Sifat Hamba Allah yang Sejati
Allah memiliki hamba-hamba sejati dan pilihan. Allah yang Maha berbelas kasih (Ar-Rohmān) sangat menyayangi mereka. Mereka dijuluki Allah sebagai Ibādurrohmān, yang secara harfiyah artinya hamba-hamba Ar-Rohmān.
Di dalam surat Al-Furqōn,
Allah menyebut mereka dengan beberapa sifat mulia, yaitu:
1) Berjalan dengan
Rendah Hati
Mereka tidak sombong
berjalan. Sombong dalam berjalan dikenal dengan istilah khuyalā, dan
mereka sangat jauh dari sifat itu. Allah berfirman:
“Hamba-hamba Ar-Rohmān
adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqōn: 63)
2) Berbicara yang Baik
Kepada Orang yang Kasar Kepadanya
Di samping mereka tidak
sombong dalam berjalan, mereka juga tidak sombong dalam berbicara, sehingga
tidak merendahkan orang lain dan ia pun bertutur kata yang baik meskipun orang
lain kasar kepadanya. Allah berfirman:
“Jika orang-orang
bodoh mengajaknya bicara, ia membalasnya dengan ucapan yang baik.” (QS. Al-Fuqōn: 63)
3) Gemar Sholat Malam
Di siang hari mereka baik
kepada manusia, di malam hari mereka baik kepada Allah dengan menunaikan ibadah
yang Allah cintai di malam hari, terutama sholat malam. Allah berfirman:
“Mereka orang-orang
yang menggunakan malamnya untuk Rob mereka dengan sujud dan berdiri.” (QS. Al-Furqōn: 64)
Malam tidak mereka habiskan
untuk sholat semalam suntuk, tetapi mereka bagi untuk keluarga, belajar,
tilawah, tidur, dan sholat. Masing-masing memiliki hak dari dirinya, dan ia
menunaikan hak masing-masing dari dirinya sesuai porsinya, meniru Rosulullah Shollallahu
‘Alaihi wa Sallam.
4) Gemar Berlindung
dari Neraka
Mereka gemar berlindung
dari Neraka dalam semua keadaan, baik siang maupun malam. Akan tetapi malam
lebih mereka tekankan, terutama saat sholat malam karena lebih dekat kepada
ikhlas dan khusyu’. Untuk itu, permohonan berlindung ini diletakkan setelah
menyebut sifat mereka gemar sholat malam. Allah berfirman:
“Mereka orang-orang
yang mengucapkan: ‘Wahai Rob kami, jauhkanlah kami dari siksa Jahannam.
Sesungguhnya siksa Jahannam sangat memberatkan. Jahannam adalah tempat menetap
dan tempat berdiam terburuk.” (QS.
Al-Furqōn: 65-66)
5) Gemar Bersedekah
Mereka gembar bersedekah
dengan apa yang mereka mampu: ilmu, tenaga, jasa, hingga harta. Akan tetapi
mereka pertengahan dalam sedekah, tidak pelit hingga menahan semua hartanya dan
tidak pula boros hingga habis hartanya. Pelit menyebabkan Allah marah dan boros
menyebabkan diri berkeluh kesah atas kekurangan.
Maka sifat mereka adalah
pertengahan dalam sedekah. Mereka mensedekahkan harta yang berlebih, setelah
menafkahi dirinya sendiri dan siapa saja yang menjadi tanggungannya, seperti
keluarganya dan orang tuanya. Allah berfirman:
“Mereka adalah
orang-orang yang jika bersedekah tidak boros dan tidak pelit, tetapi
pertengahan di antara keduanya.” (QS.
Al-Furqōn: 67)
6-8) Tidak Berbuat
Syirik, Membunuh, dan Berzina
Mereka bukan orang-orang
yang melakukan dosa-dosa besar. Dosa yang paling besar dari dosa besar adalah
berbuat syirik. Lalu dosa terbesar setelah syirik yang berkaitan dengan hak
manusia adalah membunuh lalu berzina. Allah berfirman:
“Mereka orang-orang
yang tidak menyeru sesembahan lain bersama Allah[1],
mereka tidak membunuh jiwa yang diharomkan Allah kecuali dengan jalan yang
dibenarkan[2],
dan mereka tidak berzina. Siapa yang melakukan itu, ia akan mendapatkan
balasannya, yaitu siksanya dilipatkan untuknya pada hari Kiamat dan ia kekal di
dalamnya selamanya (jika berupa kesyirikan).” (QS. Al-Furqōn: 68-69)
9) Gemar Bertaubat
Mereka bukanlan Malaikat
yang tanpa khilaf. Terkadang mereka terjatuh kepada dosa dan maksiat, bahkan
dosa besar seperti zina. Akan tetapi mereka meyadari memiliki Rob yang
mengampuni dosa, maka mereka gembar melakukan taubat dan istighfar.
