Makkiyyah: Kaidah-Kaidah dan Tanda-Tandanya
Pertama: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat {كَلَّا} (Sekali-kali
tidak), maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an
Al-Karim sebanyak 33 kali dalam 15 suroh, semuanya berada di separuh terakhir
dari Al-Qur’an Al-Karim, mulai dari suroh Maryam sampai suroh Al-Humazah.
Kata ini
tidak terdapat dalam separuh pertama Al-Qur’an Al-Karim. Ad-Dirini berkata: “Dan
tidaklah ‘Kalla’ turun di Yatsrib (Madinah), maka ketahuilah itu. Dan ia tidak
datang dalam Al-Qur’an di separuh bagian atasnya (awal).”
Suroh-suroh
dan ayat-ayat tersebut adalah:
Suroh
Maryam: Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا﴾
“Sekali-kali
tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-benar Kami akan
memperpanjang azab untuknya.” (QS. Maryam: 79)
Dan
firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا﴾
“Sekali-kali
tidak; mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka, dan menjadi
musuh bagi mereka.” (QS. Maryam: 82)
Suroh Al-Mu’minun:
Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)
Suroh
Asy-Syu’aro’: Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿قَالَ
كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُم مُّسْتَمِعُونَ﴾
“Alloh
berfirman: ‘Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah
kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat Kami);
sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan).’” (QS.
Asy-Syu’aroo’: 15)
Dan
firman-Nya:
﴿قَالَ
كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾
“Musa
menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Robbku besertaku,
kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Asy-Syu’aroo’: 62)
Suroh Saba’:
Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿قُلْ
أَرُونِي الَّذِينَ أَلْحَقْتُم بِهِ شُرَكَاءَ كَلَّا بَلْ هُوَ اللَّهُ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ﴾
“Katakanlah:
‘Tunjukkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai
sekutu-sekutu. Sekali-kali tidak (ada sekutu bagi-Nya), sebenarnya Dialah Alloh
Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Saba’: 27)
Suroh Al-Ma’arij:
Disebutkan 2 kali dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّهَا لَظَى﴾
“Sekali-kali
tidak dapat, sesungguhnya Naar itu adalah api yang bergejolak.” (QS. Al-Ma’arij:
15)
Dan
firman-Nya Subhanahu:
﴿كَلَّا
إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّمَّا يَعْلَمُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak! Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.”
(QS. Al-Ma’arij: 39)
Suroh
Al-Muddathir: Disebutkan 4 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّهُ كَانَ لَآيَاتِنَا عَنِيدًا﴾
“Sekali-kali
tidak (akan Aku tambah), sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an).”
(QS. Al-Muddathir: 16)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
وَالْقَمَرِ﴾
“Sekali-kali
tidak, demi bulan.” (QS. Al-Muddathir: 32)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
بَل لَّا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ﴾
“Sekali-kali
tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri Akhiroh.” (QS.
Al-Muddathir: 53)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ﴾
“Sekali-kali
tidak (demikian), sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan.” (QS.
Al-Muddathir: 54)
Suroh
Al-Qiyamah: Disebutkan 3 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
لَا وَزَرَ﴾
“Sekali-kali
tidak! Tidak ada tempat berlindung!” (QS. Al-Qiyamah: 11)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ﴾
“Sekali-kali
janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia.” (QS.
Al-Qiyamah: 20)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ﴾
“Sekali-kali
jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan.” (QS.
Al-Qiyamah: 26)
Suroh
An-Naba’: Disebutkan 2 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
سَيَعْلَمُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An-Naba’: 4)
Dan
firman-Nya:
﴿ثُمَّ
كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾
“Kemudian
sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An-Naba’: 5)
Suroh ‘Abasa:
Disebutkan 2 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ﴾
“Sekali-kali
jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Robb itu adalah suatu peringatan.”
(QS. ‘Abasa: 11)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ﴾
“Sekali-kali
jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya.”
(QS. ‘Abasa: 23)
Suroh
Al-Infithor: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Subhanahu:
﴿كَلَّا
بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ﴾
“Sekali-kali
jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithor: 9)
Suroh
Al-Muthoffifin: Disebutkan 4 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ﴾
“Sekali-kali
jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan
dalam Sijjin.” (QS. Al-Muthoffifin: 7)
Dan firman-Nya:
﴿كَلَّا
بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Robb
mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ﴾
“Sekali-kali
tidak, sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan
dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Muthoffifin: 18)
Suroh
Al-Fajr: Disebutkan 2 kali:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ﴾
“Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS.
