Cari Artikel

Mempersiapkan...

Makkiyyah: Kaidah-Kaidah dan Tanda-Tandanya

 

Pertama: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat {كَلَّا} (Sekali-kali tidak), maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim sebanyak 33 kali dalam 15 suroh, semuanya berada di separuh terakhir dari Al-Qur’an Al-Karim, mulai dari suroh Maryam sampai suroh Al-Humazah.

Kata ini tidak terdapat dalam separuh pertama Al-Qur’an Al-Karim. Ad-Dirini berkata: “Dan tidaklah ‘Kalla’ turun di Yatsrib (Madinah), maka ketahuilah itu. Dan ia tidak datang dalam Al-Qur’an di separuh bagian atasnya (awal).”

Suroh-suroh dan ayat-ayat tersebut adalah:

Suroh Maryam: Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا﴾

“Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-benar Kami akan memperpanjang azab untuknya.” (QS. Maryam: 79)

Dan firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا﴾

“Sekali-kali tidak; mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka, dan menjadi musuh bagi mereka.” (QS. Maryam: 82)

Suroh Al-Mu’minun: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Suroh Asy-Syu’aro’: Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُم مُّسْتَمِعُونَ﴾

“Alloh berfirman: ‘Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat Kami); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan).’” (QS. Asy-Syu’aroo’: 15)

Dan firman-Nya:

﴿قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾

“Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Robbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Asy-Syu’aroo’: 62)

Suroh Saba’: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿قُلْ أَرُونِي الَّذِينَ أَلْحَقْتُم بِهِ شُرَكَاءَ كَلَّا بَلْ هُوَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾

“Katakanlah: ‘Tunjukkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu. Sekali-kali tidak (ada sekutu bagi-Nya), sebenarnya Dialah Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Saba’: 27)

Suroh Al-Ma’arij: Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّهَا لَظَى﴾

“Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya Naar itu adalah api yang bergejolak.” (QS. Al-Ma’arij: 15)

Dan firman-Nya Subhanahu:

﴿كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّمَّا يَعْلَمُونَ﴾

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.” (QS. Al-Ma’arij: 39)

Suroh Al-Muddathir: Disebutkan 4 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لَآيَاتِنَا عَنِيدًا﴾

“Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an).” (QS. Al-Muddathir: 16)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا وَالْقَمَرِ﴾

“Sekali-kali tidak, demi bulan.” (QS. Al-Muddathir: 32)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا بَل لَّا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ﴾

“Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri Akhiroh.” (QS. Al-Muddathir: 53)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ﴾

“Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan.” (QS. Al-Muddathir: 54)

Suroh Al-Qiyamah: Disebutkan 3 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا لَا وَزَرَ﴾

“Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!” (QS. Al-Qiyamah: 11)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ﴾

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia.” (QS. Al-Qiyamah: 20)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ﴾

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan.” (QS. Al-Qiyamah: 26)

Suroh An-Naba’: Disebutkan 2 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾

“Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An-Naba’: 4)

Dan firman-Nya:

﴿ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾

“Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An-Naba’: 5)

Suroh ‘Abasa: Disebutkan 2 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ﴾

“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Robb itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ﴾

“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)

Suroh Al-Infithor: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Subhanahu:

﴿كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ﴾

“Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithor: 9)

Suroh Al-Muthoffifin: Disebutkan 4 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ﴾

“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.” (QS. Al-Muthoffifin: 7)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ﴾

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthoffifin: 18)

Suroh Al-Fajr: Disebutkan 2 kali:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ﴾

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS. Al-Fajr: 17)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا﴾

“Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.” (QS. Al-Fajr: 21)

Suroh Al-‘Alaq: Disebutkan 3 kali dalam:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى﴾

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” (QS. Al-’Alaq: 6)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ﴾

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya.” (QS. Al-‘Alaq: 15)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب﴾

“Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Robb).” (QS. Al-‘Alaq: 19)

Suroh At-Takatsur: Disebutkan 3 kali:

Firman-Nya Ta’ala:

﴿كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (QS. At-Takatsur: 3)

Dan firman-Nya:

﴿ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾

“Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takatsur: 4)

Dan firman-Nya:

﴿كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ﴾

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur: 5)

Suroh Al-Humazah: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Subhanahu:

