Cari Artikel

Mempersiapkan...

Perumpamaan Kontras Antara Kāfir dan Mu’min

 

7.1: Perumpamaan Buta dan Tuli vs. Melihat dan Mendengar

[1] Dalil

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَى وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Perumpamaan kedua golongan itu (orang-orang kāfir dan Mu’min) adalah seperti orang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaannya? Maka, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. Hūd: 24)

[2] Uraian Inti

Ayat ini merupakan perumpamaan yang sangat jelas untuk membandingkan dua golongan: kāfir dan Mu’min.

Golongan kāfir: Diserupakan dengan orang buta dan tuli.

Al-A’mā (Buta): Buta dari melihat wajah kebenaran.

Al-Aṣomm (Tuli): Tuli dari mendengar seruan Alloh , yaitu seruan yang bermanfaat, sehingga seruan kebenaran (Al-Qur’an) tidak masuk ke dalam hati mereka.

Golongan Mu’min: Diserupakan dengan orang yang melihat dan mendengar. Mereka memiliki mata hati yang melihat dan telinga yang mendengar kebenaran sehingga mereka beriman dan beramal sholih.

Bantahan (Nafyut Taswiyah): Alloh secara istifhām inkārī (pertanyaan pengingkaran) menanyakan: “Apakah keduanya sama keadaannya?” yang jawabannya pasti “Tidak.”

[3] Poin Penting

Perbandingan Kontras: Perumpamaan ini adalah qiyās (analogi) dan tamtsīl (perumpamaan) yang bertujuan menafikan persamaan antara dua golongan yang hakikatnya kontras.

Hakikat Kebutaan dan Ketulian: Kebutaan dan ketulian di sini adalah ma’qūl (abstrak/non-fisik), yaitu tidak adanya fungsi hati untuk menerima dan merenungkan petunjuk.

7.2: Perumpamaan Seruan Kebenaran

[1] Dalil

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

“Bagi Alloh-lah seruan kebenaran (da’watul ḥaqq). Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Alloh, tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua telapak tangannya (kabbāsiṭi kaffaihī) ke arah air, agar air itu sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan do’a orang-orang kāfir itu hanyalah sia-sia (fī ḍolāl).” (QS. Ar-Ro’d: 14)

[2] Uraian Inti

Ayat ini membuat perumpamaan bagi orang yang menyembah selain Alloh , seperti berhala.

Da’watul Ḥaqq: Seruan kebenaran yang merupakan hak Alloh , yaitu seruan kepada Tauḥīd dan ibadah murni kepada-Nya. Hanya Alloh yang dapat mengabulkan do’a dan memberikan manfa’at.

Penyembah Selain Alloh : Mereka diserupakan dengan orang yang mengulurkan kedua telapak tangannya (bāsiṭi kaffaihī) ke arah air agar sampai ke mulutnya.

Hakikat Perumpamaan: Orang yang berdo’a kepada berhala diserupakan dengan orang yang sangat kehausan. Ia melihat air dari kejauhan (berhala yang disangka mampu), lalu ia mengulurkan tangan (berdo’a), tetapi air (jawaban do’a) itu tidak akan pernah sampai ke mulutnya. Do’a mereka sia-sia karena ditujukan pada pihak yang tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun.

[3] Poin Penting

Tauḥīd: Hanya Alloh yang berhak menerima da’watul ḥaqq (seruan kebenaran/do’a).

Kesia-siaan Amal: Do’a kepada selain Alloh adalah ḍolāl (kesesatan/kesia-siaan) yang membatalkan segala amal.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url