Cari Artikel

Mempersiapkan...

Celaan Asyairoh kepada Ahlus Sunnah dan Pengafiran Mereka - Tim Ilmiyyah Yayasan Duror Saniyyah

 

 

Celaan Asyairoh kepada Ahlus Sunnah dan Pengafiran Mereka

Oleh: Tim Ilmiyyah Yayasan Duror Saniyyah

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah memudahkan jalan hidayah bagi seluruh makhluk dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menempuh jalan tersebut agar mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. Kami bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Ilah (yang disembah) bagi orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian, yang mana:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuroo: 11)

Kami juga bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan Alloh yang dipilih dari sekian banyak makhluk-Nya. Alloh menjadikannya sebagai pemegang amanah atas wahyu-Nya, serta perantara antara Diri-Nya dengan para hamba. Beliau diutus dengan membawa agama yang kokoh dan manhaj yang lurus, sebagai rohmat bagi alam semesta. Alloh mewajibkan setiap hamba untuk menaati, menghormati, dan mencintainya, serta menunaikan hak-haknya. Alloh pun menggantungkan kebahagiaan pada ketaatan kepadanya, dan menjadikan kesengsaraan bagi siapa yang menyelisihi perintahnya. Semoga solawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau dan keluarganya.

Amma ba’du:

Sungguh, kaum Asy’ariyah tidak hanya merasa cukup dengan berbeda pandangan dengan para pendahulu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Lebih dari itu, mereka menabuh genderang permusuhan, melabeli Ahlus Sunnah dengan julukan-julukan yang sangat buruk, mencela, mencaci, menuduh bid’ah, bahkan sampai mengafirkan mereka.

Bagi orang-orang yang merasa kasihan kepada kaum Asy’ariyah dan justru menuduh Ahlus Sunnah—pengikut hadis dan atsar—sebagai pihak yang berkata kasar, maka perhatikanlah ungkapan-ungkapan tajam dan tuduhan berbahaya dari tokoh-tokoh besar Asy’ariyah berikut ini. Dalam tulisan ini, kami hanya membatasi pada kutipan dari ulama-ulama klasik mereka dan tidak mencantumkan tokoh kontemporer, meski sebenarnya perilaku mereka tidak jauh berbeda dalam menuduh bid’ah dan mengafirkan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal semacam ini telah memenuhi jagat dunia maya, media sosial, serta banyak buku karya mereka.

[1] Julukan Buruk dan Label Keji terhadap Ulama Ahlus Sunnah

Kaum Asy’ariyah memberikan gelar-gelar yang sangat buruk kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan tujuan agar orang-orang merasa muak, menjauh, serta enggan duduk dan mendengarkan ilmu dari mereka. Label yang sering mereka gunakan antara lain: Hasywiyyah (kelompok rendah/sampah), Musyabbihah (penyerupa Alloh dengan makhluk), dan Mujassimah (pemberi rupa fisik bagi Alloh).

Al-Lalaka’i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaah (1/200, 201) meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim bahwa:

علامةُ أهلِ البِدَعِ الوقيعةُ في أهلِ الأثرِ، وعلامةُ الزَّنادقةِ تسميتُهم أهلَ السُّنَّةِ حَشْويَّةً، يريدونَ إبطالَ الآثارِ، وعلامةُ الجَهميَّةِ تَسميتُهم أهلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهةً، وعلامةُ القَدَريَّةِ تسميتُهم أهلَ الأثَرِ مُجبرةً، وعلامةُ المُرجِئةِ تسميتُهم أهلَ السُّنَّةِ مُخالِفةً ونُقصانيَّةً، وعلامةُ الرَّافضةِ تسميتُهم أهلَ السُّنَّةِ ناصبةً. ولا يَلحَقُ أهلَ السُّنَّةِ إلَّا اسمٌ واحدٌ، ويستحيلُ أن تجمَعَهم هذه الأسماءُ

