Cari Artikel

Mempersiapkan...

Waktu yang Disukai (Mustahab) untuk Witir

 

Telah disebutkan bahwa Witir boleh dikerjakan setelah Sholat Isya hingga terbitnya fajar. Namun, yang paling utama (afdhol) adalah pada sepertiga malam terakhir.

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ، فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ

“Rosululloh ber-Witir pada seluruh waktu malam: (kadang) di awal malam, tengah malam, dan akhirnya. Witir beliau berakhir sampai waktu sahur [sebelum fajar].” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 996 dan Muslim no. 745)

Disukai -berdasarkan kesepakatan ulama- untuk menjadikan Witir sebagai penutup dari semua Sholat sunnah yang ia kerjakan di malam hari. Ini sesuai dengan Hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah akhir Sholat kalian di malam hari sebagai Witir.” (Shohih: telah disebutkan sebelumnya)

Ini berlaku jika seseorang yakin akan bangun di akhir malam, maka disukai baginya untuk mengakhirkan Witir sampai akhir malam. Tetapi jika ia khawatir tidak akan bangun untuk Witir di akhir malam, maka disukai baginya untuk ber-Witir sebelum tidur.

Ini berdasarkan Hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh bersabda,

مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَلَّا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ، فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ وَلْيَرْقُدْ، وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ، فَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak akan bangun di akhir malam, maka ber-Witirlah di awal malam lalu tidurlah. siapa di antara kalian yang yakin akan bangun di akhir malam, maka ber-Witirlah di akhir malam. Sungguh Sholat di akhir malam itu disaksikan (oleh para Malaikat), dan itu lebih utama.” (Shohih: HR. Muslim no. 755, At-Tirmidzi no. 455, dan Ibnu Majah no. 1187)

Dari Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu,

مَتَى تُوتِرُ؟

“Kapan engkau ber-Witir?”

Ia menjawab, “Saya ber-Witir lalu saya tidur.”

Beliau bertanya kepada Umar bin Khoththob,

مَتَى تُوتِرُ؟

“Kapan engkau ber-Witir?”

Ia menjawab, “Saya tidur lalu saya ber-Witir.”

Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

Maka beliau berkata kepada Abu Bakar,

أَخَذْتَ بِالْحَزْمِ أَوِ الْوَثِيقَةِ

“Engkau mengambil jalan kehati-hatian atau keyakinan.”

beliau berkata kepada Umar,

أَخَذْتَ بِالْقُوَّةِ

“Engkau mengambil jalan kekuatan.” (Shohih: HR. Abu Dawud no. 1421, Ibnu Majah no. 1202, dan Ibnu Khuzaimah no. 1084)


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url