meneguk miras, sampai batas berzina, dan ini dilakukan oleh remaja. Allāhul Musta’ān.

Sejarah Hari Valentine

Konon, di Roma ada pendeta yang bernama Valentine yang menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang pernikahan di masa perang. Lalu secara diam-diam ia menikahkan dua pasangan lalu dengan sebab itu ia dipenjara dan dipancung pada tanggal 14 Februari 278 M.

Versi lainnya, konon bangsa Romawi memiliki perayaan untuk mengkultuskan Dewa Kesuburan bernama festival Lupercalia yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Di hari tersebut mereka melakukan seks tanpa batas dan sebebas-bebasnya.

Dari sini menjadi jelas bahwa hari Valentine dirintis oleh masyarakat Romawi atau Nashoro.

Kerusakan Hari Velentine

1. Merayakan hari valentine berarti tasyabbuh (meniru tradisi) orang kafir. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrono dalam sabdanya:

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashoro tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103)

Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashoro secara umum, dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Juga sabda beliau:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (Hasan Shohih: HR. Abu Dawud no. 4031)

2. Merayakan hari valentine bukan ciri orang beriman, karena Allah berfirman:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqōn [25]: 72)

Ibnul Jauzi dalam Zādul Masīr mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar-Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib. (Iqtidho’, 1/483)

3. Mengidolakan tokoh musyrik dikhawatirkan akan dikumpulkan bersama mereka di Akhirat.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Kapan terjadi hari Kiamat, wahai Rosulullah?” Beliau balik bertanya: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab: “Aku tidak mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak sholat, banyak puasa, dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah mencintai Allah dan Rosul-Nya.” Beliau bersabda: “Engkau akan bersama (dikumpulkan di Akhirat) dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Anas berkata: “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Maka aku mencintai Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim no. 2639)

Valentine adalah simbol dari pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Tentu Muslim tidak mau dikumpulkan bersama orang kafir di Akhirat.

4. Selamat valentine berarti selamat bermaksiat dan berzina. Ini yang umum terjadi di Barat dan Eropa.

Perayaan valentine di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Valentine dalam Tinjaun Syariat

Dalam fatwa Syaikh Utsaimin disebutkan:

Tidak boleh merayakan valentine’s day karena sebab-sebab berikut:

Pertama: bahwa itu adalah hari raya bid’ah tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Kedua: bahwa itu akan menimbulkan kekanakan dan birahi.

Ketiga: bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para Salaf Rodhiyallohu ‘Anhum.

Karena itu pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.

Hendaknya setiap Muslim merasa mulia dengan agamanya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ālā melindungi kaum Muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya. (Fatwa Syaikh Ibnu Ustaimin, tertanggal 5/11/1420 H)

Disebutkan dalam fatwa MUI Arab Saudi:

Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha, selain itu semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah (perkara baru dalam agama). Kaum Muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah ber-tasyabbuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Valentine’s day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nashoro, maka seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat, bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan Rosul-Nya, serta tidak membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan baik itu berupa iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan Rosul-Nya sementara Allah berfirman:

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Maka hendaknya setiap Muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang yang fasik yang tidak mengajarkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang Muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjuk-Nya dan keteguhan di dalam petunjuk-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjuk-Nya selain Allah. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk.

Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

(Fatwa Al-Lajnah Ad-Dāimah lil Buhūts Al-Ilmiyah wal Iftā, no. 21203)

Allahu a’lam.[]

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url