Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metode Ahlus Sunnah dalam Nama dan Sifat Alloh - Ibnu Taimiyyah

 

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang bersepakat untuk mengambil Sunnah Nabi dan mengamalkannya secara lahir maupun bathin, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.

Metode mereka dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh adalah sebagai berikut:

[1] Penetapan (Itsbat):

Mereka menetapkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk diri-Nya dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rosul Alloh , tanpa tahrif (penyelewengan), tanpa ta’thil (penolakan), tanpa takyif (mempertanyakan bagaimana-Nya), dan tanpa tamtil (penyerupaan).

[2] Penafian (Nafyu):

Metode mereka adalah menafikan apa yang telah dinafikan Alloh dari diri-Nya dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rosul-Nya , disertai keyakinan akan tetapnya kesempurnaan kebalikan dari sifat yang dinafikan tersebut bagi Alloh.

[3] Perkara yang Tidak Disebutkan Penafian Maupun Penetapannya:

Adapun perkara yang tidak ada penafian maupun penetapannya, yang diperselisihkan oleh manusia, seperti jism (badan), haiz (tempat), jihah (arah), dan yang sejenisnya, metode mereka di dalamnya adalah berhenti pada lafazh-nya.

Maka mereka tidak menetapkannya dan tidak pula menafikannya karena tidak adanya dalil yang menyebutkannya.

Adapun maknanya, mereka meminta perincian: jika yang dimaksud adalah kebathilan yang mustahil bagi Alloh, mereka menolaknya. Dan jika yang dimaksud adalah kebenaran yang tidak mustahil bagi Alloh, mereka menerimanya.

Keutamaan Metode Ahlus Sunnah

Metode ini adalah metode yang wajib diikuti. Ia adalah pendapat pertengahan antara Ahlut Ta’thil (orang-orang yang menolak sifat) dan Ahlut Tamtsil (orang-orang yang menyerupakan).

Kewajiban mengikuti metode ini ditunjukkan oleh akal (‘aql) dan dalil wahyu (sam’u).

Adapun dari sisi akal: Penjelasannya adalah bahwa perincian perkataan tentang apa yang wajib, boleh, dan mustahil bagi Alloh hanya dapat diketahui melalui wahyu. Maka, wajib mengikuti wahyu dalam hal itu dengan menetapkan apa yang Dia tetapkan, menafikan apa yang Dia nafikan, dan diam dari apa yang Dia diamkan.

Adapun dari sisi wahyu: Di antara dalil-dalilnya adalah firman Alloh:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan hanya milik Alloh Asma’ul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu, dan biarkanlah orang-orang yang menyimpang dalam Nama-Nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’rof: 180)

Dan firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dan firman-Nya:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui ilmunya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Ayat yang pertama menunjukkan wajibnya penetapan tanpa tahrif dan ta’thil; karena keduanya termasuk ilhad (penyimpangan).

Ayat yang kedua menunjukkan wajibnya menafikan tamtil (penyerupaan).

Dan ayat yang ketiga menunjukkan wajibnya menafikan takyif (mempertanyakan bagaimana-Nya), dan wajibnya berhenti pada apa yang tidak ada penetapan maupun penafiannya.

Sifat-Sifat Alloh adalah Sifat Kesempurnaan

Semua sifat yang ditetapkan bagi Alloh adalah sifat-sifat kesempurnaan, yang Dia dipuji dan disanjung karenanya, dan tidak ada kekurangan di dalamnya sama sekali.

Maka, semua sifat kesempurnaan ditetapkan bagi Alloh dengan cara yang paling sempurna.

Dan semua yang dinafikan Alloh dari diri-Nya adalah sifat-sifat kekurangan yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya yang wajib. Maka, semua sifat kekurangan mustahil bagi Alloh karena wajibnya kesempurnaan bagi-Nya.

Yang dimaksud dengan apa yang dinafikan Alloh dari diri-Nya adalah peniadaan sifat yang dinafikan tersebut dan penetapan kesempurnaan kebalikannya.

Hal ini karena penafian semata tidak menunjukkan kesempurnaan hingga ia mengandung sifat tsubutiyyah (penetapan) yang karenanya Dia dipuji.

Penafian semata kadang disebabkan oleh ketidakmampuan (‘ajz), sehingga menjadi kekurangan, sebagaimana dalam perkataan penyair:

Qubailah (kabilah kecil) yang tidak pernah mengkhianati janji,

Dan tidak pernah menzholimi manusia seberat biji sawi.

Kadang pula disebabkan oleh tidak adanya potensi, sehingga tidak mengandung pujian, seperti jika kamu berkata: Dinding itu tidak zholim.