“Tanda ahli bid’ah adalah mencela para pengikut atsar. Tanda kaum zindiq adalah menjuluki Ahlus Sunnah sebagai Hasywiyyah untuk membatalkan riwayat-riwayat Nabi. Tanda kaum Jahmiyyah adalah menyebut Ahlus Sunnah sebagai Musyabbihah. Tanda kaum Qodariyah menyebut Ahlus Sunnah sebagai Mujbiroh. Tanda kaum Murji’ah menyebut Ahlus Sunnah sebagai Mukholifah dan Nuqshoniyah. Tanda kaum Rofidhoh menyebut Ahlus Sunnah sebagai Nashibah. Padahal Ahlus Sunnah hanya pantas menyandang satu nama saja, dan mustahil semua label itu ada pada mereka. Lihat juga artikel “Baro’atul Asya’iroh min Madzhabil Ahlis Sunnah wal Jamaah” karya Sultan al-Umar.

Berikut adalah beberapa pernyataan mereka:

1. Abu Ma’ali al-Juwaini

Dia menyatakan bahwa kaum Musyabbihah—yang menurutnya—berkeyakinan bahwa Alloh berada khusus di arah atas. (Asy-Syamil fi Ushuliddin hal. 511)

Ia juga mengatakan bahwa kaum Hasywiyyah yang mengaku mengikuti zhohir dalil beranggapan bahwa kalamullah itu bersifat qodim (dahulu), namun mereka mengeklaim bahwa kalam tersebut terdiri dari huruf dan suara[1]. Mereka meyakini bahwa suara yang didengar dari para pembaca Al-Qur’an dan iramanya adalah hakikat dari kalamullah itu sendiri. (Al-Irsyad ila Qowathi’il Adillah fi Ushulil I’tiqod hal. 125)

Taqiyuddin as-Subki juga menukil perkataan Abu Ma’ali al-Juwaini saat mencela Imam as-Sijzi al-Hanafi[2] dengan kalimat yang sangat memalukan. Di antara kata-kata kasarnya adalah: “As-Sijzi telah menampakkan bab-bab dari kebodohannya yang sangat dalam, ia menyusun kesimpulan di atas akalnya yang sangat dangkal, tanda-tanda kebodohan terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya, dan kebenaran sama sekali tidak menyentuhnya.”

Al-Juwaini juga menyebut Imam as-Sijzi sebagai “orang bodoh yang tertipu dan terus-menerus dalam kebodohannya.” Ia bahkan berujar: “Si bodoh ini telah memakaikan sifat-sifatnya sendiri kepada para imam.” Ia juga berkata: “Orang dungu ini mengeluarkan perkataan yang bagian akhirnya membatalkan bagian awalnya tentang sifat-sifat Alloh. Tidak pantas orang seperti dia bicara soal sifat Alloh dengan segala kebodohan dan kedangkalan akalnya.” Ia melabeli sang imam sebagai “orang yang terlaknat, terusir, hina, dan terlunta-lunta.” Bahkan ia mendoakan keburukan baginya: “Semoga laknat Alloh terus-menerus menimpanya, satu demi satu.” Terakhir, setelah menukil perkataan sang imam tentang turunnya Alloh ke langit dunia, Al-Juwaini berkata:

ومَن قال بذلك حَلَّ دَمُه

“Siapa yang berpendapat demikian, maka halal darahnya!” (As-Saiful Shoqil hal. 25)

2. Abu Hamid al-Ghozali

Ia berkata: “Adapun kaum Hasywiyyah, mereka tidak mampu memahami keberadaan sesuatu kecuali harus di suatu arah. Maka mereka menetapkan arah bagi Alloh, sehingga secara otomatis mereka terjebak pada pemahaman bahwa Alloh itu berbentuk fisik (jism).” (Al-Iqtishod fil I’tiqod hal. 72)

3. Ar-Rozi

Ia mengatakan: “Kaum Musyabbihah berkata bahwa firman Alloh:

﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

‘Mereka takut kepada Robb mereka yang berada di atas mereka’ (QS. An-Nahl: 50) menunjukkan bahwa Robb secara zat berada di atas mereka.” (Tafsir ar-Rozi 7/218)

Ar-Rozi juga menyebutkan argumen yang menurutnya mewajibkan penggunaan logika, lalu ia berkata: “Ini menunjukkan batilnya pendapat kaum Hasywiyyah yang mengatakan bahwa kita mengambil pengetahuan tentang Alloh dan agama hanya dari Al-Kitab dan As-Sunnah.”[3]

Ia juga berkata: “Ketahuilah bahwa Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah[4] menyebutkan argumen kawan-kawan kami dengan ayat ini dalam bukunya yang ia beri judul ‘At-Tauhid’, padahal sebenarnya itu adalah buku kesyirikan! Saya akan menyebutkan inti perkataannya setelah membuang penjelasannya yang bertele-tele, karena dia adalah orang yang bicaranya kacau, pemahamannya minim, dan akalnya kurang!” (Tafsir ar-Rozi, 27/582)[5]

4. Al-Amidi

Ia menyatakan: “Dengan inilah terbukti rusaknya pendapat kaum Hasywiyyah yang meyakini bahwa iman adalah pembenaran dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan anggota badan[6].” (Ghoyatul Marom fi Ilmil Kalam hal. 311)

5. As-Subki

Ia berkata: “Sungguh musibah yang paling besar dan bencana yang paling mengerikan adalah memahami ayat-ayat sifat sesuai zhohirnya, lalu meyakini bahwa itulah maknanya dan hal itu tidak mustahil bagi Sang Pencipta. Itulah pendapat kaum Mujassimah, para penyembah berhala yang di dalam hati mereka terdapat penyimpangan.” (Thobaqot asy-Syafi’iyyah 5/192)[7]

As-Subki juga menjelaskan siapa yang dimaksud Hasywiyyah menurut mereka: “Mereka adalah kelompok yang sesat dari jalan yang benar dan buta mata hatinya, mereka memahami ayat-ayat sifat secara tekstual dan meyakini itulah makna yang dimaksudkan.” (Al-Ibhaj fi Syarhil Minhaj 1/361)

6. As-Sanusi

Ia mengatakan: “Berpegang teguh dalam masalah pokok aqidah hanya dengan zhohir Al-Qur’an dan Sunnah tanpa bimbingan logika akal adalah pangkal kesesatan kaum Hasywiyyah. Akhirnya mereka terjatuh pada paham penyerupaan Alloh dengan makhluk (tasybih), menganggap Alloh punya fisik (tajsim), dan berada di suatu arah; hal itu karena mereka mengikuti zhohir firman Alloh:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

‘Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy’ (QS. Thoha: 5),

﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

‘Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang di langit’ (QS. Al-Mulk: 16), dan

﴿لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

‘Terhadap apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Sad: 75).” (Syarh Ummu al-Barohin hal. 292)

[2] Pengafiran Kaum Asy’ariyah terhadap Ulama yang Tidak Sehaluan

Kita sering mendengar dan membaca tuduhan sebagian kaum Asy’ariyah bahwa Ahlus Sunnah suka menyesat-nyesatkan dan mengafirkan orang lain. Padahal sebenarnya mereka sendirilah yang lebih pantas mendapatkan tuduhan tersebut[8]. Berikut adalah pernyataan-pernyataan tokoh besar mereka:

1. Abu Manshur Abdul Qohir bin Thohir al-Baghdadi (wafat 429 H)

Ia berkata: “Sungguh Al-Asy’ari dan mayoritas ulama kalam berpendapat untuk mengafirkan setiap ahli bid’ah yang bid’ahnya bersifat kufur atau menjerumuskan pada kekufuran. Seperti orang yang mengeklaim bahwa Ilah (yang disembah)nya memiliki rupa[9], atau memiliki batasan dan ujung, atau beranggapan bahwa Alloh bisa bergerak maupun diam[10].” (Al-Asma was Sifat 3/87 dan 2/727)

