Cari Artikel

Mempersiapkan...

‘Uluw (Ketinggihan) Alloh dan Dalil-Dalilnya Menurut Ibnu Taimiyyah

 

‘Uluw (ketinggian) Alloh termasuk sifat dzatiyyah (sifat yang selalu ada pada Dzat Alloh), dan terbagi menjadi dua bagian: ‘Uluw Dzaat (ketinggian Dzat) dan ‘Uluw Shifat (ketinggian Sifat).

Adapun ‘Uluw Shifat, maknanya adalah: tidak ada sifat kesempurnaan melainkan Alloh memiliki yang paling tinggi dan paling sempurna darinya, baik sifat majd (kemuliaan) dan qohr (kekuatan), maupun sifat jamal (keindahan) dan qudrot (kekuasaan).

Adapun ‘Uluw Dzaat, maknanya adalah: Alloh dengan Dzat-Nya berada di atas seluruh makhluk-Nya.

Hal ini ditunjukkan oleh Al-Kitab, Sunnah, Ijma’, Akal, dan Fitroh.

Dalil Al-Kitab dan Sunnah

Adapun Al-Kitab dan Sunnah, keduanya penuh dengan dalil yang shorih (tegas) atau zhohir (jelas) dalam menetapkan ‘Uluw Alloh dengan Dzat-Nya di atas makhluk-Nya.

Petunjuk keduanya dalam hal ini beragam:

Kadang dengan menyebutkan Al-‘Uluw (ketinggian), Al-Fauqiyyah (keberadaan di atas), Al-Istiwa’ ‘alal ‘Arsy (bersemayam di atas ‘Arsy), dan keberadaan-Nya di atas (fis samaa’).

Seperti firman Alloh:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqoroh: 255)

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah Nama Robb-mu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-A’la: 1)

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

“Mereka takut kepada Robb mereka dari atas mereka.” (QS. An-Nahl: 50)

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rohman di atas ‘Arsy istiwa.” (bersemayam).” (QS. Thoha: 5)

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ

“Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas bahwa Dia akan membenamkan kalian di bumi?” (QS. Al-Mulk: 16)

Dan sabda Nabi : “Dan ‘Arsy di atas itu, dan Alloh di atas ‘Arsy.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalaka’i, 3/395/659)

Dan sabda beliau: “Tidakkah kalian percaya kepadaku, padahal aku adalah orang kepercayaan Dzat yang di atas?” (HR. Al-Bukhori no. 4351 dan Muslim no. 1064)

Kadang dengan menyebutkan naiknya, menuju-Nya, atau diangkatnya sesuatu kepada-Nya.

Seperti firman Alloh:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّب

“Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)

Dan firman Alloh:

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Para Malaikat dan Ar-Ruh (Jibril) naik menghadap kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Dan firman Alloh:

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Bahkan Alloh telah mengangkatnya kepada-Nya.” (QS. An-Nisa’: 158)

Dan sabda Nabi : “Dan tidak ada yang naik kepada Alloh melainkan yang baik.”

Dan sabda Nabi : “Kemudian naiklah mereka yang bermalam di antara kalian menghadap kepada Robb mereka.”

Dan sabda Nabi : “Diangkat kepada-Nya amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Kadang dengan menyebutkan turunnya sesuatu dari-Nya, dan yang sejenisnya.

Seperti firman Alloh:

تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Diturunkan dari Robb semesta alam.” (QS. Al-Waqi’ah: 8)

Dan firman Alloh:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ

“Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkannya dari Robb-mu.’” (QS. An-Nahl: 102)

Dan sabda Nabi : “Robb kita turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Selain itu masih banyak lagi ayat-ayat dan Hadits-Hadits yang mutawatir dari Nabi tentang ‘Uluw Alloh atas makhluk-Nya, dengan tingkat mutawatir yang mewajibkan pengetahuan yang bersifat kepastian (‘ilmu dhoruriy), bahwa Nabi mengucapkannya dari Robb-nya, dan ummatnya menerimanya dari beliau.

Dalil Ijma’

Adapun Ijma (konsensus): Sungguh para Shohabat, Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, dan para imam Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa Alloh berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya.

Perkataan mereka penuh dengan hal itu, baik secara nash maupun zhohir.

Al-Auza’i (157 H) berkata: “Kami dan para Tabi’in yang jumlahnya sangat banyak mengatakan: ‘Sungguh Alloh berada di atas ‘Arsy-Nya, dan kami beriman kepada sifat-sifat yang datang dalam Sunnah.” (Lihat: Siyar A’lam an-Nubala, 7/121)

Al-Auza’i mengatakan ini setelah munculnya madz-hab Jahm (w. 128 H) yang menolak sifat-sifat Alloh dan ‘Uluw-Nya, agar manusia tahu bahwa madz-hab Salaf menyalahi madz-hab Jahm.

Tidak ada seorang pun dari Salaf yang pernah berkata: “Sungguh Alloh tidak berada di langit, atau sungguh Dia dengan Dzat-Nya di setiap tempat, atau sungguh semua tempat bagi-Nya sama saja, atau sungguh Dia tidak di dalam alam dan tidak pula di luarnya, tidak bersambung dan tidak terpisah, atau sungguh tidak boleh memberi isyarat hissi (dengan indera) kepada-Nya.”

