Cari Artikel

Mempersiapkan...

Madaniyyah: Karakteristik Gaya Bahasa

 

Panjangnya mayoritas suroh-suroh Madaniyyah dan ayat-ayatnya. Hal itu karena memperhatikan tema pembicaraan dan kebutuhan orang yang diajak bicara (mukhothob) terhadap rincian-rincian, seperti ayat utang piutang (Ayatud Dain) dalam suroh Al-Baqoroh yang menghabiskan 1 halaman penuh, yaitu firman-Nya Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya...” Al-Ayah. (QS. Al-Baqoroh: 282)

Atau ayat penyusuan (Ar-Rodho’):

﴿وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ﴾

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh...” Al-Ayah. (QS. Al-Baqoroh: 233)

Atau ayat-ayat warisan, atau ayat-ayat puasa dan haji, dan jihad... dan selainnya.

Karena tema-tema pembicaraan tersebut membutuhkan penjelasan panjang lebar tersebut, dan Balaghoh adalah memperhatikan situasi (maqom) baik secara ringkas (iijaz) atau secara rinci dan panjang lebar (ithnab).[1]

Dan di antara keistimewaan gaya bahasa adalah kekhususan Madani dengan panggilan keimanan {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} “Wahai orang-orang yang beriman”.

Panggilan dengan {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ} “Wahai Ahli Kitab” dan {يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ} “Wahai Bani Isrooil”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —rohimahulloh— berkata: “Oleh karena itu khithob (pembicaraan) dalam suroh-suroh Makkiyyah adalah {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} “Wahai manusia” karena umumnya dakwah adalah kepada pokok-pokok (akidah), karena tidaklah diajak kepada cabang orang yang tidak mengakui pokok. Maka tatkala Nabi berhijroh ke Madinah dan Ahli Iman menjadi kuat dengannya, dan di sana terdapat Ahli Kitab, maka diserulah mereka ini dan mereka itu. Maka bagi mereka (Mu’minin): {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} “Wahai orang-orang yang beriman”, dan bagi mereka (Ahli Kitab): {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ} “Wahai Ahli Kitab” atau {يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ} “Wahai Bani Isrooil”.

Dan tidaklah turun di Makkah sedikitpun dari ini. Akan tetapi dalam suroh-suroh Madaniyyah terdapat khithob {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} “Wahai manusia” sebagaimana dalam suroh An-Nisa’ dan suroh Al-Hajj dan keduanya adalah Madaniyyah, demikian pula dalam Al-Baqoroh. (Daqoiqut Tafsir karya Ibnu Taimiyah 3/286)

Maka dakwah dengan nama khusus tidaklah meniadakan dakwah dengan nama umum. Maka orang-orang Mu’min masuk dalam khithob dengan {يَا أَيُّهَا النَّاسُ}, dan dalam khithob dengan {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا}.


 



[1] Dan sama sekali tidak benar apa yang dinukil oleh Abdul Fattah Al-Qodhi dalam kitabnya Al-Mushaf Asy-Syarif hal 126 dari sebagian mereka dalam memberikan alasan panjangnya kebanyakan suroh Madani dan ayat-ayatnya bahwasanya hal itu: “Karena penduduk Madinah tidak menandingi penduduk Makkah dalam kecerdasan dan kepintaran serta panjangnya jangkauan dalam bidang kefasihan dan penjelasan, maka cocok bagi mereka penjelasan dan perincian, dan hal itu menuntut banyak pembentangan dan uraian panjang.” Karena ini menyelisihi kebenaran dan kenyataan, sedangkan kaum Muhajirin adalah orang-orang Makkah. Sebagaimana tidak benar pula klaim bahwa hal itu adalah pengaruh lingkungan Madinah terhadap Rosul , karena itu adalah klaim orang yang tidak beriman bahwa Al-Qur’an itu dari sisi Alloh, dan ini adalah kekufuran dan ucapan yang tidak pantas dibantah. Lihat: Al-Madkhal li Dirosatil Qur’an Al-Karim, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah hal 232. Dan ‘Ulumul Qur’an Dr. Adnan Zarzur hal 144.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url