2. Abu Ishaq Ibrohim bin Ali asy-Syirazi[11] (wafat 476 H)

Ia berkata: “Maka siapa yang meyakini selain apa yang kami isyaratkan sebagai aqidah ahli kebenaran yang berafiliasi kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari, maka dia adalah kafir[12].” (Syarh al-Luma’ 1/111)

3. Yusuf al-Urmawi (24)[13] asy-Syafi’i al-Asy’ari (wafat 612 H)

Ia memberikan jawaban atas sebuah fatwa tentang orang yang meyakini bahwa Alloh berbicara dengan huruf dan suara[14]. Al-Urmawi menjawab: “Orang yang disebutkan di atas telah melakukan dosa besar dan wajib bagi mereka untuk meninggalkan keyakinan tersebut. Mereka adalah orang-orang kafir menurut mayoritas ulama kalam. Bagaimana mungkin pendapat mereka bisa diterima?! Penguasa wajib memanggil mereka dan meminta mereka bertaubat. Jika bertaubat maka diterima, jika tidak maka dibunuh. Prosedurnya sama dengan orang murtad yaitu diberi waktu tiga hari, tidak langsung dibunuh di tempat.” (Najmul Muhtadi wa Rojmul Mu’tadi 2/467)[15]

4. Al-Khathib Muhammad bin Ibrohim al-Hamawi[16] (wafat 615 H)

Ia menyatakan: “Siapa yang berkata bahwa Alloh berbicara dengan huruf dan suara, maka ia telah mengeluarkan ucapan yang konsekuensinya adalah Alloh itu berbentuk fisik (jism). Dan siapa yang berkata Alloh itu fisik, maka ia telah menganggap Alloh itu baru (makhluk). Siapa yang menganggap-Nya baru, maka sungguh ia telah kafir. Orang kafir tidak sah kepemimpinannya dan tidak diterima kesaksiannya. Wallohu a’lam.” (Najmul Muhtadi wa Rojmul Mu’tadi 2/468)[17]

5. Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H)

Ia berkata tentang Ibnu Taimiyah: “Ibnu Taimiyah telah mengada-adakan hal baru dalam pokok-pokok aqidah dan meruntuhkan pilar-pilar serta sendi-sendi Islam, setelah sebelumnya ia bersembunyi di balik kedok mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah serta menampakkan diri sebagai penyeru kebenaran menuju Surga. Namun kemudian ia keluar dari koridor mengikuti ulama menuju ranah bid’ah, dan menyimpang dari jamaah kaum Muslimin dengan menyelisihi kesepakatan (ijma’)... Ia tidak termasuk dalam satu pun dari 73 golongan umat ini, bahkan semangatnya tidak sejalan dengan umat mana pun. Semua tindakannya itu, meski merupakan kekafiran yang amat buruk, jumlahnya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang ia ada-adakan dalam masalah cabang (furu’)!” (Ad-Durroh al-Mudhiyyah fir Roddi ‘ala Ibni Taimiyah hal. 6-7)

As-Subki juga berkata tentang Ibnu Qoyyim: “Dialah sang ateis (mulhid), semoga laknat Alloh menimpanya! Alangkah tidak tahu malunya dia! Alangkah beraninya dia! Semoga Alloh menghinakannya!” (As-Saiful Shoqil hal. 41)

 Ia pun menambahkan: “Selesailah ucapan si ateis ini, celakalah dia! Semoga Alloh memutus sisa-sisa omongannya! Lihatlah orang yang terlaknat ini...” (Sumber yang sama hal. 53)

6. Taqiyuddin al-Hishni al-Asy’ari (wafat 829 H)

Ia berkata: “Sungguh Ibnu Taimiyah yang pernah disifati sebagai lautan ilmu, tidaklah mengherankan jika sebagian imam berkata tentangnya bahwa dia adalah seorang zindiq (munafik/menyimpang) tulen!...” (Daf’u Syubah man Syabbaha wa Tamarrod hal. 64)

