Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metodologi Tafsir Al-Alusi Al-Kabir (w. 1270 H)

 


Nama Mufassir

Syihabuddin As-Sayyid Mahmud bin Abdillah bin Mahmud bin Darwisy Al-Husaini Al-Alusi, Abul Tsa’na Al-Mufassir, Al-Muhaddits (Ahli Hadits), Al-Faqih (Ahli Fiqih), Al-Adib (Ahli Sastra).

Nama Tafsirnya

روح البيان في تفسير القرآن

Rūh Al-Ma’āni fī Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Azhīm was Sab’ al-Matsānī.

Aqidahnya

Terlihat bagi siapa yang membaca tafsirnya bahwa penulisnya cenderung kepada tashowwuf (Sufisme). Ia sering menafsirkan ayat-ayat dengan penafsiran simbolis isyari (isyarat) dengan metode kaum mutaṣowwifah (Sufi). Disertai dengan mengikuti mereka dalam sebagian ucapan yang melampaui batas mereka. Serta memberikan gelar-gelar yang agung kepada mereka, seperti ucapannya: “Para sādah (tuan-tuan) shūfiyyah (Sufi) qoddasallōhu asrōrohum (semoga Alloh menyucikan rahasia-rahasia batin mereka) berkata.” “Para sādah kami kaum shūfiyyah berkata” di banyak tempat. ia terkadang menyebutkan nama-nama mereka seperti Ibnu Al-Fāridh (w. 632 H) dan selainnya.

Di antara tafsir isyari (simbolis) adalah apa yang ia katakan di awal Surat Ali ‘Imron (10/91): “Ini, dari bab Al-Isyāroh (isyarat) pada ayat: Alif Lām Mīm—telah didahului pembahasan mengenainya dan penyebutan sebagian sādah kami!— diisyaratkan dengannya kepada seluruh wujud (keberadaan) dari sisi ia adalah keseluruhan. Karena Alif adalah isyarat kepada Dzat yang merupakan awal wujud, dan ia adalah tingkatan al-ithlāq (kemutlakan)! Lām kepada akal yang dinamakan Jibril, yang merupakan pertengahan wujud, yang mengambil faidah dari permulaan (Alloh) dan mengalirkan faidah kepada yang terakhir (Nabi Muhammad )!! Mīm kepada Muhammad yang merupakan akhir wujud dan dengannya putaran wujud sempurna! Oleh karena itu ia adalah penutup. sebagian mereka berkata: Lām itu tersusun dari dua Alif yakni diletakkan di hadapan Dzat bersama Shifat Al-‘Ilm (sifat ilmu) yang mana keduanya adalah dua alam dari tiga alam ketuhanan! yang kami isyaratkan kepadanya. Maka ia adalah nama dari nama-nama Alloh. Adapun Mīm, maka ia adalah isyarat kepada Dzat bersama seluruh Shifat (sifat-sifat) dan Af’āl (perbuatan-perbuatan) yang tersembunyi di dalam Ash-Shūroh Al-Muḥammadiyyah (bentuk/citra Muhammad)!! yang mana ia adalah Ismulloh Al-A’zhom (Nama Alloh yang paling agung) sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali siapa yang mengetahuinya!....” ia meriwayatkan dalam hal itu ucapan yang panjang, di dalamnya terdapat kesamaran, ketidakjelasan, dan kerancuan yang kamu lihat.

Di antara ucapan melampaui batas yang ada dalam kitabnya adalah ucapannya: cahaya Muhammad adalah makhluk yang paling awal!! (17/105). Ia (cahaya) memancar dari cahaya ketuhanan!! (13/77)

ucapannya dalam tafsir isyari (simbolis) untuk firman Alloh: wal ttāliyyāti dzikrō (dan (Malaikat-Malaikat) yang membacakan dzikir): “Sekelompok Malaikat yang membacakan ayat-ayat Alloh dan kemuliaan kesucian-Nya kepada para Nabi dan para wali-Nya!! turunnya Malaikat adalah sesuatu yang dikatakan oleh kaum shūfiyyah qoddasallōhu ta’ala asrōrohum (semoga Alloh menyucikan rahasia-rahasia batin mereka). telah diucapkan pokok dari turunnya itu firman Alloh:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh, kemudian mereka beristiqomah, maka Malaikat-Malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kalian takut dan janganlah kalian bersedih, dan bergembiralah dengan Jannah yang dahulu kalian dijanjikan.’” (QS. Fushshilat: 30). terkadang mereka menyebut sebagian para wali sebagai: Nabi-Nabi para wali?!

