Muqoddimah Kitab Membedah Klaim Keterikatan Asy’ariyah dengan Ahlussunnah wal Jama’ah
﷽
Membedah Klaim Keterikatan
Asy’ariyyah dengan Ahlus Sunnah[1]
Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan ni’mat iman
kepada orang-orang beriman, dan ni’mat sunnah kepada para pengikut sunnah.
Dialah yang telah membimbing mereka menuju kebenaran, menguatkan mereka di atas
jalan yang lurus, serta memberi taufik kepada mereka untuk mengikuti Kitab-Nya
dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ sesuai pemahaman Salafus Sholih. Mereka
adalah orang-orang yang tidak menyimpangkan teks-teks dalil, tidak mendahulukan
logika di atas wahyu, dan tidak menyalahi apa yang telah disepakati oleh para
pendahulu yang sholih. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita
Muhammad, yang telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat,
dan meninggalkan mereka di atas jalan yang sangat terang benderang; malamnya
sama terangnya dengan siangnya, tidak ada yang melenceng darinya kecuali orang
yang binasa. Semoga salam juga tercurah kepada keluarga beliau yang suci, para Sohabat
beliau yang terpilih, serta siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik dan
meniti jejak mereka hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Sungguh, istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah” merupakan
istilah syar’i yang berlandaskan dalil-dalil dan sudah sangat populer dalam
perkataan para imam. Ini adalah sebuah julukan yang hanya bisa dirasakan
kebahagiaannya oleh orang yang benar-benar berkomitmen pada Sunnah dengan cara
berpegang teguh dan mengikuti jejaknya, serta senantiasa bersama jamaah secara
keyakinan dan memisahkan diri dari para pengikut hawa nafsu dan pelaku bid’ah.
Orang yang paling berhak menyandang nama ini adalah para Sohabat,
Tabi’in, dan siapa pun yang meniti jalan mereka dari kalangan Salafus Sholih.
Tidak diperbolehkan menyematkan gelar ini kepada siapa pun yang tidak layak
menerimanya.
Namun, kalangan Asy’ariyah kontemporer mencoba memperebutkan
istilah ini. Mereka mengklaimnya untuk diri mereka sendiri dan berusaha
merampasnya dari pihak yang sebenarnya lebih berhak dan lebih pantas menyandang
gelar tersebut, baik secara sifat maupun fakta di lapangan. Memang mudah bagi
siapa saja untuk melontarkan klaim, namun salah satu klaim yang paling
mengherankan di zaman ini adalah klaim keterikatan Asy’ariyah dengan
Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal mereka justru menyelisihi apa yang telah
disepakati oleh Ahlussunnah secara nyata dan terang-terangan!
Risalah ini hadir untuk membedah klaim tersebut dengan
timbangan penelitian yang mendalam dan objektif[2]. Risalah
ini menyajikannya berdasarkan timbangan ilmu yang tidak akan diperselisihkan
oleh dua orang yang berakal, dan tidak akan diperdebatkan oleh dua orang yang
objektif;
Tujuannya agar sisi kebenaran dalam masalah ini menjadi
jelas, serta bisa membedakan mana yang merupakan manhaj Salafi yang kokoh dan
mana yang sekadar klaim serta pengakuan yang tidak berlandaskan bukti.
Sebab, yang dinamakan Ahlussunnah wal Jama’ah itu adalah
para Salafus Sholih: Para Sohabat —semoga Alloh meridhoi mereka—, lalu
para Tabi’in, dan para pengikut Tabi’in. Merekalah para Salaf pada tingkatan
yang paling utama. Tidak ada seorang pun yang bisa mengingkari fakta ini, baik
dari kalangan Asy’ariyah maupun yang lainnya. Merekalah orang-orang yang hidup
di kurun waktu terbaik sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh ﷺ:
«خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Manusia terbaik adalah generasiku, kemudian orang-orang
setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 6429
dan Muslim no. 2533 dari hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu).
Jika mereka bukan Ahlussunnah wal Jama’ah, lalu siapa lagi
kalau bukan mereka?!
Oleh karena itu, siapa pun yang sejalan dengan mereka, maka
ia berhak menyandang gelar “Ahlussunnah wal Jama’ah.” Namun, siapa yang
menyelisihi mereka dan menyimpang dari apa yang telah mereka sepakati, maka
pengakuannya hanyalah isapan jempol belaka, tidak peduli seberapa keras ia
bersuara atau berargumen.