﴿كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ﴾

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al-Humazah: 4)

Makki bin Abi Tholib berkata tentang lafal Kalla: “...Tidaklah ia terjadi dalam Al-Qur’an kecuali dalam suroh Makkiyyah, karena ancaman dan peringatan keras (wa’id) paling banyak turun di Makkah, sebab kesewenang-wenangan kaum musyrikin dan kesombongan mereka paling banyak terjadi di Makkah. Maka jika engkau melihat sebuah suroh yang di dalamnya terdapat ‘Kalla’, ketahuilah bahwa suroh itu Makkiyyah.” (Syarh Kalla wa Bala wa Na’am, karya Makki bin Abi Tholib hal 23)

Makna “Kalla” adalah zajr (hardikan), rod’u (pencegahan), dan inkar (pengingkaran). Para ahli Nahwu dan Ahli Qiro’at berbeda pendapat dalam hal waqof (berhenti) padanya dan memulai dengannya. (Lihat: Roshful Mabani fi Syarhi Hurufil Ma’ani, karya Al-Maliqi hal 212)

Makki memilih bahwa “Kalla” memiliki 3 makna:

Bermakna “Laa” (Tidak), dan maknanya adalah hardikan dan pengingkaran, maka dilakukan waqof (berhenti) padanya.

Bermakna “Haqqon” (Benar-benar/Sungguh), maka dimulai dengannya untuk menegaskan apa yang setelahnya.

Bermakna “Alaa” (Ingatlah), maka dimulai dengannya untuk membuka pembicaraan.

Kemudian beliau memaparkan ayat-ayat yang terdapat kata tersebut dan menafsirkannya sesuai pembagiannya bagi ayat-ayat tersebut.

Kedua: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat ungkapan ﴿وَمَا أَدْرَاكَ﴾ (Dan tahukah kamu? Apakah Alloh memberitahumu?), dan itu adalah bentuk pertanyaan yang memberikan faedah kedahsyatan dan pengagungan terhadap apa yang disebutkan setelahnya. Ungkapan ini disebutkan dalam seluruh Al-Qur’an sebanyak 13 kali dalam 10 suroh, mulai dari Al-Haqqoh sampai Al-Humazah, dan semuanya adalah suroh Makkiyyah. (Lihat: Al-Mu’jam Al-Mufahros li Alfazhil Qur’an hal 256 materi “daroka”, dan Muqoddimah fi Khoshoishil Khithob Al-Qur’ani hal 132)

Ketiga: Setiap suroh yang dibuka dengan huruf-huruf yang terpotong (al-huruf al-muqotho’ah) maka ia adalah Makkiyyah, kecuali Al-Baqoroh dan Ali Imron.[1] Suroh-suroh yang dibuka dengan huruf-huruf muqotho’ah dalam Al-Qur’an Al-Karim ada 29 suroh.

Keempat: Setiap suroh yang dibuka dengan “Alhamdulillah” maka ia adalah Makkiyyah. Suroh-suroh yang dibuka dengan Alhamdulillah dalam seluruh Al-Qur’an ada 5, semuanya Makkiyyah, yaitu:

1. Al-Fatihah.

2. Al-An’am.

3. Al-Kahfi.

4. Saba’.

5. Fathir.

Kelima: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat sujud (Sajdah Tilawah) maka ia adalah Makkiyyah.[2] As-Suyuthi berkata dalam Al-Itqon: “Dan dalam Kamil Al-Hudzali: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat sajdah maka ia adalah Makkiyyah.” (Lihat: Al-Itqon 1/69)

Al-Qurthubi berkata tentang sujud-sujud Al-Qur’an: “Yang pertama adalah di akhir Al-A’rof, dan yang terakhir adalah di akhir Al-‘Alaq.” (Tafsir Al-Qurthubi 7/357)

Jumlah maksimal yang dikatakan mengenainya adalah 16 sujud, dan yang paling sedikit adalah 4, sedangkan yang masyhur adalah 15 sujud. Al-Qurthubi berkata tentang sebab perbedaan ini: “Sebab perselisihan adalah perbedaan penukilan dalam hadits-hadits dan pengamalan, serta perselisihan mereka mengenai perintah sujud yang mutlak dalam Al-Qur’an, apakah yang dimaksud dengannya sujud tilawah ataukah sujud fardhu dalam Sholat.” (Sumber yang sama)

Keenam: Setiap suroh yang di dalamnya hanya terdapat {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} “Wahai manusia” dan tidak terdapat {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} “Wahai orang-orang yang beriman”, maka ia adalah Makkiyyah, seperti suroh Yunus (ayat: 23, 57, 104, 108) dan suroh Fathir (ayat: 3, 5, 15). Adapun jika berkumpul dalam 1 suroh {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} dan {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا}, atau hanya ada {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} saja, maka ia adalah Madaniyyah.