Kemudian ia menukil dari Asy-Sya’rowi[1] bahwa ia berkata: “Nabi-Nabi para wali adalah setiap wali yang ditegakkan oleh Al-Haqq (Alloh) di dalam penampakan dari wujud penampakan-Nya!! Dia menegakkan baginya Muhammad dan wujud Jibril. Maka wujud spiritual itu memperdengarkannya khitob (perkataan) hukum-hukum syar’i yang diSyari’atkan bagi wujud Muhammad ....” Hingga ia berkata: “Maka orang yang seperti ini mengamalkan Hadits-Hadits yang ia kehendaki. Tidak perlu menoleh pada penshohihan orang lain atau pendho’ifan mereka!! Apa yang dikatakan oleh sebagian ahli Hadits bahwa ia adalah shohih (valid) bisa jadi Nabi tidak mengatakannya!! bisa jadi apa yang mereka katakan bahwa ia adalah dho’if (lemah) telah didengar oleh wali ini dari Ar-Rūh Al-Amīn (Malaikat Jibril)!! yang ia sampaikan kepada hakikat Muhammad sebagaimana sebagian Shohabat mendengar Hadits Jibril dalam penjelasan Islam, Iman, dan Ihsan. Maka mereka inilah Nabi-Nabi para wali....”

Sangat disayangkan, ia tidak mengomentari balā’ (musibah/keburukan) yang semisalnya ini sedikit pun!!

ia berkata dalam tafsir isyari (simbolis) untuk firman Alloh:

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ. هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

“Penghuni Jannah pada hari itu berada dalam kesibukan yang menyenangkan. Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam naungan, bersandar di atas dipan-dipan.” (QS. Ya Sin: 55-56) : “dikatakan: ini adalah isyarat kepada sekelompok kaum Mu’minin yang dominan pada diri mereka di dunia adalah mencari Jannah!! Oleh karena itu mereka dinisbatkan kepadanya. mereka berada di bawah Ahlullōh (orang-orang Alloh) dan khoshshoh-Nya (orang-orang istimewa-Nya) yang tidak menoleh kepada apa pun selain-Nya azza wa jalla. Maka mereka itu disibukkan dengan keni’matan-keni’matan yang mereka cari. mereka ini adalah para hadirin di hadapan-Nya yang disibukkan dengan Maula (Tuan) mereka jalla sya’nuhu (Maha Mulia kedudukan-Nya) yang meni’mati persambungan dan menyaksikan keindahan-Nya. ada perbedaan di antara dua keadaan itu, jauh perbedaan di antara dua kelompok itu!! Oleh karena itu dikatakan: Mayoritas penghuni Jannah adalah orang-orang yang bodoh! Maka pahamilah isyaratnya.”

Bagaimana bisa begitu?! Padahal Alloh berfirman: wad’ūhu khōfan wa ṭoma’an “dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap.” (QS. Al-A’rof: 56)?!

lihat ucapan tentang Az-Zhōhir (makna lahiriah) dan Al-Bāṭin (makna batiniah), dan sebagian dari Al-Bāṭin itu harom diungkapkan!! (3/174)

Demikianlah, di dalam apa yang ia riwayatkan dalam tafsir isyari (simbolis) terdapat musibah dan hal-hal yang aneh. Kami memohon keselamatan kepada Alloh.

juga terjadi darinya tawassul (perantara) dengan kehormatan Nabi , lihat misalnya (13/179), (23/160). Padahal diketahui bahwa itu adalah tawassul yang bid’ah, tidak ada asalnya.

ia memasukkan dalam tafsirnya sebagian besar penelitian Ar-Rozi (w. 606 H), disertai penetapan madz-hab Asya’iroh dan pembelaan untuk mereka, serta menyerang para imam Salaf. terkadang ia membantah pendapat-pendapat Asya’iroh dan menetapkan madz-hab Salaf. Maka di dalamnya ada semacam kebimbangan antara madz-hab Salaf dan Kholaf (orang-orang setelah Salaf).