Jika hal ini telah jelas, maka kita katakan: Di antara yang dinafikan Alloh dari diri-Nya adalah kezholiman. Maka, yang dimaksud adalah peniadaan kezholiman dari Alloh, disertai penetapan kesempurnaan kebalikannya, yaitu keadilan.

Dia menafikan dari diri-Nya kelelahan (al-lughub) yaitu keletihan dan kepayahan. Maka, yang dimaksud adalah peniadaan kelelahan, disertai penetapan kesempurnaan kebalikannya, yaitu kekuatan. Demikian pula sifat-sifat lain yang dinafikan Alloh dari diri-Nya. Wallahu a’lam.

Pengertian Tahrif

Tahrif secara bahasa adalah: perubahan.

Secara istilah adalah: mengubah nash (teks), baik secara lafazh maupun makna.

Perubahan lafazh kadang mengubah makna, dan kadang tidak. Ini terbagi menjadi tiga macam:

1. Tahrif lafzhiyyah (perubahan lafazh) yang mengubah makna:

Seperti perubahan sebagian mereka terhadap firman Alloh:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً

“Dan Alloh telah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan yang sebenarnya.” (QS. An-Nisa’: 164)

Menjadi men-nashob-kan (memfathah) lafazh jalalah (lafazh Alloh) agar pembicaraan itu datang dari Musa.

2. Tahrif lafzhiyyah (perubahan lafazh) yang tidak mengubah makna:

Seperti mem-fathah-kan (membaris-ataskan) huruf dal dari firman Alloh:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Hal ini umumnya tidak terjadi kecuali pada orang yang tidak tahu, karena biasanya tidak ada maksud tertentu bagi pelakunya.

3. Tahrif ma’nawiyyah (perubahan makna): yaitu memalingkan lafazh dari makna zhohirnya tanpa dalil.

Seperti penyelewengan makna yadain (dua tangan) yang disandarkan kepada Alloh menjadi kekuatan atau nikmat, dan yang sejenisnya.

Pengertian Ta’thil

Ta’thil secara bahasa adalah: mengosongkan dan mengabaikan.

Secara istilah di sini adalah: mengingkari Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang wajib bagi Alloh, atau mengingkari sebagiannya. Ia terbagi menjadi dua jenis:

1. Ta’thil kulli (penolakan total):

Seperti ta’thil-nya kaum Jahmiyyah yang menolak sifat-sifat Alloh, dan orang-orang ekstrim di antara mereka bahkan menolak Nama-Nama Alloh juga.

2. Ta’thil juz’i (penolakan parsial):

Seperti ta’thil-nya kaum Asya’iroh yang menolak sebagian sifat saja.

Orang pertama yang dikenal melakukan ta’thil di kalangan ummat ini adalah Ja’d bin Dirham (124 H).

Pengertian Takyif

Takyif adalah: menggambarkan (mengkhayal) bagaimana (kaifiyyah) sifat tersebut.

Seperti perkataan seseorang: Bagaimana kaifiyyah tangan Alloh, atau turun-Nya ke langit dunia itu begini dan begitu.

Pengertian Tamtsil dan Tasybih

Tamtsil adalah: menetapkan adanya mitsil (serupa sepenuhnya) bagi sesuatu.

Tasybih adalah: menetapkan adanya musyabih (serupa sebagian) bagi sesuatu.

Maka tamtsil menuntut mumatsalah (kesamaan sepenuhnya), yaitu kesetaraan dari segala sisi.

Sedangkan tasybih menuntut musyabahah (kemiripan), yaitu kesamaan pada sebagian besar sifat. Kadang salah satunya digunakan untuk menyebut yang lain.

Perbedaan antara keduanya dengan takyif dari dua sisi:

Pertama: Takyif adalah menggambarkan kaifiyyah sesuatu, baik secara mutlak maupun dikaitkan dengan sesuatu yang serupa. Adapun tamtsil dan tasybih menunjukkan kaifiyyah yang dikaitkan dengan yang serupa (mumatsil dan musyabih).

Dari sisi ini, takyif lebih umum; karena setiap mumatsil (orang yang menyerupakan sepenuhnya) adalah mukayyif (orang yang mempertanyakan bagaimana-Nya), tetapi tidak sebaliknya.

Kedua: Takyif hanya berkaitan dengan sifat-sifat. Sedangkan tamtsil bisa terjadi pada kadar, sifat, dan dzat.

Dari sisi ini, tamtsil lebih umum; karena ia berkaitan dengan dzat, sifat, dan kadar.