Setelah Allah menyebutkan
dosa-dosa besar dan balasannya berupa siksa yang berat pada ayat di atas, Allah
melanjutkan:
“... kecuali siapa
yang bertaubat, beriman, dan beramal sholih, merekalah orang-orang yang
dosa-dosa mereka diganti dengan pahala[3].
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapa yang bertaubat disertai amal
sholih, dialah yang bertaubat kepada Allah dengan sebenarnya.” (QS. Al-Furqōn: 70-71)
10) Tidak Menghadiri
Acara Maksiat
Sebagaimana mereka
menjaga diri dari berbuat dosa di kala sendirian, mereka juga menjaga diri dari
berbuat dosa bersama banyak orang, seperti menyaksikan dan menghadiri acara zūr
(maksiat).
Mereka jika melihat
perkara zūr maupun apa saja yang melalaikannya, mereka lewat begitu
saja, tidak bergabung bersama teman-temannya dalam kelalaian dan maksiat. Allah
berfirman:
“Mereka orang-orang
yang tidak menyaksikan zūr, dan apabila mereka melewati perkara yang melalaikan
maka mereka melewatinya begitu saja.” (QS. Al-Furqōn: 72)
Ibnu Katsir menyebutkan
dalam Tafsirnya sejumlah Sahabat dan Tabi’in yang menafsirkan makna zūr
sebagai perayaan kesyirikan. Natal dan tahun baru misalnya.
11) Tidak Mengacuhkan
Ayat yang Dibacakan Kepadanya
Sebagaimana mereka tidak
suka berkumpul dengan ahli maksiat maupun teman-teman yang lalai, mereka suka
berkumpul dengan orang-orang sholih dan mereka sangat perhatian jika mendengar
nasihat dan tausiah dari mereka. Mereka tidak mengacuhkan kebaikan apa saja
yang mereka dengar dari orang lain. Allah berfirman:
“Mereka orang-orang
yang apabila diingatkan dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak mengacuhkannya
dengan pura-pura bisu maupun tuli.” (QS. Al-Furqōn: 73)
12) Gemar Berdoa Untuk
Diri dan Keluarga
Mereka adalah kaum yang
tidak gampang melupakan kebaikan orang lain, terutama kebaikan keluarganya:
istrinya dan orang tuanya. Maka mereka gemar mendoakan orang-orang yang ia
cintai, dan ia tidak lupa mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri.
Mereka berdoa agar anak
dan istrinya menjadi penghibur untuknya, untuk meringankan ujian dan cobaan
dalam hidupnya. Allah berfirman:
“Mereka orang-orang
yang senantiasa berdoa: ‘Wahai Rob kami, anugrahkanlah untuk kami istri dan
keturunan yang menyejukkan mata, dan jadikanlah kami sebagai panutan bagi
orang-orang bertaqwa.” (QS.
Al-Furqōn: 74)
Surga Balasan Bagi
Mereka
Mereka berusaha untuk
menerapkan 12 sifat terpuji tersebut. Mereka senantiasa melatih dirinya dan
memohon kepada Allah pertolongan dalam mengamalkannya. Lalu Allah tolong mereka
dan memberi mereka balasan terbaik, yaitu Surga, sebagaimana firman Allah:
“Mereka orang-orang
yang dibalas dengan kamar-kamar indah karena kesabaran mereka, dan ucapan
mereka jika saling berjumpa adalah penghormatan dan salam. Mereka kekal di
dalam Surga, dan Surga adalah tempat menetap dan tempat tinggal terbaik.” (QS. Al-Furqōn: 75-76)
Ya Allah, gabungkanlah
kami bersama mereka, meskipun amal kami belum bisa menyusul mereka, serta
ampunilah dosa-dosa kami dengan kemurahan-Mu. Engkau Dzat yang Maha Dekat dan
Maha Mengabulkan.[]
[1] Dikatakan musyrik jika
seseorang menyembah Allah sekaligus menyembah selain Allah, sehingga dikatakan:
“mereka menyembah selain Allah bersama Allah.”
[2] Orang Muslim tidak boleh
dibunuh kecuali dengan alasan yang dibenarkan, seperti membunuh orang, berzina bagi
yang sudah menikah, atau murtad. Yang berhak melaksanakan hukum bunuh hanya
penguasa atau siapa yang mendapatkan mandat dari penguasa.
[3] Disebutkan dalam hadits
bahwa dosa-dosa kecil mereka diampuni dan diganti dengan pahala. Ini bentuk
kemurahan Allah.