Mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebathilan oleh Sebagian Muta’akhirin - Ibnu Taimiyyah
Sebagian muta’akhirin
berkata: “Sungguh tidak ada perbedaan antara madz-hab Salaf dan madz-hab mu’awwilun
(orang-orang yang menyelewengkan makna) dalam nash-nash sifat.
Sungguh
keduanya bersepakat bahwa ayat-ayat dan Hadits-Hadits tersebut tidak
menunjukkan sifat-sifat Alloh, tetapi kaum mu’awwilun melihat adanya
kemaslahatan untuk menyelewengkannya karena ada kebutuhan mendesak, dan mereka
menentukan maksudnya.
Adapun kaum
Salaf, mereka menahan diri dari penentuan maksud karena boleh jadi yang
dimaksud adalah selain itu.”
Ini adalah
kedustaan yang terang-terangan terhadap Salaf. Tidak ada seorang pun dari
mereka yang menafikan petunjuk nash-nash terhadap sifat-sifat Alloh yang
layak bagi-Nya.
Bahkan
perkataan mereka menunjukkan penetapan jenis sifat secara umum, dan penolakan
terhadap orang yang menafikannya atau menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya.
Seperti
perkataan Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i (w. 228 H), guru Al-Bukhori: “Siapa
yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan siapa yang
mengingkari apa yang Alloh sifati diri-Nya, maka ia telah kafir. Dan apa yang
Alloh sifati diri-Nya dan Rosul-Nya, itu bukanlah tasybih (penyerupaan).”
Dan
perkataan mereka dalam hal ini banyak.
Di antara
yang menunjukkan penetapan sifat oleh Salaf, dan bahwa mereka tidak sependapat
dengan kaum mu’awwilun itu adalah: Sungguh kaum mu’awwilah itu adalah
musuh bagi Salaf.
Mereka
menuduh Salaf dengan tasybih (penyerupaan) dan tajsim (menganggap
Alloh berbadan) karena Salaf menetapkan sifat-sifat Alloh.
Seandainya
Salaf sependapat dengan mereka dalam hal tidak adanya petunjuk nash-nash
terhadap sifat-sifat Alloh, niscaya mereka tidak akan menjadikan Salaf sebagai
musuh dan menuduh mereka dengan tasybih dan tajsim. Hal ini
jelas, walillahil hamdu.