Ketujuh: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya lafal {يَا بَنِي آدَمَ} “Wahai anak Adam” dengan bentuk panggilan (nida’), maka ia adalah Makkiyyah. Lafal ini disebutkan dalam Al-Qur’an 5 kali, 4 di antaranya dalam suroh Al-A’roof (ayat: 26, 27, 31, 35), dan 1 kali saja dalam suroh Yasin (ayat 60).

Kedelapan: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu maka ia adalah Makkiyyah, kecuali suroh Al-Baqoroh.

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Ad-Dalail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata: “Segala sesuatu yang turun dari Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penyebutan umat-umat dan generasi-generasi (terdahulu) maka sesungguhnya ia turun di Makkah, dan apa yang berupa kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah (hukum) maka sesungguhnya ia turun di Madinah.” (Lihat: Al-Itqon karya As-Suyuthi 1/69)

Al-Ja’bari berkata: “...Dan setiap suroh yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu adalah Makkiyyah...” (Sumber yang sama)

Kesembilan: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat kisah Adam dan Iblis maka ia adalah Makkiyyah, kecuali suroh Al-Baqoroh.

Kesepuluh: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya kata “washf” (sifat/deskripsi) dengan berbagai bentuknya, di mana kata ini disebutkan dalam seluruh Al-Qur’an sebanyak 14 kali[3] semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah.

Seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ﴾

“Dan lidah mereka mengucapkan kedustaan.” (QS. An-Nahl: 62)

Dan firman-Nya:

﴿سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾

“Kelak Alloh akan membalas mereka terhadap penyifatan mereka (tentang Alloh). Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 139)

Kesebelas: Setiap suroh yang di dalamnya terdapat kata “Al-Khors” (sangkaan/dusta) dengan berbagai bentuknya. Kata ini disebutkan dalam seluruh Al-Qur’an sebanyak 5 kali, semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah: Al-An’am, Yunus, Az-Zukhruf, dan Adz-Dzariyat. (Lihat Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 1/161)

Seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ﴾

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.” (QS. Adz-Dzariyat: 10)

Dan firman-Nya:

﴿إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh).” (QS. Al-An’am: 116)

Ke-12: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya penyebutan “Al-Junun” (gila) maka ia adalah Makkiyyah. Lafal “Majnun” telah disebutkan dalam Al-Qur’an 11 kali, dan datang lafal “Jinnah” yang bermakna gila -bukan bermakna Jin- sebanyak 5 kali. (Lihat: Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 238)

Dan semua itu ada dalam suroh-suroh Makkiyyah. Seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿فَذَكِّرْ فَمَا أَنتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ﴾

“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Robbmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.” (QS. Ath-Thur: 29)

Dan firman-Nya:

﴿أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءَهُم بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ﴾

“Atau (apakah) mereka mengatakan: ‘Padanya (Muhammad) ada penyakit gila’. Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.” (QS. Al-Mu’minun: 70)

Ke-13: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya kata “Zukhruf” (hiasan) dengan berbagai bentuknya. Kata ini disebutkan 4 kali dalam 4 suroh, dan salah satunya dinamakan dengannya. Semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-An’am, Yunus, Al-Isroo’, dan Az-Zukhruf. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 1/240, dan lihat suroh Al-An’am: 112, Yunus: 42, dan Az-Zukhruf: 33-35)

Seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِّن زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَن نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَّقْرَؤُهُ﴾

“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas (perhiasan), atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.” (QS. Al-Isroo’: 93)

Keempat belas: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya “Az-Zajr” (hardikan/tiupan) maka ia adalah Makkiyyah. Lafal ini disebutkan 6 kali dalam 3 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Ash-Shoffat, Al-Qomar, dan An-Nazian. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 1/339 dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 330 “Zajara”)

Seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ﴾

“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan 1 kali tiupan saja.” (QS. An-Nazian: 13)

Dan firman-Nya:

﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾

“Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat).” (QS. Ash-Shoffat: 2). (Lihat Ash-Shoffat: 19, dan Suroh Al-Qomar: 9, 4)

Kelima belas: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya “At-Tadhorru’“ (ketundukan/memohon dengan merendahkan diri) maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan dalam 4 bentuk pada 7 tempat dalam 3 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-An’am, Al-A’roof, dan Al-Mu’minun. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/25. Dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 420 “Dhoro’a”)

Seperti firman-Nya Subhanahu:

﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾

“Berdoalah kepada Robbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’roof: 55). (Lihat suroh: Al-A’roof: 94, 205; Al-An’am: 43, 63; dan Al-Mu’minun: 76)

Keenam belas: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya lafal “Ash-Shur” (sangkakala) maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan dengan 1 bentuk pada 10 tempat dalam 10 suroh dari Al-Qur’an Al-Karim yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-An’am, Al-Kahfi, Thaha, Al-Mu’minun, An-Naml, Yasin, Az-Zumar, Qof, Al-Haqqoh, An-Naba’. (Lihat: Al-Mu’jam Al-Mufahros 416 “Shur”. Dan Muqoddimah an Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 246)

Seperti dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا﴾

“Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An-Naba’: 18)

Dan firman-Nya:

﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ﴾

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Alloh. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Ketujuh belas: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya lafal “Ash-Shoihah” (suara keras/pekikan) dengan ma’rifah (ada Alif-Lam), atau “Shoihah” dengan nakiroh (tanpa Alif-Lam), maka ia adalah Makkiyyah, kecuali firman-Nya Ta’ala:

﴿يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ﴾

“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Maka ini adalah Madaniyyah, dan ia bermakna suara, yang mana ini adalah makna yang berbeda dengan makna yang terdapat pada tempat-tempat lainnya.

Di mana kata ini disebutkan pada 12 tempat dalam 8 suroh yang semuanya Makkiyyah[4] dengan 2 makna:

Pertama: Pekikan tiupan pada Sangkakala.

Kedua: Azab Ilahi.

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ﴾

“(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya; itulah hari keluar (dari kubur).” (QS. Qaf: 42)

Dan firman-Nya:

﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ﴾

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka 1 suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.” (QS. Al-Qomar: 31)

Ke-18: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya “Al-Wizr” (dosa/beban) dan “Al-Auzaar” dengan makna dosa dan beban-beban, maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan 22 kali dengan makna ini, semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah. (Lihat: Al-Mu’jam Al-Mufahros 750 “Wazara”, dan Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 248)

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Dan firman-Nya:

﴿لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ﴾

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25)

Kesembilan belas: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya nama “Syu’aib” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan 11 kali dalam 4 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-A’roof, Hud, Asy-Syu’aroo’, dan Al-Ankabut. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 1/299. Dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 383 “Syu’aib”)

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا﴾

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib.” (QS. Al-Ankabut: 36. Lihat pula: Al-A’roof: 85, 88, 90, 92; Hud: 84, 87, 91, 94; dan Asy-Syu’aroo’: 177)

Kedua puluh: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya nama “Sholih” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 9 kali dalam 4 suroh, yaitu: Al-A’roof, Hud, Asy-Syu’aroo’, dan An-Naml, dan semuanya adalah suroh Makkiyyah. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/14. Dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 410 “Sholaha”)

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Ketika saudara mereka Sholih berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS. Asy-Syu’aroo’: 142)

Dan firman-Nya Ta’ala:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Sholih (yang berseru): ‘Sembahlah Alloh’. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) 2 golongan yang bermusuhan.” (QS. An-Naml: 45. Lihat: Suroh Al-A’roof: 73, 75, 77; dan Suroh Hud: 61, 62, 66, 89)

Ke-21: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya nama “Hud” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 7 kali dalam 3 suroh yaitu: Al-A’roof, Hud, Asy-Syu’aroo’. Dan semuanya Makkiyyah. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/261 dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 739 “Hud”)