Di antaranya adalah bantahannya terhadap orang yang menafsirkan Al-Fauqiyyah (berada di atas) bagi Alloh dengan makna keutamaan Dzat dan kebaikan, dengan perkataannya: “kamu tahu bahwa ini adalah sesuatu yang dijauhi oleh akal yang sehat dan hati yang lurus merasa jijik darinya. Karena ucapan seseorang secara langsung: Alloh lebih baik dari hamba-hamba-Nya, atau lebih baik dari ‘Arsy-Nya, termasuk jenis ucapan seseorang: Salju itu dingin, dan api itu panas, dan matahari lebih terang dari lampu, dan langit lebih tinggi dari atap rumah, dan yang semisalnya. di dalamnya tidak ada pemuliaan dan pengagungan bagi Alloh, bahkan ia termasuk ucapan yang paling rendah. Maka bagaimana pantas Al-Kalām Al-Majīd (firman yang mulia/Al-Qur’an) diarahkan kepadanya....” Kemudian ia berkata: “Al-Fauqiyyah (berada di atas) dengan makna Al-Fauqiyyah dalam keutamaan adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Salaf bagi Alloh juga. ia terwujud dalam Al-Fauqiyyah Al-Muthlaqoh (berada di atas secara mutlak). Demikian juga mereka menetapkan Fauqiyyat Al-Qohr wal Gholabah (berada di atas dengan penaklukan dan penguasaan), sebagaimana mereka menetapkan Fauqiyyat Adz-Dzat (berada di atas dengan Dzat). mereka mengimani semua itu dengan cara yang layak bagi keagungan Dzat-Nya dan kesempurnaan Shifat (sifat-sifat)-Nya subḥānahu wa ta’ala (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia)....” Kemudian ia berbicara tentang Al-Jiha (arah) dengan ucapan yang bagus (lihat 7/114-117).

ia membantah orang yang menafsirkan Al-Istiwa’ (bersemayam) dengan Al-Istiylā’ (menguasai) dan mensifatinya sebagai tafsir yang tercela (8/136). ia memilih menyerahkan maksud dari Al-Istiwa’ itu kepada Alloh sebagai yang paling selamat! ia menisbatkannya kepada Salaf!

dalam Shifat Al-Yad (sifat tangan), ia menyebutkan madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf) kemudian madz-hab Salaf. Kemudian ia menyebutkan ta’wil Az-Zamakhsyari (w. 538 H) dan membantahnya (23/225-226). dalam firman Alloh: bal yadāhu mabshūtōtān (bahkan kedua tangan-Nya terbentang) ia menyebutkan bahwa menyerahkan ta’wil-nya kepada Alloh adalah yang paling selamat! Nabi dan para Shohabat beliau tidak men-ta’wilnya dengan ni’mat atau kekuasaan.

Deskripsi Umum Tafsir

Ini adalah ensiklopedia tafsir yang bernilai, yang merupakan ringkasan dari semua tafsir yang mendahuluinya. Ia menukil dari Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H), Abu Hayyan (w. 745 H), Al-Kasysyaf (karya Az-Zamakhsyari, w. 538 H), Abu As-Sa’ud (w. 982 H), Al-Baidhowi (w. 705 H), dan Ar-Rozi (w. 606 H). ia meneliti apa yang ia nukil, mengkritiknya, dan menyatakan pendapatnya di dalamnya. ia membahas secara panjang lebar masalah-masalah kaunīyyah (alam semesta). ia menyebutkan ucapan ahli perbintangan dan ahli hikmah. ia membenarkan apa yang ia ridhoi dan membantah apa yang tidak ia ridhoi. ia panjang lebar dalam penelitiannya.

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Ia membahas secara menyeluruh madz-hab para fuqoha’ (ahli Fiqih) dan dalil-dalil mereka, tanpa fanatik terhadap madz-hab tertentu.

Sikapnya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair

Ia meluaskan pembahasan dalam ilmu Nahwu hingga batas yang hampir keluar dari lingkaran tafsir. ia banyak menggunakan syawahid (bukti-bukti) dari syair-syair Arob dan perumpamaan-perumpamaan mereka.

Sikapnya terhadap Qiro’at

Ia membahas penyebutan qiro’at dan tidak membatasi diri pada yang mutawatir darinya. ia juga memperhatikan penjelasan aspek-aspek kesesuaian antara suroh-suroh dan ayat-ayat.

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Ia sangat keras dalam mengkritik Isro’iliyyat dan berita-berita dusta.

 



[1] Dikatakan: Asy-Sya’roni sebagaimana dalam biografinya dalam risalah Al-Fat fī Ta’wīl Mā odaro ‘anil Kummal minasy Shaṭḥ! (Keterbukaan dalam Ta’wil Apa yang Keluar dari Orang-orang Sempurna dari Ucapan Melampaui Batas!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url