Kandungan Risalah Nabi ﷺ dalam Menjelaskan Kebenaran pada Dasar Agama dan Cabangnya - Ibnu Taimiyyah
Risalah
Nabi ﷺ
mengandung dua hal, yaitu: ilmu yang bermanfaat dan amal sholih, sebagaimana
firman Alloh:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah
yang mengutus Rosul-Nya dengan petunjuk (ilmu) dan agama yang benar (amal) agar
Dia memenangkannya di atas semua agama meskipun orang-orang musyrik tidak
menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)
Maka al-huda
adalah ilmu yang bermanfaat, dan dinul haqq adalah amal sholih yang
meliputi keikhlasan kepada Alloh dan mengikuti Rosul-Nya ﷺ.
Ilmu yang
bermanfaat mencakup segala ilmu yang di dalamnya terdapat kebaikan dan
kemaslahatan bagi ummat, baik dalam kehidupan dunia maupun Akhiroh mereka.
Dan yang
paling utama termasuk di dalamnya adalah ilmu tentang Nama-Nama, Sifat-Sifat,
dan Perbuatan-Perbuatan Alloh.
Sungguh
ilmu tentang hal itu adalah ilmu yang paling bermanfaat. Ia adalah intisari
risalah ilahiyah dan ringkasan dakwah nubuwah. Dengan ilmu ini agama dapat
tegak, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.
Oleh karena
itu, mustahil bagi Nabi ﷺ
mengabaikannya dan tidak menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, yang
meniadakan keraguan dan menghilangkan syubhat (kerancuan). Mustahilnya hal itu
dapat dilihat dari beberapa sisi:
Sisi
Pertama: Petunjuk
Risalah Nabi ﷺ mengandung cahaya dan petunjuk.
Sungguh Alloh mengutus beliau sebagai pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan, serta sebagai penyeru kepada Alloh dengan izin-Nya, dan
sebagai pelita yang menerangi.
Beliau
meninggalkan ummatnya di atas jalan yang putih bersih, malamnya terang seperti
siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya melainkan orang yang celaka.
Dan cahaya
yang paling agung dan paling sempurna adalah apa yang didapatkan oleh hati
dengan mengenal Alloh, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan Perbuatan-Perbuatan-Nya.
Maka, Nabi ﷺ harus telah menjelaskannya
dengan penjelasan yang sangat sempurna.
Sisi
Kedua: Sudah Menjelaskan
Nabi ﷺ mengajarkan kepada ummatnya semua
yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia, bahkan sampai adab makan,
minum, duduk, tidur, dan lain-lain.
Abu Dzarr rodhiyallahu
‘anhu berkata: “Sungguh Rosululloh ﷺ wafat, dan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua
sayapnya melainkan beliau telah menyebutkan ilmunya kepada kami.”
Tidak
diragukan bahwa ilmu tentang Alloh, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan
Perbuatan-Perbuatan-Nya termasuk dalam kalimat umum ini. Bahkan ia adalah hal
yang paling utama termasuk di dalamnya karena sangat dibutuhkan.
Sisi
Ketiga: Mustahil Diabaikan
Iman kepada
Alloh, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan Perbuatan-Perbuatan-Nya adalah dasar agama,
dan intisari dakwah para Rosul. Ia adalah hal yang paling wajib dan paling
utama yang diusahakan oleh hati dan dicapai oleh akal.
Maka,
bagaimana mungkin Nabi ﷺ
mengabaikannya tanpa pengajaran dan penjelasan, padahal beliau mengajarkan hal
yang tingkat kepentingannya dan keutamaannya di bawahnya?!
Sisi
Keempat: Paling Jelas Penjelasannya
Nabi ﷺ adalah orang yang paling mengetahui
tentang Robb-nya, orang yang paling tulus menasihati makhluk, dan orang yang
paling fasih dan sempurna penjelasannya.
Maka,
dengan adanya tuntutan penjelasan yang sempurna ini, tidak mungkin beliau
membiarkan bab iman kepada Alloh, Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, menjadi kabur
dan rancu.
Sisi
Kelima: Mustahil Shohabat Bodoh
Para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum pasti telah mengatakan yang benar dalam bab
ini.
Karena
lawan dari itu adalah diam, atau mengatakan kebathilan, dan kedua-duanya
mustahil terjadi pada mereka:
Adapun
mustahilnya diam, alasannya adalah: Diam itu bisa karena kebodohan mereka
tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang wajib bagi Alloh, yang boleh dan yang
mustahil bagi-Nya. Atau karena mereka mengetahui hal itu tetapi menyembunyikannya.