Al-Maqrizi menceritakan tentang Al-Hishni ini: “Ia adalah orang yang sangat fanatik terhadap Asy’ariyah dan sangat membenci kalangan Hambali hingga melampaui batas. Ia sering terlibat perselisihan dengan mereka di Damaskus. Ia sering berkata keji terhadap Ibnu Taimiyah dan terang-terangan mengafirkannya tanpa rasa malu, bahkan ia berteriak di Masjid-Masjid dan perkumpulan bahwa Ibnu Taimiyah kafir. Hal ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya karena kebiasaan orang zaman sekarang yang hanya membebek kepada tokoh yang mereka kagumi.” (Duror al-Uqud al-Faridah 1/142)[18]

7. Qodhi Maliki

Ibnu Hajar menyebutkan dalam biografi Ibnu Taimiyah: “Kemudian sampai berita kepada Qodhi bermazhab Maliki (yang berafiliasi Asy’ari) bahwa orang-orang masih mendatanginya di penjara (hingga sang qodhi sangat marah). Maka ia berkata: ‘Dia harus dipersempit ruang geraknya jika memang tidak dibunuh, karena kekafirannya telah terbukti.’ Maka Ibnu Taimiyah dipindahkan ke dalam sumur penjara pada malam Idulfitri.” (Ad-Duror al-Kaminah 1/171)

8. Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi’i al-Asy’ari (wafat 974 H)

Ia berkata tentang Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim: “Keduanya memiliki kekejian dan aqidah yang buruk dalam masalah ini, yang mana telinga pun enggan mendengarnya. Maka mereka berdua dihukumi sebagai pelaku kepalsuan, kedustaan, kesesatan, dan kebohongan besar. Semoga Alloh memburukkan mereka berdua dan orang-orang yang mengikuti pendapat mereka. Imam Ahmad dan para tokoh besar mazhabnya berlepas diri dari noda keji ini, apalagi hal tersebut dianggap kekafiran oleh banyak ulama.” (Asyrof al-Wasail ila Fahmi asy-Syamail hal. 173)

Ia juga berpesan: “Janganlah engkau mendengarkan apa yang ada dalam buku-buku Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, serta orang-orang lain yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah (yang disembah)nya, sehingga Alloh menyesatkannya meski ia punya ilmu, mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Alloh? Alangkah beraninya para ateis ini melampaui batas dan merusak pagar syariat serta hakikat, mereka mengira berada di atas petunjuk padahal mereka berada dalam kesesatan yang paling buruk, sifat paling hina, dan kerugian yang nyata. Semoga Alloh menghinakan para pengikut mereka dan membersihkan bumi dari orang-orang semacam itu.” (Al-Fatawa al-Haditsiyyah hal. 144)

Ia pun menambahkan: “Ibnu Taimiyah adalah seorang hamba yang telah Alloh hinakan, sesatkan, butakan, tulikan, dan rendahkan... Intinya, janganlah ucapannya dianggap berharga, melainkan harus dibuang di tempat yang terjal dan menyedihkan. Harus diyakini bahwa dia adalah ahli bid’ah yang sesat, menyesatkan, bodoh, dan melampaui batas. Semoga Alloh membalasnya dengan keadilan-Nya, dan melindungi kita dari jalan, aqidah, serta perbuatannya.” (Sumber sebelumnya hal. 83-84)[19]

9. Ismail al-Hamidi[20] (wafat 1316 H)

Ia berkata tentang Ibnu Taimiyah: “Tokoh Hambali yang masyhur itu adalah seorang zindiq, dan kebenciannya terhadap agama serta pemeluknya sangatlah jelas.” (Hasyiyah ‘ala Syarhil Kubro lis Sanusi hal. 62)