Bukanlah tindakan yang adil maupun objektif jika seseorang
yang menyelisihi prinsip dan keyakinan para Salaf justru dinisbatkan kepada
mereka. Maka, klaim keterikatan Asy’ariyah dengan manhaj Salaf Ahlussunnah wal
Jama’ah —di tengah adanya perbedaan nyata dalam mazhab mereka terhadap apa yang
telah disepakati oleh para Sohabat, Tabi’in, dan para imam agama— hanyalah
klaim kosong tanpa bukti. Klaim tersebut tidak berdiri di atas landasan yang
jelas, tidak didukung oleh dalil yang valid, juga tidak didasari oleh pemahaman
yang lurus.
Klaim ini terus saja diulang-ulang di lingkungan akademis
mereka. Mereka tak henti-hentinya menulis buku, menyampaikan khutbah,
pelajaran, ceramah, hingga menggelar berbagai seminar.
Tujuannya untuk meyakinkan para pengikut mereka dan
masyarakat awam bahwa hanya merekalah Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal
kenyataannya mereka justru menyelisihi prinsip-prinsip dasar yang telah
disepakati oleh Ahlussunnah wal Jama’ah itu sendiri!!
Kalangan Asy’ariyah menyelisihi para Salaf dalam banyak
persoalan tauhid dan aqidah. Di sini, saya memilih tiga persoalan yang paling
mencolok untuk diuji dengan timbangan keadilan serta dalil-dalil dari Al-Kitab,
Sunnah, dan ijma’ Salaf, yaitu: masalah iman, masalah ketinggian
(uluw) Alloh Ta’ala, dan masalah firman (kalam) Alloh.
Ketiga hal ini dipilih karena merupakan persoalan yang
paling jelas menunjukkan adanya jurang perbedaan antara mereka dengan generasi
terbaik yang telah berlalu.
Melalui teks-teks Al-Kitab, Sunnah, ijma’ Salaf Ahlussunnah
wal Jama’ah, serta perkataan para imam yang mendalam ilmunya, pembaca yang
objektif akan melihat betapa besarnya perbedaan antara apa yang ditetapkan oleh
para imam robbani tersebut dengan apa yang ditetapkan oleh para tokoh
Asy’ariyah dalam kitab-kitab rujukan mereka yang diajarkan siang dan malam di
forum-forum ilmiah mereka.
Akan tampak jelas bagi pembaca bahwa antara kedua manhaj ini
terdapat jurang perbedaan yang tidak mungkin disatukan atau didamaikan.
Sebab, klaim sebagai pengikut Salaf tidak bisa diterima
hanya dengan sekadar pengakuan. Bagaimana mungkin dalam timbangan keadilan,
seseorang yang menyelisihi ijma’ Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah justru dianggap
lebih berhak menyandang nama itu, sementara mereka yang sejalan dengan Salaf
malah tidak dinisbatkan kepada mereka.
Ini adalah sebuah pemutarbalikan fakta dan keganjilan yang
tidak bisa diterima oleh logika, tidak dibenarkan oleh dalil, dan tidak mungkin
dikatakan kecuali oleh orang yang timbangan pemahamannya telah rusak!
Saya menulis ini sebagai bentuk nasihat dan penjelasan bagi
kaum Muslimin, dengan harapan agar kalimat kita bersatu di atas kebenaran,
serta mengembalikan orang-orang kepada manhaj Salaf yang merupakan jalan lurus
yang tidak ada keselamatan kecuali dengan menempuhnya.
[1] Risalah ini merupakan ringkasan dari buku berjudul: Membedah
Klaim Keterikatan Asy’ariyah dengan Ahlussunnah wal Jama’ah berdasarkan dalil
Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’. Untuk mengunduh bukunya silakan klik di sini.
[2] Sebagai bentuk objektif: Perlu ditegaskan bahwa di
antara mereka terdapat para ulama syariat yang memiliki jasa yang patut
disyukuri dalam berbagai ilmu agama, meskipun mereka melakukan kesalahan dalam
beberapa bab akidah. Saya telah menjelaskan sikap terhadap mereka dalam artikel
berjudul: Ulama Asy’ariyah di antara Kejahatan Kelompok Ekstrem dan
Kewajiban Bersikap Adil.