Dan kedua-duanya mustahil:
Adapun
mustahilnya kebodohan: Karena tidak mungkin bagi hati mana pun yang memiliki
kehidupan, kesadaran, semangat mencari ilmu, dan ketekunan dalam ibadah,
melainkan perhatian terbesarnya adalah mencari tahu tentang iman kepada Alloh,
pengetahuan tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan merealisasikannya dalam
ilmu dan keyakinan.
Tidak
diragukan bahwa generasi-generasi terbaik (al-qurun al-mufadhdholah),
dan yang terbaik dari mereka adalah para Shohabat, adalah orang-orang yang
paling sempurna kehidupan hatinya, paling mencintai kebaikan, dan paling
merealisasikan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik
manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian
orang-orang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)
Kebaikan
ini mencakup keutamaan mereka dalam segala hal yang mendekatkan diri kepada
Alloh, baik perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.
Jika
seandainya mereka tidak mengetahui kebenaran dalam bab ini, maka orang setelah
mereka lebih pantas tidak mengetahuinya.
Karena
pengetahuan tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang ditetapkan atau dinafikan
dari Alloh hanya bisa didapatkan melalui risalah (kenabian), dan mereka (para
Shohabat) adalah perantara antara Rosul ﷺ dan ummat.
Atas dasar
anggapan ini, berarti tidak ada seorang pun yang memiliki ilmu dalam bab ini,
dan ini jelas mustahil.
Adapun
mustahilnya menyembunyikan kebenaran: Karena setiap orang yang berakal dan adil
yang mengetahui kondisi para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan semangat
mereka dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta menyampaikannya kepada
ummat, mustahil baginya menisbatkan penyembunyian kebenaran kepada mereka,
apalagi dalam perkara yang paling wajib, yaitu mengenal Alloh, Nama-Nama dan
Sifat-Sifat-Nya.
Selain itu,
sungguh telah datang dari mereka perkataan yang benar dalam bab ini dengan
jumlah yang banyak, yang diketahui oleh siapa pun yang mencarinya dan
menelitinya.
Adapun
mustahilnya mengatakan kebathilan, hal itu dari dua sisi:
Pertama: Perkataan yang bathil tidak
mungkin didukung oleh dalil yang shohih. Dan sudah diketahui bahwa para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum adalah orang yang paling menjauhi perkataan
yang tidak didukung oleh dalil yang shohih, khususnya dalam urusan iman kepada
Alloh dan perkara-perkara ghoib.
Maka mereka
adalah orang yang paling patut melaksanakan firman Alloh:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui ilmunya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Dan
firman-Nya:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَالْأِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ
مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah:
‘Sungguh Robb-ku hanya mengharomkan perbuatan fawahisy (keji) yang
nampak maupun yang tersembunyi, dan dosa, serta al-baghyu (kezholiman)
tanpa hak, dan Dia mengharomkan kalian menyekutukan Alloh dengan sesuatu yang
Dia tidak menurunkan hujjah untuknya, serta mengatakan terhadap Alloh apa yang
tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A’rof: 33)
Kedua: Perkataan yang bathil sumbernya
adalah salah satu dari dua hal: kebodohan terhadap kebenaran, atau keinginan
untuk menyesatkan makhluk, dan kedua-duanya mustahil pada para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum.
Adapun
mustahilnya kebodohan, telah dijelaskan sebelumnya.
Adapun
mustahilnya keinginan untuk menyesatkan makhluk: Karena keinginan untuk
menyesatkan makhluk adalah niat buruk, yang mustahil muncul dari para Shohabat
yang dikenal dengan kesempurnaan nasihat kepada ummat dan kecintaan mereka pada
kebaikan bagi ummat.
Selain itu,
jika seandainya niat buruk dibolehkan atas mereka dalam perkataan yang mereka
katakan dalam bab ini, maka niat buruk juga akan dibolehkan atas mereka dalam
perkataan yang mereka katakan dalam seluruh bab ilmu dan agama lainnya.
Maka, kepercayaan
terhadap perkataan dan berita mereka dalam bab ini dan bab lainnya akan hilang.
Ini adalah perkataan yang paling bathil, karena konsekuensinya adalah celaan
terhadap seluruh syari’at.
Jika telah
jelas bahwa para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum pasti telah mengatakan
yang benar dalam bab ini, maka mereka mengatakannya entah berdasarkan akal
mereka, atau dari jalur wahyu.
Yang
pertama mustahil; karena akal tidak dapat memahami rincian sifat-sifat
kesempurnaan yang wajib bagi Alloh. Maka, yang kedua menjadi pasti, yaitu bahwa
mereka menerima ilmu-ilmu ini dari jalur risalah Nabi ﷺ.
Oleh karena
itu, wajib disimpulkan bahwa Nabi ﷺ telah menjelaskan kebenaran tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Alloh, dan inilah yang diinginkan.