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada Robb bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’“ (QS. Al-A’roof: 65)

Dan firman-Nya:

﴿إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS. Asy-Syu’aroo’: 124. Lihat Suroh Hud: 50, 53, 58, 60, 89)

Ke-22: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya nama “Yusuf” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 27 kali. Dalam 3 suroh, yaitu: Al-An’am, Yusuf, dan Ghofir, dan semuanya Makkiyyah. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/297)

Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

﴿إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ﴾

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat 11 bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’” (QS. Yusuf: 4. Lihat: Al-An’am: 48, dan Ghofir: 34)

Ke-23: Setiap suroh yang disebutkan di dalamnya nama “Fir’aun” secara sendirian tanpa disandarkan kepadanya keluarganya, maka ia adalah Makkiyyah kecuali suroh At-Tahrim. Lafal Fir’aun telah disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 74 kali dalam 27 suroh. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/109 dan Al-Mu’jam Al-Mufahros “Far’a”)

Enam kali di antaranya dalam 3 suroh Madaniyyah yang semuanya disandarkan kepadanya keluarganya - Aalu Fir’aun - 2 kali dalam Al-Baqoroh, 1 kali dalam Ali Imron, dan 3 kali dalam Al-Anfal. Adapun suroh At-Tahrim, disebutkan di dalamnya 2 kali: sekali dengan namanya, dan sekali disandarkan kepadanya istrinya dalam firman-Nya Subhanahu:

﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾

“Dan Alloh membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Robbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zholim.’” (QS. At-Tahrim: 11)

Demikianlah dapat ditambahkan lebih banyak lafal dan nama yang berulang penyebutannya dalam Al-Qur’an Al-Karim ke dalam kaidah-kaidah dan tanda-tanda yang konsisten bagi suroh-suroh Makkiyyah, seperti: Al-Yasa’, Ya’juj, Haman, dan selainnya. Karena tidak ada alasan untuk membatasi hanya pada kata “Kalla” yang disebutkan dalam sumber-sumber lama dan terus disebutkan tanpa ada penambahan padanya.

Hal semisal itu juga bisa ditambahkan untuk tanda-tanda dan kaidah-kaidah suroh Madaniyyah.

Di antara penyempurna faedah adalah menelusuri rahasia keterkaitan antara nama-nama dan lafal-lafal tersebut dengan suroh-suroh Makkiyyah, dan konsistensinya di dalamnya, serta pembatasannya hanya padanya. Dan hubungan hal itu dengan kondisi dakwah, peristiwa siroh di periode Makkah, serta pengaruh hal itu terhadap penafsiran ayat-ayat, dan memahami makna serta petunjuk-petunjuknya.


 



[1] Sebagian peneliti menyebutkan pengecualian suroh Ar-Ro’d di sini, namun karena yang rojih (kuat) adalah kemakkiyahannya, maka tidak perlu dikecualikan. Ia adalah Makkiyah dari sisi pembukaan, tema, dan konteks, serta Al-Fairuzabadi tidak menyebutkan adanya perselisihan tentang kemakkiyahannya. Lihat: Bashair Dzawit Tamyiz 1/262, dan Khoshoish As-Suwar wal Ayat Al-Madaniyah hal 68.

[2] Sebagian peneliti mengecualikan di sini suroh Ar-Ro’d dan Al-Hajj, namun yang rajih adalah kemakkiyahannya. Dengan demikian kaidah ini konsisten.

[3] Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/277 dan Mu’jam Alfazhil Qur’an karya Majma’ Al-Lughah Al-’Arabiyyah 2/655. Lihat pula: Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani bainal ‘Ahdaini Al-Makki wal Madani Dr. As-Sayyid Abdul Maqsud Ja’far, beliau telah membuat pembahasan yang istimewa untuk lafal-lafal ini hal 235-253.

[4] Lafal “Shoihah” yang terdapat dalam firman-Nya Ta’ala {Yahsabuuna kulla shoihata ‘alaihim} dari suroh Al-Munafiqun adalah Madaniyah dan maknanya adalah suara apa pun, jadi ia berbeda secara makna, dan tidak masuk dalam hitungan. Lihat: Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 247, Al-Mu’jam Al-Mufahros 417 “Shooha”.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url