Perkataan Salaf yang Ma’tsur dalam Hal Sifat-Sifat Alloh - Ibnu Taimiyyah
Telah
masyhur dari Salaf kalimat-kalimat umum dan khusus tentang ayat-ayat dan Hadits-Hadits
sifat.
Di antara
kalimat yang umum adalah perkataan mereka:
أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلا كَيْفٍ
“Alirkanlah
(makna)nya sebagaimana datangnya, tanpa kaif (bagaimana).” (Lihat: I’tiqod
Ahlis Sunnah, al-Lalaka’i, 3/537/930; dan Fathul Bari, 3/407)
Kalimat ini
diriwayatkan dari Mak-hul, Az-Zuhri (124 H), Malik bin Anas (179 H), Sufyan
Ats-Tsauri (161 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Al-Auza’i (157 H).
Dalam
ungkapan ini terdapat bantahan terhadap Mu’atthilah dan Musyabbihah.
Perkataan mereka: “Alirkanlah (makna)nya sebagaimana datangnya” adalah bantahan
terhadap Mu’atthilah (penolak sifat).
Dan
perkataan mereka: “tanpa kaif (bagaimana)” adalah bantahan terhadap
Musyabbihah (penyerupa).
Di dalamnya
juga terdapat dalil bahwa Salaf menetapkan makna-makna yang benar bagi nash-nash
sifat yang layak bagi Alloh. Hal ini ditunjukkan dari dua sisi:
Pertama -
Perkataan mereka: “Alirkanlah (makna)nya sebagaimana datangnya.”
Sungguh
maknanya adalah membiarkan petunjuknya pada makna yang dibawanya. Dan tidak
diragukan bahwa nash-nash itu datang untuk menetapkan makna yang layak
bagi Alloh.
Seandainya
mereka tidak meyakini adanya makna, niscaya mereka akan berkata: “Alirkan
lafazhnya, dan jangan memasuki maknanya”, dan yang sejenisnya.
Kedua -
Perkataan mereka: “tanpa kaif (bagaimana).”
Sungguh ini
jelas menunjukkan penetapan hakikat makna, karena seandainya mereka tidak
meyakini tetapnya makna, niscaya mereka tidak perlu menafikan kaifiyyah-nya
(bagaimana-nya). Sebab, sesuatu yang tidak ditetapkan keberadaannya, maka
penafian kaifiyyah-nya termasuk perkataan yang sia-sia (laghwul qoul).
Jika ada
yang bertanya: Apa jawaban atas perkataan Imam Ahmad (241 H) dalam Hadits Nuzul
(turun)-Nya Alloh dan yang sejenisnya: “Kami beriman kepadanya dan
membenarkannya, tanpa kaif (bagaimana), dan tanpa makna”?
Kami jawab:
Jawabannya adalah bahwa makna yang dinafikan oleh Imam Ahmad dalam perkataannya
adalah makna yang diciptakan oleh Mu’atthilah dari Jahmiyyah dan selain
mereka, yang dengannya mereka menyelewengkan nash-nash Al-Kitab dan
Sunnah dari zhohir-nya (makna lahiriahnya) kepada makna yang menyelisihinya.
Yang
menunjukkan hal itu adalah beliau menafikan makna dan menafikan kaifiyyah-nya,
agar perkataannya mencakup bantahan terhadap dua kelompok mubtadi’ah (pembuat
bid’ah): kelompok Mu’atthilah dan kelompok Musyabbihah.
Hal itu
juga ditunjukkan oleh perkataan penulis (Ibnu Taimiyyah) tentang perkataan
Muhammad bin Al-Hasan: “Para fuqoha semuanya, dari timur hingga barat,
bersepakat untuk beriman kepada Al-Qur’an dan Hadits-Hadits yang datang dari
orang-orang terpercaya dari Rosululloh ﷺ tentang sifat Robb ‘azza wa jalla, tanpa tafsir
(penafsiran), washf (gambaran), dan tasybih (penyerupaan).”
Penulis
berkata: Yang beliau maksud dengan tafsir adalah tafsirnya Jahmiyyah Mu’atthilah,
yang membuat bid’ah penafsiran sifat-sifat, berbeda dengan apa yang dipegang
oleh para Shohabat dan Tabi’in berupa penetapan. (Majmu’ al-Fatawa, 5/50)
Ini adalah
dalil bahwa tafsir ayat-ayat dan Hadits-Hadits sifat ada dua jenis:
1. Tafsir
yang diterima: Yaitu apa yang dipegang oleh para Shohabat dan Tabi’in berupa
penetapan makna yang layak bagi Alloh ‘azza wa jalla yang sesuai dengan zhohir
Al-Kitab dan Sunnah.
2. Tafsir
yang tidak diterima: Yaitu apa yang menyelisihinya.
Demikian
juga makna, ada yang diterima dan ada yang ditolak, sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya.
Jika
ditanyakan: Apakah sifat-sifat Alloh memiliki kaifiyyah (bagaimana-nya)?
Jawabannya:
Ya, ia memiliki kaifiyyah, tetapi tidak kita ketahui.
Karena kaifiyyah
sesuatu hanya dapat diketahui dengan: melihatnya, atau melihat sesuatu yang serupa
dengannya, atau berita dari orang yang shodiq (benar). Semua cara ini tidak ada
pada sifat-sifat Alloh.
Dengan ini
diketahui bahwa perkataan Salaf: “tanpa kaif (bagaimana)” maknanya
adalah tanpa takyif (menggambarkan bagaimana-nya), mereka tidak bermaksud
menafikan kaifiyyah secara mutlak, karena ini adalah ta’thil
(penolakan) murni. Wallahu a’lam.