Al-Fajr: 17)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا﴾
“Jangan
(berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut.” (QS. Al-Fajr:
21)
Suroh Al-‘Alaq:
Disebutkan 3 kali dalam:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى﴾
“Ketahuilah!
Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” (QS. Al-’Alaq: 6)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ﴾
“Ketahuilah,
sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik
ubun-ubunnya.” (QS. Al-‘Alaq: 15)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب﴾
“Sekali-kali
jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu
kepada Robb).” (QS. Al-‘Alaq: 19)
Suroh
At-Takatsur: Disebutkan 3 kali:
Firman-Nya Ta’ala:
﴿كَلَّا
سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾
“Janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (QS.
At-Takatsur: 3)
Dan
firman-Nya:
﴿ثُمَّ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS. At-Takatsur: 4)
Dan
firman-Nya:
﴿كَلَّا
لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ﴾
“Janganlah begitu,
jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur: 5)
Suroh
Al-Humazah: Disebutkan 1 kali dalam firman-Nya Subhanahu:
﴿كَلَّا
لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ﴾
“Sekali-kali
tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS.
Al-Humazah: 4)
Makki bin
Abi Tholib berkata tentang lafal Kalla: “...Tidaklah ia terjadi dalam
Al-Qur’an kecuali dalam suroh Makkiyyah, karena ancaman dan peringatan keras (wa’id)
paling banyak turun di Makkah, sebab kesewenang-wenangan kaum musyrikin dan
kesombongan mereka paling banyak terjadi di Makkah. Maka jika engkau melihat
sebuah suroh yang di dalamnya terdapat ‘Kalla’, ketahuilah bahwa suroh
itu Makkiyyah.” (Syarh Kalla wa Bala wa Na’am, karya Makki bin Abi Tholib
hal 23)
Makna “Kalla”
adalah zajr (hardikan), rod’u (pencegahan), dan inkar
(pengingkaran). Para ahli Nahwu dan Ahli Qiro’at berbeda pendapat dalam hal waqof
(berhenti) padanya dan memulai dengannya. (Lihat: Roshful Mabani fi Syarhi
Hurufil Ma’ani, karya Al-Maliqi hal 212)
Makki
memilih bahwa “Kalla” memiliki 3 makna:
Bermakna “Laa”
(Tidak), dan maknanya adalah hardikan dan pengingkaran, maka dilakukan waqof
(berhenti) padanya.
Bermakna “Haqqon”
(Benar-benar/Sungguh), maka dimulai dengannya untuk menegaskan apa yang
setelahnya.
Bermakna “Alaa”
(Ingatlah), maka dimulai dengannya untuk membuka pembicaraan.
Kemudian
beliau memaparkan ayat-ayat yang terdapat kata tersebut dan menafsirkannya
sesuai pembagiannya bagi ayat-ayat tersebut.
Kedua: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat ungkapan ﴿وَمَا أَدْرَاكَ﴾ (Dan tahukah kamu? Apakah Alloh memberitahumu?), dan itu
adalah bentuk pertanyaan yang memberikan faedah kedahsyatan dan pengagungan
terhadap apa yang disebutkan setelahnya. Ungkapan ini disebutkan dalam seluruh
Al-Qur’an sebanyak 13 kali dalam 10 suroh, mulai dari Al-Haqqoh sampai
Al-Humazah, dan semuanya adalah suroh Makkiyyah. (Lihat: Al-Mu’jam
Al-Mufahros li Alfazhil Qur’an hal 256 materi “daroka”, dan Muqoddimah fi
Khoshoishil Khithob Al-Qur’ani hal 132)
Ketiga: Setiap suroh yang dibuka dengan
huruf-huruf yang terpotong (al-huruf al-muqotho’ah) maka ia adalah Makkiyyah,
kecuali Al-Baqoroh dan Ali Imron.[1] Suroh-suroh
yang dibuka dengan huruf-huruf muqotho’ah dalam Al-Qur’an Al-Karim ada 29
suroh.
