Cari Artikel

Mempersiapkan...

Menjauhi Ahli Bid’ah Menurut Abul Hasan Asy'ari

 

Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:

* ويرون مجانبة كل داعٍ إلى بدعة

Mereka berpendapat untuk menjauhi setiap orang yang mengajak kepada bid’ah.

Bahasa:

(مجانبة): menjauhi dan memboikot.

(بدعة): sesuatu yang baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Alloh.

Penjelasan:

Memboikot dan menjauhi ahli bid’ah adalah salah satu masalah yang dibahas oleh Ahli Sunnah. Pendapat mereka tentang masalah ini adalah menjauhi orang yang mengajak kepada bid’ahnya. Ini adalah apa yang ditetapkan oleh Al-Hafizh Al-Imam Abu Bakr Al-Isma’ily dalam kitabnya, I’tiqod A-immah Ahlil Hadits (hal. 78), beliau berkata: “Dan mereka berpendapat untuk menjauhi bid’ah dan dosa-dosa, serta meninggalkan ghibah kecuali bagi siapa yang menampakkan bid’ah dan hawa nafsu yang dia serukan, maka berbicara tentangnya bukan termasuk ghibah menurut mereka.”

Begitu pula apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Abu Utsman Ash-Shobuni dalam kitabnya, Aqidah As-Salaf Ash-Hab Al-Hadits (hal. 99-100 dan 106), beliau berkata: “Mereka menjauhi ahli bid’ah dan kesesatan, mereka memusuhi para pengikut hawa nafsu dan kebodohan, mereka membenci ahli bid’ah yang membuat sesuatu yang baru dalam agama yang bukan bagian darinya, mereka tidak mencintai mereka dan tidak menemani mereka, mereka tidak mendengarkan perkataan mereka dan tidak duduk bersama mereka, mereka tidak berdebat dengan mereka dalam agama dan tidak berdiskusi dengan mereka, mereka berpendapat untuk menjaga telinga mereka dari mendengarkan kebathilan mereka. Kebathilan itu, jika melewati telinga dan menetap di hati, akan membahayakan dan menarik was-was serta lintasan hati yang rusak yang dibawanya. Alloh ‘Azza wa Jalla telah menurunkan firman-Nya:

﴿وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِه

“Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain.” (QS. Al-An’am: 68)

Tanda-tanda bid’ah pada pemegangnya tampak jelas, dan tanda serta ciri mereka yang paling jelas adalah permusuhan mereka yang sangat terhadap para pembawa berita-berita Nabi , penghinaan mereka terhadap mereka, peremehan mereka, dan penamaan mereka sebagai Hasyawiyyah, orang-orang bodoh, Zhohiriyyah, dan Musyabbihah. Ini karena keyakinan mereka terhadap berita-berita Rosululloh berada jauh dari ilmu. Bagi mereka, ilmu adalah apa yang dilemparkan syaitan kepada mereka dari hasil pikiran mereka yang rusak, bisikan hati mereka yang gelap, lintasan hati mereka yang kosong dari kebaikan, dan kata-kata serta hujjah mereka yang bathil.

﴿اُولٰئِكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰىٓ اَبْصَارَهُمْ

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Alloh, lalu Dia butakan pendengaran mereka dan Dia butakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 23)

﴿وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَه مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ﴾

“Siapa yang dihinakan Alloh, maka tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Alloh berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

Abu Utsman berkata, “Saya melihat para ahli bid’ah dengan nama-nama ini yang mereka berikan kepada Ahli Sunnah. Padahal, tidak ada sedikit pun dari hal itu yang melekat pada mereka sebagai karunia dan anugerah dari Alloh. Ahli bid’ah menempuh jalan yang sama dengan orang-orang musyrik­­—semoga Alloh melaknat mereka, terhadap Rosululloh . Mereka membagi-bagi perkataan tentang beliau, sebagian menamainya tukang sihir, sebagian dukun, sebagian penyair, sebagian orang gila, sebagian orang yang terkena fitnah, dan sebagian pembohong yang mengada-ada. Padahal, Nabi jauh dan bersih dari aib-aib itu. Beliau hanyalah seorang Rosul yang terpilih dan seorang Nabi. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

﴿اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوْا لَكَ الْاَمْثَالَ فَضَلُّوْا فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَبِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu; karena itu mereka sesat dan tidak dapat menemukan jalan (yang benar).” (QS. Al-Isro: 48)

Demikian pula para ahli bid’ah - semoga Alloh menghinakan mereka - membagi-bagi perkataan tentang para pembawa berita-berita beliau, para periwayat atsar-atsar beliau, dan para perowi hadits-hadits beliau yang mengikuti beliau dan mendapat petunjuk dari Sunnahnya, yang dikenal dengan sebutan Ash-hab Al-Hadits. Sebagian dari mereka menamai mereka Hasyawiyyah, sebagian Musyabbihah, sebagian Nabittah, sebagian Nashibah, dan sebagian Jabriyyah. Padahal, Ash-hab Al-Hadits terlindungi dari aib-aib ini, suci, dan murni. Mereka tidak lain adalah Ahli Sunnah yang terang, yang memiliki akhlak yang diridhoi, jalan yang lurus, dan hujjah yang jelas lagi kuat. Sungguh Alloh Jalla Jalaluh telah memberikan taufiq kepada mereka untuk mengikuti Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan firman-Nya, serta mencontoh Rosul-Nya .”

Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikh tentang mereka, semoga Alloh memberkahinya. Betapa banyak sifat dan akhlak mulia yang dimiliki oleh Ahlul Hadits tetapi tidak diakui oleh ahli bid’ah. Betapa sering mereka dituduh, padahal mereka bersih dari tuduhan itu. Betapa banyak orang-orang bodoh yang berbuat zholim kepada mereka, tetapi Alloh membersihkan mereka dari apa yang dikatakan oleh para pembenci. Itu adalah karunia Alloh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Kesimpulan:

Ahli Sunnah berpendapat wajibnya menjauhi ahli bid’ah yang mengajak kepadanya dan memboikot mereka.

Diskusi:

S1: Apa sikap Ahli Sunnah terhadap ahli bid’ah yang mengajak kepada bid’ah?

S2: Apakah diperbolehkan berdebat dengan ahli bid’ah?


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url