10. Muhammad Zahid al-Kautsari (wafat 1371 H)

Ia tokoh pembela mazhab Maturidiyah, Asy’ariyah, dan Sufiyah, berkata: “Para imam yang menjatuhkan vonis kafir terhadap orang yang menetapkan arah bagi Alloh sangatlah banyak jumlahnya.” (Hasyiyah as-Saiful Shoqil hal. 40)

Ia juga berkata tentang Ibnu Qoyyim bahwa ia memiliki: “Kezindikan yang terang-terangan, penyimpangan yang nyata, dan kegigihan dalam menganggap iman sebagai kekafiran. Semoga Alloh memburukkannya! Penulis syair ini (Ibnu Qoyyim) telah mencapai tingkat kekafiran yang tidak boleh didiamkan, tidak pantas bagi seorang Mukmin untuk menutup mata darinya atau bersikap toleran dalam masalah ini.” (As-Saiful Shoqil hal. 145)

Al-Kautsari memiliki catatan panjang dalam masalah pengafiran, penyesatan, dan pencacian yang memalukan untuk disebutkan.

[3] Sikap Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim

Cobalah bandingkan perkataan para ulama Asy’ariyah di atas dengan sikap Ibnu Taimiyah, penulis kitab Rof’ul Malam ‘anil Aimmatil A’lam (Mengangkat Celaan dari para Imam Besar). Dalam kitab tersebut, beliau justru memberikan uzur (pembelaan) bagi para imam Islam. Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang yang melakukan takwil dengan maksud ingin mengikuti Rosul tidaklah dikafirkan, bahkan tidak dianggap fasik jika ia telah berijtihad namun keliru. Hal ini sudah masyhur di tengah masyarakat dalam masalah amaliyah (fikih). Namun dalam masalah aqidah, banyak orang justru mengafirkan mereka yang salah. Padahal pendapat (suka mengafirkan) ini tidak dikenal dari satu pun sahabat, tabiin, maupun para imam kaum Muslimin. Sungguh, sikap suka mengafirkan ini asalnya adalah pendapat ahli bid’ah seperti Khowarij, Muktazilah, dan Jahmiyah yang mengafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka. Sayangnya, hal ini juga menimpa sebagian pengikut para imam seperti sebagian pengikut Malik, Syafi’i, Ahmad, dan lainnya.”

Beliau melanjutkan: “Jika mereka pada hakikatnya bukan orang kafir, maka mereka pun bukan munafik, melainkan tetap termasuk orang-orang beriman. Maka kita harus memohonkan ampunan dan rohmat untuk mereka. Ketika seorang Mukmin berdoa:

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

‘Ya Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Robb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’ (QS. Al-Hasyr: 10),

maka doa ini mencakup setiap orang yang mendahuluinya dalam keimanan dari generasi umat mana pun, meskipun ia pernah keliru dalam melakukan takwil sehingga menyelisihi sunnah, atau pernah berbuat dosa. Sebab ia tetaplah saudaranya yang telah mendahuluinya dalam iman, sehingga ia masuk dalam cakupan doa tersebut. Bahkan jika ia termasuk dalam salah satu dari 72 golongan (yang diperingatkan Nabi ), sungguh pada setiap golongan itu terdapat banyak orang yang bukan kafir, melainkan orang beriman yang memiliki kesesatan atau dosa sehingga mereka terancam dengan ancaman Alloh, sebagaimana pelaku maksiat dari kalangan Mukminin lainnya.

Nabi tidak mengeluarkan mereka dari Islam, bahkan menjadikan mereka bagian dari umatnya, dan beliau tidak mengatakan bahwa mereka kekal di Neraka. Ini adalah prinsip agung yang harus diperhatikan, karena banyak orang yang mengaku pengikut sunnah namun ternyata di dalam dirinya terdapat unsur bid’ah.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah 5/239-241)

Ibnu Taimiyah juga berkata: “Tidak setiap orang yang menyelisihi sebagian poin aqidah ini harus dianggap celaka. Sebab orang yang menyelisihinya bisa saja seorang mujtahid yang salah namun Alloh mengampuni kesalahannya, atau mungkin ilmu belum sampai kepadanya sehingga hujah belum tegak atasnya, atau ia punya banyak kebaikan yang bisa menghapus kesalahan-kesalahannya.[21]