Keempat: Setiap suroh yang dibuka dengan “Alhamdulillah”
maka ia adalah Makkiyyah. Suroh-suroh yang dibuka dengan Alhamdulillah dalam
seluruh Al-Qur’an ada 5, semuanya Makkiyyah, yaitu:
1. Al-Fatihah.
2. Al-An’am.
3. Al-Kahfi.
4. Saba’.
5. Fathir.
Kelima: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat sujud (Sajdah Tilawah) maka ia adalah Makkiyyah.[2]
As-Suyuthi berkata dalam Al-Itqon: “Dan dalam Kamil Al-Hudzali:
Setiap suroh yang di dalamnya terdapat sajdah maka ia adalah Makkiyyah.” (Lihat:
Al-Itqon 1/69)
Al-Qurthubi
berkata tentang sujud-sujud Al-Qur’an: “Yang pertama adalah di akhir Al-A’rof,
dan yang terakhir adalah di akhir Al-‘Alaq.” (Tafsir Al-Qurthubi 7/357)
Jumlah
maksimal yang dikatakan mengenainya adalah 16 sujud, dan yang paling sedikit
adalah 4, sedangkan yang masyhur adalah 15 sujud. Al-Qurthubi berkata tentang
sebab perbedaan ini: “Sebab perselisihan adalah perbedaan penukilan dalam
hadits-hadits dan pengamalan, serta perselisihan mereka mengenai perintah sujud
yang mutlak dalam Al-Qur’an, apakah yang dimaksud dengannya sujud tilawah
ataukah sujud fardhu dalam Sholat.” (Sumber yang sama)
Keenam:
Setiap suroh yang di dalamnya hanya terdapat {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} “Wahai manusia” dan tidak
terdapat {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} “Wahai orang-orang yang beriman”, maka ia adalah Makkiyyah,
seperti suroh Yunus (ayat: 23, 57, 104, 108) dan suroh Fathir (ayat: 3, 5, 15).
Adapun jika berkumpul dalam 1 suroh {يَا أَيُّهَا النَّاسُ} dan {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا},
atau hanya ada {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} saja, maka ia adalah Madaniyyah.
Ketujuh: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya lafal {يَا بَنِي آدَمَ} “Wahai anak Adam” dengan bentuk panggilan (nida’), maka
ia adalah Makkiyyah. Lafal ini disebutkan dalam Al-Qur’an 5 kali, 4 di
antaranya dalam suroh Al-A’roof (ayat: 26, 27, 31, 35), dan 1 kali saja dalam suroh
Yasin (ayat 60).
Kedelapan: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu maka ia adalah Makkiyyah,
kecuali suroh Al-Baqoroh.
Al-Baihaqi
meriwayatkan dalam Ad-Dalail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia
berkata: “Segala sesuatu yang turun dari Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat
penyebutan umat-umat dan generasi-generasi (terdahulu) maka sesungguhnya ia
turun di Makkah, dan apa yang berupa kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah
(hukum) maka sesungguhnya ia turun di Madinah.” (Lihat: Al-Itqon
karya As-Suyuthi 1/69)
Al-Ja’bari
berkata: “...Dan setiap suroh yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para Nabi
dan umat-umat terdahulu adalah Makkiyyah...” (Sumber yang sama)
Kesembilan: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat kisah Adam dan Iblis maka ia adalah Makkiyyah, kecuali suroh
Al-Baqoroh.
Kesepuluh: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya kata “washf” (sifat/deskripsi) dengan berbagai bentuknya, di
mana kata ini disebutkan dalam seluruh Al-Qur’an sebanyak 14 kali[3]
semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah.
Seperti
firman-Nya Ta’ala:
﴿وَتَصِفُ
أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ﴾
“Dan lidah
mereka mengucapkan kedustaan.” (QS. An-Nahl: 62)
Dan
firman-Nya:
﴿سَيَجْزِيهِمْ
وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾
“Kelak
Alloh akan membalas mereka terhadap penyifatan mereka (tentang Alloh).
Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 139)
Kesebelas: Setiap suroh yang di dalamnya
terdapat kata “Al-Khors” (sangkaan/dusta) dengan berbagai bentuknya. Kata ini
disebutkan dalam seluruh Al-Qur’an sebanyak 5 kali, semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah:
Al-An’am, Yunus, Az-Zukhruf, dan Adz-Dzariyat. (Lihat Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam
Al-Qur’aniyyah 1/161)
Seperti
firman-Nya Ta’ala:
﴿قُتِلَ
الْخَرَّاصُونَ﴾
“Terkutuklah
orang-orang yang banyak berdusta.” (QS. Adz-Dzariyat: 10)
Dan
firman-Nya:
﴿إِن
يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾
“Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain
hanyalah berdusta (terhadap Alloh).” (QS. Al-An’am: 116)
Ke-12: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya penyebutan “Al-Junun” (gila) maka ia adalah Makkiyyah. Lafal “Majnun”
telah disebutkan dalam Al-Qur’an 11 kali, dan datang lafal “Jinnah” yang
bermakna gila -bukan bermakna Jin- sebanyak 5 kali. (Lihat: Muqoddimah fi
Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 238)
Dan semua
itu ada dalam suroh-suroh Makkiyyah. Seperti firman-Nya Ta’ala:
﴿فَذَكِّرْ
فَمَا أَنتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ﴾
“Maka
tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Robbmu bukanlah seorang
tukang tenung dan bukan pula seorang gila.” (QS. Ath-Thur: 29)
Dan
firman-Nya:
﴿أَمْ
يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءَهُم بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ﴾
“Atau
(apakah) mereka mengatakan: ‘Padanya (Muhammad) ada penyakit gila’. Sebenarnya
dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada
kebenaran itu.” (QS. Al-Mu’minun: 70)
Ke-13: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya kata “Zukhruf” (hiasan) dengan berbagai bentuknya. Kata ini disebutkan
4 kali dalam 4 suroh, dan salah satunya dinamakan dengannya. Semuanya Makkiyyah,
yaitu: Al-An’am, Yunus, Al-Isroo’, dan Az-Zukhruf. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh
wal A’lam Al-Qur’aniyyah 1/240, dan lihat suroh Al-An’am: 112, Yunus: 42, dan
Az-Zukhruf: 33-35)
Seperti
firman-Nya Ta’ala:
﴿أَوْ
يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِّن زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَن نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ
حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَّقْرَؤُهُ﴾
“Atau kamu
mempunyai sebuah rumah dari emas (perhiasan), atau kamu naik ke langit. Dan
kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan
atas kami sebuah kitab yang kami baca.” (QS. Al-Isroo’: 93)
Keempat
belas: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya “Az-Zajr” (hardikan/tiupan) maka ia adalah Makkiyyah.
Lafal ini disebutkan 6 kali dalam 3 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu:
Ash-Shoffat, Al-Qomar, dan An-Nazian. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam
Al-Qur’aniyyah 1/339 dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 330 “Zajara”)
Seperti
firman-Nya Ta’ala:
﴿فَإِنَّمَا
هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ﴾
“Sesungguhnya
pengembalian itu hanyalah dengan 1 kali tiupan saja.” (QS. An-Nazian: 13)
Dan
firman-Nya:
﴿فَالزَّاجِرَاتِ
زَجْرًا﴾
“Dan demi
(rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan
maksiat).” (QS. Ash-Shoffat: 2). (Lihat Ash-Shoffat: 19, dan Suroh
Al-Qomar: 9, 4)
Kelima
belas: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya “At-Tadhorru’“ (ketundukan/memohon dengan
merendahkan diri) maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan dalam 4 bentuk
pada 7 tempat dalam 3 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-An’am, Al-A’roof,
dan Al-Mu’minun. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/25. Dan
Al-Mu’jam Al-Mufahros 420 “Dhoro’a”)
Seperti
firman-Nya Subhanahu:
﴿ادْعُوا
رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾
“Berdoalah
kepada Robbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’roof: 55). (Lihat
suroh: Al-A’roof: 94, 205; Al-An’am: 43, 63; dan Al-Mu’minun: 76)
Keenam
belas: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya lafal “Ash-Shur” (sangkakala) maka ia adalah Makkiyyah.
Kata ini disebutkan dengan 1 bentuk pada 10 tempat dalam 10 suroh dari Al-Qur’an
Al-Karim yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-An’am, Al-Kahfi, Thaha, Al-Mu’minun,
An-Naml, Yasin, Az-Zumar, Qof, Al-Haqqoh, An-Naba’. (Lihat: Al-Mu’jam
Al-Mufahros 416 “Shur”. Dan Muqoddimah an Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 246)
Seperti
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿يَوْمَ
يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا﴾
“Yaitu hari
(yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.”
(QS. An-Naba’: 18)
Dan
firman-Nya:
﴿وَنُفِخَ
فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ
اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ﴾
“Dan
ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali
siapa yang dikehendaki Alloh. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka
tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS.
