Cari Artikel

Mempersiapkan...

Perumpamaan Kaum Munafiq dalam Surat Al-Baqoroh

 

2.1: Perumpamaan dengan Api

[1] Dalil

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَّا يُبْصِرُونَ (١٧) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Alloh menghilangkan cahaya (nūr) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat (17). Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-Baqoroh: 17-18)

[2] Uraian Inti

Ini adalah perumpamaan bagi kaum Munafiq. Kondisi mereka yang beriman secara lahiriah, tetapi tidak secara batiniah, diserupakan dengan orang yang menyalakan api (istauqoda nāron) di tengah kegelapan.

Nyala Api (Iman Zhohir): Mereka menampakkan keimanan, yang diserupakan dengan api yang menyala dan menerangi (aḍō’at) di sekeliling orang yang menyalakannya. Dengan iman zhohir ini, mereka mendapatkan manfaat duniawi: makan, minum, keamanan, dan perlindungan darah.

Hilangnya Cahaya (Nūr): Ketika cahaya iman itu mulai menerangi hati mereka, Alloh menghilangkan nūr (cahaya) mereka, dan membiarkan mereka dalam dzulumāt (kegelapan-kegelapan).

Akibat: Mereka ditinggalkan dalam kegelapan (dzulumāt) yang jamak (banyak), yang meliputi: kegelapan malam, kegelapan awan, dan kegelapan akibat hilangnya nūr setelah sebelumnya ada cahaya. Alloh menamakan kebenaran (iman) dengan nūr (cahaya) (bentuk tunggal), dan kebatilan dengan dzulumāt (kegelapan-kegelapan) (bentuk jamak), karena kebenaran itu satu: shirōthulloh al-mustaqīm, sedangkan jalan kebatilan itu banyak dan bercabang.

Mereka disifati shumm (tuli), bukm (bisu), dan ʻumyy (buta). Artinya, mereka tuli dari mendengar kebenaran yang bermanfaat, bisu dari mengucapkan kebenaran, dan buta dari mengambil ibroh (pelajaran) dari âyât Alloh . Dengan tersumbatnya tiga pintu hidayah ini (mendengar, melihat, dan berakal), mereka tidak dapat kembali (lā yarji’ūn) kepada kebenaran.

[3] Poin Penting

Ibnu Al-Qoyyim (751 H) menjelaskan bahwa Munafiq menukar petunjuk (nūr) dengan kesesatan (dzulmah). Beliau berkata: “Terjadinya kegelapan-kegelapan, yaitu kesesatan dan keridhoan terhadapnya, setelah adanya cahaya yang merupakan petunjuk. Mereka menukar petunjuk dan cahaya, dan menggantinya dengan kegelapan dan kesesatan. Sungguh itu adalah perdagangan yang paling merugikan, dan transaksi yang paling besar kerugiannya.”

2.2: Perumpamaan dengan Badai Hujan dan Kegelapan

[1] Dalil

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (١٩) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُم مَّشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh (roʻd) dan kilat (barq). Mereka menyumbat telinganya dengan anak jari, karena takut pada sambaran petir (owāʻiq) dan kematian. Padahal Alloh meliputi orang-orang kafir (19). Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat) itu menyinari, mereka berjalan di bawahnya, dan apabila gelap kembali, mereka berhenti (qōmū). Sekiranya Alloh menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 19-20)

[2] Uraian Inti

Ini adalah perumpamaan kedua bagi kaum Munafiq.

Ash-Shoyyib (Hujan Lebat): Diumpamakan sebagai Al-Qur’an karena Al-Qur’an menghidupkan hati sebagaimana hujan menghidupkan bumi.

Dzulumāt (Kegelapan-kegelapan): Diumpamakan sebagai penyebutan kufur dan syirik dalam Al-Qur’an, atau ujian dan musibah dalam Islam.

Ro’d (Guruh): Diumpamakan sebagai ancaman (wa’īd) Alloh dalam Al-Qur’an.

Barq (Kilat): Diumpamakan sebagai petunjuk (hudā), janji (wa’ad), dan penjelasan dalam Al-Qur’an.

Munafiq diserupakan dengan orang yang berjalan di tengah badai yang gelap, penuh guruh, dan kilat.

Menghindar (Menyumbat Telinga): Mereka menyumbat telinga ketika mendengar Al-Qur’an (guruh/ancaman) karena takut hati mereka condong kepada iman. Mereka lebih memilih kekufuran, dan kekufuran adalah kematian.

Qōmū (Berhenti): Ketika kilat (cahaya petunjuk dari Al-Qur’an) menyinari, mereka berjalan (maju) sejenak. Namun, ketika cahaya itu hilang (datang kesulitan atau ujian), mereka berhenti (qōmū). Itulah keraguan yang merupakan sifat asal munafik.

Ancaman Ilahi: Alloh meliputi orang-orang kafir, sehingga pelarian mereka dari kebenaran tidak akan bermanfaat. Sungguh, Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu, mampu menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka tanpa sebab.

[3] Poin Penting

Perumpamaan Badai: Al-Qur’an (shoyyib) adalah yang menghidupkan hati. Munafiq takut pada ancaman (ro’d) Al-Qur’an dan hanya maju sejenak (masyaw) saat ada keuntungan (barq) duniawi, lalu berhenti (qōmū) saat ada ujian.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url