Adapun tasybih yang menyebabkan sebagian orang tersesat, terbagi menjadi dua jenis:

1. Menyerupakan makhluk dengan Kholiq (Pencipta).

2. Menyerupakan Kholiq (Pencipta) dengan makhluk.

Adapun menyerupakan makhluk dengan Kholiq, maknanya adalah: menetapkan bagi makhluk sesuatu yang merupakan kekhususan Kholiq, baik berupa perbuatan, hak, maupun sifat.

Yang pertama: Seperti perbuatan orang yang menyekutukan Alloh dalam rububiyyah (kekuasaan menciptakan dan mengatur) dengan mengklaim ada pencipta lain bersama Alloh.

Yang kedua: Seperti perbuatan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala mereka, di mana mereka mengklaim bahwa berhala itu memiliki hak dalam uluhiyyah (diibadahi), lalu mereka menyembahnya bersama Alloh.

Yang ketiga: Seperti perbuatan orang-orang yang berlebihan dalam memuji Nabi atau selainnya, contohnya perkataan al-Mutanabbi ketika memuji Abdullah bin Yahya al-Buhturi:

Jadilah sesuai kehendakmu wahai yang tiada serupa dengannya,

Dan berbuatlah sesukamu, sungguh tidak ada makhluk yang bisa menandingimu.

Adapun menyerupakan Kholiq dengan makhluk, maknanya adalah: menetapkan bagi Alloh, baik pada dzat-Nya atau sifat-sifat-Nya, karakteristik yang sama dengan yang ditetapkan bagi makhluk.

Seperti perkataan seseorang: “Sungguh kedua tangan Alloh seperti tangan makhluk,” dan “Istiwa (bersemayam)-Nya di atas ‘Arsy seperti istiwa.” (bersemayam)-nya makhluk,” dan yang sejenisnya.

Dikatakan bahwa orang pertama yang dikenal dengan jenis tasybih ini adalah Hisyam bin al-Hakam dari kelompok Rofidhoh (Syi’ah). Wallahu a’lam.

Pengertian Ilhad

Ilhad secara bahasa adalah: condong atau menyimpang.

Secara istilah adalah: menyimpang dari apa yang wajib diyakini atau diamalkan.

Ia terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Ilhad dalam Nama-Nama Alloh.

Kedua: Ilhad dalam Ayat-Ayat-Nya.

Adapun ilhad dalam Nama-Nama Alloh, yaitu menyimpang dari kebenaran yang wajib di dalamnya, terdiri dari empat jenis:

1. Mengingkari salah satu dari Nama-Nama tersebut, atau sifat yang ditunjukkannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Mu’atthilah (penolak sifat).

2. Menjadikannya menunjukkan penyerupaan Alloh dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Musyabbihah (penyerupa).

3. Menamai Alloh dengan nama yang Dia tidak menamai diri-Nya sendiri; karena Nama-Nama Alloh bersifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil saja).

Seperti penamaan orang Nashroni kepada-Nya Bapa (Ab).

Dan penamaan para filosof kepada-Nya Penyebab yang Aktif (‘illat faa’ilah), dan yang sejenisnya.

4. Mengambil dari Nama-Nama-Nya Nama-Nama untuk berhala; seperti mengambil al-Laat dari al-Ilaah, dan mengambil al-Uzza dari al-‘Aziz.

Adapun ilhad dalam Ayat-Ayat-Nya, terjadi pada ayat-ayat syar’iyyah (hukum), yaitu hukum dan berita yang dibawa oleh para Rosul, dan pada ayat-ayat kauniyyah (alam semesta), yaitu apa yang diciptakan dan akan diciptakan Alloh di langit dan bumi.

Adapun ilhad dalam ayat-ayat syar’iyyah adalah: menyelewengkan (tahrif)-Nya, atau mendustakan berita-berita-Nya, atau mendurhakai hukum-hukum-Nya.

Adapun ilhad dalam ayat-ayat kauniyyah adalah: menisbatkannya kepada selain Alloh, atau meyakini adanya sekutu atau pembantu bagi-Nya di dalamnya.

Ilhad dengan kedua jenis tersebut adalah harom, berdasarkan firman Alloh yang mengancam para mulhid (penyimpang):

وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan biarkanlah orang-orang yang menyimpang dalam Nama-Nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’rof: 180)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمَّنْ يَأْتِي آمِناً يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sungguh orang-orang yang menyimpang dari ayat-ayat Kami tidak tersembunyi dari Kami. Apakah orang yang dilemparkan ke Naar lebih baik, ataukah orang yang datang dalam keadaan aman pada hari Kiamat? Berbuatlah semau kalian, sungguh Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fushshilat: 40)

Dan sebagian dari ilhad bisa menjadi kekafiran, sesuai dengan tuntutan nash-nash dari Al-Kitab dan Sunnah.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url