Makkiyyah: Karakteristik Gaya Bahasa
Suroh-suroh dan ayat-ayat Makkiyyah ditandai dengan kependekan dalam suroh-surohnya, dan keringkasan (iijaz) dalam ayat-ayatnya. Lihatlah juz “‘Amma” yang sebagian besarnya adalah Makki, ia memiliki suroh-suroh yang pendek dan ayat-ayat yang pendek. Bahkan separuh terakhir dari Al-Qur’an sebagian besarnya adalah Makki dan bersifat dengan sifat tersebut. Hal itu karena tema pembicaraan (khithob) dan kondisi orang-orang yang diajak bicara (mukhothob) menuntut keringkasan tersebut.
Banyaknya sumpah (qosam) dan penyerupaan (tasybih), serta pembuatan perumpamaan.
Munculnya gaya bahasa penekanan, dan pengulangan sebagian kalimat dan kata sebagaimana dalam suroh “Ar-Rohman”, dan sebagaimana berulangnya lafal “Kalla” dan ia menyendiri (hanya ada) pada bagian Makki saja dari Al-Qur’an Al-Karim.
Kekokohan ungkapan dan kekuatannya, serta banyaknya pemisah (akhir ayat) dan keserasian bunyinya.
Tersebarnya gaya bahasa Insya’i berupa perintah dan larangan, pertanyaan (istifham), pengandaian (tamanni), dan penetapan (taqrir).[1]
[1] Lihat: Madkhal li Dirosatil Qur’an Muhammad Muhammad Abu Syuhbah 230, dan ‘Ulumul Qur’an Dr. Adnan Zarzur 143.