Az-Zumar: 68)
Ketujuh
belas: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya lafal “Ash-Shoihah” (suara keras/pekikan) dengan ma’rifah
(ada Alif-Lam), atau “Shoihah” dengan nakiroh (tanpa Alif-Lam), maka ia
adalah Makkiyyah, kecuali firman-Nya Ta’ala:
﴿يَحْسَبُونَ
كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ﴾
“Mereka
mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.” (QS.
Al-Munafiqun: 4)
Maka ini
adalah Madaniyyah, dan ia bermakna suara, yang mana ini adalah makna yang
berbeda dengan makna yang terdapat pada tempat-tempat lainnya.
Di mana
kata ini disebutkan pada 12 tempat dalam 8 suroh yang semuanya Makkiyyah[4]
dengan 2 makna:
Pertama: Pekikan tiupan pada Sangkakala.
Kedua: Azab Ilahi.
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿يَوْمَ
يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ﴾
“(Yaitu)
pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya; itulah hari keluar
(dari kubur).” (QS. Qaf: 42)
Dan
firman-Nya:
﴿إِنَّا
أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ﴾
“Sesungguhnya
Kami menimpakan atas mereka 1 suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka
seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang
binatang.” (QS. Al-Qomar: 31)
Ke-18: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya “Al-Wizr” (dosa/beban) dan “Al-Auzaar” dengan makna dosa dan
beban-beban, maka ia adalah Makkiyyah. Kata ini disebutkan 22 kali dengan makna
ini, semuanya dalam suroh-suroh Makkiyyah. (Lihat: Al-Mu’jam Al-Mufahros 750
“Wazara”, dan Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 248)
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿وَلَا
تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾
“Dan orang
yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
Dan
firman-Nya:
﴿لِيَحْمِلُوا
أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم
بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ﴾
“(Ucapan
mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada
hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak
mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa
yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25)
Kesembilan
belas: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya nama “Syu’aib” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini
disebutkan 11 kali dalam 4 suroh yang semuanya Makkiyyah, yaitu: Al-A’roof,
Hud, Asy-Syu’aroo’, dan Al-Ankabut. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam
Al-Qur’aniyyah 1/299. Dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 383 “Syu’aib”)
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿وَإِلَى
مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا﴾
“Dan (Kami
telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib.” (QS.
Al-Ankabut: 36. Lihat pula: Al-A’roof: 85, 88, 90, 92; Hud: 84, 87, 91, 94; dan
Asy-Syu’aroo’: 177)
Kedua
puluh: Setiap suroh
yang disebutkan di dalamnya nama “Sholih” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini
disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 9 kali dalam 4 suroh, yaitu: Al-A’roof,
Hud, Asy-Syu’aroo’, dan An-Naml, dan semuanya adalah suroh Makkiyyah. (Lihat:
Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/14. Dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 410 “Sholaha”)
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿إِذْ
قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ﴾
“Ketika
saudara mereka Sholih berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS.
Asy-Syu’aroo’: 142)
Dan
firman-Nya Ta’ala:
﴿وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ
فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Sholih
(yang berseru): ‘Sembahlah Alloh’. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) 2 golongan
yang bermusuhan.” (QS. An-Naml: 45. Lihat: Suroh Al-A’roof: 73, 75, 77; dan Suroh
Hud: 61, 62, 66, 89)
Ke-21: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya nama “Hud” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan dalam Al-Qur’an
Al-Karim 7 kali dalam 3 suroh yaitu: Al-A’roof, Hud, Asy-Syu’aroo’. Dan
semuanya Makkiyyah. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/261
dan Al-Mu’jam Al-Mufahros 739 “Hud”)
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿وَإِلَى
عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾
“Dan (Kami
telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku,
sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada Robb bagimu selain dari-Nya. Maka
mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’“ (QS. Al-A’roof: 65)
Dan
firman-Nya:
﴿إِذْ
قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ﴾
“Ketika
saudara mereka Hud berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS.
Asy-Syu’aroo’: 124. Lihat Suroh Hud: 50, 53, 58, 60, 89)
Ke-22: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya nama “Yusuf” maka ia adalah Makkiyyah. Nama ini disebutkan dalam
Al-Qur’an Al-Karim 27 kali. Dalam 3 suroh, yaitu: Al-An’am, Yusuf, dan Ghofir,
dan semuanya Makkiyyah. (Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah
2/297)
Sebagaimana
dalam firman-Nya Ta’ala:
﴿إِذْ
قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ﴾
“(Ingatlah),
ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi
melihat 11 bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’” (QS.