Bahkan orang yang paling mengetahui tentang Alloh (Nabi Muhammad ) telah memberi isyarat kepada-Nya dalam Haji Wada’, pada hari ‘Arofah, di perkumpulan yang sangat besar itu, ketika beliau mengangkat jari-Nya ke langit, seraya berkata: “Ya Alloh, saksikanlah”, mempersaksikan Robb-nya atas pengakuan ummatnya bahwa beliau telah menyampaikan risalah, sholawatulloh wa salamuhu ‘alaihi.

Dalil Akal

Adapun Akal: Setiap akal yang jernih menunjukkan wajibnya ‘Uluw Alloh dengan Dzat-Nya di atas makhluk-Nya, dari dua sisi:

[1] ‘Uluw adalah sifat kesempurnaan, dan Alloh wajib bagi-Nya kesempurnaan mutlak dari segala sisi, maka wajiblah penetapan ‘Uluw bagi-Nya tabarokta wa ta’ala.

[2] ‘Uluw lawannya adalah sufli (rendah), dan sufli adalah sifat kekurangan. Alloh disucikan dari semua sifat kekurangan, maka wajiblah menyucikan-Nya dari sufli dan wajiblah penetapan kebalikannya bagi-Nya, yaitu Al-‘Uluw.

Dalil Fitroh

Adapun Fitroh: Sungguh Alloh telah menciptakan seluruh makhluk: Arob dan non-Arob, bahkan sampai binatang, di atas iman kepada-Nya dan kepada ‘Uluw-Nya.

Tidak ada seorang hamba pun yang menghadap kepada Robb-nya dengan do’a atau ibadah melainkan ia akan mendapati dalam dirinya suatu keharusan untuk mencari ‘Uluw (ketinggian) dan terangkatnya hatinya ke langit, tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri.

Tidak ada yang berpaling dari tuntutan fitroh ini melainkan orang yang telah disesatkan oleh syaithon dan hawa nafsu.

Abu al-Ma’ali al-Juwaini (w. 478 H) pernah berkata di majelisnya (Lihat: Siyar, 18/475): “Alloh ada dan tidak ada sesuatu pun, dan Dia sekarang sama seperti dulu.”

Lalu Abu Ja’far al-Hamdani (w. 535 H) berkata (untuk membantahnya): “Tinggalkanlah kami dari menyebut ‘Arsy –yaitu: karena ia telah ditetapkan dengan dalil wahyu– dan beritahukanlah kepada kami tentang keharusan (dhoruroh) yang kami dapati di hati kami.

Tidak ada seorang ‘aarif (orang yang mengenal Alloh) pun yang berkata: ‘Ya Alloh!’ melainkan ia akan mendapati dalam hatinya suatu keharusan untuk mencari ‘Uluw, tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Bagaimana kita menolak keharusan ini dari hati kita?!”

Maka Abu al-Ma’ali berteriak dan menampar kepalanya sendiri, lalu berkata: “Al-Hamdani telah membingungkanku, Al-Hamdani telah membingungkanku.”

Maka, kelima dalil ini semuanya selaras dalam menetapkan ‘Uluw Alloh dengan Dzat-Nya di atas makhluk-Nya.

Penjelasan Ayat-Ayat yang Terkesan Bertentangan

Adapun firman Alloh:

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ

“Dialah Alloh di langit dan di bumi. Dia mengetahui rahasia kalian dan apa yang kalian tampakkan.” (QS. Al-An’am: 3)

Dan firman Alloh:

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ

“Dialah Dzat yang di langit adalah ilah, dan di bumi adalah ilah.” (QS. Az-Zukhruf: 84)

Makna keduanya bukanlah bahwa Alloh berada di bumi sebagaimana Dia berada di langit.

Siapa yang menyangka ini, atau menukilnya dari salah satu Salaf, maka ia keliru dalam sangkaannya dan berdusta dalam nukilannya.

Adapun makna ayat yang pertama adalah: Sungguh Alloh diibadahi di langit dan di bumi; setiap yang ada di keduanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.

Dikatakan pula maknanya: Sungguh Alloh berada di langit, kemudian dimulai kalimat baru: وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ (Dan di bumi Dia mengetahui rahasia kalian dan apa yang kalian tampakkan).”

Yakni: Sungguh Alloh mengetahui rahasia dan apa yang kalian tampakkan di bumi, maka ‘Uluw-Nya di atas langit tidak menghalangi ilmu-Nya terhadap rahasia dan apa yang kalian tampakkan di bumi.

Adapun makna ayat yang kedua adalah: Sungguh Alloh adalah ilah (yang diibadahi) di langit dan ilah di bumi. Maka, uluhiyyah (hak diibadahi)-Nya ditetapkan di keduanya, meskipun Dia berada di langit.

Perumpamaannya seperti perkataan seseorang: Fulan adalah seorang amir di Makkah, dan amir di Madinah.

Yaitu: kepemimpinannya ditetapkan di kedua kota itu, meskipun dia hanya berada di salah satunya.

Ini adalah ungkapan yang benar, baik secara bahasa maupun ‘urf (kebiasaan). Wallahu a’lam.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url