Perumpamaan Keagungan Alloh
4.1:
Perumpamaan ‘Īsā
dan Ādam
[1] Dalil
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ
كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٥٩) الْحَقُّ
مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (٦٠)
“Sungguh, perumpamaan (penciptaan) ‘Īsā di sisi Alloh,
adalah seperti (penciptaan) Ādam. Dia menciptakan Ādam dari tanah, kemudian Dia
berfirman kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah dia (59). Kebenaran itu dari
Robbmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Āli ‘Imrān:
59-60)
[2] Uraian Inti
Ayat ini adalah bantahan Alloh ﷻ kepada kaum Nasroni
yang mengklaim ‘Īsā ﷺ
sebagai anak Alloh ﷻ
karena dilahirkan tanpa ayah. Alloh ﷻ membuat perumpamaan (‘Īsā) dengan yang
lebih ajaib (Ādam).
Poin Pembantahan (Ilzām): Penciptaan ‘Īsā (tanpa
ayah) diserupakan dengan Ādam (tanpa ayah dan ibu). Jika penciptaan tanpa ayah
dianggap bukti keilahian (seperti klaim Nasroni), maka Ādam (tanpa ayah dan
ibu) lebih berhak.
Pernyataan Kuasa Alloh ﷻ: Alloh ﷻ
menciptakan Ādam, Ḥawwā’, ‘Īsā, dan seluruh manusia dengan empat cara untuk
menunjukkan Qudroh (Kekuasaan) dan Masī’ah (Kehendak) Alloh ﷻ.
[3] Poin Penting
Bukti Qudroh Alloh ﷻ: Alloh ﷻ
menciptakan empat jenis makhluk:
1.
Ādam (tanpa ayah dan ibu);
2.
Ḥawwā’ (dari ayah tanpa
ibu);
3.
‘Īsā (dari ibu tanpa ayah);
4.
Manusia lainnya (dari ayah
dan ibu)
Qiyās dalam Debat: Ayat ini adalah pengajaran untuk
membantah lawan dengan qiyās menggunakan perumpamaan yang lebih kuat
atau ajaib (asyaddul ghorōbah).
4.2:
Perumpamaan Harta Orang Kafir
[1] Dalil
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ
تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ
أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١١٦) مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَذِهِ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Sungguh, orang-orang yang kāfir, harta mereka dan anak-anak
mereka tidak akan dapat menolak sedikit pun adzāb Alloh dari mereka. Dan mereka
itu adalah para penghuni Naar; mereka kekal di dalamnya (116). Perumpamaan apa
yang mereka infakkan dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan
angin yang mengandung rasa sangat dingin (ṣirr), yang menimpa tanaman (ḥarṡ)
milik suatu kaum yang menzholimi diri mereka sendiri, lalu angin itu
merusaknya. Alloh tidak menzholimi mereka, tetapi mereka menzholimi diri mereka
sendiri.” (QS. Āli ‘Imrān: 116-117)
[2] Uraian Inti
Perumpamaan ini bagi amal dan infak orang kāfir yang Alloh ﷻ
tidak terima. Harta dan anak-anak mereka tidak akan melindungi mereka dari
adzāb Alloh ﷻ.
Infak yang Sia-sia: Infak orang kāfir diserupakan
dengan angin yang sangat dingin/keras.
Penghancuran (Fa Ahlakathu): Angin dingin yang
menimpa tanaman adalah gambaran
infak orang kāfir yang Alloh ﷻ
batalkan.
Kezholiman Diri Sendiri: Infak mereka dibatalkan
bukan karena kezholiman Alloh ﷻ,
tetapi karena mereka menzholimi diri sendiri dengan kekufuran dan syirik.
Kekufuran adalah zholim yang paling besar.
[3] Poin Penting
Kekekalan di Naar: Ayat ini menegaskan kekalnya orang
kāfir di Naar (hum fīhā khōlidūn).
Keadilan Alloh ﷻ: Alloh ﷻ
tidak menzholimi hamba-Nya, melainkan hamba itu sendiri yang berbuat zholim.
Pembatalan amal kāfir adalah karena Alloh ﷻ telah menjadikan iman
sebagai syarat diterimanya amal.
Infak kāfir Sia-sia: Infak orang kāfir di dunia
sia-sia di Akhiroh, diserupakan dengan tanaman yang hangus ditimpa angin yang
sangat dingin di musim panen, di saat pemiliknya sangat mengharapkan hasilnya.
Kezholiman: Kegagalan infak kāfir adalah karena zhulmun
nafs (kezholiman diri sendiri) yaitu kekufuran dan syirik, bukan kezholiman
Alloh ﷻ.