Sungguh, orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan agama dari sisi Rosul namun ia keliru dalam sebagian hal, maka Alloh akan mengampuni kesalahannya sebagai bentuk pengabulan doa yang Alloh janjikan kepada Nabi-Nya dan orang-orang beriman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

‘Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’ (QS. Al-Baqoroh: 286)

Namun, siapa yang mengikuti prasangka dan hawa nafsunya, lalu mulai mencela orang yang menyelisihinya atas kesalahan yang dianggap benar oleh pelakunya setelah berijtihad, maka sebenarnya ia pun terjatuh pada hal yang serupa atau bahkan lebih buruk terhadap tokoh yang ia agungkan. Sangat sedikit orang yang selamat dari hal semacam ini di kalangan ulama mutakhirin karena banyaknya kesamaran dan kegoncangan, serta jauhnya manusia dari cahaya kenabian yang sebenarnya merupakan sumber petunjuk dan penghilang keraguan.” (Dar’u Ta’arudh al-Aql wan Naql 2/103-104)

Adapun terhadap orang-orang yang telah mendustainya, menzoliminya, serta melontarkan cacian paling keji kepadanya, Ibnu Taimiyah justru berkata: “Aku tidak suka ada orang yang dibela dengan cara membalas kedustaan, kezoliman, atau permusuhan yang dilakukan kepadaku. Sungguh, aku telah memaafkan setiap Muslim. Aku mencintai kebaikan bagi seluruh kaum Muslimin, dan aku menginginkan bagi setiap Mukmin kebaikan yang aku inginkan untuk diriku sendiri. Mereka yang berdusta dan berbuat zolim kepadaku, mereka telah aku bebaskan (maafkan).” (Majmu’ al-Fatawa 28/55)

Bandingkan pula ucapan kasar para pencela itu dengan perkataan muridnya, Ibnu Qoyyim: “Siapa pun yang memiliki ilmu tentang syariat dan realitas, pasti tahu bahwa seorang tokoh mulia yang memiliki jejak kebaikan dalam Islam, terkadang bisa melakukan kekeliruan atau ketergelinciran. Dalam hal itu, ia dimaafkan bahkan tetap mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Meskipun kekeliruannya tidak boleh diikuti, namun kedudukan, keimaman, dan kehormatannya di hati kaum Muslimin tidak boleh digugurkan.” (I’lamul Muwaqqi’in 5/235)

Ibnu Qoyyim juga bercerita tentang gurunya: “Dahulu sebagian sahabat besar Ibnu Taimiyah berkata: ‘Aku berharap bisa bersikap kepada sahabat-sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyah bersikap kepada musuh-musuhnya!’ Aku tidak pernah melihatnya mendoakan keburukan bagi musuhnya, justru ia mendoakan kebaikan bagi mereka. Suatu hari aku datang membawa kabar gembira tentang kematian musuh terbesarnya yang paling keras permusuhannya. Beliau justru menghardikku, tidak suka dengan sikapku, dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi). Beliau langsung mendatangi rumah keluarga musuhnya itu untuk bertakziah dan berkata: ‘Anggaplah aku sebagai penggantinya bagi kalian. Jika ada urusan yang butuh bantuan, aku akan membantu kalian!’ Mereka pun merasa senang, mendoakan kebaikan baginya, dan sangat mengagumi sikap luhur tersebut.” (Madarijus Salikin 2/328-329)

Kami memohon kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa agar memperlihatkan kepada kita bahwa yang benar itu benar dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya, serta memperlihatkan bahwa yang batil itu batil dan memberi kita kekuatan untuk menjauhinya.

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.



[1] Inilah sebenarnya aqidah para pendahulu Ahlus Sunnah wal Jamaah.