Yusuf: 4. Lihat: Al-An’am: 48, dan Ghofir: 34)
Ke-23: Setiap suroh yang disebutkan di
dalamnya nama “Fir’aun” secara sendirian tanpa disandarkan kepadanya
keluarganya, maka ia adalah Makkiyyah kecuali suroh At-Tahrim. Lafal Fir’aun
telah disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim 74 kali dalam 27 suroh. (Lihat: Mu’jam
Al-Alfazh wal A’lam Al-Qur’aniyyah 2/109 dan Al-Mu’jam Al-Mufahros “Far’a”)
Enam kali
di antaranya dalam 3 suroh Madaniyyah yang semuanya disandarkan kepadanya
keluarganya - Aalu Fir’aun - 2 kali dalam Al-Baqoroh, 1 kali dalam Ali Imron,
dan 3 kali dalam Al-Anfal. Adapun suroh At-Tahrim, disebutkan di dalamnya 2
kali: sekali dengan namanya, dan sekali disandarkan kepadanya istrinya dalam
firman-Nya Subhanahu:
﴿وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ
لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي
مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾
“Dan Alloh
membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia
berkata: ‘Ya Robbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam
firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah
aku dari kaum yang zholim.’” (QS. At-Tahrim: 11)
Demikianlah
dapat ditambahkan lebih banyak lafal dan nama yang berulang penyebutannya dalam
Al-Qur’an Al-Karim ke dalam kaidah-kaidah dan tanda-tanda yang konsisten bagi suroh-suroh
Makkiyyah, seperti: Al-Yasa’, Ya’juj, Haman, dan selainnya. Karena tidak ada
alasan untuk membatasi hanya pada kata “Kalla” yang disebutkan dalam
sumber-sumber lama dan terus disebutkan tanpa ada penambahan padanya.
Hal semisal
itu juga bisa ditambahkan untuk tanda-tanda dan kaidah-kaidah suroh Madaniyyah.
Di antara
penyempurna faedah adalah menelusuri rahasia keterkaitan antara nama-nama dan
lafal-lafal tersebut dengan suroh-suroh Makkiyyah, dan konsistensinya di
dalamnya, serta pembatasannya hanya padanya. Dan hubungan hal itu dengan
kondisi dakwah, peristiwa siroh di periode Makkah, serta pengaruh hal itu
terhadap penafsiran ayat-ayat, dan memahami makna serta petunjuk-petunjuknya.
[1]
Sebagian peneliti menyebutkan pengecualian suroh Ar-Ro’d di sini, namun karena
yang rojih (kuat) adalah kemakkiyahannya, maka tidak perlu dikecualikan. Ia adalah Makkiyah dari sisi
pembukaan, tema, dan konteks, serta Al-Fairuzabadi tidak menyebutkan adanya
perselisihan tentang kemakkiyahannya. Lihat: Bashair Dzawit Tamyiz
1/262, dan Khoshoish As-Suwar wal Ayat Al-Madaniyah hal 68.
[2]
Sebagian peneliti
mengecualikan di sini suroh Ar-Ro’d dan Al-Hajj, namun yang rajih adalah
kemakkiyahannya. Dengan demikian kaidah ini konsisten.
[3]
Lihat: Mu’jam Al-Alfazh wal
A’lam Al-Qur’aniyyah 2/277 dan Mu’jam Alfazhil Qur’an karya Majma’ Al-Lughah
Al-’Arabiyyah 2/655. Lihat pula: Muqoddimah fi Khoshoish Al-Khithob
Al-Qur’ani bainal ‘Ahdaini Al-Makki wal Madani Dr. As-Sayyid Abdul Maqsud
Ja’far, beliau telah membuat pembahasan yang istimewa untuk lafal-lafal ini hal
235-253.
[4]
Lafal “Shoihah” yang terdapat
dalam firman-Nya Ta’ala {Yahsabuuna kulla shoihata ‘alaihim} dari
suroh Al-Munafiqun adalah Madaniyah dan maknanya adalah suara apa pun, jadi ia
berbeda secara makna, dan tidak masuk dalam hitungan. Lihat: Muqoddimah fi
Khoshoish Al-Khithob Al-Qur’ani 247, Al-Mu’jam Al-Mufahros 417
“Shooha”.