Cari Artikel

Mempersiapkan...

Ma’iyyah (Kebersamaan) Alloh dengan Makhluk-Nya Menurut Ibnu Taimiyyah

 

Alloh menetapkan untuk diri-Nya dalam Kitab-Nya, dan melalui lisan Rosul-Nya , bahwa Dia bersama makhluk-Nya.

Di antara dalil Al-Kitab adalah firman Alloh:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadiid: 4)

Dan firman Alloh:

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh Alloh bersama orang-orang Mu’min.” (QS. Al-Anfal: 19)

Dan firman Alloh:

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

“Sungguh Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thoha: 46)

Di antara dalil Sunnah adalah sabda Nabi : “Iman yang paling utama adalah kamu mengetahui bahwa Alloh bersamamu di mana pun kamu berada.” (HR. Ath-Thobaroni dalam Al-Kabir)

Dan sabda Nabi kepada Shohabatnya Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu, ketika mereka berdua di gua:

لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jangan bersedih, sungguh Alloh bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Semua Salaf dan imam ummat telah bersepakat tentang hal ini.

Ma’iyyah dalam bahasa adalah: perbandingan mutlak dan penyertaan.

Namun, tuntutan dan konsekuensinya berbeda-beda sesuai dengan penyandaran, indikasi konteks, dan kondisi:

Kadang menuntut percampuran (ikhtilath); seperti dikatakan: “Aku mencampur air dengan susu.”

Kadang menuntut ancaman dan peringatan; seperti dikatakan oleh seorang guru kepada pelaku kejahatan: “Pergilah, aku bersamamu.”

Kadang menuntut pertolongan dan penguatan; seperti orang yang berkata kepada orang yang meminta pertolongannya: “Aku bersamamu, aku bersamamu.” Dan konsekuensi-konsekuensi lain yang berbeda-beda sesuai dengan penyandaran, indikasi, dan kondisi.

Lafazh seperti ini yang maknanya sama pada dasarnya tetapi berbeda tuntutan dan hukumnya sesuai dengan perbedaan penyandaran dan indikasi, disebut oleh sebagian orang sebagai musyakkak (membingungkan).

Hal ini karena membuat bingung pendengar, apakah ia termasuk musytarok (satu lafazh banyak makna) yang lafazhnya sama tetapi maknanya berbeda, dilihat dari perbedaan tuntutan dan hukumnya?

Atau termasuk mutawathi (satu lafazh satu makna) yang lafazh dan maknanya sama, dilihat dari makna dasarnya?

Penyelesaiannya adalah bahwa ia termasuk jenis mutawathi’, karena pembuat bahasa meletakkan lafazh ini untuk makna yang umum. Dan perbedaan hukum dan tuntutannya hanyalah berdasarkan perbedaan penyandaran dan indikasi, bukan karena penetapan makna awal.

Tetapi karena ia termasuk jenis khusus dari mutawathi’, maka tidak mengapa jika ia dikhususkan dengan sebutan musyakkak.

Jika hal itu telah jelas, maka teranglah bahwa lafazh ma’iyyah yang disandarkan kepada Alloh digunakan untuk hakikatnya bukan majaznya.

Hanya saja ma’iyyah Alloh bersama makhluk-Nya adalah ma’iyyah yang layak bagi-Nya, maka ia tidak seperti ma’iyyah makhluk dengan makhluk, bahkan ia lebih tinggi dan lebih sempurna, dan tidak melekat padanya konsekuensi dan kekhususan yang melekat pada ma’iyyah makhluk dengan makhluk.

Sebagian Salaf menafsirkan ma’iyyah Alloh bersama makhluk-Nya dengan ilmu-Nya terhadap mereka.

Ini adalah penafsiran ma’iyyah dengan sebagian konsekuensinya, dan tujuan mereka dengannya adalah membantah Hululiyyah dari Jahmiyyah, yang mengatakan: “Sungguh Alloh dengan Dzat-Nya berada di setiap tempat,” dan mereka berdalil dengan nash-nash ma’iyyah.

Maka Salaf menjelaskan bahwa ma’iyyah itu tidak dimaksudkan bahwa Alloh bersama kita dengan Dzat-Nya; karena ini mustahil secara akal dan syari’at.

Sebab hal itu bertentangan dengan ‘Uluw (ketinggian)-Nya yang wajib, dan menuntut bahwa makhluk-Nya melingkupi-Nya, dan itu mustahil.

Pembagian Ma’iyyah Alloh Bersama Makhluk-Nya

Ma’iyyah Alloh bersama makhluk-Nya terbagi menjadi dua jenis: ‘Aammah (umum) dan Khooshshoh (khusus):

1. Ma’iyyahAammah (kebersamaan umum): Yaitu yang menuntut meliputi seluruh makhluk –dari Mu’min, kafir, sholih, dan faajir– dalam hal ilmu, qudrot, tadbir (pengaturan), kekuasaan, dan makna-makna rububiyyah (kekuasaan menciptakan dan mengatur) lainnya.

Ma’iyyah ini mewajibkan bagi siapa yang mengimaninya kesempurnaan muroqobah (pengawasan) terhadap Alloh ‘azza wa jalla.

Oleh karena itu Nabi bersabda: “Iman yang paling utama adalah kamu mengetahui bahwa Alloh bersamamu di mana pun kamu berada.” (HR. Ath-Thobaroni dalam Al-Kabir)

Contoh dari jenis ini adalah firman Alloh:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadiid: 4)

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

“Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya, dan tidak pula antara lima orang melainkan Dia yang keenamnya, dan tidak pula yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.” (QS. Al-Mujadilah: 7)

2. Ma’iyyah Khooshshoh (kebersamaan khusus): Yaitu yang menuntut pertolongan dan penguatan bagi siapa yang disandarkan kepadanya.

Ia dikhususkan bagi siapa yang berhak mendapatkannya, dari kalangan para Rosul dan pengikut mereka.

Ma’iyyah ini mewajibkan bagi siapa yang mengimaninya kesempurnaan keteguhan dan kekuatan.

Di antara contohnya adalah firman Alloh:

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh Alloh bersama orang-orang Mu’min.” (QS. Al-Anfal: 19)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sungguh Alloh bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. An-Nahl: 128)

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

“Sungguh Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thoha: 46)

Dan firman-Nya tentang Nabi-Nya :

لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jangan bersedih, sungguh Alloh bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Jika ditanyakan: “Apakah ma’iyyah termasuk sifat dzatiyyah Alloh atau sifat fi’liyyah-Nya?”

Jawabannya: Ma’iyyahaammah termasuk sifat dzatiyyah, karena tuntutan-tuntutannya ditetapkan bagi Alloh dari azali hingga abadi.

Adapun ma’iyyah Khooshshoh termasuk sifat fi’liyyah, karena tuntutan-tuntutannya mengikuti sebab-sebabnya, ada ketika sebabnya ada, dan hilang ketika sebabnya hilang.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url