[2] Beliau adalah imam besar, hujjah, hafidz, Syaikh Ahlus Sunnah, Abu Nashr Ubaidullah bin Said bin Hatim al-Waili al-Bakri as-Sijistani, Syekh di Masjidil Harom. (Siyar A’lamun Nubala 17/654)

[3] Sumber sebelumnya 8/56. Ar-Rozi sebagai tokoh Asy’ariyah menganggap bahwa mencari mengenal Alloh lewat Al-Qur’an dan Sunnah adalah sebuah pendapat yang rusak/salah!

[4] Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai al-Hafidz, al-Hujah, al-Faqih, Syaikhul Islam, Imamul Aimmah, Abu Bakar as-Sulami an-Naisaburi. Lihat Siyar A’lamun Nubala 14/365.

[5] Sungguh aneh klaim Asy’ariyah yang mengaku mengikuti salaf, sementara tokoh utama mereka menghina Imam Ibnu Khuzaimah sebagai orang bodoh dan menyebut bukunya sebagai kitab kesyirikan!

[6] Padahal inilah inti aqidah para pendahulu Ahlus Sunnah wal Jamaah, namun di mata kaum Asy’ariyah hal ini dianggap sebagai pendapat yang salah.

[7] Para imam salaf telah sepakat dalam masalah sifat untuk “membiarkannya sebagaimana zhohirnya” tanpa memberikan gambaran (takyif). Namun As-Subki menganggap prinsip ini sebagai musibah besar dan pelakunya disamakan dengan penyembah berhala.

[8] Sejarah mencatat adanya perselisihan antara kalangan Hambali dan Asy’ariyah di mana masing-masing pihak bisa saja melampaui batas. Namun maksud di sini adalah menjelaskan hakikat kaum Asy’ariyah yang menuduh pihak lain suka mengafirkan, sementara mereka sendiri melakukannya.

[9] Al-Kautsari menukil ini dengan kalimat “orang yang menganggap Ilah (yang disembah)nya punya rupa”, maksudnya adalah Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat Shurah (rupa) bagi Alloh berdasarkan hadis-hadis sahih, seperti hadis Abu Said al-Khudri:

فَيَأْتِيهِمُ الجَبَّارُ في صُورَةٍ غيرِ صُورَتِهِ الَّتي رَأَوْهُ فِيهَا أوَّلَ مَرَّةٍ، فيَقولُ: أنَا رَبُّكُمْ

“...maka Alloh Yang Maha Perkasa mendatangi mereka dalam rupa yang berbeda dengan rupa yang mereka lihat pertama kali...” diriwayatkan Al-Bukhari no. 7439.

[10] Maksudnya adalah Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat Nuzul (turun ke langit dunia) berdasarkan hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

[11] Ia adalah imam besar Syafi’iyah dan Asy’ariyah di zamannya.

[12] Lihatlah bagaimana ia mengafirkan seluruh Muslim selain pengikut Asy’ariyah!

[13] Ada dua tokoh dengan nama ini, yang dimaksud di sini kemungkinan besar adalah Yusuf bin Muhammad al-Urmawi wafat 612 H.

[14] Padahal ini adalah aqidah salaf Ahlus Sunnah.

[15] Di mata dia, siapa yang menetapkan Alloh bicara dengan huruf dan suara dianggap kafir murtad.

[16] Ada beberapa pendapat tentang tokoh ini, namun kemungkinan besar adalah Abu Abdillah al-Ghassani al-Hamawi.

[17] Ia mengatakan ini padahal ia tahu bahwa ahli hadis dan pengikut Hambali berpendapat demikian, namun ia tidak segan-segan mengafirkan mereka semua.

[18] Betapa banyak kaum Asy’ariyah zaman sekarang yang mengafirkan Ibnu Taimiyah di mimbar-mimbar maupun di jagat internet.

[19] Al-Haitami banyak melakukan tindakan gegabah semacam ini.

[20] Salah seorang ulama Al-Azhar.

[21] Majmu’ al-Fatawa 3/179.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url